Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Syafaat. Show all posts
Showing posts with label Syafaat. Show all posts

Sunday, June 8, 2014

Doa Nabi Adam AS Dan Nama Nabi Muhammad SAW


Bismillahirrohmanirrahim.

Bila anak-cucu Adam AS berdosa dan takut memohon kepada Allah SWT maka hendaklah dia ingat sabda Nabi Muhammaad SAW berikut ini
"Bahwa suatu saat nabi Adam AS berdoa kepada Allah: "Oh, Allah demi namaMu yang maha berkat, tatkala engkau mencipta aku maka aku mengangkat kepalaku ke arasy tiba-tiba terlihat olehku tulisan "Lailaha illallahu muhammad darasulullah" maka aku meyakini bahwa tidak ada yang besar kemuliaannya disisiMu daripada dia yang Engkau letakkan namanya di sisi namaMu." Allah pun berfirman kepada nabi Adam as: "Wahai Adam sesungguhnya dia adalah nabi yang terakhir daripada zuriat engkau dan kalaulah tidak kerananya tidak Kujadikan engkau." 

[Riwayat Imam Tabrani, Hakim, dan lain-lain].

SEMOGA BERGUNA!

Thursday, December 27, 2012

Mengapa hanya Rasulullah Saw yang memiliki syafaat paling besar?




Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat.” Ini adalah sebuah pernyataan yang menunjukkan kepemimpinannya kepada semua manusia sebagai bentuk kenikmatan Allah dan kemuliaan yang diberikan-Nya kepadanya, bukan bentuk kesombongan. Allah SWT berfirman: 

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)." (QS. Ad-Duha: 11)

Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam tanpa ada kesombongan, di tanganku bendera pujian tanpa ada kesombongan, Adam dan manusia di bawahnya berada di bawah benderaku tanpa ada kesombongan.”

Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin semua manusia di dunia dan akhirat. Di akhirat, semua manusia mengakui kepemimpin dan keutamaannya, baik manusia yang beriman maupun durhaka, manusia yang bahagia maupun celaka. Sementara itu, di dunia, tidak semua manusia mengakui kepemimpinannya kecuali manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pemimpin kaum adalah orang yang paling mulia dan murah hati di antara mereka, yang memerhatikan perkara mereka, serta berusaha memberikan kebaikan urusan mereka. Pemimpin kaum adalah orang yang dituju dalam kesedihan dan berbagai bencana serta diharap kebaikannya dalam keadaan-keadaan sulit dan sempit.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyatakan posisi kepemimpinannya agar mereka datang kepadanya dalam keadaan-keadaan yang paling menyulitkan,yaitu saat peristiwa bangkitnya kiamat dan prahara-praharanya. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia dari bencana dan kesulitan saat itu kecuali pemimpin mereka. Ketika itu manusia melihat kepemimpinan Rasulullah SAW dan mengakuinya.

Imam Nawawi mengatakan dalam Syariah Shahih Muslim, “Allah memberikan ilham kepada manusia untuk meminta syafaat kepada Adam dan Rasul sesudahnya pada saat dimulainya hisab dan tidak memberikan ilham kepada mereka untuk meminta syafaat kepada Nabi SAW untuk pertama kalinya. Hal ini adalah untuk memperlihatkankeutamaan Nabi SAW. Ada kemungkinan Rasul lainnya mampu memberikan syafaat ini sebelum mereka meminta syafaat kepada Nabi Muhammad SAW. Apabila mereka memintanya dari Rasul-rasul lain selain Muhammad dan para rasul ini tidak mampu memberikan apa yang mereka minta, lalu mereka meminta syafaat dari Muhammad, dan beliau sanggup memberikan syafaat ini maka ini menunjukkan puncak pangkat, kesempurnaan kedekatan, dan kebesaran pemberian petunjuk dan ketenangan.”

An-Nawawi mengatakan, “Hadis ini juga menunjukkan keutamaan Nabi SAW di atas semua makhluk dari para rasul, anak Adam, dan malaikat. Sesungguhnya tidak ada yang mampu memberikan perkara besar ini – syafaat al-uzhma(agung) –selain beliau. Wallahu a’lam.”

Tidak seorang pun dari para rasul yang dapat memberikan syafaat besar karena saat itu dipenuhi dengan murka Allah SWT. Oleh karena itu, setiap rasul mengatakan, “Sesunggguhnya Tuhan pada hari ini murka dengan murka yang belum pernah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu setelahnya.” Maka tidak dapat mensyafaati kecuali kekasih Allah yang paling terkasihi dan paling dekat dengan-Nya, yaitu Muhammad SAW.

Agar seseorang tidak terjatuh dalam keraguan mengenai apakah para nabi salah atau berdosa padahal mereka adalah maksum, hal tersebut perlu dijelaskan di sini.

Para ulama terdahulu telah memberikan jawaban atas apa yang dinisbatkan kepada para nabi berupa perbuatan dosa, setelah Al-Qur’an dan sunah menunjukkan dengan jelas kemaksuman mereka dari penyelewengan dan perbuatan haram. Setiap ulama terdahulu telah memberikan jawaban yang di dalamnya terdapat penjelasan kesucian para nabi, kesempurnaa, kemuliaan, dan kebebasan mereka dari perbuatan-perbuatan keji dan buruk.

Jika bukan karena khawatir memperpanjang lebar , kami akan menyebutkan disini pendapat-pendapat mengenai hal itu dengan terperinci. Akan tetapi, disini kita menyebutkan satu pendapat yang masyhur di kalanan para ulama yang disebutkan dalam kitab-kitab ulama salaf dan dijelaskan dalam kitab-kitab ulama khalaf.

Dosa-dosa yang dinisbatkan kepada para nabi yang tersebut di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi SAW sama sekali bukan seperti dosa-dosa yang dilakukan oleh selain mereka. Akan tetapi, ini adalah bagian bab kaidah yang ditetapkan dalam masyhur di kalangan semua lapisan ulama baik salaf maupun khalaf.

Kaidah ini berbunyi, “Kebaikan bagi al-abrar adalah keburukan bagi al-muqarrabun, mubah bagi orang awam adalah keburukan bagi orang al-abrar.” Dosa yang dinisbatkan kepada para nabi dalam suatu ayat atau hadis adalah dosa jika dikaitkan dengan posisi mereka yang tinggi dan khusus, walaupun bukan dosa jika dikaitkan dengan selain mereka, bahkan dianggap kebaikan. Wallahu a’lam.

Akhir do’a kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.


[Dari: Mahir Ash Shufiy]

Thursday, July 26, 2012

Rasulullah Saw memohonkan syafaat untuk seluruh umat manusia



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Aku adalah pemimpin semua orang pada hari kiamat. Tahukah kalian apa sebabnya? Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang akhir di suatu dataran tinggi. Mereka dapat dilihat oleh orang yang melihat dan dapat mendengar orang yang memanggil. Matahari dekat sekali dari mereka. Semua orang mengalami kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak mampu memikulnya. Lantas orang-orang berkata, ‘Apakah kalian tidak tahu sampai sejauh mana yang kalian alami ini? Apakah kalian tidak memikirkan siapa yang dapat memohonkan syafaat kepada Rabb untuk kalian?’ Lantas sebagian orang berkata kepada sebagian lain, ‘Ayah kalian semua, Nabi Adam ‘alaihissalam!’.
Syafaat Nabi Adam Alaihissalam
Mereka pun mendatangi beliau, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Adam! Engkau adalah ayah semua manusia. AllahSubhanahu wa Ta’ala menciptakanmu dengan kekuasaan-Nya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuhmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud, sehingga mereka pun bersujud kepadamu. Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempat tinggal kepadamu di surga. Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami? Bukankah engkau tahu apa yang kami alami dan sampai sejauh apa menimpa kami?’ Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Diriku, diriku, diriku. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh‘alaihissalam’.

Syafaat Nabi Nuh Alaihissalam
Lantas mereka mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nuh! Engkaulah Rasul pertama di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebut dirimu hamba yang banyak bersyukur. Bukankah engkau mengetahui apa yang sedang kita alami sekarang? Sudilah kiranya engkau memohonkan syafaat kepada Rabbmu untuk kami?’ Nabi Nuh ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya mempunyai suatu dosa mustajab yang telah saya gunakan untuk mendoakan kebinasaan pada kaumku. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam’.

Syafaat Nabi Ibrahim Alaihissalam
Kemudian mereka pun mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, lalu mereka bertanya, ‘Wahai Ibrahim! Engkau adalah Nabi Allah dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kami. Bukankah engkau telah mengetahui keadaan yang sedang kami alami?’ Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sesungguhnya saya pernah berdusta sebanyak tiga kali. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Musa ‘alaihissalam’.

Syafaat Nabi Musa Alaihissalam
Selanjutnya mereka mendatangi Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Musa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi keutamaan kepadamu dengan kerasulan dan kalam-Nya yang melebihi orang lain. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Musa ‘alaihissalammenjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, saya pernah membunuh seorang manusia padahal saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Isa ‘alaihissalam’.

Syafaat Nabi Isa Alaihissalam
Setalah itu, mereka pun mendatangi Nabi Isa ‘alaihissalam, lalu mereka berkata, ‘Wahai Nabi Isa! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Engkau dapat berbicara dengan orang-orang ketika masih dalam buaian. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas Nabi Isa‘alaihissalam menjawab, ‘Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.’ Nabi Isa tidak menyebutkan dosa yang diperbuatnya. ‘Diriku, diriku, diriku, pergilah ke selain aku. Pergilah pada Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam’.

Syafaat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihiwassalam
Lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya mereka berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penutup para nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang. Mohonkanlah syafaat kepada Rabbmu untuk kita. Bukankah engkau mengetahui keadaan yang sedang kita alami?’ Lantas aku berangkat hingga sampai di bawah Arsy. Kemudian aku bersujud kepada Rabbku. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan padaku pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain diriku. Lalu dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Angkatlah kepadamu. Ajukanlah permohonan, niscaya permohonanmu dikabulkan. Mohonlah syafaat, pastilah akan diterima syafaatmu.’ Selanjutnya aku mengangkat kepalaku, lalu aku berkata, ‘Ummatku, wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku, ummatku wahai Rabbku!’ Lantas dikatakan, ‘Wahai Muhammad! Masukkanlah umatmu yang tidak perlu dihisab dari pintu surga ke sebelah kanan. Mereka juga sama dengan orang-orang lain di selain pintu tersebut.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Dzat yang mengauasai diriku, sesungguhnya jarak anara dua daun pintu dari beberapa daun pintu surga sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar atau antara Mekah dan Bushra’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1 | Kisah Muslim

Saturday, July 23, 2011

Syafaat Menurut Rasulullah SAW




SYAFAAT MENURUT BAHASA DAN ISTILAH

Dalam Bahasa Arab,شفع berarti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Syafaat, yang diambil dari kata syafa‘a ini, dalam istilah berarti memohonkan ampunan untuk dosa yang telah diperbuat. Syafaat juga berarti permohonan ampun oleh seseorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya. Jadi, syafaat Nabi SAW atau manusia-manusia suci lainnya untuk sekelompok umat berarti doa, permohonan ampun, atau juga permintaan atas sebuah hajat ke hadirat Allah SWT untuk umat yang menerima syafaat. Ringkasnya, makna syafaat tidak jauh berbeda dari doa.
SYAFAAT MENURUT AL-QURANUL KARIM

Dalam kitab suci Al-Quran Al-Karim, kata syafaat dipergunakan untuk menunjukkan beberapa arti yang berlainan. Jumlah seluruh ayat yang secara langsung menyebut masalah syafaat ini adalah 25 ayat yang tersebar di delapan belas surat Al-Quran. Semua ayat tadi menunjukkan arti permohonan ampun atas dosa-dosa seperti yang disebutkan dalam arti istilah syafaat yang pertama dan tidak mengacu pada permohonan akan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Tema syafaat dalam Al-Quran Al-Karim dapat kita bagi ke dalam dua permasalahan, yaitu sebagai berikut.
1.  Permasalahan mengenai pemberi syafaat.
2. Permasalahan mengenai kelompok yang berhak menerima syafaat dan mereka yang tidak berhak mendapatkannya.
Perlu dicatat, ketika Al-Quran menjelaskan sebuah kriteria tertentu, berarti ia menerangkan sebuah sifat tertentu yang dimiliki oleh sekelompok orang pada kehidupan mereka di dunia.
Selain kedua permasalahan di atas, sebagian orang berpendapat bahwa ada permasalahan ketiga dalam Al-Quran mengenai syafaat, yaitu bahwa Al-Quran menafikan adanya syafaat sama sekali.

Menurut kami, dalam kitab suci Al-Quran tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan penafian syafaat secara mutlak. Penafian yang ada hanya menunjuk kepada sekelompok orang yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok yang memiliki sifat kekafiran. Sifat inilah yang menyebabkan mereka tidak berhak mendapatkan syafaat. Dengan kata lain, syafaat yang dinafikan oleh Al-Quran adalah yang berhubungan dengan kaum kafir.

Di saat Al-Quran menafikan syafaat bagi sekelompok orang dengan kriteria tertentu, pada saat yang sama, ia menegaskan realitas syafaat bagi kelompok yang menyandang gelar kaum mukminin.

Coba kita simak ayat di bawah ini.

وذر الّذين اتّخذوا دينهم لعبا ولهوا وغرّتهم الحياة الدّنيا وذكّر به أن تبسل نفس بما كسبت ليس لها من دون الله وليّ ولا شفيع وإن تعدل كلّ عدل لا يؤخذ منها ...
"Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau sedangkan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatkanlah mereka dengan Al-Quran agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka karena perbuatan mereka sendiri. Tidak ada pelindung dan pemberi syafaat baginya selain dari Allah. Dan jika mereka hendak menebus kesalahan dengan harga apa pun maka tebusan itu tidak akan diterima …. "[1]

Kita bisa saksikan bahwa ayat ini mengecualikan syafaat bagi orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau dan bagi mereka yang telah ditipu oleh kehidupan dunia.

Lihat juga ayat berikut ini.

يا أيّها الّذين آمنوا أنفقوا ممّا رزقناكم من قبل أن يأتي يوم لا بيع فيه ولا خلّة ولا شفاعة والكافرون هم الظّالمون
"Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah di jalan Allah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat. Sedangkan kaum kafir, mereka adalah orang-orang yang zalim." [2]

Meskipun ayat ini diawali dengan panggilan kepada kaum mukminin, tetapi itu tidak berarti bahwa ayat ini menafikan syafaat sama sekali. Akhir ayat yang menyebutkan bahwa kaum kafir adalah orang-orang yang zalim menunjukkan bahwa ayat ini menafikan syafaat bagi mereka. Jadi, ayat ini menganjurkan kepada kaum mukminin untuk menginfakkan sebagian dari harta mereka di jalan Allah SWT seraya memperingatkan mereka bahwa keengganan berinfak di jalan Allah sama dengan kekufuran. Dengan demikian, orang yang tidak mau berinfak termasuk kelompok kaum kafir dan tidak berhak mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak. Demikianlah Allamah Thabathaba’i menafsirkan ayat di atas.[3]

Perlu kami jelaskan di sini, ayat ini adalah salah satu argumen yang sering digunakan untuk menafikan syafaat. Menurut kami, bergumen dengan ayat ini benar jika saja ayat tersebut tidak diakhiri dengan kalimat,

والكافرون هم الظّالمون
"Dan kaum kafir adalah orang-orang yang zalim."

Kalimat terakhir ini berarti bahwa mereka yang tidak menginfakkan sebagian dari harta mereka di jalan Allah tidak akan menerima syafaat karena mereka masuk ke dalam kelompok kaum kafir, sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Dari sinilah kita katakan bahwa Al-Quran Al-Karim tidak pernah menafikan syafaat secara mutlak. Penafian yang kita dapatkan adalah berkenaan dengan syafaat bagi sekelompok umat manusia yang memiliki kriteria tertentu, yang jika kriteria itu hilang maka hilanglah penafian tersebut.

Sebaliknya, banyak sekali kita temukan ayat-ayat suci Al-Quran yang menunjukkan adanya syafaat, seperti ayat di bawah ini,

هل ينظرون إلاّ تأويله يوم يأتي تأويله يقول الذين نسوه من قبل قد جاءت رسل ربّنا بالحقّ فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا أو نردّ فنعمل غير الّذي كنّا نعمل قد خسروا أنفسهم وضلّ عنهم ما كانوا يفترون
"Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran, berkatalah orang-orang yang sebelum itu telah melupakannya, “Sesungguhnya telah datang utusan-utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran. Adakah pemberi syafaat bagi kami atau dapatkah kami kembali (ke dunia) sehingga kami dapat melakukan perbuatan yang lain dari apa yang pernah kami perbuat?” Sesungguhnya mereka telah merugikan diri sendiri dan lenyaplah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." [4]

Ayat ini menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh mereka yang telah mendustakan Allah. Pada hari kiamat, mereka tidak mendapatkan syafaat karena mereka adalah orang-orang telah merugikan diri sendiri. Artinya, pada saat yang sama, ayat ini menjelaskan akan adanya syafaat yang tidak bakal mereka terima.

Allah SWT berfirman,

لا يملكون الشّفاعة إلاّ من اتّخذ عند الرحمن عهدا
"Tidak ada orang yang mendapatkan syafaat kecuali mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah."[5]

Pada ayat lain, Allah berfirman,

يومئذ لا تنفع الشّفاعة إلاّ من أذن له الرّحمن ورضي له قولا
"Di hari itu, syafaat tidak akan berguna kecuali bagi orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhai perkataannya." [6]

Simak pula ayat berikut ini.

ولا يملك الّذين يدعون من دونه الشّفاعة إلاّ من شهد بالحقّ وهم يعلمون
"Dan sesembahan yang mereka sembah tidak dapat memberi syafaat. Akan tetapi (yang dapat memberi syafaat adalah) orang yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya." [7]

Semua ayat di atas (dan masih banyak ayat lainnya) menunjukkan akan adanya syafaat di hari kiamat nanti. Hanya saja, pemberi syafaat haruslah memiliki beberapa kriteria seperti,

من اتّخذ عند الرحمن عهدا
Mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.

من أذن له الرّحمن
Orang yang telah diberi izin oleh Allah.

من شهد بالحقّ وهم يعلمون
Orang yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.

Mereka yang memiliki tiga sifat tersebut adalah hamba-hamba Allah yang berhasil mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya sehingga bisa memberi syafaat kepada orang-orang yang mereka kehendaki, tentunya setelah mendapat izin dari Allah SWT.

Kesimpulan dari seluruh pembahasan di atas adalah bahwa syafaat merupakan fakta yang benar-benar ada di hari kiamat nanti. Hanya saja, baik pemberi syafaat maupun yang menerimanya haruslah memiliki kriteria-kriteria tertentu dan syafaat ini tidak akan didapatkan oleh sebagian orang.

Untuk lebih jelasnya, kami anjurkan pembaca yang budiman untuk menelaah ayat-ayat yang berkenaan dengan hal ini, yang nantinya juga akan kami singgung pada pembasahan-pembahasan yang akan datang. Ayat-ayat tersebut adalah:

Surat Al-Baqarah ayat 48, 123, 254, dan 255, Surat Al-Nisa’ ayat 85, Surat Al-A’raf ayat 53, Surat Al-Anbiya’ ayat 28, Surat Al-Syu’ara’ ayat 100, Surat Al-Muddatstsir ayat 48, Surat Al-An’am 5 ayat 1, 70, dan 94, Surat Yunus ayat 3 dan 18, Surat Maryam ayat 87, Surat Thaha ayat 109, Surat Saba’ ayat 23, Surat Al-Zumar ayat 43 dan 44, Surat Al-Zukhruf ayat 86, Surat Yasin ayat 23, Surat Al-Najm ayat 26, Surat Al-Fajr ayat 3, Surat Ghafir ayat 18, dan Surat Al-Rum ayat 13.

Ayat-ayat tentang Orang yang Tidak Memperoleh Syafaat
Telah kami jelaskan bahwa di dalam kitab suci Al Quran, tidak ada satu ayat pun yang menafikan syafaat secara mutlak. Bahkan sebaliknya, banyak ayat suci Al-Quran yang menjelaskan tentang syafaat. Sedangkan orang-orang yang tidak berhak mendapatkan syafaat adalah kaum kafir dengan segala macam bentuk kekafi-rannya.

Bentuk-bentuk kekafiran yang menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat telah diterangkan di dalam Al Quran. Al-Quran menyebut kaum kafir dengan sifat yang bermacam-macam, di antaranya sebagai berikut.

الّذين نسوه من قبل
(Orang kafir adalah) mereka yang sebelum ini melalaikannya (melalaikan hari kiamat).

المكذّبون بيوم الدّين
(Orang kafir adalah) orang-orang yang mendustakan hari kiamat.

Masih ada sebutan-sebutan lain yang semuanya mengandung arti kekufuran mereka terhadap nikmat yang telah Allah berikan.

Orang-orang yang tidak akan menerima syafaat dikelompokkan ke dalam beberapa golongan sebagaimana yang diterangkan oleh ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut.

1. Kufur Nikmat

يا أيّها الّذين آمنوا أنفقوا ممّا رزقناكم من قبل أن يأتي يوم لا بيع فيه ولا خلّة ولا شفاعة والكافرون هم الظّالمون
"Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah di jalan Allah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, persahabatan dan syafaat. Sedangkan kaum kafir, mereka adalah orang-orang yang zalim." [8]

Keengganan dalam mengeluarkan sebagian harta pemberian Allah merupakan salah satu perwujudan sikap kekafiran dan kezaliman seseorang. Jika akhir ayat ini kita hubungkan dengan awalnya maka makna yang dapat kita petik darinya adalah bahwa mereka yang tidak menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah termasuk dari kelompok kaum kafir yang sudah tentu tidak akan menerima syafaat di hari kiamat nanti.

2. Pengikut Setan
Allah SWT berfirman,

هل ينظرون إلاّ تأويله يوم يأتي تأويله يقول الذين نسوه من قبل قد جاءت رسل ربّنا بالحقّ فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا أو نردّ فنعمل غير الّذي كنّا نعمل قد خسروا أنفسهم وضلّ عنهم ما كانوا يفترون
"Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran, berkatalah orang-orang yang sebelum itu telah melupakannya, “Sesungguhnya telah datang utusan-utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran. Adakah pemberi syafaat bagi kami atau dapatkah kami kembali (ke dunia) sehingga kami dapat melakukan perbuatan yang lain dari apa yang pernah kami perbuat?” Sungguh mereka telah merugikan diri sendiri dan lenyaplah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan." [9]

فكبكبوا فيها هم والغاوون , و جنود إبليس أجمعون , قالوا وهم فيها يختصمون , تالله إن كنّا لفي ضلال مبين , إذ نسوّيكم بربّ العالمين , وما أضلّنا إلاّ المجرمون , فما لنا من شافعين , ولا صديق حميم .
"Maka mereka (sesembahan-sesembahan) itu dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat dan seluruh bala tentara Iblis. Mereka berkata ketika sedang bertengkar di dalam neraka, “Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata karena kita telah mempersamakan kalian dengan Tuhan semesta alam. Tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang pendosa. Kini tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat kepada kami, dan kami juga tidak lagi memiliki teman yang akrab...” [10]

Kedua ayat suci di atas menjelaskan bahwa mereka yang melalaikan agamanya dan memilih untuk menjadi pengikut setan serta tenggelam di dalam lumpur kedurjanaan, tidak akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti.

3. Pendusta Hari Kebangkitan
Ayat berikut ini menceritakan bahwa orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan serta mengingkari hari kiamat dan hari penghitungan tidak akan menerima syafaat.

… وكنّا نكذّب بيوم الدّين , حتى أتانا اليقين , فما تنفعهم شفاعة الشّافعين
"…dan kami telah mendustakan hari pembalasan hingga maut datang menjemput kami." Maka (saat itulah) syafaat para pemberi syafaat tidak berguna lagi untuk mereka. [11]

4. Orang yang Mempermainkan Agama
Allah SWT dalam sebuah ayat menjelaskan tentang nasib orang-orang yang menjadikan agama sebagai sasaran olok-olok dan main-main di hari kiamat nanti. Ayat tersebut adalah,

وذر الّذين اتّخذوا دينهم لعبا ولهوا وغرّتهم الحياة الدّنيا وذكّر به أن تبسل نفس بما كسبت ليس لها من دون الله وليّ ولا شفيع وإن تعدل كلّ عدل لا يؤخذ منها أولئك الّذين أبسلوا بما كسبوا لهم شراب من حميم و عذاب أليم بما كانوا يكفرون
"Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai sasaran olok-olok dan senda gurau dan mereka yang telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatkanlah mereka dengan Al-Quran agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka karena perbuatan mereka sendiri. Tidak ada pelindung dan pemberi syafaat bagi mereka selain dari Allah. Jika mereka hendak menebus kesalahan dengan harga apa pun maka tebusan itu tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka karena perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka telah tersedia minuman dari air yang mendidih dan azab yang sangat pedih disebabkan oleh kekafiran mereka dahulu." [12]

5. Kaum Zalim
Allah SWT berfirman,

وأنذرهم يوم الأزفة إذ القلوب لدى الحناجر كاظمين ما للظّالمين من حميم ولا شفيع يطاع ..
"Peringatkanlah mereka tentang hari yang dekat itu (hari kiamat). Ketika itu, hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak memiliki teman setia seorang pun dan tidak ada pula orang yang dapat memberi syafaat kepada mereka." [13]

6. Penyekutu Allah
Dalam banyak ayatnya, Al-Quran Al-Karim dengan sangat jelas menyebut bahwa kaum musyrik --mereka yang menyekutukan Allah-- tidak akan mendapat syafaat di hari kiamat. Pada saat yang sama semua sesembahan mereka selain Allah tidak dapat memberikan bantuan apapun kepada mereka. Allah SWT berfirman,

ويعبدون من دون الله مالا يضرّهم ولا ينفعهم و يقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله قل أتنبئون الله بما لا يعلم في السّموات ولا في الأرض سبحانه وتعالى عمّا يشركون
"Dan mereka menyembah selain Allah apa-apa yang tidak dapat mendatangkan petaka bagi mereka dan tidak pula memberikan manfaat, dan mereka berkata, “Mereka inilah yang akan memberi syafaat kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah, “Apakah kalian memberitahu Allah sesuatu yang tidak dikenal oleh-Nya baik di langit maupun di bumi?” Mahasuci Allah dari apa-apa yang mereka persekutukan." [14]

ولم يكن لهم من شركائهم شفعاء وكانوا بشركائهم كافرين ..
"Dan tidak ada di antara sesembahan itu yang dapat memberi syafaat kepada mereka, dan mereka mengingkari persekutuan itu." [15]

… وما نرى معكم شفاءكم الذين زعمتم أنّهم فيكم شركاء لقد تقطّع بينكم وضلّ عنكم ما كنتم تزعمون
"… dan Kami tidak melihat adanya pemberi syafaat bagi kalian dari sesembahan-sesembahan ini yang telah kalian jadikan sebagai sekutu (Allah). Sungguh telah terputuslah (hubungan) di antara kalian dan lenyaplah apa kalian dakwakan sebelum ini." [16]

أم اتّخذوا من دون الله شفعاء قل أو لو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون
"Bahkan mereka memilih pemberi syafaat selain dari Allah. Katakanlah, “Apakah hal ini kalian lakukan padahal mereka tidak memiliki apapun dan tidak berakal?” [17]

ءأتخذ من دونه آلهة إن يردن الرّحمن بضرّ لا تغن عنّي شفاعتهم شيئا ولا ينقذون
"Mengapa aku mesti memilih tuhan-tuhan lain selain Dia. Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghen-daki suatu petaka bagiku, niscaya mereka tidak akan dapat memberiku syafaat dan mereka tidak dapat menyelamatkanku." [18]

Jika kita memperhatikan makna dari masing-masing ayat mengenai orang-orang kafir di atas, kita akan dapat menyimpulkan bahwa pertama, ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa segala hal yang mereka sekutukan dengan Allah, baik berhala maupun yang lainnya, tidak dapat memberikan syafaat untuk mereka, ketika harus masuk ke dalam api neraka karena kemusyrikan mereka. Kedua, ayat-ayat tadi juga menjelaskan bahwa kaum kafir tidak akan mendapat syafaat dari para pemberi syafaat --seperti Nabi dan manusia-manusia suci lainnya-- karena mereka memang tidak berhak untuk memperoleh ampunan.

Dari sini jelaslah, bahwa syafaat adalah pertolongan di hari kiamat yang tidak akan didapatkan oleh mereka yang masuk di dalam kategori kaum kafir dengan berbagai macam bentuknya.

Semua ayat yang kami sebutkan tadi, meskipun menafikan adanya syafaat untuk sekelompok umat manusia dengan kriteria-kriteria tertentu, namun tidak menafikannya secara mutlak, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

SYAFAAT DALAM HADITS SUCI

Berbeda dengan banyak permasalahan lainnya dalam ilmu kalam, syafaat merupakan satu permasalahan yang dengan jelas telah disebutkan dalam ayat-ayat suci Al-Quran Al-Karim dan hadis suci yang telah disabdakan oleh Nabi SAW dan para Imam Ma’sum Ahlul Bait a.s. Di bawah ini kami nukilkan beberapa hadis berkenaan dengan masalah syafaat ini.

1. Jabir bin Abdillah Al-Anshari r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

أُعطيتُ خمسا لم يعطهنّ أحد قبلي .. و أعطيت الشّفاعة ولم يعط نبي قبلي ..
"Allah SWT telah memberi lima hal yang tidak Dia berikan kepada selainku…Aku dianugerahi hak untuk memberikan syafaat padahal tidak ada seorang nabi pun selainku yang mendapatkan hak ini…" [19]

2. Rasulullah SAW bersabda,

.. فمن سأل لي الوسيلة حلّت له الشّفاعة
"Jika seseorang memohonkan wasilah untukku, maka ia akan mendapatkan syafaat." [20]

3. Dalam hadis yang lain beliau SAW bersabda,

... إنّما شفاعتي لأهل الكبائر من أمّتي
"Syafaatku akan kuberikan kepada umatku yang melakukan dosa besar." [21]

4. Beliau SAW juga bersabda,

اشفعوا تشفّعوا و يقضي الله عزّ وجلّ على لسان نبيّه ما شاء
"Mintalah syafaat, niscaya kalian akan mendapatkannya dan Allah SWT akan mengabulkan semua permintaan Nabi-Nya." [22]

5. Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda,

أنا أوّل شفيع في الجنّة ...
"Aku adalah orang pertama yang memberi syafaat di surga… " [23]

6. Ka’ab Al-Ahbar membawakan hadis yang sama dengan riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لكلّ نبي دعوة يدعوها فأريد أن أختبئ دعوتي شفاعة لأمّتي يوم القيامة
"Semua nabi memiliki doa yang dikabulkan oleh Allah dan aku menyimpan doa ini sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat." [24]

7. Abu Nadhrah berkata, “Suatu hari Ibnu Abbas r.a. berkhotbah di mimbar masjid kota Bashrah. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

إنّه لم يكن نبي إلاّ له دعوة قد تنجزها في الدّنيا وإنّي قد اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي وأنا سيّد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر ... فيقال ارفع رأسك وقل تُسمع وسل تُعط واشفع تشفّع ، قال صلى الله عليه وآله وسلّم :
فارفع رأسي فأقول أي ربي أمتي أمتي فيقال لي أخرج من النّار من كان في قلبه كذا وكذا فأخرجهم
"Semua nabi mempunyai sebuah doa mustajab di dunia. Namun aku menyimpannya untuk hari kiamat kelak sebagai syafaat bagi umatku. Tanpa menyombongkan diri, aku adalah penghulu seluruh anak cucu Adam…(di hari kiamat kelak) aku akan mendengar suara yang mengatakan, “Angkatlah kepalamu. Katakan sesuatu pasti kata-katamu akan didengar. Mintalah sesuatu, pasti permintaanmu akan terkabul dan berilah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima.” Lalu aku mengangkat kepalaku seraya mengatakan, “Wahai Tuhanku, umatku-umatku.” Allah SWT menjawab, “Keluarkanlah siapa saja yang memiliki sifat ini dan ini di hatinya.” Lantas aku pun mengeluarkan mereka dari neraka.” [25]

8. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,

أُعطيتُ خمسا لم يعطهنّ نبي قبلي ولا أقولهن فخرا بعثت إلى الناس كافة الأحمر و الأسود ، و نُصرتُ بالرعب مسيرة شهر ، وأحلت لي الغنائم ولم تحل لأحد قبلي ، وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا ، وأعطيت الشفاعة فاخرتها لأمتي فهي لمن لا يشرك بالله شيئا
"Aku telah diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah Dia berikan kepada seorang nabi pun selainku, dan (ketahuilah) bahwa aku mengatakannya kepada kalian bukan karena rasa sombongku. (1) Aku diutus kepada seluruh umat manusia, baik mereka yang berkulit merah maupun yang berkulit hitam. (2) Aku telah diberi kemenangan atas musuh-musuhku dengan perasaan takut yang menghantui mereka terhadapku, dari jarak perjalanan satu bulan. (3) Harta ghanimah (rampasan perang) halal bagiku, padahal sebelumnya tidak. (4) Seluruh permukaan bumi adalah masjid (tempat bersujud) dan suci dalam syariat yang kubawa ini. (5) Aku juga dianugerahi oleh Allah hak memberi syafaat yang aku simpan untuk umatku di hari kiamat dan akan kuberikan kepada siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya." [26]

9. Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إذا سمعتم مؤذنا فقولوا مثل ما يقول ثمّ صلّوا عليّ فإنّه من صلّى عليّ صلّى الله عليه بها عشرا ثمّ سلوا لي الوسيلة فإنّها منزلة في الجنة لا تنبغي إلاّ لعبد من عباد الله , و أرجو أن أكون أنا هو , فمن سأله لي الوسيلة حلّت عليه الشفاعة
"Jika kalian mendengar seorang muazin mengumandangkan azan maka tirukanlah setiap kata yang ia ucapkan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Karena jika seseorang membaca shalawat kepadaku maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali karena shalawatnya tersebut. Kemudian, mintalah wasilah untukku, karena wasilah itu adalah sebuah kedudukan yang tinggi di surga yang hanya berhak didapatkan oleh seorang hamba Allah yang sebenarnya, dan aku berharap semoga aku dijadikan sebagai hamba Allah yang sebenarnya itu. (Ketahuilah) jika seseorang memohonkan washilah untukku, ia pasti akan mendapatkan syafaatku." [27]

10. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW saat menafsirkan ayat, 
 عسى أن يبعثك ربك  مقاما محمودا  bersabda,

الشفاعة
(Maksudnya adalah) syafaat. [28]

11. Rasulullah SAW bersabda,

رأيت ما تلقى أمتي بعدي ... فسألت أن يوليني شفاعة يوم القيامة فيهم ففعل
"Aku telah mengetahui apa yang kelak akan dilakukan oleh umatku…Karena itulah aku memohon kepada-Nya untuk memberiku hak memberi syafaat kepada mereka, dan Dia mengabulkannya." [29]

12. Dalam hadis yang lain beliau SAW bersabda,

ليخرجنّ قوم من أمتي من النار بشفاعتي يسمّون الجهنميين
"Kelak di hari kiamat akan ada sekelompok orang dari umatku yang keluar dari siksa api neraka berkat syafaatku, mereka inilah yang disebut dengan Jahanna-miyyun (orang-orang dari neraka jahannam)." [30]

13. Rasulullah SAW bersabda,

شفاعتي نائلة إنشاء الله من مات ولا يشرك بالله شيئا
"Syafaatku, insya Allah, akan didapatkan oleh siapa saja yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan selain-Nya." [31]

14. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata,

لنا شفاعة ولأهل مودتنا شفاعة
"Kami memiliki syafaat yang akan diberikan kepada mereka yang mencintai kami." [32]

15. Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam doa beliau mengatakan,

اللهمّ صلّ على محمد وآل محمد و شرّف بنيانه و عظّم برهانه , وثقّل ميزانه و تقبل شفاعته
"Ya Allah, limpahkalah shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Muliakanlah kedudukan-nya, kuat-kanlah agamanya, beratkanlah neraca amalnya dan terimalah syafaatnya." [33]

16. Rasulullah SAW bersabda,

يا بني عبد المطلب إنّ الصدقة لا تحلّ لي ولا لكم , ولكني وعدت الشفاعة
"Wahai Bani Abdul Muththalib, sedekah haram bagiku dan bagi kalian semua, dan (sebagai gantinya) aku menjanjikan syafaat (untuk kalian)." [34]

17. Imam Zainal Abidin a.s. dalam doanya berkata,

... وتعطف عليّ بجودك وكرمك , وأصلح منّي ما كان فاسدا , وتقبل مني ما كان صالحا , وشفّع فيّ محمدا وآل محمد , واستجب دعائي وارحم تضرّعي وشكواي ...
"(Ya Allah) perlakukanlah aku dengan kemurahan dan kebaikan-Mu. Luruskanlah semua hal buruk yang ada pada diriku dan terimalah amal kebaikan yang kulakukan. Jadikanlah Muhammad dan keluarganya sebagai para pemberi syafaatku (di hari akhir). Kabulkan doaku dan kasihanilah kerendahan dan pengaduanku ini… "[35]

18. Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,

المؤمن مؤمنان : مؤمن وفى لله بشروطه التي شرطها عليه , فذلك مع النبيـين و الصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا وذلك من يشفع ولا يشفع لـه وذلك ممن لا تصيبه أهوال الدنيا ولا أهوال الآخرة , ومؤمن زلت به قدم فذلك كخامة الزرع كيفما كفئته الريح انكفأ و ذلك ممن تصيبه أهوال الدنيا و الآخرة و يشفع له و هو على خير
"Mukmin ada dua macam. Pertama adalah orang mukmin yang telah menepati semua janji suci keimanannya dengan Allah. Orang yang demikian ini akan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang saleh; sungguh kebersamaan yang terbaik. Ia kelak akan dapat mensyafaati dan tidak lagi memerlukan syafaat orang lain. Di hari kiamat, ia akan terbebas dari segala kekalutan yang ada saat itu. Sedang mukmin jenis kedua adalah orang mukmin yang tergoda hawa nafsunya sehingga melakukan kesalahan dan dosa. Ia laksana sebatang ranting patah yang dipermainkan oleh tiupan angin. Di hari kiamat ia tidak akan lepas dari ketakutan yang menimpa penghuni mahsyar, namun ia akan mendapat syafaat yang membawanya kepada kebaikan." [36]

19. Rasulullah SAW bersabda,

إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم فغفر لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
"Sesungguhnya pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya."

Dalam sebagian riwayat disebutkan tambahan ini,

إلاّ أهل التبعات فإن الله عدل يأخذ للضعيف من القوي
"... kecuali mereka yang berbuat zalim, karena Allah akan mengambil hak bagi orang lemah dari yang kuat."

Ketika malam tiba, sekelompok orang tengah asyik bermunajat dengan Tuhan mereka dan memohonkan ampunan bagi para pendosa. Pada saat Nabi SAW sampai di antara mereka, beliau bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal perintahkan semuanya untuk diam sejenak!”. Setelah semuanya diam, beliau bersabda,

إنّ ربكم تطوّل عليكم في هذا اليوم فغفر لمحسنكم و شفّع محسنكم في مسيئكم فأفيضوا مغفورا لكم
"Sesungguhnya pada hari ini Tuhan melihat kepada kalian dengan pandangan rahmat-Nya. Dia telah mengampuni mereka yang melakukan kebajikan dari kalian dan menjadikannya sebagai pemberi syafaat bagi siapa saja yang telah melakukan dosa di antara kalian. Kini, pergilah dalam keadaan dosa kalian telah diampuni oleh-Nya. Dan beliau SAW memberikan jaminan keridhaannya untuk para pelaku maksiat." [37]

20. Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. ketika menjelaskan keutamaan Al-Quran berkata,

إنه ما توجّه العباد إلى الله تعالى بمثله , واعلموا أنه شافع مشفّع وقائل مصدّق , و أنه من شفع له القرآن يوم القيامة شفّع فيه
"Tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalihkan perhatian seorang hamba kepada Allah SWT lebih dari Al Quran. Ketahuilah bahwa ia adalah pemberi syafaat dan pembicara yang benar. Jika seseorang diberi syafaat oleh Al Quran, maka Allah SWT pasti menerima syafaat tersebut." [38]

Semua hadis di atas (dan masih banyak hadis lainnya yang tidak bisa kami nukilkan seluruhnya di sini) dengan sangat jelas menunjukkan bahwa masalah syafaat telah dikenal di kalangan kaum muslimin sejak awal masa Islam dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari akidah Islamiah, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dan para Imam Ma’sum Ahlul Bait a.s.

Lebih jauh lagi, sejarah kenabian menceritakan kepada kita bahwa pada masa hidup Rasulullah SAW kaum muslimin menaruh perhatian khusus pada permasalahan ini dan mereka sering meminta kepada beliau untuk memberi syafaat kepada mereka kelak di hari kiamat.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa ayahnya berkata, “Aku pernah meminta Nabi SAW untuk memberiku syafaat di hari kebangkitan nanti.” Nabi SAW dalam menjawab permintaan sahabatnya ini bersabda, “Aku pasti akan mengabulkan permintaanmu ini”. Lalu ia berkata lagi, “Ya Rasulullah, di manakah aku dapat menjumpai Anda?” Beliau SAW menjawab,

اطلبني أول ما تطلبني على الصراط
"Carilah aku pertama kali di sirat." [39]

Dalam kitab Matn Al-Washithiyyah disebutkan, “Yang pertama kali membuka pintu surga adalah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan umat pertama yang masuk ke dalam surga adalah umat Muhammad. Beliau SAW di hari kiamat nanti memiliki tiga syafaat. Syafaat pertama adalah syafaat yang diberikan di padang mahsyar setelah seluruh umat manusia mendatangi para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam a.s., dan berakhir pada beliau SAW. Adapun syafaat kedua, adalah syafaat yang diberikan kepada para penghuni surga untuk dapat memasukinya. Kedua syafaat ini adalah hak khusus yang hanya dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan syafaat ketiga adalah syafaat yang diberikan kepada mereka yang semestinya masuk ke dalam api neraka. Syafaat ini selain hak beliau juga dapat diberikan oleh para nabi lainnya, juga para shiddiqin (orang-orang yang benar) dan orang-orang saleh yang lain. Dengan syafaat ketiga ini, mereka yang semestinya masuk ke neraka bisa diampuni dan lolos dari siksa sedangkan mereka yang telah memasukinya akan dikeluarkan dari sana.”[40]

Sirah Al-Halabiyyah menceritakan bahwa setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berdiri di sisi jenazah suci Nabi SAW dan sembari membuka kain penutup wajah utusan terakhir Tuhan ini berkata, “Demi ayah dan ibuku, sungguh mulia hidup dan matimu. Ingatlah kami di sisi Tuhanmu, ya Rasulullah. Semoga kami tetap mendapat tempat di hatimu.” [41][Bersambung]


CATATAN KAKI

[1] QS. Al-An’am: 70.
[2] QS. Al-Baqarah: 254.
[3] Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran 2 hal. 323.
[4] QS. Al-A’raf: 53.
[5] QS. Maryam: 87.
[6] QS. Thaha: 109.
[7] QS. Al-Zukhruf: 86.
[8] QS. Al-Baqarah: 254.
[9] QS. Al-A’raf  53
[10] Al-Syu’ara’: 94-101.
[11] QS. Al-Muddatstsir: 46–48.
[12] QS. Al-An’am: 70.
[13] QS. Ghafir: 18.
[14] QS. Yunus: 18.
[15] QS. Al-Rum: 13.
[16] QS. Al-An’am: 94
[17] QS. Al-Zumar: 43.
[18] QS. Yasin: 23.
[19] Sahih Bukhari 1 hal. 86-113.
[20] Sunan An-Nasa`i 2 hal. 26.
[21] Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih 3 hal. 376.
[22] Sunan Al-Nasa’i 5 hal. 78.
[23] Sahih Muslim 1 hal. 130.
[24] Sahih Muslim 1 hal. 130–132, Sahih Bukhari 7 hal. 145 dan 8 hal. 193, Musnad Ahmad 2 hal. 313 dan 396.
[25] Musnad Ahmad 1 hal. 295–296.
[26] Musnad Ahmad 1 hal. 301.
[27] Musnad Ahmad 2 hal. 168.
[28] Musnad Ahmad 2 hal. 444.
[29] Musnad Ahmad 2 hal. 428.
[30] Sunan Al-Turmudzi 4 hal. 114, dan Sunan Ibnu Majah 2 hal. 1443.
[31] Musnad Ahmad 2 hal. 426.
[32] Amali Al-Shaduq hal. 291.
[33] Shahifah Sajjadiyyah, doa nomer 43.
[34] Kulaini, Al-Kafi 4 hal. 58.
[35] Shahifah Sajjadiyyah 2 hal. 282, cetakan dengan catatan kaki.
[36] Kulaini, Al-Kafi 2 hal. 248.
[37] Kulaini, Al-Kafi 2 hal. 258.
[38] Nahjul Balaghah khotbah nomer 176.
[39] Sunan Al-Turmudzi 4 hal. 621 kitab Sifah Al-Qiyamah bab 9.
[40] Ibnu Taimiyyah, Matn Al-‘Aqidah Al-Washithiyyah hal. 58-59, Penerbit Maktabah Al-Sawadi, Saudi Arabia.
[41] Halabi, Al-Sirah Al-Nabawiyyah 3 hal. 474.

Friday, May 21, 2010

Syafaat Rasulullah Saw


Para pembaca yang mulia,
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita diatas agama yang lurus, agama yang Haq dan yang di ridhoi-Nya. “Inad- diina indal laahil islam”

Segenap puji dan syukur diperuntukkan hanya bagi Allah ‘Azza wa alla, karena dengan taufiq dan ‘inayah-Nya jualah yang telah menggerakkan hati kami untuk selalu berusaha menyampaikan yang haq, meskipun hanya berupa sepenggal ayat maupun hadits, dengan harapan agar kita sekalian dapat lebih memahami segala sesuatu tentang cara beribadah kepada Allah dan beramal shalih sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan As-Sunnah, yaitu sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam kepada kita sekalian sebagai ummatnya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, utusan Allah yang menjadi rahmat bagi sekalian alam, yaitu baginda Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam, juga kepada keluarga beliau serta seluruh umat yang setia mengikuti risalah yang dibawa oleh beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam sampai akhir jaman.

SYAFAAT (PEMBELAAN)

Syafa’at merupakan suatu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada setiap Nabi yaitu berupa Do’a yang mustajab (do’a yang pasti diperkenankan). Karena itu para Nabi, segera memanfaatkan do’anya itu. “Tetapi aku (kata Rasulullah Saw), insya’allah akan mengundurkan do’aku itu untuk membela umatku kelak di hari kiamat.” [Lihat Shahih Muslim no.160]

Dalil: Shahih Muslim No.152; Jabir bin Abdullah r.a., mengatakan bahwa Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: "Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan suatu kaum dari neraka karena Syafa’at."

Shahih Muslim No.157; Dari Anas bin Malik r.a., katanya Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: "Aku adalah orang yang pertama-tama menjadi pembela di surga kelak. Dan aku adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya dari sekalian Nabi-nabi.”

Para pembaca yang dimuliakan Allah,
Janganlah berputus asa dari rahmat Allah! Sebagai manusia biasa, kita tentu tidak akan luput dari perbuatan dosa, baik disengaja atau pun tidak. Namun, betapapun besarnya dosa-dosa yang pernah kita lakukan, bahkan hingga memenuhi langit dan bumi, ingatlah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha pengampun serta Maha kasihsayang kepada hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat dengan sebenar taubat! Manakah yang lebih besar, dosa-dosa kita ataukah Pengampunan-Nya?

Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah berfirman: “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” Setiap kali kita berbuat kesalahan, malaikat pencatat dosa memberi tenggang waktu beberapa saat, menunggu hingga kita mau bertaubat, sebelum mencatatnya kedalam kitab “dosa-dosa” kita. Dan bila kita menyesali perbuatan dosa itu dan kemudian bertaubat, maka Allah Yang ‘Ghafurrur Rahiim’, niscaya akan mengampuni setiap dosa, kecuali dosa-dosa yang bersifat ‘Syiriq’.

Dalam satu hadits Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda:

“Akan dikeluarkan dari neraka, orang yang mengucapkan ‘LA ILAAHA ILALLAH,’ sedangkan dalam hatinya terdapat iman seberat biji gandum. Kemudian orang yang mengucapkan ‘LA ILAAHA ILALLAH’, sedangkan dalam hatinya terdapat iman seberat beras. Kemudian yang mengucapkan ‘LA ILAAHA ILALLAH’, , sedangkan dalam hatinya terdapat iman seberat debu.” (Shahih Muslim no.154)

Berikut ini adalah petikan dari hadits-hadits Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam yang berhubungan dengan ‘SYAFA’AT’ (Pembelaan) yang kami tuliskan untuk para pembaca sekalian dengan harapan semoga dapat menjadi penyejuk hati dan selalu yaqin bahwa Allah SWT akan selalu bertindak Adil kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa, serta yang bertawakkal hanya kepada-Nya semata.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash r.a., katanya: “Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam membaca firman Allah yang menyebutkan doa Ibrahim As:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Ya, Tuhanku! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia; maka siapa yang mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku.” (QS Ibrahim:36).

Dan doa Isa As:
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Jika Engkau siksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau ampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Maidah: 118).

Lalu Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Allahumma, ummati, ummati!” (Wahai, Allah! umatku! umatku!). Dan sesudah itu Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam menangis. Maka berfirmanlah Allah ‘Azza wa Jalla kepada Jibril a.s., : “Hai, Jibril! Pergilah kepada Muhammad!--dan sesungguhnya Tuhanmu Maha Tahu -- Tanyalah kepadanya mengapa ia menangis.”

Maka pergilah Jibril kepada Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam menanyakan kenapa dia menangis. Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam lalu menceritakan kepada Jibril kenapa beliau menangis dan mengatakan: "Padahal Allah Maha Tahu." Maka firman Allah, “Hai, Jibril! Pergilah kepada Muhammad, katakan kepadanya: “Aku akan membolehkanmu membela umatmu dan tidak akan mengecewakanmu.”

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda:

“Aku adalah pemimpin umat manusia di hari kiamat. Tahukah kalian, mengapa Allah mengumpulkan semua umat sejak yang pertama sampai yang terakhir di dalam satu lapangan? Di sana diperdengarkan kepada mereka teriak orang yang memanggil-manggil, yang menyebabkan segala pemandangan tertuju kepada mereka; matahari dekat sekali kepada mereka, sehingga mereka berkeluh-kesah karena tak sanggup menanggung derita. Mereka berkata kepada sesamanya, “Bagaimana kalau kita mohon syafa’at kepada Tuhan kita. Semoga Dia membebaskan kita dari tempat ini? Berkata yang lain, ”Datanglah kepada Adam!”

Maka mereka pun pergi kepada Adam, lalu kata mereka, “Wahai, Adam! Anda adalah Bapak manusia yang diciptakan Allah dengan tangan-Nya sendiri. Kemudian ditiupkan-Nya ruh-Nya di tubuh Anda, dan diperintah-Nya malaikat supaya sujud kepada Anda, lalu mereka sujud. Belalah kami di hadapan Tuhanmu. Bukankah Anda telah menyaksikan bagaimana pedihnya penderitaan yang kami alami ini?” Jawab Adam, “Sesungguhnya pada hari ini Tuhan sangat marah kepadaku. Tidak pernah DIA marah semarah ini. Dia melarangku mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakai-Nya. Wahai, aku salah! Aku salah! Karena itu pergilah kepada yang lain. Pergilah kepada Nuh!”

Mereka pun pergi kepada Nuh, seraya berkata, “Wahai, Nuh! Anda adalah Rasul yang pertama-tama dikirim ke bumi. Dan Allah menjuliki Anda dengan “Abdan Syakuran’ (hamba yang bersyukur). “Belalah kami di hadapan Tuhanmu. Bukankah Anda telah menyaksikan bagaimana pedihnya derita kami ini?” Jawab Nuh a.s. kepada mereka: “Sesungguhnya pada hari ini Tuhan sangat marah kepadaku. Tidak pernah DIA marah semarah ini. Aku mengembang tugas memanggil umatku (kedalam agama Allah). Tetapi apalah dayaku, aku berdo’a agar umatku dimusnahkan. Karena itu pergilah kepada Ibrahim a.s.!”

Karena itu mereka datang kepada Ibrahim, lalu berkata, “Wahai, Ibrahim! Anda adalah ‘Nabiyullah wa Khalilullah” (Nabi Allah dan kekasih-Nya) dari penduduk bumi. Karena itu belalah kami di hadapan Tuhanmu. Bukankah Anda telah melihat penderitaan kami sudah sampai di puncaknya?” Jawab Ibrahim As. kepada mereka: “Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah kepadaku. Tidak pernah DIA marah semarah ini sebelum dan sesudahnya.” Lalu dia menyebutkan beberapa kebohongannya dan sesudah itu dia berkata, “Wahai malang diriku! Malang diriku! Pergilah kamu sekalian kepada Musa As!"

Mereka pun pergi mendatangi Musa a.s.dan berkata kepadanya, “Wahai, Musa! Anda adalah ‘Rasulullah wa Kalamullah” (Rasul Allah dan kawan-Nya berbicara). Karena itu belalah kami di hadapan Tuhanmu. Bukankah Anda telah menyaksikan derita kami sudah sampai di puncaknya?” Jawab Musa a.s. kepada mereka: “Sesungguhnya pada hari ini Tuhan sangat marah kepadaku. Tidak pernah DIA marah semarah ini sebelum dan sesudahnya.” Aku pernah membunuh orang yang tidak diperintahkan membunuhnya. Wahai, malang kiranya aku, malang kiranya aku! Karena itu, temuilah Isa As.”

Mereka pun pergi kepada Isa As lalu berkata, “Wahai, Isa! Anda adalah ‘Ruhullah wa Kalimatuhu” (Ruh Allah dan Kalimah-Nya). Dan Anda sanggup berbicara dengan manusia selagi Anda masih dalam buaian. Dan anda adalah Kalimah Allah yang ditujukan-Nya kepada Maryam serta setiap ruh dari pada-Nya. Karena itu belalah kami di hadapan Tuhanmu. Bukankah Anda telah menyaksikan derita kami sudah sampai di puncaknya?” Jawab Isa a.s. kepada mereka: “Sesungguhnya Tuhanku sedang marah hari ini. Tidak pernah DIA semarah ini sebelum dan sesudahnya.” (Tetapi Isa a.s. tidak menyebutkan dosanya). Karena itu, pergilah kepada yang lain. Pergilah kepada Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam! Seorang hamba Allah yang telah diampuni dosa-dosanya baik yang lama maupun yang baru.”

Kata Nabi Shalallahu’Alaihi Wassalam selanjutnya, “Karena itu mereka datang kepadaku lalu berkata, “Ya, Muhammad! Anda adalah Rasulullah dan penutup segala nabi. Allah telah mengampuni dosa Anda yang telah lalu dan yang baru. Karena itu belalah kami di hadapan Tuhan Anda. Bukankah Anda telah menyaksikan derita kami sudah sampai di puncaknya?" Mendengar permintaan mereka itu, maka aku pergi sehingga tiba di bawah ‘Arasy. Di sana aku sujud kepada Tuhanku. Lalu Allah membukakan hijab (penutup) bagiku serta mengilhamkan kepadaku kalimah-kalimah pujian dan sanjungan-sanjungan yang indah terhadap-Nya, yang belum pernah diajarkan-Nya kepada orang lain sebelumku. Kemudian Allah berfirman, “Ya, Muhammad! Angkatlah kepalamu! Mintalah! Permintaanmu akan dikabulkan, Belalah! Pembelaanmu akan diterima.” Maka kuangkat kepalaku seraya berkata, “Wahai, Tuhanku! Umatku! Umatku!”

"Lalu difirmankah Allah kepadaku, “Ya, Muhammad! Masukkanlah ke surga umatmu yang tidak perlu lagi di hisab (diadili), melalui pintu-pintu sebelah kanan, sedangkan yang lain, secara bersama-sama dari pintu-pintu yang lain.” Demi Allah, yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya jarak dua daun pintu dari pintu-pintu surga itu adalah kirakira sejauh antara Makkah dengan Hajar (nama suatu desa di Madinah) atau antara Makkah dengan Bushra.” (Shahih Muslim no. 155)

Dalam hadits lain dengan perawi yang sama, Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam berkata: “... Kemudian Allah berfirman, “Ya, Muhammad! Angkatlah kepalamu! Mintalah! Permintaanmu akan dikabulkan, Belalah! Pembelaanmu akan diterima.” Maka kuangkat kepalaku seraya memuji Tuhanku dengan puji-pujian yang diajarkan-Nya kepadaku. Kemudian kumohonkan pembelaan kepada umat manusia, sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah bagiku. Sesudah itu aku keluarkan mereka dari neraka lalu kumasukkan ke surga. Sesudah itu aku sujud kembali, dan Allah membiarkanku sujud sampai lama. Setelah itu Dia berfirman, “Ya, Muhammad! Angkatlah kepalamu! Mintalah! Permintaanmu akan dikabulkan, Belalah! Pembelaanmu akan diterima.” Lalu kuangkat kepalaku seraya memuji Tuhanku dengan puji-pujian yang diajarkan Allah kepadaku. Sesudah itu barulah kumohonkan pembelaan kepada umat manusia, sesuai dengan ketentuan yang digariskan Allah bagiku. Lalu aku keluarkan mereka dari neraka lalu kumasukkan ke surga. Kata Kata Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam melanjutkan, “Aku lupa apakah kali yang ketiga atau yang keempat, dimana sesudah itu aku berkata: "Ya, Allah! Tidak ada lagi yang tinggal dalam neraka, kecuali orang-orang yang memang ditentukan Al-Qur’an harus kekal tinggal di dalamnya.” (Shahih Muslim no. 153)

UMAT YANG ISTIMEWA

Kaum muslimin itu merupakan kaum yang terakhir menerima Kitab (Al-Qur’an), Akan tetapi kelak mereka akan terlebih dahulu di hisab dan lebih dahulu masuk surga.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash r.a., katanya: “Nabi Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: “Aku akan datang nanti ke surga, lalu kuminta supaya pintu dibukakan. Penjaga (malaikat) bertanya, “Siapakah Anda?” Jawabku, “Muhammad!” Lalu kata penjaga, “Aku diperintahkan supaya tidak membuka pintu ini sebelum Anda datang,”

Wallahu A’lam Bis Shawab.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.

Para pembaca yang di muliakan Allah,
Syafa’at Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam sangatlah penting bagi kita yang belum mengetahui masalah yang ghaib, termasuk apakah kita kelak akan bernuntung menjadi ahli surga atau sebaliknya akan tergolong menjadi orang yang merugi karena besarnya dosa-dosa dan belum sempat bertaubatan nashuha, sehingga kelak akan terlempar mengisi jurang-jurang neraka yang azabnya tak terperikan rasanya?

Barangsiapa yang inginkan pembelaan dari Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam, maka perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau, agar kelak di yaumil akhir, kita akan memperoleh syafaat dari beliau Shalallaahu Alaihi Wassallam.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

(QS Al-Ahzab [33]:5)


Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers