Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Ilmu. Show all posts

Sunday, June 10, 2012

Jangan malu belajar Agama




بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Allah SWT berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي
الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar[39]: 9).

Dari Ummu Salamah, dia berkata, Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu, apakah seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Jika dia melihat air (mani)." Lalu, Ummu Salamah menutup wajahnya dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi?" Beliau menjawab,"Ya, bisa. Maka, sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya." (Hadis sahih, ditakhrij Ahmad 6/306, al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, at-Tirmizi, hadis nomor 122, an-Nasa'i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, ad-Darimi 1/195, al-Baihaqi 1/168-169).

Ummu Salamah datang kepada Rasulullah saw. untuk belajar. Ia memulai dengan ucapan, "Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran." Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar, sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya, seperti dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu." (Al-Baqarah: 26).Ummu Sulaim demikian pula, ia tidak malu untuk bertanya kepada yang lebih tahu perihal apa-apa yang mestinya ia ketahui dan pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar perkataan Ummul Mukminin, Aisyah r.a., "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama." (Diriwayatkan al-Bukhari 1/44).

Ummu Sulaim bertanya, "Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia mimpi bersetubuh?" Nabi saw. menjawab, "Jika dia melihat air." Maksudnya, ia harus mandi jika benar bermimpi dan ada bukti bekas air mani di pakaian. Namun, jika tidak, tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya, "Apakah wanita itu juga bermimpi?"Keheranan Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal yang sama Pernah terjadi pada diri Aisyah yang lebih berilmu, seperti disebutkan dalam suatu riwayat dia berkata, "Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu?" Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi. Keheranan Ummu Salamah dan Aisyah r.a. lebih disebabkan ketidaktahuan. Karena, tidak seluruh wanita bisa bermimpi, melainkan sebagian mereka.

Namun, keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi saw., "Na'am, taribat yaminuki," (Benar, seorang wanita bisa bermimpi). Kemudian ada bukti nubuwwah di akhir ucapan beliau: "Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya."Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan perkataan itu. Laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Benih datang dari pasangan laki-laki menuju indung telur dalam tubuh wanita. Lalu, keduanya bercampur, dalam pengertian separo sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari laki-laki dan separo lainnya kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol antara keduanya. Dari sinilah terjadi penyerupaan.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik, selagi kita dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum din, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya kita membiasakan diri untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum Islam, baik hukum yang kecil maupun hukum yang besar. Sebab, jika seseorang, terutama wanita, lebih banyak dikungkung rasa malu, dia terhalang untuk mengetahui sesuatu.

Mujahid Rahimahullah berkata, "Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu." Sebuah nasihat berharga yang secara eksplisit menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab kedua hal tersebut dapat menghalangi semangat mencari ilmu. Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia mengetahui diennya.

Karena itu, Islam mewajibkan, baik kepada laki-laki maupun wanita untuk mencari ilmu. Bukankah Allah juga berfirman, " .... Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9). Bahkan, terdapat ayat yang secara khusus ditujukan kepada ummahatul mukminin, berupa anjuran mempelajari kandungan Alquran sunah, "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah." (Al-Ahzab: 34).

Karena perintah Allah inilah, para Sohabiyah merasakan keutamaan ilmu. Mereka pun pergi menemui Nabi saw. dan menuntut suatu majlis belajar din bagi mereka. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a., dia berkata, "Para wanita berkata kepada Nabi saw., 'Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas diri baginda, maka buatlah bagi kami dari waktu baginda.' Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka. Pada saat itu beliau menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah, 'Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang baginya dari neraka?' Seorang wanita bertanya, 'Bagaimana dengan dua anak?' Maka beliau menjawab, 'Begitu pula dua anak'."

Abu Zahrah, dari tulisan Majdi as-Sayyid Ibrahim - Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tuesday, May 18, 2010

Jangan belajar Agama dari Al-Muhdits




بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al Isra' [17]:36)

Sedangkan di sisi lain, sebagai umat Muslim kita semua tahu bahwa salahsatu pesan Rasulullah SAW menyangkut ilmu adalah agar kita tidak berhenti belajar, sampai saatnya tiba ke liang lahat! Namun untuk itu kiranya ada beberapa catatan yang sangat perlu diperhatikan agar Insya Allah, kita akan mendapatkan manfaat dari mempelajari ilmu.

Jangan belajar agama dari Al Muhdits
Apa arti al Muhdits?
Imam An-Nawawi berkata;

وَأَمَّا الْمُحْدِث – بِكَسْرِ الدَّال – فَهُوَ مَنْ يَأْتِي بِفَسَادٍ فِي الْأَرْض
“Adapun al-Muhdits-dengan dal yang dikasrahkan-adalah orang yang membawa kerusakan di muka bumi.“ [Syarh Shahih Muslim juz 6 hal. 475 Maktabah Syamilah]  

Lalu, siapa sajakah al Muhdits itu?

Jangan Mengambil Ilmu Agama Dari Ahli Bid'ah
Orang yang berniat mencari ilmu yang Haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari ahli bid'ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari, sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.

Syaikh Utsaimin berkata bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan yang harus ditempuh:

Pertama: Ilmu tersebut diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid'ah dan khurafat. Cara ini membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat.

Kedua: Ilmu tersebut diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat untuk meraih ilmu. Akan tetapi sangat disayangkan, pada zaman ini banyak para penuntut ilmu mengambil atau mempelajari bahkan mendatangkan-mengundang da'i dari kalangan ahli bid'ah. Atau mereka mempelajari agama dari para orientalis barat beraliran liberal yang berasal dari universitas terkenal di Amerika atau negara sekuler barat pada umumnya. Padahal perbuat itu sangat ditentang oleh ulama salaf.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu Anhu berkata:
"Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama."

Abdullah bin Mas'ud Radhiallahu Anhu berkata:
"Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para shahabat Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam ". dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang ahli bid'ah dan hawa nafsu, mereka pasti binasa."

Imam Malik, berkata:
"Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang; (1) Orang bodoh yang telah nyata kebodohannya; (2) Shahibu Hawa' (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraannya dengan manusia, walaupun ia tidak pernah berdusta atas nama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan."

Imam Nawawi
berkata, menjelaskan Ghibah yang diperbolehkan:
"Jika pencari ilmu atau penuntut ilmu sering mengambil ilmu dari ahli bid'ah atau orang fasiq, sedangkan kita khawatir hal itu akan membahayakan si pencari ilmu tersebut, maka kita wajib menasehatinya dengan menjelaskan keadaan gurunya, dengan syarat dia berniat menasihati."

Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili hafizhahullah berkata:
"Maksud peringatan ulama-ulama diatas adalah: Menjaga orang-orang (para penuntut ilmu) dari rusaknya aqidah. Meng-hajr (memboikot-mengisolir) ahli bid'ah yang menyerukan ajaran bid'ahnya, dengan niat mencegah dan menghentikan mereka dari bid'ah."

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih.



Dari Majalah As-Sunnah 03 thn X/1427H / Jul.'06



Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers