Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Rukun Iman. Show all posts
Showing posts with label Rukun Iman. Show all posts

Thursday, July 21, 2016

Iman Kepada Allah Subhanahu Wata'ala


Iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi empat perkara:

I. Beriman kepada wujud Allah ta’ala
Wujud Allah ta’ala telah dijelaskan dan ditetapkan oleh fitrah, aqal, syar’i dan panca indera.

[1]. Adapun penetapan fitrah terhadap wujud Allah: maka sesungguhnya setiap makhluq telah diciptakan dalam keadaan (fitrahnya) beriman kepada Penciptanya tanpa didahului dengan berfikir atau belajar terlebih dahulu. Dan tidak ada satupun yang bergeser dari ketentuan fitrah ini kecuali orang yang diterpa hatinya sesuatu yang dapat menggeser hatinya dari fitrah tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Tidak ada satu (bayi) yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai yahudi atau menjadikannya nashrani atau menjadikannya majusi.” [HR. Bukhari]

[2]. Adapun penunjukan akal terhadap wujud Allah Ta’ala: maka sesungguhnya makhluq-makhluq ini baik yang telah lalu dan yang akan datang- haruslah memiliki pencipta yang menciptakannya, karena tidak mungkin sebuah jiwa/seseorang menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin ia muncul/ada dengan tiba-tiba. Seseorang itu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri karena segala sesuatu  tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, “ (hal ini disebabkan) karena sebelum ia tercipta ia sama sekali tidak ada/tidak memiliki wujud, maka bagaimana mungkin ia menjadi pencipta?

Ia tidak mungkin ada dengan tiba-tiba, karena setiap yang terjadi itu mesti ada yang menjadikannya, dan dikarenakan keberadaannya dalam keteraturan yang ajaib ini, dan keterkaitan yang amat erat ini serta hubungan yang amat kuat antara sebab dan akibat, antara sesama makhluq merupakan hal-hal yang menunjukkan bahwa makhluq-makhluq itu tidak tercipta dengan tiba-tiba. Karena sesuatu yagn ada secara tiba-tiba pada dasarnya tidak lahir dari dasar keteraturan, lalu bagaimana mungkin ia bisa tetap dan berkembang dalam keteraturan?

Jika semua makhluq ini tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin tercipta dengan tiba-tiba maka menjadi pastilah adanya Dzat Yang Menciptakannya yaitu Allah Rabb semua alam.
Allah Ta’ala telah memberikan dalil akal dan argumentasi yang pasti di dalam Surah Ath Thur, dimana Allah berfirman,

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (QS. Ath Thur 30)

Maksudnya bahwa mereka tidaklah diciptakan tanpa Pencipta dan tidaklah pula mereka menciptakan diri mereka sendiri, maka semakin pastilah keberadaan Allah sebagai pencipta mereka. Itulah sebabnya, ketika Jubair bin Muth’im ra. mendengarkan Rasulullah saw membaca surat Ath Thur hingga sampai pada ayat ini:

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka itu tidak meyakini (apa yang mereka katakan) Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau mereka kah yang berkuasa?” (QS. Ath Thur 35-37)

Beliau (Jubair”) berkata – dan beliau pada saat ini masih dalam keadaan musyrik – “Hatiku seperti mau terbang (mendengarkannya) dan itulah awal mulanya iman menempati hatiku.” [HR. Bukhari]

Contoh lain untuk memperjelas hal tersebut: yaitu apabila ada seseorang bercerita kepada anda tentang sebuah istana yang terbentang dikelilingi dengan taman-taman, disela-selanya mengalir beberapa sungai, dipenuhi dengan permadani, dihiasai dengan berbagai jenis perhiasan lalu ia berkata kepada anda: bahwa istana ini dengan segala isinya yang sempurna menciptakan dirinya sendiri atau ia ada/tercipta dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakannya; maka anda pasti segera mengingkarinya dan menganggapnya sebagai kebohongan, (anda juga akan) menganggap pembicaraan tersebut sebagai pembicaraan orang yang amat bodoh. Lalu bagaimana mungkin setelah itu (anda mengatakan) bahwa jagad raya yang luas ini, dengan buminya, dengan langitnya, dengan bintang-bintangnya, dengan orbit-orbitnya, dan dengan keteraturannya yang begitu mengagumkan; telah menciptakan dirinya sendiri atau tercipta begitu saja tanpa adanya pencipta?

[3]. Adapun dalil syar’i yang menunjukkan wujud Allah Ta’ala: Bahwa semua kitab-kitab samawi telah berbicara tentang hal ini. Dan segala peraturan hidup (yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut) yang mengandung kemaslahatan dan kebaikan bagi semua makhluk adalah merupakan dalil dan tanda bahwa (peraturan hidup tersebut) berasal dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang paling baik bagi makhluq-makhluq-Nya. Demikian pula berita-berita yang menjelaskan tentang alam semesta (dalam kitab-kitab tersebut) yang kemudian terbukti kebenarannya secara nyata: juga merupakan dalil yang akan menunjukkan bahwa berita itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu yang Ia khabarkan.

[4]. Adapun dalil indrawi/penunjukan panca indra terhadap keberadaan Allah maka dapat dilihat dari dua sisi:Pertama: Bahwa kita sering mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa atau bantuan atas orang-orang yang mendapat musibah, yang semua itu menunjukkan dengan pasti akan keberadaan Allah ta’ala. 

Allah berfirman:
“Dan ingatlah kisah Nuh sebelum itu ketika dia berdoa dan kami memperkenakan doanya? (QS Al Anbiya 76)

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankannya bagimu” (QS. Al Anfal 9)

Dan di dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik ra. ia berkata:
“Sesungguhnya ada seorang badui masuk (ke mesjid) pada hari Jumat sementara Rasulullah saw sedang berkhotbah. Lalu ia (badui tersebut) berkata: “Wahai Rasulullah! Harta (kami) telah habis dan keluarga-keluarga kami telah kelaparan. Berdoalah kepada Allah untuk kami” Maka Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Lalu tiba-tiba bergumpallah awan seperti gunung dan tidaklah Rasulullah saw turun dari mimbar beliau melainkan aku melihat air hujan mengalir di sela-sela jenggot beliau. Kemudian pada Jumat yang kedua, orang badui itu (atau badui yang lain) berdiri lalu berkata: “Wahai Rasulullah bangunan (rumah kami) telah hancur, harta kami habis tenggelam, berdoalah kepada Allah untuk kami.” Maka (Rasulullah saw) mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, Lindungilah kami dan jangan (menurunkan musibah) atas kami.” Maka tidaklah beliau mengisyaratkan pada satu sisi melainkan ia terbebas (dari musibah) itu.”

Dan sampai hari ini, terkabulnya doa orang-orang yang berdoa adalah merupakan perkara yang dapat disaksikan, (tentu saja) bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada Allah dan memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa.

II. Mu'jizat Allah
Mu’jizat para nabi yang disaksikan atau didengarkan oleh manusia adalah merupakan bukti yang jelas pasti menunjukkan adanya Dzat Yang mengutus mereka (para nabi tersebut) yaitu Allah Ta’ala, karena mu’jizat-mu’jizat tersebut adalah merupakan perkara yang diluar batas kemampuan manusia, yang diciptakan oleh Allah untuk membuatkan dan menguatkan dan membantu para rasul tersebut.
Misalnya adalah mu’jizat Nabi Musa as. ketika Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk memukul laut dengan tangan beliau, lalu laut tersebut menjadi dua belas jalan yang kering sementara air laut tegak berdiri diantara jalan-jalan tersebut seperti gunung. 

Allah berfirman,
“Lalu kami wahyukan kepada Musa” Pukullah lautan itu dengan tongkatmu !” maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’ara : 63)
Contoh yang kedua adalah: mu’jizat Nabi Isa as. ketika ia menghidupkan orang-orang yang mati dan mengeluarkan mereka dari kuburan mereka. 

Allah berfirman:
”Dan ia menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah” (QS. Ali Imran 49)
Dan ingatlah ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan dzikir-KU” (QS. Al-Maidah 110)

Contoh yang ketiga mu’jizat Nabi Muhammad SAW ketika orang-orang Quraisy meminta beliau (untuk menunjukkan) sebuah mu’jizat maka beliau menunjuk kearah bulan lalu orang-orang melihat bulan itu terbelah dua. Allah berfirman tentang itu:

”Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: ” (ini adalah) sihir yang terus-menerus” (QS. Al-Qamar 1-2)

Seluruh tanda-tanda yang dirasakan oleh panca indera yang diciptakan oleh Allah sebagai penguat dan pendukung para Rasul; menunjukkan dengan pasti akan wujud Allah Ta’ala.

Kedua: Beriman terhadap rububiyah Allah (bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menolong-Nya).
Arti Ar Rabb adalah: Dzat yang memiliki (dan menguasai) penciptaan, kekuasaan dan segala perintah. Maka tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Alah, tidak ada yang memberi perintah selain Allah. 

Allah berfirman,

“Ingatlah! (Hanya) bagi-Nya lah penciptaan dan perintah” (QS. Al-Ar’af : 54)
“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir : 3)

Dan belum diketahui bahwa ada diantara makhluq-makhluq ada yang mengingkari kerububiyahan Allah Ta’ala kecuali orang yang takabbur dan tidak yakin dengan apa yang ia katakan, sebagaimana terjadi pada Fir’aun ketika ia berkata kepada kaumnya:

“Akulah tuhan kalian yang maha tinggi” (QS. An-Nazi’ah : 24)

Allah berfirman,
“Dan Fir‘aun berkata, "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.." (QS. Al Qashash: 38).

Namun semua perkataan Fir’aun tersebut bukanlah berdasarkan landasan aqidah. 

Allah berfirman:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (Kebenaran)nya.” (QS. An Nahl :14)

Musa as. berkata kepada Fir’aun sebagaimana dikisahkan oleh Allah ta’ala:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun seorang yang akan binasa.” (QS. Al Isra’ 102).

Oleh karena itu orang-orang musyrik terdahulu tetap mengakui kerububiyahan Allah Ta’ala meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam keuluhiyahan-Nya.

Allah berfirman,
“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini dan semuanya yang ada padanya jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah: “Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah”: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al Mu’minun 84-69)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Az Zukhruf : 9)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az Zukhruf : 9)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Niscaya mereka menjawab “Allah”. Maka bagimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf : 87)

Dan perintah Allah Ta’ala mencakup perintah kauniyah dan syar’iyah. (Artinya) sebagaimana Ia adalah Yang mengatur dan menyelaraskan seluruh alam sesuai yang dikehendaki hikmah-Nya, Ia juga lah yang menetapkan hukum di dalamnya dalam bentuk perintah ibadah dan hukum-hukum mu’amalah sesuai yang dikehendaki oleh hikmah-Nya. Maka barangsiapa yang menganggap adanya dzat lain (memiliki kekuasaan) sebagai pembuat syari’at (undang-undang dan aturan) dalam beribadah atau pembuat hukum dalam mu’amalah, maka ia telah menyekutukan Allah (musyrik) dan belum mewujudkan keimanan.

III. Beriman kepada uluhiyah Allah 
Hanya Dialah satu-satunya Tuhan Yang benar dan patut disembah tanpa ada sekutu bagi-Nya
Berarti yang disembah dengan rasa cinta dan mengagungkan. 

Allah berfirman,

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang satu, tiada tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah : 163)

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran 18)

Maka sesuatu apapun yang dijadikan sebagai tuhan yang disembah selain Alah Ta’ala maka ketuhannnya adalah bathil adanya.

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)

Dan penamaan (sesuatu yang disembah selain Allah) sebagai tuhan tidaklah serta merta memberinya hak ketuhanan.

Allah ta’ala berfirman tentang Al Lata, Al Uzza dan Manat:
“(Semua itu) tidak lain kecuali merupakan nama-nama yang kalian berikan dan bapak-bapak kalian, Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk (menyembah)nya.” (QS.An Najm : 13)

Allah juga berfirman tentang kisah nabi Hud as. ketika ia berkata kepada kaumnya:
“Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama berhala yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu?” (QS. Al ‘raf : 21)

Allah juga berfirman tentang kisah Nabi Yusuf a.s ketika beliau berkata kepada dua orang temannya di dalam penjara:

“Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (QS. Yusuf: 39-40)

Oleh karena itu, para Rasul Allah as. selalu berkata kepada kaum mereka:
“Sembahlah oleh kalian akan Allah, karena kalian tidak mempunyai selain ia.” (Al A’raf : 59) 

Akan tetapi, orang-orang musyrik enggan untuk melakukannya lalu mereka mengambil dan menjadikan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, mereka meminta tolong dan bantuan dari tuhan-tuhan tersebut.

Namun Allah Ta’ala membatalkan perbuatan kaum musyrikin tersebut dengan dua argumentasi logika:1) Bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu sama sekali tidak memiliki ciri-ciri ketuhanan; karena mereka (tuhan-tuhan tersebut) adalah makhluq belaka yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mendatangkan manfaat/kebaikan bagi orang-orang yang menyembahnya, tidak bisa menolak kejelekan dari mereka dan tidak bisa menentukan hidup dan matinya orang-orang yang menyembahnya dan tidak pula menguasai suatu apapun yang di kerajaan langit.

Allah berfirman,
“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak sesuatu kemudhorotan dari dirinya dan tidak pula untuk mengambil suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak pula membangkitkan.” (QS Al Furqan: 3)

“Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi dan mereka tidak mepunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya Dan tidaklah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang-orang yang telah diizinkannya.” (QS. Saba’ 22-23)

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf : 191-192)

Jika Keadaan/kondisi tuhan-tuhan tersebut demikian adanya, maka menjadikan mereka sebagai tuhan yang patut disembah adalah merupakan perbuatan yang benar-benar bodoh dan benar-benar bathil.

2) Bahwa orang-orang musyrik tersebut telah mengetahui bahwa Allah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan mengatur, Yang menguasai seluruh kerajaan/kekuasaan apapun. Hal ini seharusnya menyebabkan mereka mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana firman Allah:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hambaran bagimu dan langit sebagai atap; dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 21-22)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Maka bagimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf : 87)
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainka kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus : 31-32)

IV. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah
Maksudnya menetapkan dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasululah saw dalam as Sunnah, sesuai dengan Kebesaran Allah Ta’ala tanpa tahrif, atau ta’thil, atau takyif atau Tamtsil.

Allah berfirman.
"Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf: 180).
“Dan bagi-Nya lah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar Rum: 27)

“Tidak ada sesuatu pun serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Sura: 11)

Dan ada dua golongan yang tersesat dalam masalah ini:Pertama: Golongan Mu’aththilah, yaitu golongan orang-orang yang mengingkari seluruh nama dan sifat Allah. Hal ini dikarenakan mereka menyangka bahwa penetapan nama dan sifat tersebut kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka menyangka bahwa penetapan nama dan sifat tersebut kepada Allah akan mengakibatkan terjadinya penyerupaan antara Allah dan makhluq-Nya. Namun sangkaan ini adalah salah ditinjau dari beberapa segi diantaranya:

[1]. Bahwa hal ini akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang bersifat bathil dan mustahil seperti pertentangan di dalam Kalam (ucapan) Allah Ta’ala. Karena Allah sendiri telah menetapkan (baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah -pent.) nama-nama dan sifat-sifat untuk Diri-Nya, dan disamping itu Ia juga menafikan adanya sesuatu yang dapat menyerupai-Nya (dalam nama dan sifat-sifat-Nya). Seandainya penetapan (nama-nama dan sifat-sifat tersebut atas Allah) mengakibatkan terjadinya penyerupaan antara Allah dan makhluq-Nya maka berarti di dalam Kalam (ucapan) Allah terdapat pertentangan dan pendustaan antara satu dengan yang lain.

[2]. Bahwa adanya persamaan antara dua hal baik nama atau sifatnya; tidak berarti bahwa keduanya benar-benar sama (tanpa perbedaan apapun). Anda misalnya mendengar, melihat dan berbicara. Namun itu tidak berarti bahwa keduanya benar-benar sama dalam makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda juga dapat melihat bahwa hewan-hewan memiliki tangan, kaki dan mata. Namun ini tidak berarti bahwa (bentuk dan kualitas) tangan, kaki dan mata mereka sama persis. (Dengan demikian) apabila antara sesama makhluq saja terdapat perbedaan yang amat jelas dan nyata (padahal nama dan sifatnya sama), maka perbedaan yang terdapat antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

Kedua: Golongan Musyabbihah yang menetapkan dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah namun mereka juga menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluq-makhluq-Nya karena mereka menyangka bahwa hal tersebut (penyerupaan -pent.) merupakan ketentuan yang dimaksudkan oleh dalil-dalil (yang menunjukkan nama dan sifat Allah) sebab Allah Ta’ala selalu berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat mereka pahami. Namun sangkaan ini salah dan bathil ditinjau dari beberapa segi, diantaranya:

[1]. Bahwa penyerupaan antara Allah Ta’ala dan makhluq-makhluq-Nya adalah merupakan perkara yang bathil dipandang dari sudut akal dan syar’i (agama). Dan adalah merupakan suatu hal yang tidak mungkin terjadi apabila Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan/menginginkan suatu perkara yang bathil.

[2]. Bahwa (memang benar) Allah Ta’ala berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami oleh mereka dari segi asal makna suatu peristiwa. Adapun dari segi hakikat dan pembahasan secara terperinci dari maknanya tersebut maka itu merupakan suatu hal yang hanya Allah lah mengetahuinya (yaitu segala ayng berkaitan dengan Sifat-sifat Allah).

Maka apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Ia Maha mendengar, maka makna “mendengar” ditinjau dari segi makna asalnya adalah merupakan perkara yang dketahui bersama yaitu (kemampuan mengetahui suara-suara). Namun hakekat “mendengar/pendengaran” yang dimiliki Allah Ta’ala tidaklah dapat diketahui, karena hakekat pendengaran itu berbeda-beda bahkan pada tingkat makhluq. Maka perbedaan antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

(Demikian pula) Allah Ta’ala memberitahukan tentang dirinya bahwa Ia bersemayam di atas arsy-Nya. Dan makna bersemayam ditinjau dari segi makna asalnya telah diketahui dan difahami namun hakekat bersemayam yang dilakukan oleh para makhluq saja pun ternyata berbeda-beda, maka bersemayam di atas sebuah kursi yang kokoh tidaklah sama dengan bersemayam di atas seekor hewan yang selalu berlari. Maka apabila diantara sesama makhluq saja terdapat perbedaan (dalam melakukan “persemayaman”) maka perbedaan antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

Iman kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah kami jelaskan, akan membuahkan beberapa faidah yang mulia diantaranya:

  1. Perwujudan tauhid kepada Allah Ta’ala secara benar, dimana (seorang hamba) tidak lagi menggantungkan harapan kecuali kepada Allah, tidak lagi takut kecuali kepada-Nya dan tidak lagi menyembah kepada selain Allah.
  2. Sempurna rasa cinta dan pengagungan terhadap Allah sebagaimana yang ditunjukkan oleh nama-nama Allah yang bagus dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
  3. Mewujudkan ibadah yang sebenarnya kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
[Sumber: Wahdah]

Berikut beberapa catatan tentang Allah:

Iman Kepada Para Malaikat Allah


Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam.

AllahTa`ala berfirman,

Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….” (QS. Al-Baqarah: 285)

Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab:

“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” (Muttafaq `alaih)

Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari Islam.

Allah Ta`ala berfirman,
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 136)

Batasan Minimal Iman kepada Malaikat
Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: “Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.” (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh)

Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu
Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat), wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah.

Allah Ta`ala berfirman,
Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)

Hakikat malaikat
Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, “Dalil-dalil dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
  2. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata.
  3. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara.
  4. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.
Allah Ta`ala berfirman,
“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29)

(Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15)

Asal Penciptaan Malaikat
Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya.[HR. Muslim]

Jumlah Malaikat
Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah mereka, sebagaimana firman-Nya,

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (QS. Al-Muddatstsir: 31) 

Ketika Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam melakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau:

Ini adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ” (Muttafaqun `alaihi)

Sifat Fisik Malaikat
Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:
  1. Kuatnya fisik mereka
    Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka; “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6)

    Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

  2. Mempunyai sayap
    Allah Ta`ala berfirman, “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1)

  3. Tidak membutuhkan makan dan minum
    Allah Ta`ala berfirman, “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70) 

  4. As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”
Ke-ma`shum-an Malaikat
Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana  mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`alaberfirman:

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah….” (lihat QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29 di atas)

Buah Iman kepada Malaikat
Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:

  1. Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang mulia, yaitu malaikat.
  2. Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan. (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)
Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam.

Iman Kepada Kitab Kitab Suci Allah



Iman terhadap kitab suci merupakan salah satu landasan agama Islam. Allah Ta`ala berfirman,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman dengan Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….” (QS. Al-Baqarah: 177) 

Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab:
“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: 
“Kitab (biasa disebut dengan Kitab suci) adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.” (lihat kitab Rasaail fil `Aqiidah karya Syaikh Utsaimin)



Cakupan Iman kepada Kitab Suci
Masih dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan: “Iman kepada kitab suci mencakup 4 perkara:

  1. Iman bahwasanya kitab-kitab tersebut turun dari Allah Ta`ala.
  2. Iman dengan nama-nama yang kita ketahui dari kitab-kitab tersebut, seperti al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan lain sebagainya.
  3. Pembenaran terhadap berita-berita yang shahih, seperti berita-berita yang ada dalam al-Qur`an dan kitab-kitab suci sebelumnya selama kitab-kitab tersebut belum diganti atau diselewengkan.
  4. Pengamalan terhadap apa -apa yang belum di-nasakh dari kitab-kitab tersebut, rida terhadapnya, dan berserah diri dengannya, baik yang diketahui hikmahnya, maupun yang tidak diketahui.” (Rasaail fil `Aqiidah)
Sumber dan Tujuan Penurunan Kitab Suci
Seluruh kitab-kitab suci sumbernya adalah satu, yaitu dari Allah Jalla wa `Alaa
Allah Ta`ala berfirman, 

“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.  Dia menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 2-4)

Tujuan penurunan kitab-kitab suci juga satu, yaitu tercapainya peribadatan hanya kepada Allah semata, sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta`ala dalam surat al-Maidah ayat 44 – 50. (Untuk pembahasan lebih rinci, lihat kitab ar-Rusul war Risaalaat karya `Umar bin Sulaiman al-Asyqar, hal 231 – 235)

Kedudukan al-Qur`an di antara Kitab-kitab Suci Lainnya
Al-Qur`an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab-kitab suci sebelumnya. Selain itu, al-Qur`an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Al-Qur`an merupakan kitab suci paling panjang dan paling luas cakupannya. Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam bersabda: 

“Saya diberi ganti dari Taurat dengan as-sab`ut thiwaal (tujuh surat dalam al-Qur`an yang panjang-panjang). Saya diberi ganti dari Zabur dengan al-mi`iin (surat yang jumlah ayatnya lebih dari seratus). Saya diberi ganti dari Injil dengan al-matsani (surat yang terulang-ulang pembacaannya dalam setiap rekaat shalat) dan saya diberi tambahan dengan al-mufashshal (surat yang dimulai dari Qaf sampai surat an-Naas).” [HR. Thabarani dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh al-Albani]

Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan al-Qur`an dari kitab-kitab suci lainnya adalah penjagaan Allah terhadapnya. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sekilas Tentang Taurat
Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa `alahis salam. Taurat merupakan kitab yang mulia yang tercakup didalamnya cahaya dan petunjuk. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)….” (QS. Al-Maidah: 44)

Taurat yang ada saat ini – biasa disebut dengan kitab perjanjian lama – , setiap orang yang berakal tentu mengetahui bahwa taurat tersebut bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa `alaihis salam. Hal itu bisa diketahui dari beberapa bukti berikut:

  1. Ketidakmampuan mereka (baik Yahudi maupun Nashrani) dalam menunjukkan sanad ilmiah yang sampai kepada Musa `alaihis salam, bahkan mereka mengakui bahwa Taurat pernah hilang selama beberapa kali.
  2. Terjadi banyak kontradiksi di dalamnya, yang menunjukkan bahwa sudah banyak terjadi campur tangan para ulama yahudi dalam merubah isi Taurat.
  3. Banyak terdapat kesalahan ilmiah.
  4. Dan masih banyak bukti lainnya.
Allah Ta`ala berfirman: 
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

Sekilas Tentang Injil
Sedangkan Injil, dia adalah kitab yang Allah turunkan kepada Isa `alaihis salam sebagai penyempurna dan penguat bagi Taurat, mencocoki dangannya dalam sebagian besar syariatnya, petunjuk kepada jalan yang lurus, membedakan kebenaran dan kebatilan, dan menyeru kepada peribadatan kepada AllahTa`ala semata.

Sebagaimana taurat yang ada sekarang bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa, demikian juga injil yang ada sekarang, juga bukan injil yang diturunkan kepada Isa `alaihimas salam. Di antara bukti dari penyataan tersebut:

  1. Penulisan injil terjadi jauh beberapa tahun setelah diangkatnya Isa`alaihis salam.
  2. Terputusnya sanad dalam penisbatan penulisan injil-injil tersebut kepada penulisnya.
  3. Banyak terdapat kontradiksi dan kesalahan ilmiah di dalamnya
  4. Dan masih banyak bukti lainnya.
(untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang keberadaan Taurat dan Injil yang ada sekarang, silahkan merujuk ke kitab Izhaarul Haq karya Rahmatullah al-Hindy)

Bolehkah mengikuti Taurat dan Injil setelah Turunnya al-Qur`an?
Jawabnya: Tidak boleh. Bahkan, kalau seandainya kitab-kitab tersebut (Taurat atau Injil yang ada sekarang) adalah benar berasal dari para Nabi  mereka, maka kita tetap tidak boleh mengikutinya karena kitab-kitab tersebut diturunkan khusus kepada umat nabi tersebut dan dalam tempo yang terbatas, dan kitab-kitab tersebut sudah di-nasakh oleh al-Qur`an. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu;…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Bahkan wajib bagi Yahudi dan Nashrani saat ini untuk mengikuti al-Qur`an. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:  “Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang pun dari Yahudi dan Nasrani yang mendengar akan diutusnya aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [HR. Bukahri dan Muslim]

Demikianlah sedikit bahasan tentang Iman kepada kitab suci Allah. 

Wahai Rabb kami, tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, kefakihan, dan ilmu.
** Rujukan utama: Al-Iman bil Kutub, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

Iman Kepada Para Nabi Dan Rasul Allah



IMAN KEPADA RASUL ALLAH merupakan rukun iman ke-4 yang wajib dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh seluruh umat Islam. Artinya, setiap umat Islam diwajibkan untuk percaya, meyakini, bahkan mengenali eksistensi mereka melalui riwayat kehidupan para nabi dan rasul Allah sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran dan Hadits.

Menurut salahsatu hadits, sejak Adam Alayhi salam hingga Muhammad Shallallahu alayhi wa salam, jumlah nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah kepada masing-masing kaumnya di seluruh muka bumi ini adalah sebanyak 124.000 orang, dan 313 di antaranya bergelar rasul. 

Kendati demikian, jumlah rasul Allah yang wajib diimani oleh umat Islam hanya 25 orang, di mana 5 di antaranya adalah para rasul yang bergelar ulul azmi.

A. PENGERTIAN IMAN KEPADA RASUL ALLAH
Beriman kepada rasul berarti percaya dan yakin bahwa para rasul tsb benar-benar utusan Allah SWT yang menerima amanat dan tugas-tugas dari Allah untuk membimbing umatnya menempuh jalan yang benar dan diridhai oleh Allah, sehingga selamat dunia dan akhirat.

Definisi Nabi dan Rasul
Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu dari Allah untuk umatnya. Sedangkan, Nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri dan tidak wajib menyampaikannya kepada umatnya. Dengan demikian, seorang rasul sudah pasti adalah nabi, tetapi seorang nabi belum tentu adalah rasul.

Firman Allah, 
“Dan kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-An’am 6:48)

Perbedaan Nabi dan Rasul

  • Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian.
  • Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman.
  • Syari’at para rasul berbeda antara satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain bahwa para rasul diutus dengan membawa syari’at baru.
  • Nabi yang pertama adalah Adam dan rasul pertama adalah Nuh.
  • Seluruh rasul yang diutus, Allah selamatkan dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya. Adapun nabi, ada di antara mereka yang berhasil dibunuh oleh kaumnya sendiri.
B. NAMA 25 NABI DAN RASUL DALAM IMAN ISLAM

C. KRITERIA NABI DAN RASUL
Di antara sekian banyak kriteria nabi dan rasul adalah,

  1. Dipilih dan diangkat oleh Allah.
  2. Mendapat mandat (wahyu) dari Allah.
  3. Bersifat cerdas.
  4. Dari umat bani Adam (manusia).
  5. Nabi dan rasul adalah seorang pria.
Rasul Allah mempunyai sifat yang sangat terpuji dan terhindar dari sifat tercela, sifat ini biasa disebut sifat wajib rasul. Sedangkan sifat tercela yang tidak mungkin dimiliki oleh para Rasul disebut sifat mustahil rasul.

Sifat wajib Rasul 

  1. Sidiq: berkata benar
  2. Amanah: dapat dipercaya
  3. Tabligh: menyampaikan
  4. Fathonah: cerdas, cerdik, pandai
Sifat mustahil Rasul

  1. Kizib: berkata bohong
  2. Khianah: tidak dapat dipercaya
  3. Kitman: menyembunyikan
  4. Baladah: bodoh
D. RASUL ULUL AZMI
Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya. Ada 5 rasul yang mendapat gelar ulul azmi, mereka adalah,

  1. Nabi Nuh As
  2. Nabi Ibrahim As
  3. Nabi Musa As
  4. Nabi Isa As
  5. Nabi Muhammad SAW
E. TUGAS UTAMA PARA RASUL 

  • Menyampaikan ajaran agama kepada umatnya dan mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah.
  • Menjelaskan semua permasalahan agama yang diturunkan oleh Allah,
  • Membimbing manusia kepada kebaikan dan menjauh dari kejahatan,
  • Membawa kabar gembira (surga) dan peringatan (neraka),
  • Memperbaiki kondisi sosial budaya umatnya,
  • Memberikan teladan yang baik dalam perkataan dan perbuatan,
  • Mengimplementasikan dan menegakkan syari’at Allah di tengah-tengah umatnya,
  • Menjadi saksi atas umat mereka pada hari kiamat, bahwa mereka telah menyampaikan sunatullah yang diterima dengan jelas.
E. HIKMAH DIUTUSNYA PARA RASUL

  • Menyelamatkan manusia dari dosa menyembah Tuhan selain Allah.
  • Menjadi suri tauladan perilaku yang diridhai oleh Allah 
  • Menegakkan hujjah Allah yang jelas melalui para rasul, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah dalam pengadilan Allah.
  • Menjelaskan kepada manusia tentang masalah-masalah ghaib yang sulit dicerna oleh akal, seperti nama-nama dan sifat Allah, berita tentang hari kiamat, dan lain sebagainya.
  • Memperbaiki, membersihkan, mensucikan jiwa manusia, memperingatkan mereka  dari hal-hal yang dapat merusaknya.
F. FUNGSI IMAN KEPADA RASUL ALLAH

  • Menambah keimanan kepada Allah dengan mengetahui bahwa rasul yang mengajarkan hikmah kepada manusia memang benar-benar manusia pilihan Allah.
  • Mempercayai tugas yang dibawa oleh Rasul untuk disampaikan kepada umatnya.
  • Lebih menghormati dan mencintai rasul karena perjuangannya.
  • Memperoleh suri tauladan yang agung untuk dijadikan pedoman hidup.
  • Memotivasi keinginan untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh para Rasul Allah.
CATATAN
Jawaban untuk pertanyaan kenapa umat Islam hanya diwajibkan mengimani (baca: mengenal dan meneladani ajaran serta hikmah)  25 orang rasul dari 124.000 nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah ke seluruh permukaan bumi selama kurun waktu ribuan tahun sejak Adam Alayhi salam hingga Muhammad Shallallahu alayhi wa salam, adalah karena riwayat kenabian masing-masing mereka ternyata mengandung intisari dari seluruh ajaran Islam yang kemudian disempurnakan oleh Allah pada masa kenabian Rasulullah Shallallahu alayhi wa salam.

Wallahu 'alam bisyawwab.

Iman Kepada Hari Kiamat


Iman kepada hari akhir hukumnya wajib dan kedudukannya dalam agama merupakan salah satu di antara rukun iman yang enam. Banyak sekali Allah Ta’ala menggandengkan antara iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir, karena barangsiapa yang tidak beriman kepada hari akhir, tidak mungkin akan beriman kepada Allah. Orang yang tidak beriman dengan hari akhir tidak akan beramal, karena seseorang tidak akan beramal kecuali dia mengharapkan kenikmatan di hari akhir dan takut terhadap adzab di hari akhir.[1]

Disebut hari akhir karena pada hari itu tidak ada hari lagi setelahnya, saat itu merupakan tahapan yang terakhir[2]. Keimanan yang benar  terhadap hari akhir mancakup tiga hal pokok yaitu mengimani adanya hari kebangkitan, mengimani adanya hisaab (perhitungan) dan jazaa’ (balasan), serta mengimani tentang surga dan neraka. Termasuk juga keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala peristiwa yang akan terjadi setelah kematian seperti  fitnah kubur, adzab kubur, dan nikmat kubur.

Mengimani Adanya Hari Kebangkitan
Hari kebangkitan adalah hari dihidupkannya kembali orang yang sudah mati ketika ditiupkannya sangkakala yang kedua. Kemudian manusia akan berdiri menghadap Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang tanpa alas kaki, telanjang tanpa pakaian, dan dalam keadaan tidak disunat. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَآءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَآ أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَآ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ 
(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran – lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiyaa’:104)
Hari kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti. Ditetapkan oleh Al Quran, As Sunnah dan Ijmaa’ (konsensus) kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ {15} ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ 16
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati(15). Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.(16)” (QS. Al Mukminun:15-16)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرلا
“Pada hari kiamat, seluruh manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak disunat”[3]

Kaum muslimin juga telah sepakat mengenai kepastian adanya hari kebangkitan ini. [4]

Mengimani Adanya Hari Perhitungan dan Pembalasan
Termasuk perkara yang harus diimani berkenaan dengan hari akhir adalah mengimani adanya hari  perhitungan dan pembalasan. Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan dihisab dan diberi balasan. Hal ini juga telah ditetapkan oleh Al Quran, As Sunnah dan ijmaa’ kaum muslimin.

Allah Ta’ala berifrman,

إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَّابَهُمْ {25} ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُم 26
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka(25). kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al Ghasiyah:25-26)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَاحَاسِبِينَ
 47
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiyaa’:47)

Telah shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam, beliau bersabda,

ومن هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة فإن عملها كتبت له عشرا ومن هم بسيئة فلم يعملها لم تكتب شيئا فإن عملها كتبت سيئة واحدة
“Barangsiapa yang berniat melakukam suatu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Allah telah menulisnya sepuluh hingga tujuh ratus kebaikan, bahkan sampai kelipatan yang lebih banyak lagi. Sedangkan barangsiapa yang berniat melakukan keburukan, lalu mengerjakannya, maka Allah hanya akan menulisnya satu keburukan saja“ [5].

Kaum muslimin juga telah bersepakat tentang adanya hari perhitungan dan pembalasan. Dan ini sesuai dengan  tuntutan hikmah Allah Ta’ala.[6]

Mengimani Adanya Surga dan Neraka
Hal lain yang harus diimani seorang muslim adalah tentang surga dan neraka. Keduanya merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan neraka adalah hunian yang penuh dengan adzab yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اْلأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ {13} وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ 14
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni’matan. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (Al Infithaar:13-14)

Berkaitan dengan surga dan neraka, ada beberapa hal penting yang merupakan keyakinan ahlus sunnah yang membedakannya dengan ahlul bid’ah :

I. Surga dan Neraka Benar Adanya
Keberadaan surga dan nereka adalah haq (benar adanya). Tidak ada keraguan di dalamnya. Neraka disediakan bagi musuh-musuh Allah, sedangkan surga dijanjikan bagi wali-wali Allah. Penyebutan tentang surga dan neraka dalam Al Quran dan As Sunnah sangatlah banyak. Terkadang disebutkan tentang kondisi penduduk surga dan neraka. Terkadang disebutkan tentang janji kenikmatan surga dan adzab di neraka. Terkadang disebutkan dorongan agar bersemangat meraih surga dan ancaman dari neraka. Demikian pula As Sunnah banyak menyebutkan tentang surga dan neraka. Itu semua menunjukkan bahwa keberadaan surga dan neraka adalah benar adanya. [7]

II: Surga dan Neraka Sekarang Sudah Ada
Ahlus sunnah telah sepakat bahwa keduanya merupakan makhluk Allah yang telah ada sekarang. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mu’tazilah dan qodariyah yang lebih mengedepankan akal mereka. Adapun dalilnya adalah firman Allah,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ  133
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah  disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran:133)

Tentang neraka Allah berfirman,

 131  وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ 
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang telah disediakan untuk orang-orang yang kafir” (QS. Ali Imran:131)
Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Sidratul Muntaha, kemudian melihat dan masuk ke dalam surga. Hal ini terjadi ketika beliau Isra’ Mi’raj.[8]

III. Penciptaan Surga  dan Neraka Sebelum Penciptaan Makhluk
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَيَائَادَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلاَ مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلاَتَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ 19
“(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.”” (QS. Al A’raf: 19)

Surga ada setelah ditiupkannya ruh pada diri Adam. Hal ini menunjukkan surga sudah ada sebelum penciptaan Adam. [9].

Keempat: Surga dan Neraka  Sudah Ditentukan Siapakah Yang Akan Menjadi Penghuninya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia … ” (QS. Al A’raf: 179)
Dari ‘Aisyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إن الله خلق للجنة أهلا خلقهم لها وهم في أصلاب آبائهم وخلق للنار أهلا خلقهم لها وهم في أصلاب آبائهم
“… Sesungguhnya Allah telah menciptakan para penghuni untuk jannah. Allah telah menentukan mereka sebagai penghuninya, sedangkan mereka masih dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Allah juga telah menciptakan para penghuni bagi neraka. Allah telah menentukan mereka sebagai penghuninya, padahal mereka masih dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka” [10].[11]
Kelima: Surga dan Neraka Kekal Abadi

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَادَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ إِلاَّ مَاشَآءَ رَبُّكَ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ 108
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud:108)
Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ينادي مناد إن لكم أن تصحوا فلا تسقموا أبدا وإن لكم أن تحيوا فلا تموتوا أبدا وإن لكم أن تشبوا فلا تهرموا أبدا وإن لكم أن تنعموا فلا تبأسوا أبدا فذلك قوله عز وجل ونودوا أن تلكم الجنة أورثتموها بما كنتم تعملون 
“Datanglah suara berkumandang :Wahai ahli surga, sesungguhnya kamu sekalian akan sehat dan tak pernah sakit. Kamu sekalian akan menjadi muda belia dan tak pernah tua lagi. Dan kalian pun akan hidup dan tak akan pernah mati.”[12].

Keyakinan tentang surga dan neraka di atas, terangkum dalam perkataan yang disampaikan oleh Imam Abu Ja’far At Thahawy rahimahullah dalam kitab beliau al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, beliau menjelaskan,

وَالجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوْقَتَانِ، لاَ تَفْنَيَانِ أَبَدًا وَلا تَبِيْدَانِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ الجَنَّةَ وَالنَّارَ قَبْلَ الخَلْقِ، وَخَلَقَ لَهُمَا أَهْلاً،
“Surga dan neraka merupakan dua makhluk yang tidak akan punah dan binasa. Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan makhluk lainnya dan Allah juga telah menentukan siapakah penghuninya…” [13].

Mengimanai Fitnah, Adzab, dan Nikmat Kubur
Dalil perkara ini sangat gamblang dan jelas. Allah Ta’ala menerangkannya di banyak tempat dalam Al Quran. Demikian pula penjabaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini sangat banyak dan mencapai derajat mutawatir. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ 93
“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al An’am: 93). [14]
Adapun dalil tentang adanya siksa kubur adalah tentang kisah pertanyaan malaikat di alam kubur kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya. Allah Ta’ala lalu meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga dengan kemantapannya ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku adalah Nabi Muhammad”. Sebaliknya Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim. Orang yang kafir hanya bisa menjawab, ”Hah…hah!Aku tidak tahu” sementara itu orang munafik atau orang yang ragu menjawab :” Aku tidak tahu. Aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengaatkannya”[15].

Faedah Iman yang Benar
Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang bermanfaat. Demikian pula keimanan yang benar terhadap hari akhir akan memberikan manfaat yang besar, di antaranya:

  1. Merasa senang dan bersemangat dalam melakukan kataatan dengan mengharapkan pahalanya kelak di ahri akhir.

  2. Merasa takut ketika melakukan kemaksiatan dan tidak suka kembali pada maksiat karena khawatir mendapat siksa di hari akhir.

  3. Hiburan bagi orang-orang yang beriman terhadap apa yang tidak mereka dapatkan di dunia dengan mengharapkan kenikmatan dan pahala di akhirat. [16].
Demikian penjelasan singkat tentang pokok-pokok keimanan kepada hari akhir. Terdapat banyak perincian yang harus kita imani dari hal-hal yang pokok tersebut. Insya Allah akan dijelaskan lebih rinci dalam kesempatan lain. Semoga Allah meneguhkan iman kita hingga ajal menjemput kita. Wallahul muwafiq.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Muroja’ah: M.A. Tuasikal
Catatan kaki:
[1]. Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah hal 482, Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Dalam kitab Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah. Kumpulan Ulama. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi
[2]. Ibid. Syaikh ‘Utsaimin menjelaskan bahwa manusia akan melalui lima tahapan kehidupan yaitu tahapan ketika manusia belum ada,, tahapan ketika dalam perut ibu, tahapan kehidupan dunia, tahapan hidup di alam barzakh, dan tahapan kehidupan akherat.
[3]. H.R Muslim 2859
[4]. Syarh Ushuulil Iman hal 38-39. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Qasim. Cetakan pertama 1419 H
[5].H.R Muslim 162
[6]. Syarh Ushuulil Iman hal 39-40
[7]. Lihat dalil-dalil selengkapnya dalam Ma’arijul Qobul hal 470-472. Syaihk Hafidz bin Ahmad Hakami. Penerbit Darul Kutub ‘Ilmiyah. Cetakan pertama 1424 H/2004 M
[8]. Lihat Syarh al ‘Aqidah at Thahawiyah hal 1056-1058,  Al Imam Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi. Dalam  Jaami’us Syuruuh al ‘Aqidah at Thahawiyah. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi cetakan pertama tahun 2006.
[9]. Syarh al ‘Aqidah at Thahawiyah hal 1070, Syaikh Sholih Alu Sayikh. Dalam  Jaami’us Syuruuh al ‘Aqidah at Thahawiyah. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi cetakan pertama tahun 2006.
[10]. H.R Muslim 2662, Abu awud 4713, An Nasa’i 1947, dan Ibnu Majah 82
[11]. Lihat Syarh al ‘Aqidah at Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi hal 1070-1071
[12]. H,R Muslim 2837, At Tirmidzi 3246, dan Ahmad 319, dari hadist Abu Hurairah dan Abu Said al Khudri
[13]. Matan al ‘Aqidah at Thahawiyah.
[14]. Lihat dalil-dalil yang lebih lengkap dalam kitab Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad hal  224-225. Syaikh Sholih Al Fauzan Penerbit Maktabah Salsabiil Cetakan pertama tahun 2006.
[15]. Lihat Syarh Ushuulil Iman hal 42
[16]. Ibid hal 44

Sumber Rujukan:
  • Syarhu Ushuulil Iman. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Qasim. Cetakan pertama 1419 H
  • Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad. Syaikh Sholih Al Fauzan Penerbit Maktabah Salsabiil Cetakan pertama tahun 2006.
  • Jaami’us Syuruuh al ‘Aqidah at Thahawiyah. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi cetakan pertama tahun 2006.
  • Syarhu al ‘Aqidah al Washitiyah. Kumpulan Ulama. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi.
  • Ma’arijul Qobul. Syaikh Hafidz bin Ahmad Hakami. Penerbit Darul Kutub ‘Ilmiyah. Cetakan pertama tahun1424 H/2004.

Berita terkait Kiamat


Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers