Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Friday, June 15, 2012

Jaminan Sorga Bagi Nabi Muhammad Saw Dan Umatnya



  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad akan masuk sorga
Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (QS. 48:2)
 
  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad yang pertama masuk sorga.
Hadits riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku datang ke pintu sorga pada hari kiamat, lalu aku meminta supaya pintu sorga dibuka. Penjaga sorga bertanya: “Engkau siapa?” Saya menjawab: “Muhammad!” Lalu dia berkata: “Saya diperintahkan, supaya tidak membukakan pintu sorga kepada siapapun sebelum engkau.”
 
  • Allah memberikan jaminan bahwa 10 sahabat Nabi masuk sorga.
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
 
  • Allah memberikan jaminan bahwa 70.000 umat Nabi Muhammad akan masuk sorga tanpa hisab
Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata: “Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang Nabi atau dua orang Nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang Nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk sorga tanpa hisab, sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak minta di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari  No. 8270]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: "aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Akan masuk sorga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]
 
  • Allah memberikan jaminan bahwa umat Islam masuk sorga
Hadits Nabi,
يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى رواه البخاري
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk sorga, kecuali yang tidak mau.” Shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa yang tidak mau?” Beliau menjawab, “Mereka yang mentaatiku akan masuk sorga dan yang menentangku maka dia telah enggan masuk sorga.”

Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila ahli sorga telah masuk sorga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka.”

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan.”

Rasulullah Saw bersabda: “Semua ummatku akan masuk sorga, kecuali orang yang enggan (tidak mau).” [HR. Bukhori 22/248]

Dari sedikit penjelasan di atas, maka sangat jelas bagi siapa saja yang mengerti bahasa Indonesia, bahwa Nabi Muhammad saw sudah dijamin oleh Allah sebagai penghuni Sorga!

Adapun kaum kuffar dan kaum munafik yang selalu berteriak-teriak menyerukan pemahaman mereka yang keliru tentang Nabi Muhammad saw yang menurut mereka belum dijamin masuk sorga, sebenarnya adalah bukti nyata betapa jauh mereka terperangkap dalam kebodohan diri sendiri sehingga sama sekali tidak mampu melihat kebenaran sejati sebagai akibat terlalu banyak dicekoki dogma "melawan akal" oleh para Bapa Gereja! 


Salam bagi kaum yang mengikuti petunjuk![Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

BACA JUGA


Sunday, June 10, 2012

Jangan malu belajar Agama




بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Allah SWT berfirman,

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي
الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar[39]: 9).

Dari Ummu Salamah, dia berkata, Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu, apakah seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Jika dia melihat air (mani)." Lalu, Ummu Salamah menutup wajahnya dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi?" Beliau menjawab,"Ya, bisa. Maka, sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya." (Hadis sahih, ditakhrij Ahmad 6/306, al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, at-Tirmizi, hadis nomor 122, an-Nasa'i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, ad-Darimi 1/195, al-Baihaqi 1/168-169).

Ummu Salamah datang kepada Rasulullah saw. untuk belajar. Ia memulai dengan ucapan, "Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran." Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar, sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya, seperti dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu." (Al-Baqarah: 26).Ummu Sulaim demikian pula, ia tidak malu untuk bertanya kepada yang lebih tahu perihal apa-apa yang mestinya ia ketahui dan pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar perkataan Ummul Mukminin, Aisyah r.a., "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama." (Diriwayatkan al-Bukhari 1/44).

Ummu Sulaim bertanya, "Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia mimpi bersetubuh?" Nabi saw. menjawab, "Jika dia melihat air." Maksudnya, ia harus mandi jika benar bermimpi dan ada bukti bekas air mani di pakaian. Namun, jika tidak, tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya, "Apakah wanita itu juga bermimpi?"Keheranan Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal yang sama Pernah terjadi pada diri Aisyah yang lebih berilmu, seperti disebutkan dalam suatu riwayat dia berkata, "Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu?" Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi. Keheranan Ummu Salamah dan Aisyah r.a. lebih disebabkan ketidaktahuan. Karena, tidak seluruh wanita bisa bermimpi, melainkan sebagian mereka.

Namun, keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi saw., "Na'am, taribat yaminuki," (Benar, seorang wanita bisa bermimpi). Kemudian ada bukti nubuwwah di akhir ucapan beliau: "Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya."Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan perkataan itu. Laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Benih datang dari pasangan laki-laki menuju indung telur dalam tubuh wanita. Lalu, keduanya bercampur, dalam pengertian separo sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari laki-laki dan separo lainnya kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol antara keduanya. Dari sinilah terjadi penyerupaan.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik, selagi kita dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum din, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya kita membiasakan diri untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum Islam, baik hukum yang kecil maupun hukum yang besar. Sebab, jika seseorang, terutama wanita, lebih banyak dikungkung rasa malu, dia terhalang untuk mengetahui sesuatu.

Mujahid Rahimahullah berkata, "Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu." Sebuah nasihat berharga yang secara eksplisit menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab kedua hal tersebut dapat menghalangi semangat mencari ilmu. Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia mengetahui diennya.

Karena itu, Islam mewajibkan, baik kepada laki-laki maupun wanita untuk mencari ilmu. Bukankah Allah juga berfirman, " .... Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9). Bahkan, terdapat ayat yang secara khusus ditujukan kepada ummahatul mukminin, berupa anjuran mempelajari kandungan Alquran sunah, "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah." (Al-Ahzab: 34).

Karena perintah Allah inilah, para Sohabiyah merasakan keutamaan ilmu. Mereka pun pergi menemui Nabi saw. dan menuntut suatu majlis belajar din bagi mereka. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri r.a., dia berkata, "Para wanita berkata kepada Nabi saw., 'Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas diri baginda, maka buatlah bagi kami dari waktu baginda.' Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka. Pada saat itu beliau menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah, 'Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang baginya dari neraka?' Seorang wanita bertanya, 'Bagaimana dengan dua anak?' Maka beliau menjawab, 'Begitu pula dua anak'."

Abu Zahrah, dari tulisan Majdi as-Sayyid Ibrahim - Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Saturday, January 21, 2012

Kronologi Turunnya Surah-Surah Al-Quran dan Daftar Surah Makiyah - Madaniyah



Al-Qur'an diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw di dua tempat, yakni Makkah dan Madinah. Oleh karena itu, para ulama menggolongkan surah-surah yang ada di dalam Al-Qur'an menjadi dua jenis yaitu surah Makkiyah dan surah Madaniyah.

Apa perbedaannya?
Pertama, surah Makkiyah merupakan surah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika beliau berada di Makkah dan belum hijrah ke Madinah. Surah dan ayat yang tergolong Makkiyah diturunkan dalam kurun waktu 12 tahun, 15 bulan, 13 hari. Hitungan ini dimulai sejak 17 Ramadan atau tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad saw sampai 1 Rabi'ul Awwal tahun ke-54 dari tahun kelahirannya. Total surah Makkiyah ada 86 surah yang terdiri dari 4.780 ayat.

Umumnya, surah yang tergolong Makkiyah ini adalah pendek-pendek. Misalnya, Surah An-Naas, Surah Al-Ikhlas, dan Surah Al-Falaq. Selain itu, biasanya surah Makkiyah diawali dengan kalimat "yaa ayyuhan naas" dan umumnya berhubungan dengan persoalan akidah. 

Berikut daftar surah Makiyah dan surah Madaniyah berikut penjelasan ringkas di bagian bawah tabel:
 
Surah-Surah Makiyah
    Urutan TurunNo. SuratNamaSuratJumlah AyatTempat Turun
    196Al-’Alaq19Makkiyah
    268Al-Qalam52Makkiyah
    373Al-Muzzammil20Makkiyah
    474Al-Muddatstsir56Makkiyah
    51Al-Faatihah7Makkiyah
    6111Al-lahab5Makkiyah
    781At-Takwiir29Makkiyah
    887Al-A’laa19Makkiyah
    992Al-Lail21Makkiyah
    1089Al-Fajr30Makkiyah
    1193Adh-Duhaa11Makkiyah
    1294Al-insyirah8Makkiyah
    13103Al-’Ashr3Makkiyah
    14100Al-’Aadiyaat11Makkiyah
    15108Al-Kautsar3Makkiyah
    16102At-Takaatsur8Makkiyah
    17107Al-Maa’uun7Makkiyah
    18109Al-Kaafiruun6Makkiyah
    19105Al-Fiil5Makkiyah
    20113Al-Falaq5Makkiyah
    21114An-Naas6Makkiyah
    22112Al-Ikhlas4Makkiyah
    2353An-Najm62Makkiyah
    2480Abasa42Makkiyah
    2597Al-Qadr5Makkiyah
    2691Asy-Syams15Makkiyah
    2785Al-Buruuj22Makkiyah
    2895At-Tiin8Makkiyah
    29106Quraisy4Makkiyah
    30101Al-Qaari’ah11Makkiyah
    3175Al-Qiyaamah40Makkiyah
    32104Al-Humazah9Makkiyah
    3377Al-Mursalaat50Makkiyah
    3450Qaaf45Makkiyah
    3590Al-Balad20Makkiyah
    3686Ath-Thaariq17Makkiyah
    3754Al-Qamar55Makkiyah
    3838Shaad88Makkiyah
    397Al-A’raaf206Makkiyah
    4072Al-Jin28Makkiyah
    4136Yaasiin83Makkiyah
    4225Al-Furqaan77Makkiyah
    4335Faathir45Makkiyah
    4419Maryam98Makkiyah
    4520Thaahaa135Makkiyah
    4656Al-Waaqi’ah96Makkiyah
    4726Asy-Syu’araa’227Makkiyah
    4827An-Naml93Makkiyah
    4928Al-Qashash88Makkiyah
    5017Al-Israa’111Makkiyah
    5110Yunus109Makkiyah
    5211Huud123Makkiyah
    5312Yusuf111Makkiyah
    5415Al-Hijr99Makkiyah
    556Al-An’am165Makkiyah
    5637Ash-Shaaffat182Makkiyah
    5731Luqman34Makkiyah
    5834Saba ‘54Makkiyah
    5939Az-Zumar75Makkiyah
    6040Al-Mu’min85Makkiyah
    6141Fushshilat54Makkiyah
    6242Asy-Syuura53Makkiyah
    6343Az-Zukhruf89Makkiyah
    6444Ad-Dukhaan59Makkiyah
    6545Al-Jatsiyaah37Makkiyah
    6646Al-Ahqaaf35Makkiyah
    6751Adz-Dzariyaat60Makkiyah
    6888Al-Ghaasyiyah26Makkiyah
    6918Al-Kahfi110Makkiyah
    7016An-Nahl128Makkiyah
    7171Nuh28Makkiyah
    7214Ibrahim52Makkiyah
    7321Al-Anbiyaa’112Makkiyah
    7423Al-Mu’minuun118Makkiyah
    7532As-Sajdah30Makkiyah
    7652At-Thuur49Makkiyah
    7767Al-Mulk30Makkiyah
    7869Al-Haaqqah52Makkiyah
    7970Al-Ma’aarij44Makkiyah
    8078An-Naba’40Makkiyah
    8179An-Nazi’at46Makkiyah
    8282Al-Infithaar19Makkiyah
    8384Al-Insyiqaaq25Makkiyah
    8430Ar-Ruum60Makkiyah
    8529Al-’Ankabuut69Makkiyah
    8683Al-Muthaffifiin36Makkiyah

    Surah-Surah Madaniyah
      Urutan TurunNo. SuratNamaSuratJumlah AyatTempat Turun
      872Al-Baqarah286Madaniyah
      888Al-Anfaal75Madaniyah
      893Ali ‘Imran200Madaniyah
      9033Al-Ahzab73Madaniyah
      9160Al-Mumtahanah13Madaniyah
      924An-Nisaa’176Madaniyah
      9399Al-Zalzalah8Madaniyah
      9457Al-Hadiid29Madaniyah
      9547Muhammad38Madaniyah
      9613Ar-Ra’d43Madaniyah
      9755Ar-Rahmaan78Makkiyah
      9876Al-Insaan31Madaniyah
      9965Ath-Thalaaq12Madaniyah
      10098Al-Bayyinah8Madaniyah
      10159Al-Hasyr24Madaniyah
      10224An-Nuur64Madaniyah
      10322Al-Hajj78Madaniyah
      10463Al-Munaafiquun11Madaniyah
      10558Al-Mujaadilah22Madaniyah
      10649Al-Hujuraat18Madaniyah
      10766At-Tahriim12Madaniyah
      10864At-Taghaabun18Madaniyah
      10961Ash-Shaff14Madaniyah
      11062Al-Jumu’ah11Madaniyah
      11148Al-Fath29Madaniyah
      1125Al-Maa-idah120Madaniyah
      1139At-Taubah129Madaniyah
      114110An-Nashr3Madaniyah
      Referensi : Revelation Order of the Qur’an
       
      Kronologi Pewahyuan al-Quran
      Unit-unit wahyu al-Quran – yang kemudian membentuk kitab suci kaum muslimin – disampaikan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih 23 tahun – mulai sekitar tahun 610 hingga 632 – selaras dengan perkembangan misi kenabiannya. Namun, ketika wahyu-wahyu tersebut dikodifikasi, pentahapan pewahyuan ini tidak tercermin di dalamnya.

      Banyak surat al-Quran yang diwahyukan setelah Nabi hijrah ke Madinah – seperti surat 2, 3, dan 4 – ditempatkan pada bagian awal mushaf al-Quran yang ada – yakni mushaf utsmani. Sementara surat-surat yang berasal dari periode awal kenabian Muhammad – misalnya surat 96, 74, dan 68,– ditempatkan di bagian akhir mushaf. Demikian pula, surat-surat al-Quran – terutama surat-surat panjang – menghimpun unit-unit wahyu dari berbagai periode pewahyuan, yang diturunkan sehubungan dengan berbagai kejadian, situasi dan kebutuhan. Bagian-bagian al-Quran yang menyerukan kaum politeis mengimani keesaan Tuhan dan mengeritik keyakinan serta praktek pelbegu, lazimnya diwahyukan pada masa pra-hijrah. Sementara bagian-bagian al-Quran yang berisi berbagai aturan peperangan dan hukum kemasyarakatan, jelas diwahyukan dalam kaitannya dengan pembangunan dan pemapanan masyarakat muslim Madinah.

      Sekalipun mushaf al-Quran tidak tersusun berdasarkan urutan pewahyuan, sejak abad-abad pertama Islam para sarjana muslim telah menyadari pentingnya pengetahuan tentang penanggalan atau aransemen kronologis bagian-bagian al-Quran dalam rangka memahami pesan kitab suci tersebut. Dari kesadaran ini, muncul upaya menghimpun berbagai riwayat historis tentangnya dan menyusun rangkaian kronologi pewahyuan al-Quran.

      Beberapa Pijakan Penanggalan al-Quran
      Ada sejumlah riwayat dalam kitab-kitab sejarah dan tafsir yang pada umumnya dijadikan pijakan penanggalan bagian-bagian al-Quran oleh para sarjana muslim. Riwayat-riwayat ini biasanya mengungkapkan bahwa bagian tertentu al-Quran diwahyukan sehubungan dengan peristiwa tertentu. Jadi, surat 8, misalnya, dihubungkan dengan Perang Badr, surat 33 dengan Perang Khandaq, dan surat 48 dengan Perjanjian Hudaibiyah. Riwayat-riwayat semacam ini memang merupakan data historis yang amat membantu penanggalan al-Quran, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan umumnya bertalian dengan wahyu-wahyu periode Madinah.

      Sementara riwayat-riwayat yang bertalian dengan wahyu-wahyu periode Makkah, selain jumlahnya tidak begitu banyak, secara historis data tersebut juga sangat meragukan dan umumnya dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak begitu penting serta tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Contohnya adalah 80:1-10. Bagian al-Quran ini dikatakan diwahyukan ketika seorang buta bernama Abd Allah ibn Umm Maktum menemui Nabi yang tengah berbincang-bincang dengan beberapa pemuka suku Quraisy yang diharap dapat dibujuknya.

      Dalam tradisi kesarjanaan Islam, riwayat-riwayat semacam ini dikatakan membahas “sebab-sebab pewahyuan” (asbãb al-nuzûl). Suatu karya standar yang berupaya menghimpunnya disusun al-Wahidi (w. 1075) dengan judul senada. Sementara karya yang bersifat suplementer terhadapnya disusun Jalaluddin al-Suyuthi, Lubãb al-Nuqûl.

      Sayangnya, bahan-bahan tradisional ini memiliki sejumlah cacat mendasar. Pertama, bahan-bahan itu tidak lengkap dan hanya menentukan sebab-sebab pewahyuan sejumlah bagian al-Quran yang relatif sedikit. Lebih jauh, bahan yang serba sedikit itu sangat rentan terhadap kritik, bahkan pada tingkatan kritik sanad. Demikian juga, kebanyakan sebab pewahyuan yang dikemukakan hanya merupakan peristiwa-peristiwa tidak penting dan tidak diketahui kapan terjadinya, seperti kisah Umm Maktum di atas. Terakhir, terdapat banyak inkonsistensi di dalam bahan-bahan tersebut. Biasanya dikatakan bahwa bagian al-Quran yang pertama kali diwahyukan kepada Nabi adalah permulaan surat al-Alaq (96:1-5). Tetapi, riwayat lain menyebutkan bahwa wahyu pertama adalah bagian awal surat al-Muddatstsir (74:1-5) atau surat al-Fãtihah (1:1-7). Untuk mengharmoniskan riwayat-riwayat ini, muncul kisah yang mengungkapkan bahwa permulaan surat 74 merupakan wahyu pertama setelah masa terputusnya wahyu (fatratu-l-wahy) dan surat 1 merupakan surat pertama yang disampaikan secara utuh.

      Demikian pula, terdapat beberapa versi riwayat tentang wahyu terakhir. Salah satunya mengungkapkan bahwa wahyu terakhir yang diterima Nabi adalah 2:281. Sementara versi lain menyatakan wahyu terakhir adalah 2:282 atau 2:278. Ada juga riwayat yang menegaskan bahwa 5:3 merupakan wahyu terakhir.

      Di samping bahan-bahan tradisional di atas, al-Quran juga memuat sejumlah data yang dapat membantu upaya penanggalannya. Secara umum dapat dikemukakan bahwa rujukan jenis ini yang berasal dari masa Makkah relatif sangat sedikit dan tidak banyak membantu penanggalan. Contohnya adalah 30:2-5, yang menyebutkan kekalahan Bizantium dari Persia. Bagian ini barangkali merujuk kepada peristiwa jatuhnya kota Yerusalem ke tangan Persia pada 614. Demikian pula, surat 105 berkaitan dengan suatu ekspedisi militer terhadap kota Makkah yang dilakukan Raja Yaman, Abrahah, pada pertengahan abad ke-6.

      Berbeda dari masa Makkah, rujukan-rujukan historis yang berasal dari masa Madinah bisa diberi penanggalan lebih akurat berdasarkan sumber-sumber lain. Contohnya adalah Perang Badr (624) disebut dalam 3:123, Perang Hunain (630) dalam 9:25, perubahan kiblat dari Yerusalem ke Makkah di penghujung 623 atau awal 624 dalam 2:142-150, penetapan ibadah haji dan ritus-ritusnya di sekitar 624 dalam 2:158,159; 5:95 ff.; dan lain-lain. Di samping itu, anak angkat Nabi, Zayd ibn Haritsah (w. 629), disebut namanya dalam 33:37 sehubungan dengan suatu peristiwa yang terjadi pada 627. Demikian pula, berbagai peristiwa lainnya disinggung, meskipun tidak diidentifikasi, seperti Perang Uhud (625) dalam 3:155-174; pengusiran suku Yahudi banu Nadzir (625) dalam 59:2-5; Perang Khandaq (627) dalam 33:9-27; ekspedisi ke Khaybar (628) dalam 48:15-19; ekspedisi ke Tabuk (630) dalam 9:29-35; dan lainnya. Tetapi, sebagaimana dengan periode Makkah, rujukan-rujukan historis yang berasal dari periode Madinah jumlahnya relatif sedikit.

      Di samping kedua pijakan penanggalan di atas, dalam khazanah Islam juga terdapat sejumlah riwayat dari masa sangat awal tentang susunan kronologis surat-surat al-Quran. Tetapi, karakter utama riwayat-riwayat tersebut – yang hanya memperhatikan bagian awal surat-surat al-Quran untuk aransemen kronologisnya, tanpa menyinggung ayat-ayat berikutnya dalam suatu surat yang diintegrasikan ke dalam surat tersebut baik dari masa pewahyuan yang lebih awal atau belakangan – mengandung kelemahan sangat mendasar. Riwayat-riwayat ini juga bertentangan secara diametral dengan sumber-sumber lainnya – seperti riwayat asbãb al-nuzûl – yang menampakkan bagian-bagian pendek al-Quran sebagai unit orisinal wahyu.

      Berdasarkan berbagai pijakan itulah, di samping penelitian terhadap gaya bahasa al-Quran, para sarjana muslim membangun sistem penanggalan kitab suci Islam. Sistem penanggalan kesarjanaan muslim pada umumnya membagi pewahyuan al-Quran ke dalam dua periode utama: Makkiyah dan Madaniyah, dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah (622) sebagai titik peralihan antara kedua periode tersebut. Wahyu-wahyu yang diterima Nabi sebelum hijrah dikategorikan sebagai Makkiyah, dan yang diterima setelah hijrah sebagai Madaniyah.

      Kronologi al-Quran Kesarjanaan Islam
      Salah satu riwayat aransemen kronologis al-Quran yang paling berpengaruh di kalangan kaum muslimin adalah yang bersumber dari Ibn Abbas. Dalam riwayat ini, 85 surat al-Quran dikategorikan sebagai Makkiyah dan 28 surat lainnya sebagai Madaniyah. Surat 1 tidak terdapat di dalam aransemen tersebut.

      Susunan kronologis surat-surat Makkiyah menurut riwayat Ibn Abbas adalah sebagai berikut: 96; 68; 73; 74; 111; 81; 87; 92; 89; 93; 94; 103; 100; 108; 102; 107; 109; 105; 113; 114; 112; 53; 80; 97; 91; 85; 95; 106; 101; 75; 104; 77; 50; 90; 86; 54; 38; 7; 72; 36; 25; 35; 19; 20; 56; 26; 27; 28; 17; 10; 11; 12; 15; 6; 37; 31; 34; 39; 40; 41; 42; 43; 44; 45; 46; 51; 88; 18; 16; 71; 14; 21; 23; 32; 52; 67; 69; 70; 78; 79; 82; 84; 30; 29; dan 83. Sementara aransemen kronologis surat-surat Madaniyah adalah: 2; 8; 3; 33; 60; 4; 99; 57; 47; 13; 55; 76; 65; 98; 59; 110; 24; 22; 63; 58; 49; 66; 62; 64; 61; 48; 5; dan 9.

      Belakangan, riwayat susunan kronologis surat-surat al-Quran yang dinisbatkan kepada Ibn Abbas itu diterima secara luas dan diberi sanksi ortodoksi. Dengan sedikit perubahan, riwayat susunan kronologis tersebut diadopsi para penyunting al-Quran edisi standar Mesir (1923), dengan menetapkan 86 surat berasal dari masa sebelum hijrah (Makkiyah) – yakni dengan memasukkan surat 1 ke dalamnya – dan sisanya (28 surat) diklasifikasikan sebagai surat-surat Madaniyah. Dalam aransemen kronologis ini, sejumlah besar bahan-bahan tradisional – seperti sîrah, asbãb al-nuzûl, hadits dan lainnya – telah dieksploitasi untuk menetapkan penanggalan sejumlah besar ayat dalam surat-surat tertentu al-Quran.

      Susunan kronologis surat-surat al-Quran periode Makkah dalam al-Quran edisi standar Mesir adalah sebagai berikut: 96; 68 (17-33,48-50 Md.); 73 (10-11,20 Md); 74; 1; 111; 81; 87; 92; 89; 93; 94; 103; 100; 108; 102; 107; 109; 105; 113; 114; 112; 53; 80; 97; 91; 85; 95; 106; 101; 75; 104; 77 (48 Md.); 50 (38 Md.); 90; 86; 54 (54 -56 Md.); 38; 7 (163-170 Md.); 72; 36 (45 Md.); 25 (68-70 Md.); 35; 19 (58, 71 Md.); 20 (130-131 Md.); 56 (71-72 Md.); 26 (197, 224 -227 Md.); 27; 28 (52-55 Md, 85 waktu hijrah); 17 (26, 32-33, 57, 73-80 Md.); 10 (40, 94-96 Md.); 11 (12, 17, 114 Md.); 12 (1-3, 7 Md.); 15; 6 (20, 23, 91, 114, 141, 151-153 Md.); 37; 31 (27-29 Md.); 34 (6 Md.); 39 (52-54 Md.); 40 (56-57 Md.); 41; 42 (23-25, 27 Md.); 43 (54 Md.); 44; 45 (14 Md.); 46 (10, 15, 35 Md.); 51; 88; 18 (28, 83-101 Md.); 16 (126-128 Md.); 71; 14 (28-29 Md.); 21; 23; 32 (16-20 Md.); 52; 67; 69; 70; 78; 79; 82; 84; 30 (17 Md.); 29 (1-11 Md.); dan 83. Sementara susunan kronologis surat-surat periode Madinah adalah: 2 (281 belakangan); 8 (30-36 Mk.); 3; 33; 60; 4; 99; 57; 47 (13 waktu hijrah); 13; 55; 76; 65; 98; 59; 24; 22; 63; 58; 49; 66; 64; 61; 62; 48; 5; 9 (128-129 Mk.); dan 90. (Nomor di dalam tanda kurung menunjukkan nomor ayat, Md. = Madaniyah, Mk. = Makkiyah).

      Seperti terlihat, susunan surat-surat Makkiyah dalam sistem kronologi Mesir bisa dikatakan identik dengan riwayat yang bersumber dari Ibn Abbas, kecuali menyangkut penempatan surat 1 – yang tidak eksis dalam versi Ibn Abbas – di antara surat 74 dan surat 111. Sementara susunan kronologis surat-surat Madaniyah versi edisi Mesir menampakkan sejumlah perbedaan sekuensial dengan versi Ibn Abbas. Lebih dari separuh surat-surat Madaniyah pada permulaan daftar kronologi Mesir – mulai surat 2 sampai surat 59 – masih sejalan dengan riwayat kronologi Ibn Abbas. Setelah itu, surat 90 yang menyusuli surat 59 dalam rangkaian kronologis Ibn Abbas, dipindahtempatkan ke bagian paling akhir surat-surat Madaniyah. Tetapi, sekuensi surat-surat selanjutnya dalam kedua kronologi ini sebagian besarnya identik, kecuali surat 62 ditempatkan setelah surat 61. Berbagai perbedaan ini, sebagaimana telah dikemukakan, dapat dikembalikan kepada eksploitasi sumber-sumber klasik oleh para penyunting al-Quran edisi standar Mesir.

      Rangkaian kronologis surat-surat al-Quran yang diajukan para penyunting al-Quran edisi standar Mesir memiliki pengaruh yang cukup luas di dunia Islam. Hal ini disebabkan penerimaan mayoritas kaum Muslimin terhadap edisi standar al-Quran tersebut, yang memuat sistem penanggalan al-Quran dalam “mukadimah” setiap surat.

      Kronologi Noeldeke-Schwally
      Upaya penanggalan al-Quran, dalam kenyataannya, bukan merupakan bidang garap eksklusif kesarjanaan Islam. Sejak pertengahan abad ke-19, dunia kesarjanaan Barat juga mulai menaruh perhatian terhadapnya. Upaya merekonstruksi secara kronologis wahyu-wahyu al-Quran dilakukan para sarjana Barat dengan mengeksploitasi bahan-bahan tradisional Islam dan memperhatikan bukti-bukti internal al-Quran sendiri – yakni rujukan-rujukan historis di dalamnya, terutama selama periode Madinah dari karir kenabian Muhammad. Perhatian juga dipusatkan pada pertimbangan gaya al-Quran, perbendaharaan kata, dan semisalnya. Singkat kata, al-Quran telah menjadi sasaran penelitian yang cermat selaras dengan metode kritik sastera dan kritik sejarah modern. Hasilnya, muncul berbagai sistem penanggalan al-Quran berdasarkan asumsi-asumsi yang beragam.

      Salah satu aransemen kronologi al-Quran versi Barat yang terpopuler adalah yang diupayakan Theodor Noeldeke (w.1930) dan muridnya, Friedrich Schwally (w. 1919), dalam karya monumental mereka, Geschichte des Qorãns. Noeldeke dan Schwally, yang mengadopsi dan mengembangkan gagasan Gustav Weil, membagi pewahyuan al-Quran ke dalam empat periode: (i) Makkah pertama atau awal; (ii) Makkah kedua atau tengah; (iii) Makkah ketiga atau akhir; dan (iv) Madinah. Titik-titik peralihan untuk keempat periode ini adalah masa hijrah ke Abisinia (sekitar 615) untuk Makkah awal dan Makkah tengah, saat kembalinya Nabi dari Tha’if (620) untuk Makkah tengah dan Makkah akhir, serta peristiwa hijrah (September 622) untuk Makkah akhir dan Madinah.

      Menurut Noeldeke dan Schwally, surat-surat periode Makkah pertama cenderung pendek-pendek. Ayatnya juga pendek-pendek serta berima. Surat-surat sering diawali dengan ungkapan-ungkapan sumpah, serta bahasanya penuh dengan tamsilan dan keindahan puitis. Susunan kronologis surat-surat al-Quran periode ini adalah: 96 (9-11 belakangan); 74 (31-34, 41ff. Belakangan); 111; 106; 108; 104; 107; 102; 105 (6 Mk. Akhir); 92; 90; 94; 93; 97; 86; 91; 80; 68 (17 ff. Belakangan); 87; 95; 103 (3 Mk. Akhir); 85 (8-11 belakangan); 73; 101; 99; 82; 81; 53 (23, 26-32 belakangan); 84 (25 Mk. Akhir); 100; 79 (27-46 belakangan); 77; 78 (37 ff. Mk.Tengah); 88; 89; 75 (16-19?); 83); 69; 51 (24ff. belakangan); 52 (21,29ff. belakangan); 56 (75ff. belakangan); 70; 55 (8-9 belakangan); 112; 109; 113; 114); dan 1. (Nomor di dalam tanda kurung menunjukkan nomor ayat, Mk. = Makkiyah).

      Surat-surat periode kedua atau Makkah tengah lebih panjang dan lebih berbentuk prosa, tetapi tetap dengan kualitas puitis yang indah. Gayanya membentuk transisi antara surat-surat periode Makkah pertama dan ketiga. Tanda kemahakuasaan Tuhan dalam alam dan sifat-sifat Ilahi seperti rahmah (“kemahakasihan”) ditekankan, sementara Tuhan sendiri sering disebut sebagai al-rahmãn (“yang maha pengasih”). Deskripsi yang hidup tentang surga dan neraka diungkapkan, serta dalam periode inilah kisah-kisah umat nabi sebelum Muhammad yang diazab Tuhan diperkenalkan. Surat-surat periode kedua adalah: 54; 37; 71; 76; 44; 50; 20; 26; 15; 19 (35-40 belakangan); 38; 36; 43; 72; 67; 23; 21; 25 (64ff.?); 17; 27; dan 18. (Nomor di dalam tanda kurung menunjukkan nomor ayat).

      Surat-surat periode Makkah ketiga atau Makkah akhir lebih panjang dan lebih berbentuk prosa. Noeldeke-Schwally mengemukakan bahwa penggunaan al-rahmãn sebagai nama diri Tuhan berakhir pada periode ini, tetapi karakteristik-karakteristik periode kedua lainnya semakin mengental. Kisah-kisah kenabian dan pengazaban umat terdahulu dituturkan kembali secara lebih rinci. Susunan kronologis surat-surat al-Quran periode Makkah ketiga adalah sebagai berikut: 32; 41; 45; 16 (41f., 110-124 Md.); 30; 11; 14 (38 ff. Md.); 12; 40 (57 ff.?); 28; 39; 29 (1-11, 46 Md., 69 ?); 31 (14f. Md. 12f,16-19 belakangan 27-29Md.); 42; 10; 34; 35; 7 (157f.Md.); 46; 6; dan 13. (Nomor di dalam tanda kurung menunjukkan nomor ayat, Md. = Madaniyah).

      Sementara surat-surat periode keempat (Madaniyah) tidak memperlihatkan banyak perubahan gaya dari periode ketiga dibandingkan perubahan pokok bahasan. Perubahan ini terjadi dengan semakin meningkatnya kekuasaan politik Nabi dan perkembangan umum peristiwa-peristiwa di Madinah setelah hijrah. Pengakuan terhadap Nabi sebagai pemimpin masyarakat, membuat wahyu berisi hukum dan aturan kemasyarakatan. Tema dan istilah kunci baru turut membedakan surat-surat periode ini dari periode sebelumnya. Susunan kronologis surat-surat al-Quran dari periode Madinah adalah: 2; 98; 64; 62; 8; 47; 3; 61; 57; 4; 65; 59; 33; 63; 24; 58; 22; 48; 66; 60; 110; 49; 9; dan 5.

      Sistem penanggalan empat periode Barat di atas lebih merupakan varian yang agak terelaborasi dari sistem penanggalan Makkiyah-Madaniyah kesarjanaan Islam. Sistem Barat ini sangat bergantung pada penanggalan dan hal-hal yang bertalian dengan bentuk serta gaya yang dikembangkan sarjana Muslim. Sejumlah bahan tradisional menyangkut surat-surat tertentu al-Quran diterima sistem penanggalan empat periode Barat sebagai kebenaran historis. Tetapi, bahan-bahan tradisional lainnya, khususnya yang menyangkut periode Makkiyah, dipandang meragukan. Semetara analisis sastera terhadap kandungan surat-surat al-Quran untuk menetapkan penanggalan ayat-ayat di dalam suatu surat telah diaplikasikan secara luas dalam sistem Barat ini. Itulah sebabnya, timbul perbedaan yang cukup substantif antara sistem penanggalan yang dihasilkan kesarjanaan Islam dan sistem penanggalan empat periode Barat dalam susunan kronologis aktual surat-surat al-Quran.

      Untuk lebih jelasnya, silahkan download dan baca buku MEMBUMIKAN AL-QUR'AN Tulisan Dr. M. Quraish Shihab, atau baca ringkasan SEJARAH AL-QUR'AN seperti yang dikumpulkan di sini.


      [Sumber: Taufik Adnan Amal | Studi Al-Qur'an]

      Baca juga:

      Folder Arsip

      Loading...

      Rekam Arsip

      Rekomendasi Arsip

      Followers