Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Friday, June 4, 2010

Amar Ma'ruf, Nahi Munkar





Allah SWT berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ 
وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
[Kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi ta'muruuna bialma'ruufi watanhawna 'ani almunkari watu'minuuna biallaahi walaw aamana ahlu alkitaabi lakaana khayran lahum minhumu almu'minuuna wa-aktsaruhumu alfaasiquuna]

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS Ali Imran [3]:110).

Keterangan dan kandungan ayat:
Pertama: Pada awal ayat ini, Allah swt. memuji umat Muhammad saw. yang telah memenuhi perintah-Nya, dan menegaskan bahwa mereka adalah 'umat terbaik' yang pernah dikeluarkan. Mereka adalah sebaik-baik manusia dalam memberi nasehat, cinta kepada kebaikan, berdakwah, mengajar, membina dan dalam menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar.

Mereka benar-benar layak menyandang gelar tersebut (umat terbaik) dikarenakan amalan yang telah mereka lakukan dan karena mereka telah menggabungkan antara:

  1. Penyempurnaan untuk diri mereka dengan keimanan sehingga melaksanakan semua perintah.
  2. Penyempurnaan untuk orang lain dengan menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar, yang mencakup mengajak manusia kepada jalan Allah dan berupaya semaksimal mungkin menyelamatkan mereka dari kesesatan.
Kedua: Di akhir ayat ini, disebutkan bahwa para ahli kitab tidak beriman kecuali 'sedikit.' Kebanyakan dari mereka fasik, keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya serta memerangi umat Islam. Andaikan mereka beriman niscaya akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. [Lihat: Tafsir Ibnu Sa'di, halaman 112 (cetakan Luwaihiq)].

Allah SWT berfirman:

اَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَن
يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتَغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْراً عَظِيماً
[Laa khayra fii katsiirin min najwaahum illaa man amara bishadaqatin aw ma'ruufin aw ishlaahin bayna alnnaasi waman yaf'al dzaalika ibtighaa-a mardaati allaahi fasawfa nu'tiihi ajran 'azhiimaan].
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar".(QS An-Nisa'[4]:114)

Keterangan dan kandungan ayat
Ayat ini menjelaskan, bahwa tidak ada kebaikan pada kebanyakan apa yang dibisik-bisikkan dan dibicarakan oleh manusia antara mereka. Jika tidak ada kebaikan, maka kemungkinannya adalah tidak bermanfaat, seperti ikut campur dalam percakapan yang sia-sia (tidak bermanfaat) sekalipun tidak dilarang. Atau bisa jadi buruk dan mendatangkan bahaya, seperti ucapan-ucapan yang dilarang, apa pun bentuknya.

Lalu Allah memberikan pengecualian sebagaimana berikut:

"Kecuali orang yang menyuruh memberi sedekah, berupa harta, ilmu atau apa saja yang mendatangkan manfaat. Bahkan boleh jadi termasuk di dalamnya, ibadah-ibadah yang manfaatnya kembali kepada pelakunya, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda nabi saw.: "Sesungguhnya setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap ucapan takbir sedekah, setiap tahlil sedekah, mengajak kepada yang makruf adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan menggauli istri adalah sedekah" [Hadits].

Berbuat ma'ruf yaitu kebaikan, ketaatan dan segala apa yang telah diketahui kebaikannya menurut syariat dan akal. "Mengadakan perdamaian di antara manusia", perdamaian tidak akan terjadi kecuali terdapat dua pihak yang berselisih dan bermusuhan. Pertentangan dan permusuhan hanya akan mengakibatkan kemudharatan dan perpecahan yang tidak terhingga. Oleh karena itu, syariat menyuruh berdamai jika terjadi persilihan masalah darah, harta dan harga diri.

Orang yang mengadakan perdamaian di antara manusia, lebih baik dari pada orang yang mengkonsentrasikan diri dalam salat, puasa dan sedekah.

Seorang yang mushlih, maka Allah pasti akan memperbaiki usaha dan amalannya, sebagaimana orang yang selalu berbuat kerusakan, maka Allah tidak akan memperbaiki amalannya, dan tidak akan mewujudkan maksudnya.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللّهَ لاَ يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ
[Inna allaaha laa yushlihu 'amala almufsidiina]
"Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan".(QS Yunus[10]: 81)

Perbuatan-perbuatan ini jika dilakukan akan mendatangkan kebaikan, sebagaimana yang diisyaratkan dalam pengecualian pada ayat di atas. Namun demikian kesempurnaan pahala sesuatu perbuatan itu tergantung pada niat dan keikhlasan. Allah SWT berfirman:

"Barang siapa melakukan itu hanya untuk mengharapkan keridaan Allah, Kami akan memberinya pahala yang besar." Lihat Tafsir Ibnu Sa‘di, halaman 165 (cetakan Luwaihiq)

Allah SWT berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
[Khudzi al'afwa wa'mur bial'urfi wa-a'ridh 'ani aljaahiliina]
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh." (QS Al A'raf [7]:199)

Keterangan dan kandungan ayat
Ayat ini menghimpun tentang akhlak yang baik terhadap manusia. dengan menjelaskan kiat-kiat dalam bergaul dengan mereka yaitu dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Toleransi, yaitu menyuruh mereka agar berakhlak mulia serta melakukan amalan-amalan yang mereka sanggupi dan mereka anggap mudah sesuai dengan kondisi dan kapasitas masing-masing, dan tidak membebani mereka dengan amalan-amalan yang tidak mereka sanggupi dan tidak sesuai dengan kondisi dan kapasitas mereka. Menghargai setiap ucapan dan perbuatan baik mereka bahkan yang lebih kecil (remeh) dari itu. Mentolerir kekurangan mereka dan berusaha menutupinya, tidak meremehkan yang kecil (muda), yang kurang akalnya dan yang fakir. Akan tetapi menyikapi semuanya dengan lemah lembut, dan sesuai dengan keadaan serta membuat lapang dada mereka.

2. Menyeru kepada yang ma'ruf, yaitu berupa semua ucapan dan perbuatan yang baik serta akhlak yang mulia baik terhadap kerabat dekat ataupun jauh atau orang lain (yang tidak memiliki hubungan kekerabatan). Tebarkanlah kebaikan kepada manusia baik dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menganjurkan kebaikan, menyambung silaturahmi, mendamaikan perselisihan, nasihat yang bermanfaat, pendapat yang benar, tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, menegur kejahatan dan membimbing untuk mendapatkan maslahat baik agama ataupun akhirat.

3. Berpaling dari orang bodoh, dan tidak membalas suatu kebodohan dengan kebodohan pula.
Maka barang siapa disakiti, baik dengan ucapan maupun perbuatan, hendaknya jangan membalasnya dengan kejahatan yang sepadan. Janganlah kamu menahan kebaikan terhadap orang telah menahan kebaikan untukmu. Sambunglah hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskanmu, dan hendaknya berbuat adil terhadap yang berbuat lalim terhadapmu. [Lihat: Tafsir Sa'di, halaman: 276.] (cetakan Luwaihiq)

Allah SWT berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
[Waalmu'minuuna waalmu'minaatu ba'dhuhum awliyaau ba'dhin ya'muruuna bialma'ruufi wayanhawna 'ani almunkari wayuqiimuuna alshshalaata wayu'tuuna alzzakaata wayuthii'uuna allaaha warasuulahu ulaa-ika sayarhamuhumu allaahu inna allaaha 'aziizun hakiimun]
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".(QS At-Taubah [9]:71)

Keterangan dan kandungan ayat
Ayat ini mengandung beberapa sifat orang-orang mukmin baik pria maupun wanita, yaitu;

  1. Bahwa mereka satu sama lain menjadi penolong dalam menegakkan agama, kasih sayang, memberikan loyalitas dan dukungan dan dalam meraih kemenangan.
  2. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf, yaitu setiap kebaikan baik itu menyangkut masalah aqidah, amal saleh atau akhlak yang mulia. Dan mereka adalah orang yang pertama melaksanakan suruhan tersebut.Mencegah kemungkaran, yaitu setiap yang bertentangan dengan yang makruf, berupa akidah yang batil, perbuatan-perbuatan buruk dan akhlak yang tidak terpuji.
  3. Melakukan salat dengan khusyuk, sesuai dengan syarat-syarat, rukun-rukun, dan sunah-sunah serta etikanya.
  4. Mengeluarkan zakat harta dengan berbagai jenisnya, dengan senang hati.
  5. Komitmen taat kepada Allah dan rasul-Nya.
Lalu ayat di atas menjelaskan bahwa mereka itu dikaruniai rahmat oleh Allah, yaitu mereka dimasukkan dalam rahmat-Nya disertai dengan limpahan karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana, Dia Kuat dan Perkasa. Dalam satu waktu Dia Maha Bijaksana yang meletakkan sesuatu pada posisinya. Lihat: Ibnu Sa'di, halaman 303 (cetakan Luwaihiq)

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
[Alladziina in makkannaahum fii al-ardhi aqaamuu alshshalaata waaatawuu alzzakaata wa-amaruu bialma'ruufi wanahaw 'ani almunkari walillaahi 'aaqibatu al-umuuri]
"(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan".(QS Al Hajj [22]:41)

Penjelasan dan kandungan ayat:
Di dalam ayat ini Allah menyebutkan tanda-tanda orang yang membela-Nya, dan dengan ini dapat diketahui orang mengaku membela Allah dan membela agamanya, sedangkan ia tidak berperilaku seperti sifat-sifat di bawah ini, maka sesungguhnya ia seorang pembohong. Sifat-sifat itu adalah;

  • "Orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi", maksudnya adalah Kami jadikan mereka memilikinya dan Kami jadikan mereka berkuasa atas bumi, tanpa ada yang menyainginya dan tanpa ada yang menentangnya.
  • "Mengerjakan salat" tepat pada waktunya, sesuai dengan hukum-hukum, syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Melakukan salat Jumat dan salat jemaah.
  • "Menunaikan zakat" untuk dirinya dan yang berada di bawah tanggungannya. Deberikan kepada orang yang betul-betul berhak.
  • "Menyuruh berbuat yang makruf", yaitu mencakup segala sesuatu yang makruf yang diketahui kebaikannya secara syara' dan akal, berupa hak-hak Allah dan manusia.
  • "Mencegah kemungkaran" yaitu segala yang munkar menurut syariat dan akal.
Kegiatan "Amar ma'ruf nahi mungkar" ini mencakup semua sarana dan metode yang menunjang terwujudnya tujuan tersebut.

Apabila kegiatan amar makruf nahi mungkar itu baru terwujud melalui pendidikan (proses belajar mengajar), maka hal itu harus digalakkan. Apabila ia (amar ma'ruf nahi mungkar) hanya akan tegak dengan cara menerapkan sanksi-sanksi, baik yang telah ditetapkan kadarnya oleh syara' atau tidak (seperti berbagai macam hukum ta'zir), maka hal itu harus dilakukan. Begitu pula jika tergantung pada pembangkangan, maka harus pula dilakukan, dan lain-lain yang berkaitan dengan sarana untuk tercapainya tujuan amar makruf nahi mungkar.

Lalu Allah mengabarkan bahwa kepada-Nya lah kembali segala urusan. Dan Dia telah memberitahukan bahwa kesudahan yang baik itu hanyalah bagi yang bertakwa. dikabarkan bahwa segalanya kembali kepada ketakwaan.

Akhirul kata, demikianlah perintah Allah SWT dan tuntunan Rasul-Nya kepada kita sekalian untuk selalu berlomba-lomba di dalam menganjurkan kebaikan (amar ma'ruf) serta melarang sesama kita untuk berbuat yang munkar yang kami petik dari ayat-ayat Al-Qur'an dan yang dapat kita sajikan pada topik kita kali ini, semoga bermanfaat hendaknya.

Wallahu A’lam Bis Shawwab.

Alhamdulillah, segala puja dan puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Robbul ‘Alamin. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassallam beserta keluarga, istri, para shahabatnya serta pengikut mereka dalam kebajikan hingga datangnya hari pembalasan nanti.

إِنّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِي ماً َ “ 
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber-Shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]:5)

Menggapai Keridhaan Allah




“Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud A.S.: “Sesungguhnya orang yang sangat AKU kasih kepadanya ialah yang beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena AKU berhak untuk disembah. Dan siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembah-Ku semata-mata karena menginginkan sorga atau takut akan neraka? Andaikan AKU tidak menciptakan sorga dan neraka, apakah AKU tidak berhak untuk disembah?"

Firman Allah SWT:

وَمَا تُنفِقُونَ إِلاَّ ابْتِغَاء وَجْهِ اللّهِ وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)."  (QS al-baqarah ayat 272)

Dan bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas dalam beramal shalih, maka Allah SWT akan memberikan ganjaran pahala berupa surga 'Adn:

وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mu'min, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." Dan bagi orang-orang yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian hartanya yang di rezekikan Allah baginya, baik dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, maka tempatnya adalah di surga. (QS at-taubah ayat 72)

Firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّار : 
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)," (QS ar-ra'd [13] ayat 22)

Manusia adalah makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Ia diciptakan Allah memiliki kelebihan dan kesempurnaan, baik bentuk tubuh maupun lainnya. Dalam QS. Al-Tin [95]:4-6; Allah SWT ber Firman: 

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَإِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya"  (QS. Al-Tin [95]:4-6)

Meskipun manusia memiliki kesempurnaan bentuk, hal ini belumlah menjamin ia memiliki kesempurnaan lainnya, bahkan sebaliknya manusia bisa menjadi makhluk yang sangat rendah kedudukannya di hadapan Allah! Pada dasarnya, manusia lebih unggul jika dibandingkan dengan malaikat dan binatang.

  • Malaikat diberi akal, tetapi tdk diberi nafsu dan ia bersifat 'stagnan' (tetap). Mereka tdk berbuat maksiat kepada-Nya. Malaikat sangat menta'ati perintah Allah. Ada malaikat yang diperintah melakukan sujud sampai hari kiamat. Ada pula malaikat yang diperintah mencabut nyawa. Mereka belum pernah mengabaikan perintah Allah sehingga belum pernah ada satu makhluk pun yang tertinggal atau terlewat dari ketentuan ajal mereka.
  • Binatang diberi nafsu, tapi tdk diberi-Nya akal. Binatang selalu melakukan sesuatu sebagai sifat 'hayawaaniyyah' (sifat kehewanan). 
  • Adapun manusia diberi-Nya akal dan juga nafsu. Disatu sisi manusia dapat menjadi makhluk yang sempurna [setingkat malaikat bahkan lebih], tetapi disisi lain, ia dapat menjadi makhluk yang hina dina dan dinista. Dengan akalnya, manusia menerima hidayah Allah sehingga ia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Maka, posisi manusia saat itu menjadi makhluk yang paling sempurna. Namun jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya, ia menjadi makhluk yang paling hina bahkan lebih hina dari binatang yang paling hina. Manusia yang sempurna akalnya sehingga ia dapat mengendalikan nafsunya, Allah akan menempatkan posisi dirinya sebagai orang yang layak menerima ganjaran surga-Nya. 

Firman Allah Swt:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS Al-Naziat [79]:40) 

Tujuan Penciptaan manusia.
Tidak semata-mata Allah menciptakan sesuatu kecuali ada tujuan yang akan dicapai. Allah Swt. menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia beribadah kepada Allah Swt. sesuai dengan Firman-Nya: "Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS Al-Dzariyat [51]:56) 

Manusia seharusnya memperhatikan hikmah dan tujuan dari kejadian diri mereka serta mengabaikan tipu daya dunia dengan zuhud, karena pada hakekatnya dunia adalah fana. Dengan demikian, hanya orang-orang sadar yang melaksanakan ibadah, dan orang-orang yang sehat pikirannya dapat zuhud terhadap dunia.

Di sisi lain, Allah menguji manusia apakah mereka berkualitas atau tidak. Ujian tersebut diberikan dengan rasa takut, kelaparan, sakit, kehilangan-kekurangan harta dan sebagainya. 

Allah menjelaskan tentang ujian kepada manusia, sebagaimana firman-Nya: 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah, ayat 155). 

Sesungguhnya Allah Swt menciptakan manusia dengan tujuan untuk memuuliakan manusia itu sendiri, yaitu beribadah kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya.

Selalu ingat kepada Dzat Yang Maha Pencipta-tiada lain agar hidup berkah mudah didapat. Ingat [eling, jawa], merupakan proses kesadaran jiwa terhadap siapa sesungguhnya "pemerhati" diri ini....". Siapa pemberi fasilitas hidup ini sebenarnya. Mengapa begitu besar kepedulian-Nya kpd kita? Lalu, kita manusia sebagai makhluk hina, lemah, besar ketergantungannya, mengapa berani membuang semua perhatian-Nya, melupakan kepedulian-Nya? Lalu akal kita ditaruh dimana? Tidakkah seharusnya kita merasa malu?
Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, kenikmatan atau cobaan apa yang akan dirasakan. Apakah keberuntungan yang akan didapat atau sebaliknya ketika ajal berakhir di puncak kehidupan? Gerak langkah makhluk-makhluk Allah baik hewan dan benda-benda alam semesta lainnya tdk lepas dari perhatian dan aturan-Nya, termasuk hal-hal kecil seperti jatuhnya daun-daun kering, dahan, dan ranting, semuanya berada dalam ketetapan-Nya semata. Sungguh perhatian Allah terhadap segenap makhluk-Nya sangatlah luar biasa! 
Sejak kecil kita diasuh dengan kasih sayang dan rasa cinta. Betapa besar perhatian orangtua terhadap putra-putri-nya. Setelah dewasa kita pun mengalami proses rasa cinta, kasih sayang, serta merasakan kehangatannya.

Disini, sesungguhnya Allah sedang menitipkan cinta dan kasih sayang pada kehidupan anak manusia agar bisa sampai menuju ke hadirat-Nya. Oleh karena cinta kasih sayang itu menumbuhkan perhatian, maka ketika umur manusia sampai pd usia senja, kita dituntut memahami, mengembangkan makna cinta dan kasih sayang terhadap Pemberi dan Pemilik cinta tersebut [Mahabbatillah]. 

Perhatian manusia dewasa selayaknya menjadi fokus kepada Allah Azza wa Jalla, Hasyrat, minat, dan kehendaknya sepantasnya sesuai dengan kehendak-Nya pula.

Perasaan takut dan cemas lepas dari perhatian-Nya (khauf) dan besar harapan guna meraih ridha-Nya (raja') laksana kendali untuk meningkatkan kedudukannya di hadapan Sang Maha Pencipta.

Allah SWT Berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad),"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Mah Penyayang." (QS.Ali-Imran [3]:31)

Pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya memiliki kedudukan:

  • Takut akan ancaman dan akibat-Nya;
  • Karena malu terhadap segala macam pemberian-Nya;
  • Karena mengharapkan keridhaan-Nya;
  • Karena CINTA kepada-Nya. 

Inilah wujud daripada ibadah seorang Insan kamil, yang menyembah-memuja Tuhan-nya, bukan karena mengharapkan surga atau takutkan neraka, melainkan karena mengharapkan ke-ridhaan dari Tuhan-Nya serta karena rasa Cinta yang sangat mendalam kepada Rabb-nya, sesuai dengan ikrar dirinya kepada Allah Azza wa Jalla, dan yang senantiasa di perbaharui-nya yaitu kalimat:


قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakanlah: SESUNGGUHNYA SHALATKU;-IBADAHKU;-HIDUPKU DAN MATIKU 
adalah Untuk ALLAH TA'ALA semata."


Thursday, June 3, 2010

Ibadah Haji, Hukum, Definisi, dan Dalil




Definisi Haji
Secara etimologis, haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan. Secara terminologis berarti beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik haji, yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu dengan cara yang tertentu pula. Definisi ini disepakati oleh seluruh mazhab.

Hukum dan Dalilnya
Haji hukumnya fardu bagi lelaki dan wanita sekali seumur hidup.

Dalil dari Alquran

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

Allah Taala mewajibkan haji bagi kaum muslimin pada tahun ke sembilan Hijrah. Nabi saw. melakukan haji hanya sekali, yaitu haji wada.

Dalil dari hadits
Rasulullah saw. bersabda, "Islam didirikan di atas lima dasar."

Dalam hadits lain, Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada balasan haji mabrur kecuali surga."

Seterusnya Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa melaksanakan haji tanpa melakukan kejahatan seksual dan tidak melakukan tindakan kefasikan, maka ia kembali seperti saat dilahirkan oleh ibunya."

Juga sabda Rasulullah saw., "Wahai manusia! Sesungguhnya telah difardukan kepadamu haji, oleh sebab itu berhajilah." Kemudian seorang lelaki berdiri dan bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah setiap tahun؟" Rasulullah saw. diam sampai pertanyaan tersebut diulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda, "Kalau aku jawab (Ya) maka akan wajib dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya."

Umat Islam sepakat bahwa haji adalah “rukun Islam yang ke lima”, hukumnya adalah fardu. Menurut mayoritas ulama, fardunya tidak bersifat segera, tetapi dapat ditunda dari awal waktu mampu melaksanakannya.

FARDU HAJI

Pengertian Fardu: Fardu adalah semua pekerjaan yang harus dilakukan, sah haji bergantung kepadanya dan tidak dapat diganti dengan dam. Fardu mencakup rukun dan syarat. Fardu Haji ada empat, yaitu:

1. Ihram
2. Wukuf di Arafah
3. Tawaf Ifadah
4. Sai antara Safa dan Marwa

SEMUA MAZHAB SEPAKAT TENTANG FARDU DAN WAJIB HAJI

Syarat-syarat haji menurut Mazhab Hanafi 
  • Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah. 
  • Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah. 
  • Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji. 
  • Merdeka, tidak wajib haji bagi budak. 
  • Sehat jasmani. 
  • Memiliki bekal dan sarana perjalanan. 
  • Perjalanan aman. 
Tambahan bagi wanita: 
  • Harus didampingi suami atau mahramnya. 
  • Tidak dalam keadaan iddah, baik karena cerai maupun kematian suami. 
Syarat haji menurut Mazhab Maliki 
  • Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah. 
  • Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah. 
  • Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji. 
  • Merdeka, tidak wajib haji bagi budak. 
  • Mampu 
Tambahan bagi wanita:
  • Tidak disyaratkan adanya suami atau mahram tapi boleh melaksanakan haji bila ada teman yang dianggap aman, baik bagi wanita muda atau tua.
Syarat-syarat haji menurut Mazhab Syafi'i 
  • Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah. 
  • Merdeka, tidak wajib haji bagi budak. 
  • Taklif (sudah mukallaf, yaitu berkewajiban melaksanakan syariat) 
  • Kemampuan, dengan syarat sebagai berikut: 
  • Ada perbekalan, makanan dan lain-lain untuk pergi dan pulang. 
  • Ada kendaraan 
  • Perbekalan yang dibawa harus kelebihan dari pembayaran hutang dan biaya keluarga yang ditinggalkan di rumah. 
  • Dengan kendaraan yang sudah jelas bahwa tidak akan mengalami kesulitan. 
  • Perjalanan aman. 
Tambahan untuk wanita:
  • Ada pendamping yang aman dengan seorang wanita muslimah yang merdeka dan tepercaya.
Syarat-syarat haji menurut Mazhab Hambali 
  • Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir dan hajinya tidak sah. 
  • Akal, tidak wajib bagi orang gila, hajinya tidak sah. 
  • Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan yang baik dengan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji. 
  • Merdeka, tidak wajib haji bagi budak. 
  • Mampu 
Tambahan bagi wanita:
  • Harus diikuti oleh mahramnya atau orang yang haram menikahinya selamanya.
WAJIB HAJI
Pengertian Wajib: Wajib adalah semua pekerjaan yang harus dilakukan, bila ditinggalkan, maka harus membayar dam. 

Wajib Haji ada tujuh, yaitu: 
  1. Ihram dari mikat 
  2. Wukuf di Arafah 
  3. Bermalam di Mazdalifah 
  4. Bermalam di Mina 
  5. Mencukur atau memotong rambut, mencukur lebih afdal 
  6. Melempar jumrah 
  7. Tawaf wada' 
SUNAH HAJI
Pengertian Sunah: menurut mazhab Syafi'i Sunah adalah semua pekerjaan yang diperintahkan Allah tetapi tidak bersifat jazim (tegas), diberi pahala orang yang melaksanakannya, tidak disiksa orang yang meninggalkannya. Sunah, mandub, mustahab dan tathawwu' adalah kata-kata sinonim yang memiliki satu arti.

Sunah Haji: 
  1. Mandi ketika hendak ihram 
  2. Membaca talbiah 
  3. Tawaf qudum buat pelaku haji ifrad atau qiran 
  4. Bermalam di Mina pada malam Arafah 
  5. Lari kecil dan membuka bahu kanan ketika tawaf qudum



Metoda Penyusunan Ayat-Ayat Al-Quran


Kapan Al Qur'an dibukukan?
Jika yang dimaksud adalah Al Qur'an cetakan seperti yang ada di hadapan kita sekarang, tentu saja kitab ini masih baru, sebab sejarah mencatat bahwa teknologi percetakan baru dimulai pada tahun 1450. Sedangkan tentang kapan, di mana, dan siapa yang menctak Al Quran pertama kali di Indonesia, ada beberapa versi. Ada yang mengatakan tahun 1698 di Batavia, atau Jakarta jaman Belanda, diprakarsai oleh seorang pendeta Katolik asal Italy; Ludvico Marrace Lucersi. Sementara ada yang mengatakan pada tahun 2007 di Ciawi, Bogor oleh Departemen Agama. [1]

Tapi jika yang dimaksud adalah Al Qur'an dalam arti lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali turun.Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, ‘Ubai bin K’ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum. Bila suatu ayat turun, beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah.

Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur’an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Tabit, Kami menyusun Qur’an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang.

Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur’an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan.Tulisan-tulisan Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafalkan seluruh isi Qur’an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur’an di hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur’an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh. Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra’ dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. [2]

Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur’an itu tidak menurut tertib nuzul-nya, tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata pada masa Nabi SAW Qur’an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

Mengapa Al Qur'an tidak ditulis dalam satu Mushaf pada jaman Rasulullah?
Az-zarkasyi berkata, Qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur’an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah. Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan, Rasulullah SAW telah wafat sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali. Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

Al-Katabi berkata, Rasulullah tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar radhiyalahu ‘anhum.

Metoda apa yang digunakan dalam menyusun Al Qur'an?
Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata letak ayat tersebut di dalam Al-Quran. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya sendiri–sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin membidik pemahamannya terhadap A-Quran. Wallahu a’lam bishshawab.

Dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

[1] Lihat Yahoo answer tentang ini
[2] Simak juga topik yang sama di Buah Pikiran Ihsan


Tuesday, June 1, 2010

Al-Tauhid





Kesempurnaan makrifat tentang Allah adalah dengan 'tashdiiq' [membenarkan] eksistensi-Nya. Sedangkan kesempurnaan tashdiq terhadap-Nya adalah dengan tauhid kepada-Nya. Dan kesempurnaan tauhid kepada-Nya adalah dengan ikhlas kepada-Nya. Barangsiapa yang melekatkan suatu sifat kepada-Nya, berarti dia telah menyertakan sesuatu kepada-Nya. ~ Dan barangsiapa yang menyertakan sesuatu kepada-Nya, maka dia telah menduakan-Nya. Barangsiapa yang menduakan-Nya, maka dia telah memilah-milah (Zat)-Nya."

Saudaraku Rahimakumullah,
Betapa penting ungkapan tauhid ini, sehingga di dalam al-Qur’an ditemukan istilah ini sebanyak 23 nama padanan (sinonim) kata al-Tauhîd yaitu:

  1. kalimah al-ikhlâsh pada QS. al-Zumar [39]:2-3.
  2. kalimah al-Ihhsân pada QS al-Rahman [55]:60.
  3. kalimah al-‘Adlu ini dapat dipahami dari QS. al-Nahl [16]:90.
  4. kalimah al-Thayyibah, pada QS. Ibrâhim [14]:24.
  5. kalimah al-Tsâbitah, pada QS. Ibrâhim [14]:27.
  6. kalimah al-Taqwâ pada QS. al-Fathh [48]:26
  7. kalimah al-Sidq, ini dipahami dari QS. al-Zumar [39]:33.
  8. kalimah al-Thayyib min al-Qaul, pada QS. al-Haj [22]:24-.
  9. kalimah al-Bâqiyah, pada QS. al-Zukhruf [43]:28.
  10. kalimatullâh al-‘Ulyâ, pada QS. al-Taubah [9]:40.
  11. kalimah al-Matsalu al-A’lâ pada QS. al-Nahl [16]:60.
  12. kalimah al-Sawâi, pada QS. Ali Imran [3]:64.
  13. da’wah al-haq, pada QS. al-Ra’du [13]:14.
  14. kalimah al-‘Ahdi, pada QS. Maryam [19]:87.
  15. kalimah al-istiqâmah, pada QS. Fusshilat [41]:30.
  16. maqâlidu al-Samâwâti wa al-Ardh, pada QS. al-Zumar [39]:63.
  17. al-Qaul al-Sadîd, pada QS. al-Nisâ [4]:9; al-Ahzab [33]:70.
  18. kalimah al-Birri, pada QS. al-Baqarah [2]:177.
  19. al-din al-Khâlish, pada QS. al-Zumar [39]:3;
  20. al-Shirât al-Mustaqîm, pada QS. al-An’âm [6]:153; al-Syura [42]:52-53.
  21. kalimah al-Haq, pada QS. al-Zukhruf [43]:86.
  22. al-‘Urwah al-Wutsqâ, pada QS. al-Baqarah [2]:256;
  23. kalimah al-Nazâh, tidak akan selamat dari siksa Allah kecuali bersama Allah, pada surah al-Nisâ [4]:28; surah Luqmân [31]: 13 .
Selain kalimah tauhid di atas, puncak dari tauhid terkandung dalam surah yang terkenal yaitu surah al-Ikhlâs seperti berikut:  
Di kalangan mufassir (ahli tafsir), surah ini juga dinamakan surah al-Tauhid. Adapun terjemahan kata ahad dalam surah al-Ikhlas, penulis terjemahkan sebagai “satu yang tidak ada duanya” sehingga kalau diterjemahkan dengan ‘esa’ ini tidak cocok, karena jika ada esa, akan ada dwi, tri, dan seterusnya; jika diterjemahkan ‘satu’ juga tidak cocok karena satu ada dua, tiga, empat, dan seterusnya. Jika diterjemahkan ‘tunggal’ atau single, juga kurang cocok karena ada double, tripple, dan seterusnya. Tentang ini dapat dilihat dan dibaca pada tafsir Mahâsin al-Takwîl oleh Imam al-Qasimi, surah al-Ikhlas.

Dari aspek dasarnya, tauhid terdiri dari:

  1. TAUHID AL-ILMI, yaitu meng-esa-kan pemahaman yang bersifat berita yang diyakini. Keyakinan itu mencakup penetapan sifat-sifat kesempurnaan Allah SWT dan mensucikan-Nya dari penyerupaan dan penyetaraan dengan apa pun selain-Nya dan daris ifat-sifat kekurangan. · Tauhid ini tergambar dengan jelas dalam al-Qur’an surah al-Tauhid (al-Ikhlas). Tauhid tingkat ini adalah teoritis.
  2. TAUHID AL-AMALI, yaitu meng-esa-kan Allah dalam beribadah. Artinya, semata-mata hanya menghamba kepada-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun dan dengan sesuatu apapun, meng-esa-kan dalam mencintai-Nya, ikhlas untuk-Nya, takut (khauf) hanya kepada-Nya, berharap (raja’) dan tawakkal hanya kepada-Nya serta rela (ridha) dengan-Nya sebagai Rab (Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pemimpin).
Tauhid semacam ini tersimpul dalam satu surah yang juga terkenal dikalangan mufassir surah al-Tauhid yaitu ‘surah al-Kâfirun’. 
Tauhid al-‘amali disini ditekankan pada bidang praktis, baik dalam shalat, dzikir, doa, tawakkal dan sebagainya. 

Sebelum melangkah lebih jauh pada pohon ma’rifat yang kedua dan ketiga, terlebih dahulu mari kita simak pandangan para ulama ‘irfân/ahli ma’rifatulâh tentang tauhid.
Dzun Nûn al-Mishri misalnya ditanya tentang tauhid, maka beliau berkata:
“Hendaklah engkau ketahui bahwa kekuasaan Allah terhadap makhluk itu tanpa ada campur tangan orang luar. Ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, langsung atau tidak langsung segala yang ada, adalah ciptaan-Nya, ciptaan-Nya pun tidak ada yang cacat. Setiap yang terproyeksi dalam gambaran jiwamu tentang Allah, maka Dia berbeda.”

Yusuf ibnu Husain berkata: "Tauhidnya orang khusu' yaitu tauhidnya itu total dengan bathin, dimanifestasikan dengan hati, seakan-akan ia berdiri di sisi Allâh SWT mengikuti aliran yang berlaku dalam aturan-Nya dan hukum-hukum kudrat-Nya, mengarungi lautan fana dari dirinya, hilangnya rasa karena tegak-Nya al-Haq yang Maha Suci dan Luhur dalam kehendak-Nya”
Dikatakan bahwa alam semesta ini berada dalam arus ketentuan Allah SWT ”. Demikianlah sebagian kecil pandangan ulama ‘irfan tentang tauhid.

Apakah makhluk itu, dan apa pula surga atau neraka itu?
Dan siapakah selain Allah itu?


Allah Azza wa Jalla berfirman:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء
“Dan mereka tidak diperintah melainkan supaya menyembah Allah, serta mengikhlaskan agama bagi-Nya (beribadat dengan mengharapkan keridhaan-Nya).” (QS al-Bayyinah :5) .

Sahabatku rahimakumullah,
Dahan pohon ma’rifat yang kedua adalah al-Tajrîd. 


Dilihat dari asal kata al-tajrîd , ia terdiri dari tiga huruf;  ja, ra dan da yang fi’il madhinya berasal dari kata  jarrada—yujarridu—tajrîdan yang berarti menyongsong, menurunkan, menelanjangi.


AL-TAJRID
Maksud tajrîd dalam pembahasan ini adalah -pengosongan diri dari selain Allah SWT- yaitu dengan ikhlas. Ikhlas merupakan langkah pertama dari inti menuju al-Tajrîd. Ikhlas berarti suci, murni, tidak ada campuran seperti orang Arab menamakan madu murni dengan ‘asalun khâlishun atau emas murni dengan dzahabun khâlishun. Berikut ini uraian ikhlas secara umum dalam bentuk skema sebagai ringkasan dari sebuah kitab bernama din al-Khalîsh

Skema tersebut menggambarkan sepertiga dari kandungan al-Qur’an ialah Ikhlas dalam Aqidah yang terkenal dengan kata tauhid, lawannya Syrik. Orang yang syirik dinamakan musrik; sedangkan ikhlas dalam niat lawannya Riya’ (unsur mata), ‘Ujub (kebanggaan hati) dan Sum’ah (unsur telinga), sedang Ikhlas dalam amal lawannya Bid’ah. Hal ini akan dibahas dalam kulliah al-Tazkiyah.

Para ulama “irfan (ahli ma’rifat) mengartikan ikhlas dengan menjadikan Allah SWT. sebagai satu-satunya sesembahan atau obyek pengabdian. Sikap ta’at dimaksudkan adalah taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya dengan mengesampingkan makhluk lain, yang biasanya dimaksudkan untuk memperoleh pujian ataupun penghormatan dari manusia , atau unsur-unsur lain selain taqarrub kepada Allah semata. Dapat dikatakan, ikhlas dalam amal berarti mensucikan amal-amal perbuatan dari campur tangan sesama makhluk, atau melindungi diri sendiri dari urusan kepentingan individu-individu manusia.
Imam ‘Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: 
“Barangsiapa yang memilah-milah-NYA, maka sesungguhnya dia tidak mengenal-NYA. Barangsiapa yang tidak mengenal-NYA, maka dia akan melakukan penunjukan kepada-Nya. Barangsiapa yang melakukan penunjukan kepada-Nya, maka dia telah membuat batasan tentang-NYA. Dan barangsiapa yang membuat batasan tentang-Nya, sesungguhnya dia telah menganggap-Nya berbilang”.

Dengan ikhlas, baik dalam aqidah, dan niat serta amal aktivitas, maka seseorang itu akan mampu fanâ,tenggelam dalam lautan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya sebagai inti dan hakekat al-tajrîd .

Jika al-tauhid dinamakan qath’u al-andâd (atau ‘adad) berarti memutus keterbilangan Allah SWT., maka al-tauhid dinamakan qath’u al-asbâb yaitu memutuskan segala sebab.

Adapun al-tafrîd karena ia dinamakan qath’u al-jam’i yaitu memutuskan bentuk jama’ (plural/keterbilangan). Seperti halnya istilah fanâ yaitu melepaskan diri dari ruang dan waktu dan tenggelam bersama Allah SWT. Dapat juga diartikan berkhalwat dengan Allah, yaitu ber-dua-duaan dengan-Nya. 3)


Sedangkan dahan ketiga adalah al-Tafrid

Kata al-Tafrîd berasal dari kata; farrada–yufarridu–tafridan–wa furûdann yang berarti tunggal, bersendirian, mengerjakan sendirian.

Dari istilah ini lahir kata mufrad (tunggal) lawan dari jama’ (banyak). Kemudian ‘ain fi’il disyaddah, maka bentuknya berubah menjadi farrada – yufarridu – tafrîdan. Maksud kata al-tafrid disini adalah pengosongan diri dalam menempuh perjalanan menju Allah tanpa washilah (perantara).


AL-TAFRID
Unsur-unsur “al-tafrîd" setidaknya ada 5 (lima) yaitu:

  1. Al-khauf (takut) yaitu hanya takut kepada Allah baik lahir maupun bathin;
  2. Al-thâ’ah (taat) yaitu senantiasa taat dan patuh hanya kepada Allah semata;
  3. Al-wara’ (wara) yaitu menuju Allah SWT., dengan membelakangi segala urusan lain;
  4. Al-ikhlâsh" (ikhlas) yaitu khlas kepada Allah baik di dalam niat, ucapan, maupun perbuatan.
  5. Al-murâqabah (kontemplasi) yaitu pengawasan diri dalam segala lintasan batin dan seluruh manifestasi hidupnya, dimana merasakan sepenuhnya kehadiran Allah SWT dan pengawasannya karena Allah SWT melampaui segenap ruang dan waktu.

Semua permasalahan di atas, selanjutnya akan dibahas secara bertahap dan mendalam pada pembahasan berikutnya. Insya Allah.-



“Segala puji bagi ALLAH Yang "ADA" sebelum adanya Kursi atau Arsy, langit atau bumi, jin atau manusia. ~ DIA tidak dapat dicapai dgn khayalan, tidak dapat di duga dgn pemahaman, tidak dapat dicapai dengan indera, dan tidak dapat pula dibandingkan dengan manusia. ~ DIA Satu tidak dengan bilangan [AHAD], Kekal tidak dengan masa, dan Berdiri tidak dengan penyangga.~

“Wahai Dzat Yang Maha Esa, murnikanlah ketauhidanku untuk-Mu. Selamatkanlah kami dari makhluk. Murnikanlah kami untuk-MU. Benarkanlah pengakuan kami dengan bukti kemurahan-Mu dan rahmat-Mu. Perbaikilah hati kami, mudahkanlah urusan kami, dan jadikanlah kesukaan kami dengan Engkau, kegelisahan kami dengan selain Engkau. Jadikanlah cita-cita kami hanya satu, yaitu Engkau dan berdekatan dengan-Mu di dunia maupun di akhirat. "

"Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” “Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika..., Allâhumaghfirlî

“Ya Allah, terimalah taubatku dan taubat mereka. Jauhkanlah kami dari nafsu kami, berilah manfaat pada sebagian kami dengan sebagian yang lain.Ya Tuhan kami, masukkanlah kami kedalam rahmat-Mu. Ya Tuhanku, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. ~ Amiin."

“Subhanakallâhumma Rabbana wabihamdika - Allâhumaghfirlî


Dipetik dari tulisan: al-Ustadz KH.Muhtar Adam Fadhlulah Muh.Said dalam bukunya: “Ma’rifatullah”

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers