Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Sufi. Show all posts
Showing posts with label Sufi. Show all posts

Wednesday, June 17, 2015

Ittihad Al-Hulul dan Wahdatul Wujud - Hubungan Tuhan Dan Hamba


1. Pengertian Ittihad
Ittihad berasal dari kata ittahad-yattahid-ittihad (dari kata wahid) yang berarti bersatu atau kebersatuan. Paham ini dicetus oleh Abu Yazid al-Busthami (w. 260 H). menurutnya ittihad secara komprehensif maupun secara etimologis berarti integrasi, menyatu, atau persatuan. Ittihad secara terminologis berarti persatuan si hamba dengan tuhan. Ittihad merupakan pengalaman puncak spiritual seorang sufi, ketika ia dekat, bersahabat, cinta dan mengenal Tuhan sedemikian rupa hingga dirinya merasa menyatu dengan Tuhan.

Ittihad dicapai dengan beberapa proses (maqamat) dengan tazkiyat al-nafs hingga melewati mahabbah dan ma’rifah kemudian mengalami fana’ dan baqa’ sebagai pintu gerbang menuju ittihad. Fana’ secara etimologis berarti keluruhan diri kemanusiaan, hancur, lenyap dan hilang. Sedangkan baqa’ secara etimologis berarti kekal, abadi, tetap dan tinggal.

2. Pengertian Al-Hulul
Hulul secara etimologis berasal dari kata hall-yahull-hululberarti berhenti atau diam. Paham ini dipelopori oleh seorang sufi yaitu Manshur Al Hallaj (w. 309 H). Dalam tasawuf, Abu Manshur al-Hallaj menyatakan bahwa hulul adalah pengalaman spiritual seorang sufi sehingga ia dekat dengan Tuhan, lalu Tuhan memilih kemudian menempati dan menjelma padanya.

3. Pengertian Wujud atau Wahdatul Wujud
Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dia-lah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Dari pengertian yang hampir sama, terdapat pula kepercayaan selain wahdatul wujud, yaitu Wahdatul Syuhud yaitu kita dan semuanya adalah bagian dari dzat Tuhan.

Wahdatul Wujud sebenarnya adalah suatu ilmu yang tidak disebarluaskan ke orang awam. Sekalipun demikian, para wali-lah yang mencetuskan hal tersebut. Karena sangat dikhawatirkan apabila ilmu wahdatul wujud disebarluaskan akan menimbulkan fitnah dan orang awam akan salah menerimanya. Wali yang mencetuskan tersebut contohnya adalah Al Hallaj dan Ibn Arabi. Meskipun demikian, para wali tersebut tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan dan mereka tetap dikenal sebagai ulama alim.[1]

Syaikh Sa'id Fudah berkata: Adapun wusul menurut golongan sufi yang berpaham wahdatul-wujud adalah penzahiran bahwa wujud kita ialah 'ain wujud Tuhan. Maka, ini adalah suatu penzahiran ittihad wujud kita dengan wujud Tuhan. Adapun wusul menurut golongan sufi yang beraqidah ahlus-sunnah wal jamaah ialah beri'tiqad dengan kefakiran makhluk kepada Tuhan, dalam masa yang sama mengekalkan wujud kita berlainan dengan wujud Tuhan, namun tiada ittihad dalam ahlus-sunnah.

4. Perspektif Syaikh Ahmad Rifa’i [2] tentang Tasawuf
Tasawuf merupakan ungkapan pengalaman keagamaan yang bersifat subjectif dari seseorang dalam menanggapi Tuhan dengan menitik beratkan pada aspek pemikiran dan perasaan. Dalam arti lain, tasawuf juga dapat diartikan sebagai usaha akal manusia untuk memahami realitas dan akan merasa senang manakala dapat sampai pada Tuhannya. [3]

Pemikiran tasawuf Syaikh Ahmad Rifa’i pada dasarnya juga merupakan bagian dari gagasan untuk mempertahankan hubungan harmonis antara syari’at, tarekat dan hakikat yang dirumuskan dengan istilah ilmu telu yaitu Ushul, fiqh dan tasawuf. [4] Untuk melihat pandangan tasawuf Syaikh Ahmad Rifa’i akan dilihat dengan tiga masalah pokok yaitu, keseimbangan antara syari’at, tarekat dan hakikat. Pembagian tasawuf bercorak amali dan falsafi.

Syaikh Ahmad Rifa’i memandang bahwa seorang sufi selain mengamalkan tasawuf juga dituntut untuk bisa menjalankan ilmu ushuluddin dan fiqihnya. Maka dengan pengertian lain bahwa seorang yang belajar ilmu tasawuf tidak melalui tahapan ilmu ushuluddin dan fiqihnya maka dianggap tidak sah ketaatannya. [5] Dari syair di atas dituliskan, beliau mengkritik ahli tasawuf yang meninggalkan syari’at, beliau juga mengkritik ahli fiqih yang meninggalkan tarekat dan hakikat. Menurutnya, mereka orang-orang yang membelakangi Tuhan disatu pihak dan dapat menjadi kufur dilain pihak.

Junaid al-Baghdadi dan al-Ghozali memberikan penegasan lebih lanjut akan pentingnya amalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut al-Junaidi, [6] tasawuf adalah pengabdian kepada Tuhan dengan penuh kesucian. Oleh karena itu, barangsiapa yang membersihkan diri dari segala sesuatu selain Tuhan maka ia adalah sufi.[7] Sejalan dengan pandangan ini, al-Ghozali mengatakan bahwa tasawuf adalah mengosongkan batin atau membersihkan diri dari kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi suci dan bersih.[8]

Pemikiran tasawuf Syaikh Ahmad Rifa’i, pada dasarnya juga merupakan bagian dari gagasan untuk mempertahankan hubungan harmonis antara syari’at, tarekat dan hakikat yang dirumuskan dengan istilah Ushul, fiqh dan tasawuf. Dengan pendekatan aksiologinya dalam rangka mencapai kedekatan diri kepada yang haq yaitu ma’rifat dan taqarrub yang dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa harus melalui aturan sebagaimana lazim terjadi dalam dunia tarekat. Jika hendak ditelusuri berdasarkan apa yang ditulis dalam beberapa karanganya, akan terlihat ia tidak pernah menyebut dirinya baik secara langsung ataupun tidak sebagai penganut qadariyah. Hampir dalam setiap karanganya ia selalu menyatakan dirinya sebagai penganut tarekat ahlussuni.

Jika dilihat dari segi terminologisnya tasawuf Syaikh Ahmad Rifa’i bersifat praktis (amali) dan teoritis (nadzari) dengan menyempurkan ketiga disiplin ilmu untuk mendekatkatkan diri pada Tuhan (taqarrub) antara Ushuludin, fiqh dan tasawuf. Dalam rangka mendeskripsikan ketiga diatas, Syaikh Ahmad Rifa’i membagi disiplin ilmu menjadi dua hal. Yaitu, ilmu dhahir adalah ilmu fiqh dan ilmu bathin yaitu ushuludin dan tasawuf. [9]

Pandangan Syaikh Ahmad Rifa’i mengenai keterkaitan hubungan antara syari’at, tarekat dan hakikat secara global memiliki unsur persamaan dengan konsep tasawuf Junaidi al-Baghdadi dan Imam al-Ghozali. Jika dilihat dalam kerangka pemikiran berdasarkan pengalaman para sufi yang dikategorikan menjadi dua diatas, yakni amali (akhlaqi) dan na’ari (falsafi), maka corak pemikiran tasawuf Syaikh Ahmad Rifa’i termasuk dalam kategori Amali (akhlaqi) atas dasar pertimbangan bahwa isi ajaran tasawuf beliau berupa latihan rohani dengan jalan:
  1. Pengisian diri dengan sifat terpuji (tahalli),
  2. Pengosongan sifat tercela (takhalli) yang kemudian ditindak lanjuti dengan kedekatan diri kepada Tuhan (taqarrub),
  3. Pengenalan Tuhan dengan mata hati (ma’rifat).

Dengan demikian dapat dikatakan klimaks dari tujuan tasawuf dalam pandangan Syaikh Ahmad Rifa’i adalah tercapainya tiga kondisi diatas (khauf, mahabbah dan makrifat). Hal ini dapat dijelaskan dalam karyanya sebagai berikut:

a. Khauf
Secara terminologis khauf dalam dunia tasawuf bersifat variatif sejalan dengan pengalaman subjektif dari para sufi. Menurut Abu Ali ad-Daqqaq, khauf itu terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu khauf, khasyyah dan haibah. Khauf adalah syarat keimanan, khasyyah adalah syarat ilmu dan haibah adalah syarat makrifat. Dalam mengetengahkan pandangan tentang Khauf ini sebagai salah satu puncak amalan tasawuf bersama sama dengan mahabbah dan makrifat. [10]

Sebagaimana dikemukakan di atas, Syaikh Ahmad Rifa'i menyatakan dalam karanganya:

Derajat parek iku makrifat ning manah
Cukule makrifat ngedohi penyegah
Kinarepaken dipurih parek ing Allah luhur
Iku wajib wedi lan asih anut milahur
Maring Allah taat saking haram mungkur
Kuwasane netepi wajib tan mundur [11]

artinya:
Derajat dekat itu makrifat dalam hati
Munculnya makrifat menjauhi larangan
Bertujuan mendekat Allah luhur
Kepada Allah taat dari haram menghindar
Berusaha menjalankan kewajiban tidak mundur

Syair di atas memberikan penjelasan bahwa tingkatan kedekatan manusia dengan Tuhan adalah makrifat dalam hati yang dapat dicapai dengan menjauhi larangan. Adapun ungkapan "iku wajib wedi lan asih anut milahur" dalam syair di atas, memberi penjelasan bahwa takut kepada Tuhan perlu disertai dengan rasa cinta yang dalam. Pemikir tasawuf Sunni sering disebut istilah Khauf wa Raja'.

Raja' adalah suatu sikap mental yang optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba-hambaNya yang saleh, karena ia yakin bahwa Tuhan itu Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pengampun. Dengan begitu, kedua kata ini memiliki pengertian berbeda satu dengan lainnya, namun memiliki hubungan karena pada umumnya para sufi tidak hanya berhenti pada rasa takut tetapi juga harapan karena adanya rasa ketergantungan kepada Tuhan. Hubungan tersebut antara lain digambarkan dengan pengalaman sufi seperti Abu Ali ar-Rudbari yang menyatakan bahwa hubungan antara khauf dan raja' laksana dua sayap burung yang saling menopang untuk terbang.[12]

Jika para sufi di atas menggunakan istilah raja' sebagai kelanjutan dari rasa takut kepada Tuhan, maka Syekh Ahmad Rifa'i menggunakan kata asih (cinta) sebagai kelanjutan dari khauf itu dan bahkan dalam syair di atas juga diberi penjelasan tingkatan berikutnya yaitu makrifat. Tingkatan ini dapat dipandang sebagai klimaks dari tujuan akhir tasawuf sehingga orang yang telah sampai kepadanya dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya.

b. Mahabbah
Dalam masalah mahabbah, syekh Ahmad Rifa'i banyak menggunakan istilas "asih" (bahasa jawa berarti cinta) sebagai gambaran untuk menyatakan tentang mahabbah. Selain itu, pandangan Rifa'i mengenai hal ini terlihat lebih banyak tertuju kepada implikasi sehari-hari dibandingkan dengan perhatian ekslusif yang biasanya terjadi pada para sufi sebagaimana pengalaman Jalaludin Rumi, Rabi'ah al-Adawiyah, Nuri dan lain-lain. [13] Perbedaan ini lebih jauh terlihat dalam tasawufnya sebagaimana terlukis dalam beberapa syairnya, antara lain:

Utawi wong asih sebenere pangeran
Iku arep bektiyo wongiku linakonan
Ing Allah anut perintahe kewajiban
Ugo ngedohi saking gede maksiat
Naliko ngenani dosa nuli tobat [14]

artinya:
Adapun orang yang mencintai Allah sebenar-benarnya Tuhan
itu kehendak berbakti orang tersebut perbuatannya
kepada Allah mengikuti perintah kewajiban
juga menjauhi dari maksiat besar
ketika melakukan dosa

Syair di atas menjelaskan bahwa indikasi orang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, terlihat pengabdiannya kepada Tuhan dibuktikan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi segala perbuatan maksiat. Jika ia berdosa, maka dengan segera ia melakukan tobat.

Penekanan pada aspek pelaksanaan kewajiban dan menjauhi larangan sebagai indikasi cinta kepada Allah. Lebih jauh dalam syairnya yang lain dituliskan:

Utawi wong asih ing Allah nyatane
Iku dadi nyawane iman keuripane
Ngalamate urip netepi wajib lakune
Lan ngedohi saking haram sekuasane
Iku tanda asih ing Allah ning manah [15]

artinya:
Adapun hati cinta kepada Allah ta'ala sesungguhnya
itu menjadi nyawanya iman kehidupannya
dan menjauhi dari yang haram sekuat tenaga
itulah tanda cinta kepada Allah dalam hati
tanda hidupnya tetap melaksanakan kewajibannya

Pernyataan di atas mengkaitkan masalah cinta dengan keimanan dan merupakan unsur vital di dalamnya. Di sini ia terlihat keluar dari bingkai akidah yang pada umumnya mengaitkan persoalan iman dengan perilaku sebagai kelanjutan dari persoalan klasik seputar status pembuat dosa besar yang mana apakah tetap muslim ataupun kufur.

Keterkaitan pandangannya tentang mahabbah dengan masalah keimanan ini dinyatakan lebih lanjut dalam ungkapannya yang berbunyi:

Utawi wong asih sing Allah milahur
Iku dadi syarat sahe iman jujur
Manfaat akhirat ning swarga luhur
Ikulah arep urip imane tinutur [16]

artinya:
Adapun orang yang cinta kepada Allah dengan benar
itu menjadi sahnya iman jujur
Manfaat akhirat di surga luhur
itulah akan hidup imannya tersebut

c. Ma’rifah
Makrifat Adalah mengenali dzat dan sifat Tuhan secara benar. Mengenal Tuhan merupakan pengetahuan yang paling sulit sebab tidak ada yang serupa denganNya. Namun demikian, Tuhan mewajibkan semua makhluk-manusia, jin, malaikat dan seluruh makhluk untuk mengenali zat, nama dan sifat-sifatNya.

Sebagaimana dijelaskan pada pembahasan di atas bahwa makrifat merupakan puncak ajaran tasawuf dari Syaikh Ahmad Rifa’i setelah melalui tiga tahapan yaitu, pengisian sifat terpuji, pengosongan sifat tercela dan munculnya kondisi mental berupa takut (khauf dan mahabbah). Sebagaimana termaktub dalam syairnya:

Allah dzat wajib wujud nyata kamalat
Dipandeng kelawan nur kehimmat
Kang sinelehaken ning telenge ati kebatinan
Dadi hasil waspada ati tingalan
Ing barang penggawe saking Allah kenyataan
Qudrat iradat ilmu hayat kesifatan
Ikulah wong wes tumeko ing Allah makrifat
Ningali ing kenugrahane Allah laku taat [17]

artinya:
Allah zat wajib al-wujud benar sempurna
Dipandang melalui nur pemberian yang dicita-citakan
yang diletakkan dalam relung hati kebatinan
menjadikan hati memiliki kewaspadaan dalam penglihatan
pada sesuatu ciptaan Allah kenyataan
Qudrat iradat ilmu hayat disifati
itulah orang sudah sampai pada Allah makrifat
melihat pada kemurahan Allah berbuat taat

Syair diatas memperlihatkan bahwa untuk sampai pada tingkatan makrifat maka diperlukan penglihatan terhadapNya dengan menggunakan nur diletakan dalam relung hati (telenge ati) yang merupakan pemberian Allah. Dengan demikian kondisi makrifat merupakan pemberian Allah kepada orang orang tertentu sebagaimana diungkapkan oleh Nicholson,

"Direct knowledge of God based on revelation and apocalyptic vision. It is not the result of any mental procces but depends entirely on the will and favour of God, who bestow it as a gift from himself upon those whom he has created with the capacity of receiving it." [18]

Artinya, makrifat adalah pengetahuan langsung dari tuhan berdasarkan wahyu dan pengkihatan yang langsung diberi ikan tuhan. Ia tdk berasal dari proses mental tetapi merupakan anugrah kepada mereka yang memiliki kemampuan untuk menerimanya.

Dilihat dari asal usul makrifat yang tidak dapat dikontrol (pemberian langsung dari Tuhan), maka secara tidak langsung Rifa'i mengakui adanya konsep yang tidak pernah ia sebutkan secara eksplisit. Sekalipun ajaran makrifat ini sering dianggap mengandung unsur-unsur mistis dan disamakan dengan paham theosofi Hellenisme [19](Gnostik) sebagaimana dijelaskan oleh Nicholson. [20] Namun dalam pandangan RIfa'i, makrifat memiliki kekhususan dan tidak mengandung unsur mistik. Ungkapan Rifa'i yang berbunyi "ikulah wong wus tumeko ing Allah makrifat ningali ing kanugrahane Allah laku taat" memperlihatkan bahwa dalam kondisi orang telah mencapai makrifat ia mampu melihat kekuasaan Tuhan dan memperlihatkan ketaatannya kepada-Nya.

5. Keyakinan Ittihad, Al-Hulul dan Wahdatul Wujud
Dalam tinjauan al-Hafiz al-Suyuti, keyakinan hulul, ittihad dan wahdatul wujud mengikut sejarah awal mulanya yang berasal dari pada kaum Nasrani. Mereka meyakini bahwa Tuhan menyatu dengan Nabi Isa. Dalam pendapat lainnya, Tuhan menyatu dengan Nabi Isa sekaligus dengan ibunya, Maryam. Hulul dan Wahdatul Wujud ini sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam. Kemudian apabila ada beberapa orang ynag mengaku sufi meyakini dua akidah tersebut atau salah satu daripada keduanya, jelas ia seorang sufi palsu. Para ulama, baik ulama Salaf dan Khalaf dan kaum sufi sejati hingga sekarang telah sepakat dan terus memerangi dua akidah tersebut. [21]

Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Sayuthi menilai seorang yang berkeyakinan hulul atau wahdatul wujud jauh lebih buruk dari pada keyakinan kaum Nasrani kerana dalam keyakinan Nasrani Tuhan hanya menyatu dengan Nabi Isa atau dengan Maryam sekaligus, [22] tetapi keyakinan hulul dan wahdatul wujud adalah Tuhan menyatu dengan manusia tertentu, atau menyatu dengan setiap komponen dari pada alam ini.

Demikian juga dalam penilaian Imam al-Ghazali jauh lebih dahulu sebelum al-Sayuthi. Beliau sudah membahas secara terperinci tentang kesesatan dua akidah ini. Dalam pandangan beliau, teori yang diyakini kaum Nasrani bahwa al-lahut (Tuhan) menyatu dengan al-Masut (makhluk), yang kemudian di ambil oleh paham hulul dan ittihad adalah kesesatan dan kekufuran. [23] Antara karya al-Ghazali yang cukup komprehensif dalam penjelasan kesesatan paham hulul dan ittihad ialah al-Mumqidh Min al-Dalal dan al-Maqasad al-Asma Fi Syarh Asma' Allah al-Husna. Dalam dua buah buku ini beliau telah menyerang habis-habisan paham-paham kaum sufi palsu. Termasuk juga dalam karya terulungnya, Ihya' Ulumuddin.

Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyad juga menjelaskan bahwa keyakinan ittihad berasal daripada kaum Nasrani yang berpendapat bahwa ittihad terjadi hanya pada Nabi Isa, tidak pada nabi-nabi yang lain. Kemudian tentang teori hulul dan ittihad ini kaum Nasrani sendiri berbeda pendapat, sebagian dari mereka menyatakan bahwa yang menyatu dengan tubuh Nabi Isa ialah sifat-sifat ketuhanan. Pendapat yang lain mengatakan bahwa Zat Tuhan yang menyatu yaitu dengan melebur pada tubuh Nabi Isa laksana air yang bercampur dengan susu. Selain itu ada pendapat-pendapat mereka yang lain. Semua pendapat mereka tersebut secara kasarnya memiliki pemahaman yang sama, yaitu pengertian kesatuan (hulul dan ittihad), dan semua paham-paham tersebut diyakini secara pasti oleh para ulama islam sebagai kesesatan. [24]

Imam Fakh al-Razi dalam kitab al-Mahsal Fi Usuluddin, menulis seperti yang berikut:
"Sang Pencipta (Allah) tidak menyatu dengan yang lain, kerana apabila ada sesuatu bersatu dengan sesuatu yang lain, maka bereti sesuatu tersebut menjadi dua, bukan lagi satu. Lalu jika kedua-duanya tidak ada atau menjadi hilang (ma'dum) maka kedua-duanya tidak bersatu. Demikian juga apabila salah satunya tidak ada (ma'dum) dan satu yang lainnya ada (maujud), maka kedua-duanya tidak bersatu, kerana yang ma'dum tidak mungkin bersatu dengan yang maujud"

Qadi Ayyad ibn Musa dalam kitab Ash-shifa bi ta'rif huquq al-Mustafamenyatakan seluruh orang islam telah sepakat dalam meyakini kesesatan akidah hulul dan kekufuran yang meyakini bahwa Allah menyatu dengan tubuh manusia. Keyakinan-keyakinan seperti ini, dalam tinjauan Qadi Iyad tidak lain hanyalah dari pada orang sufi palsu, kaum Batiniyah, Qaramitah dan kaum Nasrani. [25] Dalam kitab tersebut Qadi Iyad menulis:

"Seorang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, atau berkeyakinan Allah ialah benda, maka dia tidak mengenal Allah (kafir) seperti orang Yahudi. Demikian juga telah menjadi kafir orang yang berkeyakinan bahawa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya (hulul), atau bahawa Allah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain seperti kaum Nasrani"

Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hisni mengatakan kekufuran seorang yang berkeyakinan hulul dan wahdatul wujud lebih buruk dari pada kekufuran orang Yahudi dan Nasrani. Kaum Yahudi menyekutukan Allah dengan Uzair sebagai anak-Nya. Kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan mengatakan Isa dan Maryam sebagai Tuhan Anak dan Tuhan Ibu, yang oleh mereka disebut dengan doktrin triniti. Sementara pengikut akidah hulul dan wahdah al-wujud meyakini Allah menyatu dengan zat-zat makhluk-Nya. Artinya dibandingkan dengan yahudi dan Nasrani, pemeluk akidah hulul dan wahdatul wujud memiliki lebih banyak tuhan, bukan hanya satu atau dua saja, kerana mereka menganggap bahwa setiap komponen dari pada alam ini merupakan bagian dari pada Zat Allah. Imam al-Hisni menyatakan siapa pun yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memerangi akidah hulul dan akidah wahdatul wujud maka ia memiliki kewajiban untuk mengingkarinya dan menjauhkan orang islam dari kesesatan dua akidah tersebut. [26]

Sebuah wasiat yang disampaikan oleh Syekh Ahmad al-Rifa'i, kepada para muridnya adalah:
"Majelis kita ini suatu masa akan berakhir, maka yang hadir di sini hendaklah menyampaikan kepada yang tidak bahwa siapapun yang membuat bida’ah di jalan ini, merintis sesuatu yang bahru yang menyalahi ajaran agama, berkata-kata dengan wahdatul wujud, berdusta dengan keangkuhannya kepada para makhluk Allah, melucu dengan kalimat-kalimat yang tidak dipahaminya yang dikutip dari kaum sufi, merasa senang dengan kedustaannya, berkhalwat dengan perempuan asing tanpa hajat yang dibenarkan syariat, tertuju pandangannya kepada kehormatan kaum muslimin dan harta-harta mereka, membuat permusuhan antara para wali Allah, membenci kaum muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syariat, menolong orang yang zalim, menghinakan orang yang dizalimi, mendustakan orang yang jujur, membenarkan orang yang dusta, berperilaku dan berkata-kata seperti orang bodoh maka saya terbebas (tiada hubungan) dari orang seperti itu di dunia dan akhirat. [27]

Qadi Abu al-Hasan al-Mawardi mengatakan seorang yang berpendapat hulul dan ittihad, ia bukan seorang mukmin yang beriman dengan syariat Allah. Seorang yang berkeyakinan hulul ini tidak akan memberikan manfaat kepada dirinya sekalipun ia berkobar-kobar membicarakan akidah tanzih. Seorang yang mengaku Ahli tanzih tetapi ia meyakini akidah hulul atau ittihad adalah seorang mulhid (kafir). Dalam tinjauan al-Mawardi, bukan suatu yang logis apabila ia mengaku ahli tauhid sementara itu ia berkeyakinan bahwa Allah menyatu pada jasad manusia. Sama halnya pengertian bersatu di sini dengan sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat manusia, atau meleburnya antara dua zat; Zat Allah dengan zat makhluk-Nya. Kerana apabila demikian maka berarti tuhan memiliki bagian-bagian permulaan dan penghabisan, serta memiliki sifat-sifat makhluk lainnya. [28]


[Sumber: Artikel Pilihan Rahmat Sadchalis]

CATATAN KAKI
[1]  Ensiklopedia
[2]  Tokoh sufi besar pendiri tarekat Rifa’iyah, sebuah ordo sufi yang memiliki banyak pengikut, terutama di daratan Afrika Utara.
[3]  Abd. Hakim Hasan. "Attasawuf Asy’ir fil Arabi." Cairo : Maktabah Anglo Masyriah, 1954, hal. 19
[4]  Dr. Abdul Jamil. "Perlawanan Kiyai Desa." Yogkarta : LKIS, 2001, hal. 114
[5]  Syeh Ahmad Rifa’I. "Abyan al-Hawaaij." korasan 21, Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2001
[6]  A.J. Arbery. "Muslim saint and Mystics." Routledge and kegan Paul, 1966, hal.199
[7]  Ibrahim Basyuni. "Nasy’ah Tasawwuf al-Islamy." Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969, hal.22
[8]  Al-Ghozali. "Ihya ‘ulumudin." Juz I. Libanon : bairut, 2004, hal.123
[9]  Syaikh Ahmad Rifa’i. "Asnal Maqasid." korasan 21, Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2001, hal. 201
[10]  Dr. Abdul Djamil. "Perlawanan kiai desa." Yogkarta : LKIS, 2001, hal. 162
[11]  Syaikh Ahmad Rifa’i. "Ri’ayatal Himmah." juz I, korasan 24. Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2000, hal. 91
[12]   al-Qusyairi. "Ar-Risalah." ... hal 318-319
[13]  Nicholson yang secara khusus membicarakan mengenai mahabbah (divine love) dengan mengetengahkan pernyataan beberapa sufi yang menggambarkan watak eksklusif dari pengalama rohani mereka. Lihat juga Harun Nasution dalam "Filsafat dan mistisisme dalam islam" hal.73-74, yang melukiskan pengalaman Rabi'ah al-Adawiyah yang berkaitan dengan paham mahabbah ini.
[14]   Syeh Ahmad Rifa’I. "Abyan al-Hawaaij." juz VI, korasan 69. Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2001, hal. 301
[15]   ibid.,
[16]   Syeh Ahmad Rifa’I. "Abyan al-Hawaaij." juz VI, korasan 71.
[17]   Syeh Ahmad Rifa’I. "Abyan al-Hawaaij." juz VI, korasan 69. Lihat juga juz V dan "Asn al-Miqsad." juz II
[18]   Nicholson. "The Mystic of Islam." London: Keqan Paul Ltd., 1966, hal. 71
[19]   muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk mendapatkan keselamatan.
[20]   ibid., "The Mystic of Islam."
[21]   al-Sayuthi. "Al-Hawi li Al-Fatawa." Juz II. hal 139. Pembahasan lebih luas tentang keyakinan kaum Nasrani dalam teori Hulul dan Ittihad lihat di Al-Syahrastani. "al-Milal wa al-Nihal." Beirut, Lebanon : Dar al-Fikr, 1997, hal. 178-183
[22]   Yang mereka sebut dengan “Doktrin Triniti”
[23]   ibid., "Al-Hawi li Al-Fatawa."
[24]   ibid., ditambah kutipan dari Imam al-Haramain dalam al-Irsyad.
[25]   Qadi Ayyad ibn Musa. "Ash-shifa bi ta'rif huquq al-Mustafa." juz II. hal. 236
[26]   Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hisni. "Kifayatul Akhyar." juz I. hal. 198
[27]   al-Habasyi. "al-Maqamat al-Sunniyah." hal. 435-436
[28]   al-Sayuthi, Jalal al-Din. "Al-Hawi li Al-Fatawa." juz II. hal. 132


DAFTAR PUSTAKA
  • Al-Ghozali. "Ihya ‘ulumudin." Juz I. Libanon : bairut, 2004
  • al-Habasyi. "al-Maqamat al-Sunniyah."
  • al-Sayuthi, Jalal al-Din. "Al-Hawi li Al-Fatawa." Makkah : Nizar Musthafa al-Baz, 1987
  • al-Qusyairi. "Ar-Risalah."
  • Al-Syahrastani. "al-Milal wa al-Nihal." Beirut, Lebanon : Dar al-Fikr, 1997
  • Arbery, A.J. "Muslim saint and Mystics." Routledge and kegan Paul, 1966
  • Basyuni, Ibrahim. "Nasy’ah Tasawwuf al-Islamy." Kairo: Dar al-Ma’arif, 1969
  • Fakhr al-Dien al-Razi. "Al-Mahsul fi 'ilm al-Ushul."
  • Hasan, Abd.Hakim. "Attasawuf Asy’ir fil Arabi." Cairo : Maktabah Anglo Masyriah, 1954
  • Imam Al-Haramain Al-Juwaini. "al-Irsyad ila Qawathi' al-Adillah fi Ushul al-I'tiqad"
  • Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hisni. "Kifayatul Akhyar."
  • Jahja, Dr.Zurkani. "Teologi Al Ghozali." Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996.
  • Jamil, Dr.Abdul. "Perlawanan Kiyai Desa." Yogkarta : LKIS, 2001
  • Junaedi, Luqman. "Memburu katak pohon." PT Mizan Publika, 2005
  • Qadi Ayyad ibn Musa. "Ash-shifa bi ta'rif huquq al-Mustafa."
  • Syaikh Ahmad Rifa’I. "Abyan al-Hawaaij." Korasan 21, Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2001
  • Syaikh Ahmad Rifa’i. "Asnal Maqasid." korasan 21, Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2001
  • Syaikh Ahmad Rifa’i. "Ri’ayatal Himmah." juz I, korasan 24. Wonosobo: PP Mambaul Anwar, 2000
  • Syaikh Ahmad Rifa’i. "Syarkhul Iman." Juz I. Pekalongan : PP. Rifa’iyah, 2006

Thursday, July 29, 2010

Kejujuran seorang Imam




Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang akan dijual.

Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkannya dan meletakkannya di tempat yang terbuka, dengan maksud agar kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya.

Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke tokonya untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.

“Mari silakan, dilihat dulu barangnya. Mungkin ada yang disukai,” tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.

Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri. “Bolehkah aku melihat pakaian itu?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambilkannya.

“Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. "Pakaian ini memang bagus. Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.”

Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu.

“Sayang sekali.” perempuan itu tampak kecewa. “Kenapa Tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?” “Kain ini sangat bagus dan sedang digemari. Walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja.”
“Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya.

“Tidak apa-apa, terima kasih,” sahut Imam Hanafi tetap tersenyum.

Di dalam hati, perempuan itu memuji kejujuran pedagang itu. Tidak banyak pedagang sejujur dia. Mereka sering menyembunyikan kecacatan barang dagangannya.

Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu. Lalu diletakkan kembali.

Imam Hanafi lalu menghampirinya. “Silakan, baju itu bahannya halus sekali. Harganya pun tak begitu mahal.”

"Memang, saya pun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih. “Tapi saya tidak mampu membelinya. Saya ini orang miskin,” katanya lagi.

Imam Hanafi merasa iba. Orang itu begitu menyukai baju ini, "saya akan menghadiahkannya untuk ibu,” kata Imam Hanafi.

“Benarkah? Apa tuan tidak akan rugi?”

“Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih.”
Lalu, Imam Hanafi membungkus baju itu dan memberikannya pada orang tersebut.

“Terima kasih, Anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.

Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar.
Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia lalu menitipkan tokonya pada seorang sahabatnya sesama pedagang.

Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan pada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu. “Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat di bagian lengannya. Berikan separo harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk.

Imam Hanafi pun berangkat ke majelis pengajian. Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya.

“Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O, iya! Pakaian yang itu juga sudah dibeli orang,”kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.

“Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
“Masya Allah aku lupa memberitahunya. Pakaian itu sudah dibelinya dengan harga penuh.” sahabatnya sangat menyesal.

Hanafi menanyakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu. Dan ia pun bergegas mencarinya untuk mengembalikan sebagian uangnya.

“Ya Allah! Aku sudah menzhaliminya,” ucap Imam Hanafi.

Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana-kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat sedih.

Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa berpikir panjang lagi, ia sedekahkan uang penjualan pakaian yang sedikit cacat itu semuanya.

“Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian bercacat itu,”
ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian itu.

Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya pada orang lain.

Keesokan harinya Imam Hanafi kedatangan utusan seorang pejabat pemerintah. Pejabat itu memberikan hadiah uang sebanyak 10.000 dirham sebagai tanda terima kasih. Rupanya sang ayah merasa bangga anaknya bisa berguru pada Imam Hanafi di majelis pengajiannya.

Imam Hanafi menyimpan uang sebanyak itu disudut rumahnya. Ia tidak pernah menggunakan uang itu untuk keperluannya atau menyedekahkannya sedikitpun pada fakir miskin.

Seorang tetangganya merasa aneh melihat hadiah uang itu masih utuh. “Kenapa Anda tidak memakainya atau menyedekahkannya?” tanyanya.

“Tidak,  Aku khawatir uang itu adalah uang haram,” kata Imam Hanafi.

Barulah tetangganya mengerti kenapa Imam Hanafi berbuat begitu. Uang itu pun tetap tersimpan disudut rumahnya. Setelah beliau wafat, hadiah uang tersebut dikembalikan lagi kepada yang memberinya.

Friday, July 23, 2010

Pengalaman Belajar Syaikh Al-Baghdadi




Pada suatu hari, Syaikh Junayd al-Baghdadi pergi untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Dan para murid-murid pun ikut mengiringinya.

Shaykh bertanya kepada murid-muridnya, "bagaimana kabar Bahlul yang gila itu?"

Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa yang anda perlukan dari dia?” 
“Bawalah aku ke tempat dia, karena aku ada keperluan khusus dengannya."
Mematuhi perintah sang guru, para murid kemudian berkeliling mencari Bahlul dan akhirnya menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Shaykh Junayd kepadanya.

Ketika Shaykh Junayd pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah dengan batu bata ada dibawah kepalanya (Sedang tiduran?).

Shaykh mengucapkan salam kepadanya dan Bahlul menjawab salamnya dan kemudian bertanya: 
“Anda siapa? ” 

”Saya Junayd Baghdadi.” Jawab sang Syaikh.

Bahlul bertanya, “Apakah Anda Abul Qasim?”

“Ya, betul!” jawab Syaikh.

Bahlul bertanya lagi: "Apakah Anda Shaikh Baghdadi yang memberikan orang-orang Petunjuk spiritual? ” 

“Ya, betul!” jawab Syaikh Baghdadi.

Kemudian Bahlul bertanya: ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?” 

Syaikh Baghdadi menjawab: “Ya!” Saya membaca Basmallah (Dengan menyebut nama Allah SWT). Saya mengambil makanan yang paling dekat dengan saya, saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyahnya pelan-pelan. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.” 

Bahlul berdiri, mengibaskan pakaiannya pada Syaikh, dan kemudian berkata:
"Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia, tapi Anda sama sekali tidak mengetahui bagaimana cara makan yang benar!”

Dan, setelah mengucapkan kata-kata tersebut, dia langsung pergi meninggalkan sang Syaikh.
Para Murid Syaikh berkata, “O, Syaikh! Sungguh dia itu orang yang gila!” 

Syaikh menjawab: "Dia adalah orang gila yang sangat pandai dalam berbicara, jadi dengarkan dan simaklah pernyataan yang benar darinya". Setelah mengucapkan kata-kata nasihat untuk muridnya, kemudian Syaikh Baghdadi pergi menyusul dan membuntuti dibelakang Bahlul yang terus berjalan, seraya berkata;

”Saya ada perlu dengan Bahlul.” Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia akhirnya duduk. 
Junayd pun mendekatinya dan kemudian ikut duduk di depannya. 

Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?” 

Syaikh menjawab: ”Syaikh Baghdadi yang bahkan tidak mengetahui bagaimana cara makan.” 

Bahlul pun meneruskan kalimatnya: 
”Anda tidak mengetahui bagaimana cara makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana cara berbicara?” 

“Ya, tentu ..!” 

Bahlul bertanya lagi: ”Bagaimana anda berbicara ?” 

”Saya berbicara secara umum dan langsung pada pokok masalah. Saya tidak berbicara terlalu tinggi atau terlalu banyak. Saya berbicara sehingga para pendengar dapat mengerti apa yang saya sampaikan. Saya mengajak semua orang di dunia untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak berbicara terlalu banyak sehingga membuat semua orang menjadi bosan. Saya memperhatikan kedalaman pengetahuan spiritual dan yang umum."

Kemudian sang Syaikh menggambarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Adab dan etika. 

Bahlul berkata, “Lupakanlah soal makan, apalagi Anda pun tidak mengetahui bagaimana cara berbicara!” 

Bahlul kemudian berdiri, dan lagi-lagi mengibaskan pakaiannya pada Shaykh dan langsung pergi meninggalkan sang Syaikh yang penasaran. 

Para murid berkata, “O, Syaikh! Anda lihat bukan?, dia memang orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila?” 

Syaikh berkata, ”Saya ada keperluan dengan dia. Kalian tidak tahu!” Sekali lagi Beliau pergi menyusul Bahlul hingga mendapatkan orang yang dicarinya. 

Saat untuk kesekian kalinya keduanya bertemu, lagi-lagi Bahlul bertanya kepada Syaikh Baghdadi: 
“Apa yang sesungguhnya Anda inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?” 

” Ya, saya tahu!” 

”Bagaimana cara tidur?” Bahlul bertanya.

Syaikh Junaid menjawab: ”Ketika saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur saya.” 

Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh beliau dari para ulama yang menjadi guru-gurunya di bidang agama. 

Bahlul kemudian berkata: ”Saya mengerti bahwa Anda juga tidak mengetahui bagaimana cara untuk tidur!” 

Dia ingin berdiri, namun Junayd dengan sigap memegang pakaian sang musafir dan berkata: "Wahai Bahlul! Saya tidak mengetahuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT, mohon ajarilah saya". 

Bahlul berkata: 
"Anda mengklaim diri sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. Sekarang karena Anda mengakui ketidak-tahuan Anda, maka saya akan mengajari Anda.” [Dari: Darisrajih.wordpress. (dengan penambahan seperlunya)]

Inilah nasihat dari Bahlul ...
“Mengetahui apapun yang Anda utarakan itu tidaklah penting.”
”Kebenaran di balik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, meskipun dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, bahkan bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.!”

”Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Syaikh.
Bahlul melanjutkan nasihatnya ...
"Hati haruslah bersih, dan memiliki niat yang baik sebelum Anda mulai bicara. Dan pembicaraan Anda haruslah menyenangkan Allah SWT. Jika menyangkut segala urusan duniawi atau pekerjaan yang sia-sia, maka apapun yang Anda ekspresikan, akan menjadi bencana bagi Anda. Itulah sebabnya diam dan tenang adalah sikap yang terbaik.”

“Apapun yang Anda ucapkan tentang tidur juga tidak penting!".

"Kebenarannya adalah bahwa hati Anda seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika hendak tidur".
Shaykh Junayd kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk-nya.

Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang selama ini telah benganggap bahwa Bahlul adalah orang gila, melupakan segala prasangkanya dan bertekad untuk memulai hidup baru.

RENUNGAN MORAL:
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah diatas adalah bahwa jika seseorang tidak mengerti tentang sesuatu perkara, maka sudah seharusnya dia tidak malu untuk belajar; seperti Shaykh Junayd yang telah belajar Adab makan, bicara, dan tidur kepada Bahlul yang dianggap sebagai orang gila.

Fatimah Az Zahra ra






Alam Firdaus
Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as,: "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi di sisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Sebelum memasuki pembahasan tentang kezuhudan Sayyidah Fatimah as dalam menjalani kehidupan, kita harus mengetahui terlebih dahulu makna kezuhudan itu sendiri. Makna kezuhudan dalam Alquran adalah sebagai berikut, "Supaya kalian tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian."

Sayyidah Fatimah as adalah seorang wanita yang sangat sederhana dan sama sekali tidak tertarik dengan keindahan dunia. Beliau selalu mencari keridhaan Allah swt karena keridhaan-Nya merupakan kenikmatan yang paling tinggi. Bentuk kerelaan Allah swt untuk hamba-hamba-Nya bukanlah dunia yang hina dan fana ini, akan tetapi alam akhirat yang mulia dan abadi. Sebagaimana Allah swt dalam surat Al-Anfal 67 berfirman, "Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah swt menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)."

Waktu Sayyidah Fatimah as banyak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Beliau sama sekali tidak menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia karena cinta terhadap dunia merupakan penghalang untuk sampai ke tujuan yang mulia.

Keindahan dan kesenangan dunia bersifat sementara, akan tetapi sangat disayangkan banyak manusia yang tertipu ketika melihatnya. Mereka tidak sadar bahwa ada alam yang lebih indah dan lebih menyenangkan dibanding dunia.

Oleh karena itu Sayyidah Fatimah as memilih alam akhirat karena hakekat kebahagiaan dan kehidupan ada di alam tersebut. Beliau menjalani kehidupannya dengan penuh kesederhanaan dan tidak perduli dengan keindahan dunia. Selain itu Sayyidah Fatimah selalu ridha dengan keadaannya. Beliau sama sekali tidak pernah mengeluh kepada siapapun dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah as adalah sebuah kehidupan yang jauh dari kemewahan. Kesederhanaannya bukan karena beliau miskin namun disebabkan oleh puncak pengetahuan (makrifat) dan kekayaan spiritual.

Bukti terbaik bahwa Sayyidah Fatimah as hidup dalam kesederhanaan adalah ketika beliau memiliki tanah Fadak. Tanah Fadak adalah tanah yang sangat subur karena tanah ini bisa menghasilkan gandum yang sangat banyak sehingga kebutuhan semua penduduk Madinah terpenuhi dengannya. Setelah Allah swt menyuruh Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam memberikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fatimah as, semua keuntungan hasilnya ada di tangan Sayyidah Fatimah as. Namun penghasilan yang banyak ini tidak merubah kesederhanaan beliau dalam menjalani kehidupan. Semua penghasilan tanah Fadak beliau infakkan kepada masyarakat. Hal ini beliau lakukan hanya demi mencari keridhaan Allah swt. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kesederhanaan Sayyidah Fatimah as bukan karena keterpaksaan dan kemiskinan tetapi karena kecintaan beliau kepada Allah swt.

Kesederhanaan dan ketidakcintaan terhadap dunia adalah suatu hal yang dicontohkan oleh para Nabi dan Imam as. Tidak ada satupun dari mereka memiliki rasa cinta terhadap dunia seperti yang kita lihat dalam sejarah kehidupan mereka. Kezuhudan Sayyidah Fatimah as adalah salah satu pelajaran yang didapatkan dari ayahnya.

Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam pernah bersabda kepada Sayyidah Fatimah as, "Putriku! Ayahmu dan suamimu bukanlah orang yang miskin. Allah SWT telah memberikan kepadaku semua tanah yang mengandung emas dan perak, tetapi aku memilih sesuatu yang abadi disisi Allah swt. Putriku! Aku berkata seperti ini supaya kamu tahu bahwa ayahmu mengetahui hakekat dunia. Ketahuilah bahwa kamu juga akan berpaling dari dunia."

Contoh ajaran Nabi Shalallahu' Alaihi Wassalam kepada Sayyidah Fatimah as bisa kita lihat dalam riwayat berikut ini.

Rasulullah sudah terbiasa ketika hendak pergi atau pulang dari bepergian harus menemui putri tercintanya terlebih dahulu. Suatu hari untuk menyambut kedatangan ayah dan suaminya, Sayyidah Fatimah as memakai gelang dari perak dan anting-anting serta kalung. Beliau juga menghias rumahnya dengan memasang gorden yang berwarna warni. Seperti biasa, ketika datang dari bepergian, Rasulullah terlebih dahulu datang ke rumah Fatimah. Namun setelah beristirahat sebentar, Rasulullah keluar dari rumah putrinya dan menuju masjid. Melihat raut wajah ayahnya yang tidak seperti biasa, Sayyidah Fatimah as menyadari sebabnya. Pada saat itu juga ia membuka gorden dan perhiasannya lalu mengirimkannya kepada Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam yang pada saat itu berada di masjid.

Sayyidah Fatimah as juga mengirim salam kepada ayahnya dan berpesan supaya barang-barang ini digunakan di jalan Allah. Rasulullah mengambil barang-barang itu dan berkata "Ayahmu adalah tebusanmu, ayahmu adalah tebusanmu! Keluarga Muhammad perlu apa dengan dunia? Mereka bukan diciptakan untuk dunia, akan tetapi mereka diciptakan untuk akhirat, walaupun semua yang ada di dunia diciptakan karena mereka. Seandainya dunia itu memiliki nilai sebesar sayap nyamuk di sisi Allah, maka tidak seorangpun dari kafir akan meminumnya." Setelah itu Rasulullah berdiri lalu menuju rumah Fatimah as.

Riwayat di atas selain menunjukkan ketegasan Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wassalam juga menunjukkan ketidakcintaan Sayyidah Fatimah as terhadap dunia, karena tanpa ada rasa berat hati beliau menginfakkan barang-barangnya di jalan Allah.

Diriwayat lain juga dikatakan, suatu hari Salman Al-Farisi melihat Sayyidah Fatimah as memakai cadar yang sederhana, penuh jahitan dan terbuat dari kulit pohon kurma hendak pergi menjenguk ayahnya. Salman sangat terkejut dan sambil menangis ia berkata, "Kami sangat bersedih! Putri-putri raja Persia dan Romawi duduk di atas kursi-kursi yang terbuat dari emas dan memakai pakaian yang terbuat dari sutra tetapi putri Muhammad Shalallahu' Alaihi Wassalam memakai cadar yang sangat sederhana dan memiliki dua belas jahitan."

Ketika Sayyidah Fatimah as sampai ke rumah ayahnya, beliau mengatakan, "Wahai Rasulullah! Salman sangat heran dengan kesederhanaan pakaianku. Demi Allah! selama lima tahun karpet rumah kami dari kulit kambing yang ketika siang hari unta-unta memakan rumput diatas karpet itu dan pada malam hari kami tidur di atas karpet itu. Bantal kami juga dari kulit yang diisi dengan kulit pohon kurma." Ketika itu Rasulullah bersabda kepada Salman, "Sesungguhnya putriku berada di barisan terdepan orang-orang yang menuju Allah swt."

Sekarang kita dapat melihat betapa zuhudnya Sayyidah Fatimah as. Ketika kita menjadikan Sayyidah Fatimah as sebagai panutan maka konsekuensinya kita harus meniru beliau. Dan salah satu contoh yang bisa kita ambil dari beliau adalah kezuhudannya dalam menjalani kehidupan.

Sebetulnya tidaklah sulit untuk menjadi orang yang zuhud ketika kita mengetahui bahwa sebenarnya segala sesuatu yang diberikan kepada kita oleh Allah swt adalah sebuah amanat, sehingga dengan senang hati dan tanpa rasa keberatan sedikit pun kita akan menginfakkannya kepada orang yang membutuhkan. Selain itu kita juga tidak akan terlalu bergembira dengan apa yang Allah SWT berikan kepada kita. Semua manusia datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan juga kembali kepada penciptanya dengan hanya membawa sepotong kain putih.

Seseorang tidak akan pernah bisa menjadi zuhud ketika dia tidak mengetahui hakekat dunia yang penuh dengan kekurangan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali as "Yang berhak dikatakan bahwa orang itu zuhud ketika dia mengetahui kekurangan dunia." Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menjadi orang-orang yang selalu diridhoi oleh-Nya.

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Azza wa Jalla. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw.beserta keluarga dan shahabatnya.


إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab [33]:5)



Rabiah Al-Adawiyah Al-Bashriyah





Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?" "Tidak!" jawab Rabiah dengan suara tegas.

Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, "Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya. Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?" "Pasti!" jawab Rabiah tak kalah tegas. Lalu ia menjelaskan, "Kalau Tuhan tidak berkenan menerima tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti dari dosa, jangan simpan kata "akan” atau "andaikata" sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu."

Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, "Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?"

Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat - itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. - bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada di samping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.

Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pun dari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismail pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan. Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.

Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan siapa-siapa. "Ya Allah!" seru Ismail, "Anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya." Lalu Ismail menggumam, "Amin." Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tidak punya apa-apa kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dirinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.

Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, "Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya."

Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismail diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.

Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, "Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapi, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu."

Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.

Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isya, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, "Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu."

Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, "Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu."

Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, "Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu."

Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: "Apakah engkau akan menikah kelak?" Rabiah mengelak, "Pernikahan merupakan kewajiban bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah." "Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?" "Karena telah kuberikan seluruh hidupku," ujar Rabiah. "Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?" Dengan tulus Rabiah menjawab, "Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan."



Simak kisah hidupnya di sini:
 

Thursday, July 22, 2010

Hormat, Cinta, dan rendah hati





Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi. Beliau menyatakan "Aku tidak membutuhkan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur',an sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, dan cara hidup Rasulullah SAW.


Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya,

"Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika dia meminta, Aku akan memberi. Jika dia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu, "Jadilah!" maka jadilah ia."
( Hadist Nabi saw )

(Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadits tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap).

Ahmad al-Badawi berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, "Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku." Tetapi dia tidak mendapat jawaban. Dia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya 
secara tidak sengaja dia bertemu dengan seseorang. Saya sebut "tidak sengaja" padahal sebetulnya itu sudah menjadi Kehendak Allah untuk mengujinya. Dia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa saja. 

Orang itu lalu memanggilnya, "Hei Ahmad!", bahkan tidak menyebutnya dengan panggilan "Syaikh Ahmad", sebagai tanda penghormatan. 

Dia berkata, "Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai kehadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika Kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu".

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga terhadap ilmunya, walaupun dia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar. Mereka tidak menerima sebab ego mereka mengatakan, "tidak!"

Ego Syaikh Ahmad berkata kepadanya, "Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya? Jangan menerima kunci darinya. Terimalah langsung dari Tuhan."Lalu dia berkata, "Wahai Saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci. Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa."

Selanjutnya Ahmad Badawi berusaha untuk mencapai Kehadirat Ilahi sampai dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya,

"Wahai Ahmad, kehidupan ini adalah kehidupan yang berisi sebab dan akibat. AKU tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-KU, kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya."


Sekarang persoalannya sudah selesai. Dia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan dia menerimanya. Sekarang dia harus mencari pemandunya. Tetapi sang pemandu telah lenyap. Dia telah meninggalkannya.

Selama enam bulan kemudian, pemandu itu mengamati hati Ahmad secara rahasia, melihat bahwa dia mencarinya dan berdo'a kepada Tuhan siang dan malam, "Ya Tuhanku ..., kirimkanlah orang itu kembali kepadaku", sampai akhirnya dia bisa menemukannya kembali.

Dengan segera orang itu membuka tabir yang ada pada dirinya selama ini.

Jadi sang pemandu membuka tabir dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad. Ahmad berkata, "Wahai Syaikh-ku! Aku menemukanmu." 


Dia tidak menemukannya tetapi pada hakekatnya, sang pemandulah yang menghilangkan tabirnya. Tetapi tetap saja dia berpikir bahwa dia telah menemukannya. Dia berkata, "Wahai Syaikhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku".

Sang pemandu menjawab, "Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku. Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah pondasi yang lemah yang hanya dengan satu tiupan angin dari ego, dia akan jatuh".

Aku harus membangun pondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku. (Ahmad Badawi melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi, pengetahuan yang berasal dari buku-buku).

Pengetahuan melalui buku-buku maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis.

Maka dia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad dan kemudian lenyap. Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan kalimat, "Bismillahir rahmaanir rahiim." Ya! sampai-sampai Syaikh Ahmad Badawi pun tidak mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah.

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka.

Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa dia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa dia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi tahu bahwa dia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa,"Kuncimu ada pada orang itu".

Tidak ada yang membuatnya gila. Dia mengikuti orang itu.

Tetapi bila dia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah, dia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah dia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian.

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain. Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi terus mencarinya dan ketika dia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi berkata, "Wahai Syaikhku, Aku menemukanmu lagi."

Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan internal, pengetahuan dari Kitab Allah dan rahasia-rahasianya.

Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi memancarkan sinar yang begitu kuat bahkan orang tidk akan kuat melihat matanya. Oleh sebab itu dia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itulah dia bisa memasuki Kehadirat Ilahi dan dia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Kehadirat Nya. Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal. Dia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Dia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha Tinggi. Dia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan.

Bagaimana mungkin dia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Dia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah. Dia mempunyai rasa hormat, dia juga mencintai sesamanya, tetapi dia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain. Dan karena dia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah dia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang Wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati.

Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka dia bukanlah seorang pemandu sejati. Dia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya. Dia membutuhkan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan dia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Dia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya dia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi dia harus melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya dia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun.
Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan egomu. Katakan kepada ego, "Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?"

Kalian tidak akan kehilangan apa pun. Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah untuk menaikkan kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, "Si Fulan dan si Fulan" adalah Syaikh Saya, dan Saya telah berbay'at dengannya. Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah akan menaikkan Saya.

Memiliki sifat rendah hati adalah sangat penting
Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagimu. Ada sebuah peribahasa di Turki yang berupa pertanyaan kepada seseorang yang baik, "Dari mana Engkau belajar perilaku yang sempurna dalam masyarakat?"
jawabnya, "Dari orang-orang yang bersalah"!.

Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain."

Seorang pencari kebenaran ibarat seorang yang mencari mata air di padang pasir yang luas. Sejauh mata memandang hanya tampak hamparan pasir yang membakar. Namun kekuatan hatinya memandunya untuk selalu maju walaupun hanya dengan setitik harapan.


Wujud Tuhan hanya tampak keberadaannya dalam keyakinan hamba-hamba-NYA.

Saturday, June 12, 2010

Husain Ibnu Mansyur Al-Hallaj





HUSAIN IBN MANSYUR AL-HALLAJ 
MARTIR PERTAMA DALAM SUFI?


Husain ibn Mansur al-Hallaj
barangkali adalah syekh sufi abad ke-9 dan ke-10 yang paling terkenal. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan mana yang membuatnya dieksekusi secara brutal. Bagi para ulama ortodoks, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam eksoteris tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri.


Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.


Meskipun al-Hallaj tidak punya banyak pendukung di kalangan kaum sufi sezamannya, hampir semua syekh sufi sesungguhnya memuji dirinya dan berbagai pelajaran yang diajarkannya. Aththar, dalam karyanya Tadzkirah al-Awliya, menyuguhkan kepada kita banyak legenda seputar al-Hallaj. Dalam komentarnya, ia menyatakan, "Saya heran bahwa kita bisa menerima semak belukar terbakar (yakni, mengacu pada percakapan Allah dengan nabi Musa as) yang menyatakan Aku adalah Allah, serta meyakini bahwa kata-kata itu adalah kata-kata Allah, tapi kita tidak bisa menerima ucapan al-Hallaj, 'Akulah Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri!". Di dalam syair epiknya, Matsnawi, Rumi mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara Akulah Tuhan yang berasal dari Fir'aun adalah kezaliman."

Kehidupan Al-Hallaj
Al-Hallaj di lahirkan di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran tenggara, pada 866M. Berbeda dengan keyakinan umum, ia bukan orang Arab, melainkan keturunan Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.

Ketika al-Hallaj masih kanak-kanak, ayahnya, seorang penggaru kapas (penggaru adalah seorang yang bekerja menyisir dan memisahkan kapas dari bijinya). Bepergian bolak-balik antara Baidhah, Wasith, sebuah kota dekat Ahwaz dan Tustar. Dipandang sebagai pusat tekstil pada masa itu, kota-kota ini terletak di tapal batas bagian barat Iran, dekat dengan pusat-pusat penting seperti Bagdad, Bashrah, dan Kufah. Pada masa itu, orang-orang Arab menguasai kawasan ini, dan kepindahan keluarganya berarti mencabut, sampai batas tertentu, akar budaya al-Hallaj.


Di usia sangat muda, ia mulai mempelajari tata bahasa Arab, membaca Al-Qur'an dan tafsir serta teologi. Ketika berusia 16 tahun, ia merampungkan studinya, tapi merasakan kebutuhan untuk menginternalisasikan apa yang telah dipelajarinya. Seorang pamannya bercerita kepadanya tentang Sahl at-Tustari, seorang sufi berani dan independen yang menurut hemat pamannya, menyebarkan ruh hakiki Islam. Sahl adalah seorang sufi yang mempunyai kedudukan spiritual tinggi dan terkenal karena tafsir Al-Qur'annya. Ia mengamalkan secara ketat tradisi Nabi dan praktek-praktek kezuhudan keras semisal puasa dan shalat sunat sekitar empat ratus rakaat sehari. Al-Hallaj pindah ke Tustar untuk berkhidmat dan mengabdi kepada sufi ini.
Dua tahun kemudian, al-Hallaj tiba-tiba meninggalkan Sahl dan pindah ke Bashrah. Tidak jelas mengapa ia berbuat demikian. Sama sekali tidak dijumpai ada laporan ihwal corak pendidikan khusus yang diperolehnya dari Sahl. Tampaknya ia tidak dipandang sebagai murid istimewa. Al-Hallaj juga tidak menerima pendidikan khusus darinya. Namun, ini tidak berarti bahwa Sahl tidak punya pengaruh pada dirinya. Memperhatikan sekilas praktek kezuhudan keras yang dilakukan al-Hallaj mengingatkan kita pada Sahl. Ketika al-Hallaj memasuki Bashrah pada 884M, ia sudah berada dalam tingkat kezuhudan yang sangat tinggi. Di Bashrah, ia berjumpa dengan Amr al-Makki yang secara formal mentahbiskannya dalam tasawuf. Amr adalah murid Junaid, seorang sufi paling berpengaruh saat itu.

Al-Hallaj bergaul dengn Amr selama delapan belas bulan. Akhirnya ia meninggalkan Amr juga. Tampaknya seorang sahabat Amr yang bernama al-Aqta yang juga murid Junaid mengetahui kemampuan dan kapasitas spiritual dalam diri al-Hallaj dan menyarankan agar ia menikah dengan saudara perempuannya, (Massignon menunjukkan bahwa pernikahan ini mungkin punya alasan politis lantaran hubungan al-Aqta) Betapapun juga Amr tidak diminta pendapatnya, sebagaiman lazimnya terjadi. Hal ini menimbulkan kebencian dan permusuhan serta bukan hanya memutuskan hubungan persahabatan antara Amr dan Al-Aqta, melainkan juga membahayakan hubungan guru-murid antara Amr dan al-Hallaj. Al-Hallaj yang merasa memerlukan bantuan dan petunjuk untuk mengatasi situasi ini, berangkat menuju Baghdad dan tinggal beberapa lama bersama Junaid, yang menasehatinya untuk bersabar. Bagi Al-Hallaj, ini berarti menjauhi Amr dan menjalani hidup tenang bersama keluarganya dan ia kembali ke kota kelahirannya. Diperkirakan bahwa ia memulai belajar pada Junaid, terutama lewat surat-menyurat, dan terus mengamalkan kezuhudan.

Enam tahun berlalu, dan pada 892M, al-Hallaj memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kaum Muslimin diwajibkan menunaikan ibadah ini sekurang-kurangnya sekali selama hidup (bagi mereka yang mampu). Namun ibadah haji yang dilakukan al-Hallaj tidaklah biasa, melainkan berlangsung selama setahun penuh, dan setiap hari dihabiskannya dengan puasa dari siang hingga malam hari. Tujuan al-Hallaj melakukan praktek kezuhudan keras seperti ini adalah menyucikan hatinya menundukkannya kepada Kehendak Ilahi sedemikian rupa agar dirinya benar-benar sepenuhnya diliputi oleh Allah. Ia pulang dari menunaikan ibadah haji dengan membawa pikiran-pikiran baru tentang berbagai topik seperti inspirasi Ilahi, dan ia membahas pikiran-pikiran ini dengan para sufi lainnya. Diantaranya adalah Amr al-Makki dan mungkin juga Junaid.

Sangat boleh jadi bahwa Amr segera menentang al-Hallaj. Aththar menunjukkan bahwa al-Hallaj datang kepada Junaid untuk kedua kalinya dengan beberapa pertanyaan ihwal apakah kaum sufi harus atau tidak harus mengambil tindakan untuk memperbaiki masyarakat (al-Hallaj berpandangan harus, sedangkan Junaid berpandangan bahwa kaum sufi tidak usah memperhatikan kehidupan sementara di dunia ini). Junaid tidak mau menjawab, yang membuat al-Hallaj marah dan kemudian pergi. Sebaliknya, Junaid meramalkan nasib Al-Hallaj.

Ketika al-Hallaj kembali ke Bashrah, ia memulai mengajar, memberi kuliah, dan menarik sejumlah besar murid. Namun pikiran-pikirannya bertentangan dengan ayah mertuanya. Walhasil, hubungan merekapun memburuk, dan ayah mertuanya sama sekali tidak mau mengakuinya. Ia pun kembali ke Tustar, bersama dengan istri dan adik iparnya, yang masih setia kepadanya. Di Tustar ia terus mengajar dan meraih keberhasilan gemilang. Akan tetapi, Amr al-Makki yang tidak bisa melupakan konflik mereka, mengirimkan surat kepada orang-orang terkemuka di Ahwaz dengan menuduh dan menjelek-jelekkan nama al-Hallaj, situasinya makin memburuk sehingga al-Hallaj memutuskan untuk menjauhkan diri dan tidak lagi bergaul dengan kaum sufi. Sebaliknya ia malah terjun dalam kancah hingar-bingar dan hiruk-pikuk duniawi.

Al-Hallaj meninggalkan jubah sufi selama beberapa tahun, tapi tetap terus mencari Tuhan. Pada 899M, ia berangkat mengadakan pengembaraan apostolik pertamanya ke batasan timur laut negeri itu, kemudian menuju selatan, dan akhirnya kembali lagi ke Ahwaz pada 902M. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan guru-guru spiritual dari berbagai macam tradisi di antaranya, Zoroastrianisme dan Manicheanisme. Ia juga mengenal dan akrab dengan berbagai terminologi yang mereka gunakan, yang kemudian digunakannya dalam karya-karyanya belakangan. Ketika ia tiba kembali di Tustar, ia mulai lagi mengajar dan memberikan kuliah. Ia berceramah tentang berbagai rahasia alam semesta dan tentang apa yang terbersit dalam hati jamaahnya. Akibatnya ia dijuluki Hallaj al-Asrar (kata Asrar bisa bermakna rahasia atau kalbu. Jadi al-Hallaj adalah sang penggaru segenap rahasia atau Kalbu, karena Hallaj berarti seorang penggaru) ia menarik sejumlah besar pengikut, namun kata-katanya yang tidak lazim didengar itu membuat sejumlah ulama tertentu takut, dan ia pun dituduh sebagai dukun.

Setahun kemudian, ia menunaikan ibadah haji kedua. Kali ini ia menunaikan ibadah haji sebagai seorang guru disertai empat ratus pengikutnya. Banyak legenda dituturkan dalam perjalanan ini berkenaan dengan diri al-Hallaj berikut berbagai macam karamahnya. Semuanya ini makin membuat al-Hallaj terkenal sebagai mempunyai perjanjian dengan jin. Sesudah melakukan perjalanan ini, ia memutuskan meninggalkan Tustar untuk selamanya dan bermukim di Baghdad, tempat tinggal sejumlah sufi terkenal, ia bersahabat dengan dua diantaranya mereka, Nuri dan Syibli.

Pada 906M, ia memutuskan untuk mengemban tugas mengislamkan orang-orang Turki dan orang-orang kafir. Ia berlayar menuju India selatan, pergi keperbatasan utara wilayah Islam, dan kemudian kembali ke Bagdad. Perjalanan ini berlangsung selama enam tahun dan semakin membuatnya terkenal di setiap tempat yang dikunjunginya. Jumlah pengikutnya makin bertambah.

Tahun 913M adalah titik balik bagi karya spiritualnya. Pada 912M ia pergi menunaikan ibadah haji untuk ketiga kalinya dan terakhir kali, yang berlangsung selama dua tahun, dan berakhir dengan diraihnya kesadaran tentang Kebenaran. Di akhir 913M inilah ia merasa bahwa hijab-hijab ilusi telah terangkat dan tersingkap, yang menyebabkan dirinya bertatap muka dengan sang Kebenaran (Al-Haqq). Di saat inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk menyaksikan cinta Allah pada menusia dengan menjadi "hewan kurban". Ia rela dihukum bukan hanya demi dosa-dosa yang dilakukan setiap muslim, melainkan juga demi dosa-dosa segenap manusia. Ia menjadi seorang Jesus Muslim, sungguh ia menginginkan tiang gantungan.

Di jalan-jalan kota Baghdad, dipasar, dan di masjid-masjid, seruan aneh pun terdengar: "Wahai kaum muslimin, bantulah aku! Selamatkan aku dari Allah! Wahai manusia, Allah telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku, kalian semua bakal memperoleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk pada dirinya sendiri) dibunuh." Kemudian, al-Hallaj berpaling pada Allah seraya berseru, "Ampunilah mereka, tapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka."

Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami orang-orang untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan dan masyarakat mereka. Lingkungan sosial dan politik waktu itu menimbulkan banyak ketidakpuasan di kalangan masyarakat dan kelas penguasa. Orang banyak menuntut agar khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Sementara itu, yang lain menuntut adanya pembaruan dan perubahan dalam masyarakat sendiri.

Tak pelak lagi, al-Hallaj pun punya banyak sahabat dan musuh di dalam maupun di luar istana khalifah. Para pemimpin oposisi, yang kebanyakan adalah murid al-Hallaj, memandangnya sebagai Imam Mahdi atau juru selamat dan, dengan harapan meraih kekuasaan, berusaha memanfaatkan pengaruhnya pada masyarakat untuk menimbulkan gejolak dan keresahan. Para pendukungnya di kalangan pemerintahan melindunginya sedemikian rupa sehingga ia bisa membantu mengadakan pembaruan sosial. Di atas segalanya, berbagai gejolak pun muncul dan sudah pasti berakhir secara dramatis.

Pada akhirnya, keberpihakan al-Hallaj berikut pandangan-pandangannya tentang agama, menyebabkan dirinya berada dalam posisi berseberangan dengan kelas penguasa. Pada 918M, ia diawasi, dan pada 923M ia ditangkap.

Sang penasehat khalifah termasuk di antara sahabat al-Hallaj dan untuk sementara berhasil mencegah upaya untuk membunuhnya. Al-Hallaj dipenjara hampir selama sembilan tahun. Selama itu ia terjebak dalam baku sengketa antara segenap sahabat dan musuhnya. Serangkaian pemberontakan dan kudeta pun meletus di Bagdad. Ia dan sahabat-sahabatnya disalahkan dan dituduh sebagai penghasut. Berbagai peristiwa ini menimbulkan pergulatan kekuasaan yang keras di kalangan istana khalifah. Akhirnya, wazir khalifah, musuh bebuyutan al-Hallaj berada di atas angin, sebagai unjuk kekuasaan atas musuh-musuhnya ia menjatuhkan hukuman mati atas al-Hallaj dan memerintahkan agar ia dieksekusi.

Tak lama kemudian, al-Hallaj disiksa di hadapan orang banyak dan dihukum di atas tiang gantungan dengan kaki dan tangannya terpotong. Kepalanya dipenggal sehari kemudian dan sang wazir sendiri hadir dalam peristiwa itu. Sesudah kepalanya terpenggal, tubuhnya disiram minyak dan dibakar. Debunya kemudian dibawa ke menara di tepi sungai Tigris dan diterpa angin serta hanyut di sungai itu.

Demikian, al-Hallaj dibunuh secara brutal. Akan tetapi ia tetap hidup dalam kalbu orang-orang yang merindukan capaian rohaninya. Dengan caranya sendiri, ia telah menunjukkan pada para pencari kebenaran langkah-langkah yang mesti ditempuh sang pecinta agar sampai pada kekasih

Berbagai legenda dan kisah tentang al-Hallaj
Bagaimana mulanya Husain ibn manshur di sebut al-Hallaj sebuah nama yang berarti penggaru (khususnya kapas)? Menurut Aththar, suatu hari Husain ibn Manshur melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu. Biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas. Ia juga dijuluki Hallaj- al-asrar --penggaru segenap Kalbu-- karena ia mampu membaca pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.

Al-Hallaj terkenal karena berbagai keajaibanya. Salah satu orang muridnya menuturkan kisah berikut ini: Sewaktu menunaikan ibadah haji kedua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengatakan bahwa ia ingin makan manisan.

Murid-muridnya kebingungan lantaran mereka telah memakan habis semua bekal yang mereka bawa. Al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian, ia kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah mereka ketahui sebelumya. Ia meminta mereka untuk makan bersamanya, seorang muridnya, yang penasaran dan ingin tahu dari mana al-Hallaj memperolehnya, menyembunyikan kue bagiannya, ketika mereka kembali dari mengasingkan diri sang murid ini mencari seseorang yang bisa mengetahui asal kue itu, seseorang dari Zabid, sebuah kota yang jauh dari situ, mengetahui bahwa kue itu berasal dari kotanya, sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj memperoleh kue itu secara ajaib. "Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak sedemikian jauh dalam waktu singkat"! serunya.

Pada kesempatan lain al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju Mekah. Di suatu tempat, sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara, dia ia pun mengabil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta halwa, ia membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka, usai memakannya mereka mengatakan bahwa kue itu khas berasal dari daerah anu di Bagdad, mereka bertanya ihwal bagaimana ia memperolehnya. Ia hanya menjawab, baginya Baghdad dan padang pasir sama dan tidak ada bedanya, kemudian mereka meminta kurma, ia diam sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakkan tubuh mereka seperti mereka menggoyang-goyang pohon kurma, mereka melakukannya, dan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

Al-Hallaj terkenal bukan hanya karena keajaibannya, melainkan juga karena kezuhudannya. Pada usia lima puluh tahun ia mengatakan bahwa ia memilih untuk tidak mengikuti agama tertentu, melainkan mengambil dan mengamalkan praktek apa saja yang paling sulit bagi nafs (ego)-nya dari setiap agama. Ia tidak pernah meninggalkan shalat wajib, dengan shalat wajib ini ia melakukan wudhu jasmani secara sempurna.

Ketika ia mulai menempuh jalan ini, ia hanya mempunyai sehelai jubah tua dan dan bertambal yang telah dikenakannya selama bertahun-tahun. Suatu hari, jubah itu diambil secara paksa, dan diketahui bahwa ada banyak kutu dan serangga bersarang didalamnya --yang salah satunya berbobot setengah ons. Pada kesempatan lain, ketika ia memasuki sebuah desa, orang-orang melihat kalajengking besar yang mengikutinya. Mereka ingin membunuh kalajengking itu, ia menghentikan mereka seraya mengatakan bahwa kalajengking itu telah bersahabat dengannya selama dua belas tahun, tampaknya ia sudah sangat lupa pada nyeri dan sakit jasmani.

Kezuhudan al-Hallaj adalah sarana yang ditempanya untuk mencapai Allah, yang dengan-Nya ia menjalin hubungan sangat khusus sifatnya, suatu hari, pada waktu musim ibadah haji di Mekah, ia melihat orang-orang bersujud dan berdoa, "Wahai Engkau. Pembimbing mereka yang tersesat, Engkau jauh di atas segenap pujian mereka yang memuji-Mu dan sifat yang mereka lukiskan kepada-Mu. Engkau tahu bahwa aku tak sanggup bersyukur dengan sebaik-baiknya atas kemurahan-Mu. Lakukan ini di tempatku, sebab yang demikian itulah satu-satunya bentuk syukur yang benar."

Kisah penangkapan dan eksekusi atas dirinya sangat menyentuh dan mengharu-biru kalbu. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya. Sewaktu ia sudah terkenal dan berbagai keajaibannya dibicarakan banyak orang. Ia menarik sejumlah besar pengikut dan juga melahirkan musuh yang sama banyaknya, akhirnya, khalifah sendiri mengetahui bahwa ia mengucapkan kata-kata bid'ah, "Akulah Kebenaran." Musuh al-Hallaj menjebaknya untuk mengucapkan, Dia-lah Kebenaran ia hanya menjawab, "Ya, segala sesuatu adalah Dia! Kalian bilang bahwa Husain (al-Hallaj) telah hilang, memang benar. Namun Samudra yang meliputi segala sesuatu tidaklah demikian."

Beberapa tahun sebelumnya, ketika al-Hallaj belajar dibawah bimbingan Junaid, ia diperintahkan untuk bersikap sabar dan tenang. Beberapa tahun kemudian, ia datang kembali menemui Junaid dengan sejumlah pertanyaan. Junaid hanya menjawab bahwa tak lama lagi ia bakal melumuri tiang gantungan dengan darahnya sendiri, Tampaknya, ramalan ini benar adanya. Junaid ditanya ihwal apakah kata-kata al-Hallaj bisa ditafsirkan dengan cara yang bakal bisa menyelamatkan hidupnya. Junaid menjawab, "Bunuhlah ia, sebab saat ini bukan lagi waktunya menafsirkan." al-Hallaj di jebloskan ke penjara. Pada malam pertama sewaktu ia dipenjara, para sipir penjara mencari-carinya. Mereka heran. Ternyata selnya kosong. Pada malam kedua, bukan hanya al-Hallaj yang hilang, penjara itu sendiri pun hilang!

Pada malam ketiga, segala sesuatunya kembali normal. Para sipir penjara itu bertanya, di mana engkau pada malam pertama? ia menjawab, "pada malam pertama aku ada di hadirat Allah. Karena itu aku tidak ada di sini. Pada malam kedua, Allah ada di sini, karenanya aku dan penjara ini tidak ada. Pada malam ketiga aku di suruh kembali!"

Beberapa hari sebelum dieksekusi, ia berjumpa dengan sekitar tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dan semuanya dibelenggu. ia berkata bahwa ia akan membebaskan mereka semua, mereka heran karena ia berbicara hanya tentang kebebasan mereka dan bukan kebebasannya sendiri ia berkata kepada mereka: "Kita semua dalam belenggu Allah di sini. Jika kita mau, kita bisa membuka semua belenggu ini," kemudian ia menunjuk belenggu-belenggu itu dengan jarinya dan semuanya pun terbuka. Para narapidana pun heran bagaimana mereka bisa melarikan diri, karena semua pintu terkunci. Ia menunjukkan jarinya ke tembok, dan terbukalah tembok itu. "Engkau tidak ikut bersama kami?" tanya mereka "Tidak, ada sebuah rahasia yang hanya bisa diungkapkan di tiang gantungan!" jawabnya

Esoknya, para sipir penjara bertanya kepadanya tentang yang terjadi pada narapidana lainnya. Ia menjawab bahwa ia telah membebaskan mereka semua. "Mengapa engkau tidak sekalian pergi?" tanya mereka "Dia mencela dan menyalahkanku. Karenanya aku harus tetap tinggal di sini untuk menerima hukuman," jawabnya.Sang khalifah yang mendengar percakapan ini, berpikir bahwa al-Hallaj bakal menimbulkan kesulitan, karena itu, ia memerintahkan, "Bunuhlah atau cambuklah sampai ia menarik kembali ucapannya!" Al-Hallaj dicambuk tiga ratus kali dengan rotan, setiap kali pukulan mengenai tubuhnya terdengar suara gaib berseru, "Jangan takut, putra Manshur." Mengenang hari itu, seorang sufi syekh Shaffar, mengatakan aku lebih percaya pada akidah sang algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Sang algojo pastilah mempunyai akidah yang kuat dalam menjalankan Hukum Ilahi sebab suara itu bisa didengar demikian jelas, tetapi tangannya tetap mantap.

Al-Hallaj digiring untuk di eksekusi. Ratusan orang berkumpul. Ketika ia melihat kerumunan orang, ia berseru lantang, "Haqq, Haqq, ana al-Haqq --Kebenaran, kebenaran, Akulah kebenaran." Pada waktu itu, seorang darwis memohon al-Hallaj untuk mengajarinya tentang cinta. Al-Hallaj mengatakan bahwa sang darwis akan melihat dan mengetahui hakikat cinta pada hari itu, hari esok, dan hari sesudahnya.Al-Hallaj dibunuh pada hari itu. Pada hari kedua tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abunya ditebarkan dengan angin, Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa cinta berarti menanggung derita dan kesengsaraan demi orang lain.

Ketika menuju ke tempat eksekusi, ia berjalan dengan sedemikian bangga. "Mengapa engkau berjalan sedemikian bangga?" tanya orang-orang. "Aku bangga lantaran aku tengah berjalan menuju ketempat pejagalanku," jawabnya kemudian ia melantunkan syair demikian:

Kekasihku tak bersalah
Diberi aku anggur dan amat memperhatikanku,
laksana tuan rumah
perhatikan sang tamu
Setelah berlalu sekian lama,
dia menghunus pedang dan
menggelar tikar pembantaian
Inilah balasan buat mereka yang minum anggur lama
bersama dengan singa
tua di musim panas.

Ketika dibawa ke tiang gantungan, dengan suka rela ia menaiki tangga sendiri. Seseorang bertanya tentang hal (keadaan spiritual atau emosi batin)-nya. Ia menjawab bahwa perjalanan spiritual para pahlawan justru dimulai di puncak tiang gantungan, ia berdoa dan berjalan menuju puncak itu.

Sahabatnya, Syibli, hadir di situ dan bertanya, "Apa itu tasawuf?" al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. "Adakah yang lebih tinggi dari ini?" tanya Syibli "Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!", jawab al-Hallaj.

Ketika al-Hallaj sudah berada di tiang gantungan, setan datang kepadanya dan bertanya, "Engkau bilang aku dan aku juga bilang aku. Mengapa gerangan engkau menerima rahmat abadi dari Allah dan aku, kutukan abadi?"

Al-Hallaj menjawab, "Engkau bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diri dari keakuan-ku. Aku beroleh rahmat dan engkau, kutukan. Memikirkan diri sendiri tidaklah benar dan memisahkan diri dari kedirian adalah amalan paling baik."

Kerumunan orang mulai melempari al-Hallaj dengan batu. Namun, ketika Syibli melemparkan bunga kepadanya untuk pertama kalinya, al-Hallaj merasa kesakitan. Seseorang bertanya, "Engkau tidak merasa kesakitan dilempari batu, tapi lembaran sekuntum bunga justru membuatmu kesakitan mengapa?

Al-Hallaj menjawab "Orang-orang yang jahil dan bodoh bisa dimaafkan. Sulit rasanya melihat Syibli melempar lantaran ia tahu bahwa seharusnya ia tidak melakukannya."

Sang algojo pun memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tertawa dan berkata, "Memang mudah memotong tangan seorang yang terbelenggu. Akan tetapi, diperlukan seorang pahlawan untuk memotong tangan segenap sifat yang memisahkan seseorang dari Allah." (dengan kata lain, meninggalkan alam kemajemukan dan bersatu dengan Allah membutuhkan usah keras dan luar biasa). Sang Algojo lantas memotong kedua kakinya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, "Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini, aku masih punya dua kaki lainnya untuk berjalan di kedua alam. Potonglah kalau kau memang bisa melakukannya!"

Al-Hallaj kemudian mengusapkan kedua lenganya yang buntung kewajahnya sehingga wajah dan lengannya berdarah. "Mengapa engkau mengusap wajahmu dengan darah?" tanya orang-orang. Ia menjawab bahwa karena ia sudah kehilangan darah sedemikian banyak dan wajahnya menjadi pucat maka ia mengusap pipinya dengan darah agar orang jangan menyangka bahwa ia takut mati. "Mengapa," tanya mereka, "Engkau membasahi lenganmu dengan darah?" Ia menjawab, "Aku sedang berwudu. Sebab, dalam salat cinta. Hanya ada dua rakaat, dan wudhunya dilakukan dengan darah."

Sang algojo kemudian mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun ribut dan berteriak. Sebagian menangis dan sebagian lainnya melontarkan sumpah serapah, lalu, telinga dan hidungnya dipotong. Sang algojo hendak memotong lidahnya. Al-Hallaj memohon waktu sebentar untuk mengatakan sesuatu, "Ya Allah, janganlah engkau usir orang-orang ini dari haribaan-Mu lantaran apa yang mereka lakukan karena Engkau. Segala puji bagi Allah, mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Dan kalau mereka memenggal kepalaku, itu pun mereka melakukan karena keagungan-Mu." Kemudian ia mengutip sebuah ayat Al-Qur'an:

"Orang-orang yang mengingkari Hari kiamat bersegera ingin mengetahuinya, tetapi orang-orang beriman berhati-hati karena mereka tahu bahwa itu adalah benar."
Kata-kata terakhirnya adalah: Bagi mereka yang ada dalam ekstase "Cukuplah sudah satu kekasih."

Tubuhnya yang terpotong, yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dibiarkan berada di atas tiang gantungan sebagai pelajaran bagi yang lainnya. Esoknya, baru sang algojo memenggal kepalanya. Ketika kepalanya dipenggal al-Hallaj tersenyum dan meninggal dunia. Orang-orang berteriak tapi al-Hallaj menunjukkan betapa berbahagia ia bersama dengan kehendak Allah. Setiap bagian tubuhnya berseru, "Akulah kebenaran", sewaktu meninggal dunia setiap tetesan darahnya yang jatuh ke tanah membentuk nama Allah.

Hari berikutnya mereka yang berkomplot menentangnya, memutuskan bahwa bahkan tubuh al-Hallaj yang sudah terpotong-potong pun masih menimbulkan kesulitan bagi mereka. Karena itu, mereka pun memerintahkan agar tubuhnya di bakar saja. Malahan, abu jenazahnya berseru, "Akulah Kebenaran."

Al-Hallaj telah meramalkan kematiannya sendiri dan memberitahu pembantunya bahwa ketika abu jenazahnya dibuang ke sungai Tigris permukaan sungai akan naik sehingga seluruh Baghdad pun terancam tenggelam. Ia memerintahkan pembantunya menaruh jubahnya ke sungai untuk meredakan ancaman banjir, pada hari ketiga ketika abu jenazahnya diterbangkan oleh angin ke sungai. Permukaan air pun terbakar, air mulai naik, dan sang pembantu melakukan apa yang diperintahkannya, permukaan air pun surut, api padam, dan abu jenazah al-Hallaj pun diam.

Waktu itu, seorang tokoh terkemuka mengatakan bahwa ia melakukan salat sepanjang malam di bawah tiang gantungan sepanjang malam. Ketika fajar menyingsing, terdengarlah suara gaib berseru, "Kami berikan salah satu rahasia kami dan ia tidak menjaganya. Sungguh, inilah hukuman bagi mereka yang mengungkapkan segenap rahasia kami."

Syibli menyebutkan bahwa, suatu malam. Ia mimpi bertemu dengan al-Hallaj dan bertanya, "Bagaimana Allah menghakimi orang-orang ini?" Al-Hallaj menjawab bahwa mereka yang tahu bahwasanya ia benar dan juga mendukungnya berbuat demikian karena Allah semata. Sementara itu, mereka yang ingin melihat dirinya mati tidaklah mengetahui hakikat kebenaran, oleh sebab itu, mereka menginginkan kematiannya, kematiannya karena Allah semata. Allah merahmati kedua kelompok ini. Keduanya beroleh berkah dan rahmat dari Allah.


Disadur dari: Negeri Sufi
oleh: Mojdeh Bayat dan Muhammd Ali Jamnia, Cetakan: 2,
Penerbit: PT. LENTERA BASRITAMA

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers