Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Friday, January 20, 2012

Hak-Hak Al-Quran Atas Setiap Muslimin



Islam adalah agama yang indah, sempurna dan paripurna, menjelas-kan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umatnya, serta memberikan segala yang punya hak akan haknya. Berikut ini adalah sebagaian dari perhatian Islam akan permasalahan hak, yang telah di sampaikan oleh Syaikh Abu Islam Sholeh Toha dalam bukunya Tabshirotul Anam Bil Huquq Fil Islam dan kami suguhkan intisarinya kapada pembaca sekalian dengan sedikit penambahan, mudah-mudahan  bermanfaat.

Al-Qur`an al-Karim adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melalui Jibril ‘alaihissalam. Al-Qur`an adalah tali Allah yang kuat, cahaya yang jelas, serta jalan yang lurus, Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya, maka akan selamat. Di dalamnya terdapat berita tentang apa-apa yang terjadi sebelum dan sesudah kita, pemberi keputusan kepada kita. Barangsiapa yang meninggalkannya karena kesombongan maka Allah akan membinasakannya dan barangsiapa yang mencari petunjuk kepada selainnya maka Allah akan menyesatkannya. Dan sungguh Allah telah menjamin bagi siapa yang mengamalkan, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.

Allah ta’ala berfirman:
Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Toha: 123)

Dan firmanNya:
Dan sesungguhnya al-Qur`an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur`an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana. (QS. Fushshilat: 41-42)

Dengan dasar dua ayat tersebut dan lainnya yang menjelaskan ke-agungan al-Qur`an, maka kewajiban bagi kita adalah memberikan hak al-Qur`an dengan  sebenar-benarnya. Dan di antara hak-hak al-Qur’an adalah:

1. Membacanya dengan tartil dan membaguskan suara

Allah ta’ala berfirman:

Orang-orang yang telah Kami berikan al-kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. al-Baqarah: 121)

Dan firmanNya:

Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. (QS. al-Muzammil: 4)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ اْلقُرْآنَ حَسَنًا

Hiasilah al-Qur`an dengan suara-suara kalian, karena suara yang indah akan memperindah al-Qur`an. (HR. Hakim dll. Lihat Shahih al-Jami’: 3581)

Dan suara bacaan al-Qur`an terindah adalah ketika dibaca satu ayat satu ayat dengan penuh  kekhusyukan.
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِيْ إِذَا سَمِعْتُمُوْهُ يَقْرَأُ حَسِبْتُمُوْهُ يَخْشَى اللَّهَ

Sesungguhnya termasuk suara manusia terindah terhadap al-Qur`an adalah tatkala engkau mendengarnya, engkau anggap pembacanya khusyu’ kepada Allah. (HR. Ibnu Majah dll, lihat Shahih Ibnu Majah: 1101)

2. Mentadabburi maknanya pada saat membaca atau mendengarkan bacaannya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sungguh memuji orang-orang yang mentadabburi al-Qur’an dan mencela orang-orang yang tidak mentadabburinya.

Allah ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. al-Ahqaf: 29-30)

Dan dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman:

Maka apakah mereka tidak mem-perhatikan al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)

3.  Berpegang teguh pada al-Qur`an dan mengamalkan ajarannya

Allah ta’ala berfirman:
Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya al-Qur`an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban. (QS. az-Zukhruf: 43-44)

Di dalam al-Qur`an, Allah ta’ala memerintahkan untuk memelihara shalat, maka wajib bagi kaum muslimin untuk memelihara dan menjaganya. Demikian halnya dengan perintah zakat, puasa, silaturrahmi, dll.

Di dalam al-Qur`an Allah ta’ala juga menjelaskan kepada kita jalan menuju surga dan  memperingatkan kita dari jalan-jalan menuju neraka dan setan, sehingga setiap ada suatu yang haram kita diperintahkan untuk menjauhinya. Seperti halnya Allah mengharamkan riba dalam al-Qur`an, kapan kita taubat? Allah mengharamkan tabarruj (bersolek), kapan wanita-wanita kita bertaubat dan  kapan kita melihat wanita di jalan-jalan berhijab? padahal di antara hak al-Qur`an adalah agar kaum muslimin mengamalkan isinya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

4. Agar kaum muslimin memperniagakan al-Qur`an dengan Allah ta’ala

Allah ta’ala berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.(QS. Fathir: 29-30)

Dan keuntungan dalam hal ini sangatlah banyak di antaranya adalah:

a.    Seseorang akan mendapatkan kebaikan yang banyak

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ آلم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al-Qur`an) maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif, lam, mim, itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR. Tirmidzi dll. Lihat Shahih al-Jami’: 6469)

b. Diangkat derajatnya di dunia dan di akhirat

Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapang-kanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggi-kan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadilah: 11)

Masuk dalam penjelasan ayat di atas bahwa al-Qur`an merupakan semulia-mulia ilmu.
Dalam hadits yang shahih Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

Sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian kaum dengan kitab ini dan menghinakan dengannya sebagaian lainya. (HR. Muslim: 817)

Dan dalam hadits lainnya:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling banyak (hafalan) Qur`annya. (HR. Muslim: 673)

Kedudukan tinggi ini diberikan kepada pembawa (penghafal) al-Qur`an agar menjadi imam suatu kaum walaupun orang tersebut masih kecil, sebagaimana yang terjadi pada diri Amr bin Salamah yang disebutkan dalam hadits al-Bukhari no.4051.

Adapun di akhirat, maka mereka sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan pada ahli al-Qur`an; bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau baca pada saat di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu sesuai akhir ayat yang kamu baca. (HR. Tirmidzi: 2914, dll. Lihat Shahih al-Jami’: 8122)

c.    Al-Qur`an akan memberi syafaat kepada pembacanya.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِقْرَءُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ

Bacalah al-Qur`an karena al-Qur`an akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para pembacanya. (HR. Muslim: 804)

d. Ahli al-Qur`an akan dihiasi dengan mahkota kemuliaan pada hari kiamat dan diridhai Allah ta’ala.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُوْلُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُوْلُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اِقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Al-Qur`an akan datang pada hari kiamat dan mengatakan, “Wahai Rabbku berilah dia (ahli al-Qur`an), hiasilah dia, maka diberilah mahkota kemuliaan.” Kemudian berkata lagi, “Wahai Rabbku, berilah tambahan.” Maka diberilah hiasan kemuliaan. Kemudian berkata, “Ridhailah dia.” Maka Allah pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada orang tersebut, “Bacalah dan naiklah, sesungguhnya engkau akan ditambah satu kebaikan pada tiap-tiap ayat.” (Hadits Hasan, riwayat Tirmidzi: 5/29, dll. Lihat Jami’ Shahih: 8030)

e. Mereka yang mencari keuntungan dari Allah melalui al-Qur`an akan didekatkan kepada  Allah

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلَيْنِ مِنَ النَّاسِ، قَالُوْا مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَ خَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah memiliki dua keluarga dari kalangan manusia, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah mereka?” Maka Rasulullah n bersabda, “Ahli al-Qur`an  adalah keluarga Allah dan orang khususNya.” (Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihaini lil Hakim 1/743, Ibnu Majah: 215 dll. Lihat Shahih Ibnu Majah:178)

f.   Ahli al- Qur’an akan menjadi sebaik-baik manusia di sisi Allah ta’ala

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik di antara kalian adalah yang berlajar al-Qur`an dan mengajarkannya. (HR. al-Bukhari no. 4739)

5. Di antara hak al-Qur`an adalah agar setiap muslim berakhlak Qurani

A`isyah rodhiyallahu ‘anhaa ditanya tentang akhlak Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, maka beliau rodhiyallahu ‘anhaa mengatakan kepada sang penanya, “Belumkah engkau membaca al-Qur`an?” Orang tersebut menjawab, “Iya sudah.” Kemudian A`isyahrodhiyallahu ‘anhaa mengatakan:

إِنَّ خُلُقَهُ كَانَ اْلقُرْآنَ

Sesungguhnya akhlak beliau n adalah al-Qur`an. (HR. Muslim 746). Artinya bahwa al-Qur’an diamalkan oleh beliau n dalam kehidupan sehari-hari.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Ahli al-Qur`an hendaklah memiliki keistimewaan dengan menjalankan shalat malam dikala manusia sedang tidur, puasa di waktu siang dikala manusia berbuka (makan), sedih, menangis dan khusyu’ di saat manusia bersendagurau dan berbuat curang, serta berperangai lembut, tidak kasar, tidak lalai dan tidak pula keras.” (HR. Ibnu Abi Syaibah: 7/231, dll)

Mudah-mudahan apa yang kami suguhkan membawa manfaat, dan mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memberikan al Qur’an akan haknya.

[Ustadz Abul Mundzir, Lc | Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari]

Wednesday, January 18, 2012

Nuzul Quran


Al-Qur’an al-Karim adalah nikmat dari langit yang diturunkan ke Bumi, dan ia adalah lingkaran penghubung antara hamba dan sang Penciptanya. Al-Qur’an diturunkan lewat perantara Ruhul Amin (Jibril 'alaihissalam), kepada Rasul-Nya yang diutus dengan kebenaran, agar menjadi pemberi peringatan, petunjuk dan penolong bagi semesta Alam. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{ يا أيها الناس قد جاءكم برهان من ربكم وأنزلنا إليكم نورا مبينا } (174)
”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti kebenaran dari Rabbmu, (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur'an).” (QS. An-Nisaa’: 174)

Cara turunnya al-Qur’an kepada manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallammerupakan salah satu hal yang harusnya membuat orang yang beriman berhenti sejenak lalu ditanyakan kepada mereka, bagaimana al-Qur’an turun? Bagaimana tahapan-tahapan turunnya al-Qur’an? Apakah ia turun sekaligus kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ataukah ia turun secara berkala?

Maka dalam makalah ini akan kami coba mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Maka kami katakan – Wabillahi at-Taufiq:

Pendapat yang diyakini oleh para Ulama adalah bahwa al-Qur’an al-Karim turun dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam tempo yang bertahap, dan tidak turun secara sekaligus. Dan orang-orang kafir Quraisy meminta supaya al-Qur’an diturunkan sekaligus (tidak bertahap), sebagaimana yang Allah firmankan tentang mereka:

وقال الذين كفروا لولا نزِّل عليه القرآن جملة واحدة } (الفرقان:32)
”Berkatalah orang-orang kafir:"Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”  (QS. Al-Furqaan: 32)

Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta'ala –dan Dia Maha mengetahui dengan apa yang paling cocok untuk menurunkan risalahnya dan yang paling baik untuk para hamba-Nya- menginginkan supaya al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Dan hal itu adalah untuk suatu hikmah yang beragam, di antaranya apa yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada ayat yang sama, Dia berfirman:

كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلاً } (الفرقان:32)
”Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al-Furqaan: 32)

Penguatan hati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah salah satu hikmah yang paling jelas di antara hikmah-hikmah kenapa al-Qur’an diturunkan secara bertahap.

Dan di antara ayat-ayat yang menjelaskan bahwa al-Qur’an turun kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam –di samping ayat yang telah lalu- adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وقرآنا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا } (الإسراء:106)
”Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)

Dan dalam ayat ini ada hikmah yang lain dari turunnya al-Qur’an secara bertahap, yaitu turunnya secara periodik supaya hal itu lebih mudah untuk dipahami oleh orang yang mendengarnya dan yang mencermatinya.

Adapun tentang berapa jumlah ayat yang turun pada setiap tahap, maka yang shahih (benar) yang ditunjukkan oleh hadits-hadits adalah bahwa jumlah ayat yang turun adalah sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa. Maka terkadang turun kepada beliau lima ayat, sepuluh ayat, dan terkadang lebih banyak atau lebih sedikit dari itu. Dan mungkin juga turun kepada beliau satu atau bahkan sebagian ayat kepada beliau. Telah valild dalam hadits yang Muttafaq ‘alaihi (disepakati keshahihannya) bahwa ayat-ayat dalam Qishatul Ifki(kisah tuduhan dusta kepada ‘Aisyah radhiyallahu 'anha) turun secara sekaligus. Yaitu sepuluh ayat, dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إن الذين جاؤوا بالإفك النور:11
”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu ...” (QS. An-Nuur: 11)

Sampai pada firman-Nya:

ولولا فضل الله عليكم ورحمته وأن الله رؤوف رحيم } النور: 20
”Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar) ” (QS. An-Nuur: 20)

Dan telah valid pula turunnya sebagian ayat al-Qur’an kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana telah valid dalam hadits shahih dari shahabat al-Barra’ bin ‘Azibradhiyallahu 'anhu berkata:”Ketika turun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

لا يستوي القاعدون من المؤمنين } (النساء:95)
”Tidaklah sama antara orang yang duduk (tidak ikut berperang) dari kalangan orang beriman ….” (QS. An-Nisaa’: 95)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Zaid (salah satu penulis wahyu) radhiyallahu 'anhu, lalu ia pun menuliskan ayat tersebut. Lalu datanglah Ibnu Umi Maktum radhiyallahu 'anhu, ia mengeluhkan matanya yang buta (sehingga membuatnya tidak bisa ikut berjihad). Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya: 

غير أولي الضرر } (النساء:95رواه البخاري .
”Selain orang-orang yang memiliki udzur (halangan).” (QS. An-Nisaa’: 95) [HR. Imam Bukhari]

Adapun tentang tata cara turunnya wahyu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka para Ulama telah menyebutkan beberapa cara turunnya wahyu, di antaranya:

Pertama: Turunnya wahyu kepada beliau seperti suara lonceng (kesamaan dalam kerasnya suara-ed), dan cara ini adalah cara yang paling berat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukharirahimahullah, dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha bahwasanya al-Harits bin Hisyam radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata:”Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu turun kepada anda?” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

( أحيانا يأتيني مثل صلصلة الجرس، وهو أشده علي فيفهم عني وقد وعيت عنه ما قال )
”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan itu adalah yang paling berat bagiku. Kemudian ia terhenti sedangkan aku sudah memahami apa yang Jibril katakan.”

’Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ، فَيَفْهمُ عَنْهُ، وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
”Dan sungguh aku telah melihat wahyu itu turun kepada beliau (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu terhenti sementara keringat telah mengalir di dahi beliau.”

Kedua: Dan terkadang wahyu turun dalam bentuk seorang laki-laki yang menyampaikan Kalamullah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana hadits yang lalu dalam shahih al-Bukhari. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah ditanya tentang tata cara turun wahyu, maka beliau menjawab:

وأحيانا يتمثل لي الملك رجلاً فيكلمني فأعي ما يقول )
”Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan kemudian aku memahami apa yang dia katakan.”

Karena sesungguhnya Malaikat telah menjelma menjadi sosok lelaki dalam bentuk yang beraneka macam, dan tidak ada yang terluput darinya apa yang dibawa oleh Malaikat pembawa wahyu tersebut. Sebagaimana dalam kisah datangnya Malaikat dalam rupa Dihyah al-Kalbi, atau seorang Arab badui dan dalam bentuk yang lainnya. Dan semuanya tercatat dalam kitab Shahih.

Ketiga: Dan terkadang wahyu turun dengan cara Allah berbicara langsung kepada Nabishallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan terjaga (tidak tidur), sebagaimana dalam hadits Isra’ Mi’raj yang panjang, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukahari, dan di dalamnya disebutkan:

فلما جاوزتُ نادى منادٍ: أمضيتُ فريضتي وخففتُ عن عبادي
”Ketika aku lewat, ada penyeru yang berkata:”Aku telah berlakukan kewajibanku dan telah aku ringankan atas hamba-hambaku."

Dengan demikian, keyakinan Islam tentang Nuzulul Qur'an adalah bahwa Jibril 'alaihis salam turun membawa Al-Qur’an dengan lafazh Al-Qur’an sejak awal surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Naas, dan bahwa lafazh-lafazh tersebut adalah Kalamullah (Firman Allah). Tidak ada campurtangan Jibril 'alaihissalam maupun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam pembuatan dan penyusunannya. Seluruh wahyu berasal dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{ كتاب أُحكمت آياته ثم فُصِّلت من لدن حكيم خبير } (هود:1)
” (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Hud: 1)

Maka semua lafazh al-Qur’an baik yang tertulis maupun yang dibaca semuanya dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan peran Jibril 'alaihissalam tidak lain hanyalah sebagai pembawa wahyu saja kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan tidak pula peran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melainkan hanyalah memahami, menghafal dan menyampaikannya saja. Kemudian menjelaskan dan mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وإنه لتنزيل رب العالمين * نزل به الروح الأمين * على قلبك لتكون من المنذرين } (الشعراء:192-194)
” Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muahammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.”  (QS. Asy-Syu’araa’: 192-194)

Maka yang berbicara adalah Allah, yang membawa (menyampaikan) adalah Jibril 'alaihissalam dan yang menerima adalah Rasul Rabb semesta alam.  

Barangsiapa meyakini selain itu, maka ia telah tersesat dari jalan yang lurus.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dijaga dan diberikan keteguhan di atas kebenaran, dan untuk berpegang teguh dengan al-Qur’an dengan Sunnah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam

[Dari Abu Yususf Sojono - Sumber: islamweb.net]

Tuesday, January 17, 2012

Urutan Turunnya Wahyu Dalam Al-Quran


Al-Qur’an terkadang diturunkan untuk menanggapi berbagai peristiwa dan kejadian. Kadang wahyu turun ketika Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada banyak pertanyaan baik dari kaum muslimin maupun orang-orang kafir. Di lain waktu turunnya firman Allah untuk memberikan panduan untuk mengatur masalah sosial, ekonomi, politik dan bidang kehidupan lainnya.

Ayat yang turun pertama kali, menurut pendapat yang paling kuat dari ulama, adalah 5 ayat pertama surat Al-’Alaq yang merupakan surat ke-96 dari 114 surat dalam Al-Qur’an.

Ulama sepakat bahwa susunan ayat dalam setiap surat adalah dilakukan atau diperintahkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW mengikuti petunjuk dari Allah SWT. Rasulullah SAW suatu ketika berkata pada para sahabat setelah pada Nabi turun suatu ayat, bahwasanya malaikat Jibril menunjukkan padanya suatu urutan tertentu dari ayat-ayat.

Banyak terdapat kisah dalam kitab-kitab hadits yang menerangkan bagaimana Rasulullah SAW membaca Al-Qur’an dalam sholat. Para sahabat selama sholat di belakang Nabi SAW. Nabi dalam sholatnya membaca Al-Qur’an dalam urutan yang diberikan Allah. Mereka menggunakan urutan ini untuk belajar, membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Tidak pernah ditemukan para sahabat membaca Al-Qur’an dengan urutan yang menyalahi petunjuk susunan ayat dari Nabi. Urutan surat dalam Al-Qur’an juga disusun menurut petunjuk Allah SWT. Selama hidupnya Rasulullah SAW melakukan 24 kali review bacaan Al-Qur’an bersama malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan.

Ada pertanyaan mengapa bukan surat Al-’Alaq yang ditempatkan sebagai surat pertama di mushaf (lembar Al-Qur’an). Bila dilihat lebih mendalam, akan dtemui bahwa urutan susunan ayat dan surat dalam mushaf memiliki suatu tujuan dan urutan turunnya wahyu juga memiliki suatu tujuan.

Selama 13 tahun awal perjalanan Islam, tujuan utama misi Rasulullah SAW adalah memanggil manusia untuk masuk dalam Islam. Dalam masa ini wahyu banyak berbicara tentang keesaan Allah.

Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, komunitas Islam mulai bergerak ke arah mapan dan tantangan baru mulai muncul. Fokus misi Islam saat itu adalah pengaturan kehidupan keum muslimin melalui penjelasan yang rinci mengenai, ibadah, hukuman bagi kejahatan dan lainnya.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa turunnya wahyu di masing-masing dari dua masa tersebut memilki suatu tujuan. Ketika wahyu telah turun secara lengkap, keseluruhan isi pesan Al-Qur’an telah dimasukkan ke dalam suatu susunan urutan yang akan tetap demikian hingga hari kiamat.

Bila Anda membuka Al-Qur’an dan menemukan surat pembuka, Al-Fatihah, Anda akan mengira surat tersebut merupakan ringkasan dari Al-Qur’an. Menjadi induk dari Al-Qur’an, Al-Fatihah membawa semua tema dalam Al-Qur’an dan merangkumnya. Hal yang sama juga berlaku untuk surat Al-Baqarah. Ayat-ayat pertama berbicara mengenai tidak adanya keraguan sedikitpun pada Kitabullah ini.

Semua tema dan pesan tidak diletakkan kecuali dalam urutan logis sebagaimana petunjuk dari Allah. Bila saja surat seperti Al-’Alaq yang ditempatkan pada permulaan Al-Qur’an, bukan Al-Fatihah, ia tetap akan membawa suatu makna dan pesan. Tetapi tidak sepenuhnya indah seperti urutan ayat dan surat yang kita dapati saat ini dimana surat Al-Fatihah yang menjadi surat pembuka.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat tabel di sini.

[Sumber: quranpoint.com]

Thursday, January 12, 2012

Muhammad, Manusia Paling Berpengaruh dalam Peradaban Manusia



Berikut adalah penjelasan Michael H. Hart, penulis yang meletakkan nama Rasulullah (saw) pada urutan pertama dalam bukunya 100 Manusia Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. 

NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM)

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.

Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.

Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.

Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.

Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.

Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.

Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.

Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.

Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.

Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Dari berbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.

Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.

Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

BACA JUGA:

Sumber:
SERATUS TOKOH PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

Wednesday, January 4, 2012

Alasan Kenapa Al-Quran Diturunkan Secara Bertahap


Mengapa Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap?
Al-Qur’an adalah petunjuk dan obat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menuntun manusia ke jalan Ilahi. Al-Qur’an juga merupakan jalan keluar bagi umat manusia dari penyakit sosial.

Di antara kajian-kajian ilmu Al-Qur’an modem, sering muncul pertanyaan klasik mengenai keberadaan Al-Qur’an. Mengapa Al- Quran diturunkan tidak sekaligus tetapi bertahap?

Pertanyaan itu dikatakan klasik karena jauh sebelum kajian ilmu Al-Qur’an modern berkembang, sudah sering dilontarkan. Pada waktu Al-Qur’an diturunkan pertanyaan itu berkali-kali dilontarkan orang-orang yang disebut Al-Qur’an sebagai "Alladzina fi Qulubihim Maradhun" yaitu orang-orang yang hatinya "sakit".

Sangat beralasan jika Al-Qur’an menyebut mereka demikian. Sebab, dengan pendekatan "Mafhum Mukhalafah" atau pemahaman terbalik, misalnya Al-Qur’an diturunkan sekaligus, bisa saja mereka akan bertanya, "Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan secara bertahap atau terpisah-pisah?"

Dalam Al-Qur’an, terdapat kurang lebih 15 pertanyaan dalam bentuk kata "Yasaluunaka” (mereka bertanya kepadamu), yang dilontarkan orang-orang kafir dengan berbagai motif dan tujuan yang berbeda. Ada yang memang bertanya karena mereka tidak tahu, ada yang bertanya untuk menguji Rasulullah SAW. Selain itu ada juga yang bertanya untuk menjatuhkan Rasulullah di depan para sahabatnya.

Setiap ada pertanyaan dari orang-orang kafir, Allah SWT langsung menjawabnya pada ayat yang sama. Uniknya, pertanyaan-pertanyaan itu timbul tidak bersamaan waktunya. Bagaimana andaikata Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus?

Satu hal yang perlu ditegaskan, yang dimaksud dengan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap adalah diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an secara berangsur-angsur per ayat atau persurat, sejak awal bi'tsah (pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama) sampai Rasulullah SAW wafat selama kurun waktu 23 tahun.

Jibril kadang-kadang turun membawa satu ayat atau beberapa ayat dan terkadang pula membawa sebuah surat pendek ataupun surat yang panjang semisal Al An'am.

Di antara surat yang diturunkan secara sekaligus adalah Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, Al Lahab, Al Kautsar, Al Bayyinah, Al Mursalat, As Shaf dan Al An 'am.

Satu hal yang perlu diingat, tidak semua yang tidak benar selalu berefek negatif. Artinya, dengan menyikapinya secara bijak, pertanyaan klasik itu justru bisa menjadi dorongan agar di balik penurunan Al-Qur’an yang tidak sekaligus, bisa dipahami kembali.

QS. Al Furqan (25):32 menyebutkan, "Berkatalah orang-orang kafir: "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?", sebagaimana Allah SWT menurunkan kitab-kitab terdahulu Taurat, Zabur dan Injil.

Kemudian Allah SWT menjawab, "...Demikianlah (kami turunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur), supaya kami perkuat hatimu (Muhammad) dengannya dan kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)."

Pada ayat lain, Allah SWT menjelaskan hikmah di balik penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur. QS.17 Al Isra: 105 yang artinya, “Dan kami turunkan Al-Qur'an dengan berangsur-angsur agar kamu membaca kannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian."

Bisa dibayangkan, alangkah nikmat dan segarnya jika dalam keadaan sangat haus, minum air seteguk demi 'seteguk untuk merasakan hilangnya dahaga secara perlahan-lahan.

Betapa nyamannya hati manusia, di saat kering-kerontang disiram dengan untaian ayat suci. Dan begitu seterusnya sehingga subur dan terawat. Sebagaimana bumi yang diguyur air hujan. Jika berlebihan yang terjadi adalah banjir.

Demikian juga Al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur. Al-Qur’an bukan hanya merupakan sebuah bacaan yang selesai dibaca sesaat kemudian ditutup kembali. Al-Qur’an juga bukan sesuatu yang dihafal dalam satu atau dua hari selesai.

Hikmah yang lain di balik penurunan Al-Qur’an secara berangsur–angsur adalah agar mudah dihafal. Sejarah membuktikan, orang Arab saat itu mempunyai kelebihan pada hafalan mereka yang kuat. Rasulullah SAW tetap menganjurkan kepada para sahabatnya untuk menulis Al-Qur’an, meskipun beliau menyadari tidak banyak di antara para sahabatnya yang menguasai baca dan tulis.

Bisa dibayangkan, betapa sulit dan susahnya menghafal jika Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus. Bagi Allah semua itu bisa saja terjadi. Hal ini juga membuktikan bahwa Allah SWT Maha bijaksana dengan tidak membebani hambaNya diluar batas kemampuannya.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, tetapi harus diamalkan. Tentu saja umat Islam saat itu akan banyak menemui kendala jika Al-Qur’an diturunkan sekaligus.

Karena mereka baru mengenal dan belajar tentang Islam. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Al-Qur’an memuat akidah dan syariah, yang seharusnya dikenalkan dan diajarkan secara bertahap.

Dalam hal syariat, salah satunya, Al-Qur’an melarang khamr atau minuman keras. Pada tahap awal, Allah SWT menjelaskan, bahwa di antara ciptaanNya yang baik dan halal dimakan, bisa dibuat dan dirubah menjadi sesuatu yang diharamkan. QS.16 Al Nahl : 67, artinya, "Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik..."

Tahap kedua, Allah SWT menjelaskan mafsadat dan mudharat khamr sekaligus menegaskan bahwa dampak negatif khamr lebih besar dari pada positifnya. QS.2 Al Baqarah: 219 artinya, "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya...."

Selanjutnya, pada tahap ketiga, Allah SWT melarang meminum khamr, tetapi tidak secara sekaligus, namun bertahap. Yakni, bersifat temporer hanya saat menjalankan shalat saja.QS.4 An Nisa:: 43, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan....".

Selanjutnya, setelah secara fisik dan mental (akidah), umat Islam waktu itu telah siap, Allah SWT mengharamkan secara total minuman khamr. QS.5. Al Maidah: 90, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Jika ditilik dari adat kebiasaan bangsa Arab, termasuk umat Islam pada periode awal, di mana khamr ibarat minuman teh, kebiasaan itu sulit ditinggalkan. Semua itu menjadi bebas yang cukup berat untuk ditinggalkan.

Di dalam berdakwah pun harus dibedakan antara seseorang yang sejak lahir Islam karena pengikut jejak orang tuanya, dengan mualaf. Tentu tidak sulit bagi orang yang memeluk Islam sejak lahir untuk menjalani semua perbuatan yang disyariatkan Islam, karena ia memang dididik dalam lingkungan islam. Demikian sebaliknya bagi mualaf, semua harus dilakukan secara bertahap.

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers