Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Iman. Show all posts
Showing posts with label Iman. Show all posts

Wednesday, September 21, 2011

Tentang Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Ma'rifat




Dalam SYARIAT ada hijab...
Tidak akan tertembus kecuali oleh HAKIKAT..
Syariat jalannya umat...
untuk berkhidmat pada Yang Maha Kuat...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..
Ada yang bertanya tentang apakah yang dimaksudkan dengan Syariat, apa itu Tarikat, dan ada juga yang bertanya tentang Hakikat. Dengan segala keterbatasan, kami mencoba untuk menjelaskannya secara singkat, dengan harapan semoga dapat di pahami. ~ Mohon koreksi.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dlm hidup dan kehidupannya..

SEBAGAI PANDANGAN HIDUP
Seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Firman Allah SWT:

"Syara'a lakum mina alddiini maa washshaa bihi nuuhan waalladzii awhaynaa ilayka wamaa washshaynaa bihi ibraahiima wamuusaa wa'iisaa an aqiimuu alddiina walaa tatafarraquu fiihi kabura 'alaa almusyrikiina maatad'uuhum ilayhi allaahu yajtabii ilayhi man yasyaau wayahdii ilayhi man yuniibu..."

"(Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama^1341 dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)".(QS Asy-Syura [42]:13) [^ 1341: Yang dimaksud "agama" di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta menta'ati segala perintah dan larangan-Nya.]

Firman-Nya pula:

"Tsumma ja'alnaaka 'alaa syarii'atin mina al-amri faittabi'haa walaa tattabi' ahwaa-a alladziina laa ya'lamuuna..." 

(Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS Al-Jatsiyah [45]:18)

"Wa-anzalnaa ilayka alkitaaba bialhaqqi mushaddiqan limaa bayna yadayhi mina alkitaabi wamuhayminan 'alayhi fauhkum baynahum bimaa anzala allaahu walaa tattabi' ahwaa-ahum 'ammaa jaa-aka mina alhaqqi likullin ja'alnaa minkum syir'atan waminhaajan walaw syaa-a allaahu laja'alakum ummatan waahidatan walaakin liyabluwakum fiimaa aataakum faistabiquu alkhayraati ilaa allaahi marji'ukum jamii'an fayunabbi-ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifuuna..." 

(Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian421 terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu422, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS Al-Maidah [5]:48).

Dan untuk mengetahui hakikat..makrifat.maka ada baiknya kita pahami dulu istilah2 yang sering dipakai oleh para sufi..

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
HAKIKAT berarti "kebenaran" atau "kenyataan yang sebenarnya", seakar dengan kata al-Haqq, "reality", "Absolut" adalah kebenaran esoteris yang merupakan batas-batas dari transendensi dan teologis.

Dalam pengertian seperti ini, hakikat merupakan unsur ketiga dlm ilmu tasawuf, yakni:
  • SYARI'AT (hukum yang mengatur), 
  • TAREKAT (suatu jalan atau cara); ~ sebagai suatu tahapan dalam perjalanan spiritual menuju ALLAH Al-HAQQ, 
  • HAKIKAT (Kebenaran yang essensial), dan 
  • MA'RIFAT (mengenal ALLAH dengan sebenar-benarnya, baik Asma, Sifat, maupun Af'al-Nya). 
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

"Inna haadzaa lahuwa haqqu alyaqiini, fasabbih biismi rabbika al'azhiimi.." 

"Sungguh, yang demikian itu adalah hakikat yang meyakinkan maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS Al-Waqiah [56]: 95-96)

"Fadzaalikumu allaahu rabbukumu alhaqqu famaatsaa ba'da alhaqqi illaa aldhdhalaalu fa-annaa tushrafuuna.." 

"Maka ikutilah DIA Tuhanmu yang hakiki. Tidak ada sesudah kepastian itu melainkan kesesatan. Tetapi bagaimanakah kamu dapat dipalingkan dari kebenaran?" (QS Yunus [10]: 32) 

Ilmu "HAKIKAT" ini termasuk ilmu Maknun (Ilmu yang tersimpan) yang tidak boleh disebarkan kecuali kepada ahlinya karena mengandung unsur yang membahayakan bagi orang awam (kebanyakan), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. berikut ini:

"Saya meriwayatkan dari Rasulullah Saw. dua wadah ilmu: salah satunya telah saya sebarkan kepada kalian, adapun yang kedua seandainya saya sebarkan kepada kalian, niscaya kalian akan mengasah pisau untuk memotong leherku ini (dua wadah itu ialah Syariat dan Hakikat)". 

Al-Ghazali menegaskan bahwa Ilmu HAKIKAT termasuk ilmu rahasia yang kelihatannya bertentangan dengan Ilmu SYARIAT, namun hakekatnya tidaklah bertentangan.

Ilmu ini, yang tidak boleh ditulis dan tidak boleh disebar-luaskan secara umum, tetapi harus disembunyikan kecuali kepada orang-orang yang terpercaya (yang dapat menyimpan amanah), sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ali Zainuddin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.

"Banyak Ilmu bagaikan mutu manikam. Seandainya aku sebar-luaskan, niscaya orang-orang menganggapku termasuk para penyembah berhala, dan banyak tokoh kaum Muslimin menganggap halal darahku hingga mereka menganggap membunuhku itu lebih baik." 

HAKIKAT, juga disebut 'lubb' ("dalam", "saripati", "inti") kaitannya dengan sebuah frase Al-Qur'an (dalam surah Al-Qashash ayat 29, dan ayat-ayat lain).

Sedangkan Ulul Albab adalah orang yang memiliki pengetahuan (yang mendalam), yakni mereka yang memiliki pandangan atau pengertian tentang HAKIKAT. Kaitannya dengan hal ini terdapat pada pepatah Sufi,

"Untuk mencapai Hakikat (inti), Anda harus mampu menghancurkan kulit", yang mengandung pengertian bahwa paham eksoterisme (perwujudan), melampaui batas-batas pemahaman eksoteris, karena esensi melampaui bentuk-bentuk luaran yang mana ia tidak dapat direduksikan kepada bentuk luaran yang bersifat eksoterik.

Lebih lanjut dapat dilihat dari uraian "SYARIAT".

Secara sederhana kita ambil contoh ibadah Shalat yang menjadi inti daripada hakekat hidup kita sekalian, yaitu "Hakekat hidup adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (liya' buduni), sedangkan ibadah yang paling pokok dan utama adalah Shalat!

SHALAT
SYARI'AT-nya adalah memenuhi kewajiban. Sesuai dengan firman-Nya; 

" Inna alshshalaata kaanat 'alaa almu'miniina kitaaban mawquutaan.."

"Bahwa sesungguhnya shalat itu diwajibkan atas orang-orang mukmin pada waktu-waktu yang sudah ditentukan." (QS An-Nisaa [4]:103). 

TAREKAT-nya adalah memberi pengaruh pada sikap dan membekas pada perbuatan. 
HAKIKAT-nya adalah zikir kepada ALLAH Subhanahu wa Ta'ala. 

Sebagaimana firman-Nya: 

"Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii.." 

"Sungguh, AKU inilah ALLAH, tiada Tuhan melainkan AKU. Maka sembahlah AKU dan tegakkanlah shalat ini untuk dzikir kepada-KU." (QS Thaha [20]:14) 

MAKRIFAT-nya adalah mi'raj ruhani kehadirat Ilahi. 

"Shalat adalah Mi'raj-nya orang-orang yang beriman." (HR Baihaqi dan Muslim)

Seperti telah disinggung pada awal tulisan ini, dimana diuraikan bahwa:

SYARIAT adalah 'Pandangan Hidup' (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah), dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk seluruh umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dalam hidup dan kehidupannya.. 

Sebagai PANDANGAN HIDUP, seorang muslim yang ISLAM oriented akan selalu setia pada syariat dalam berbagai persoalan hidupnya dengan senantiasa berpedoman kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah (QS Asy-Syura:13, Al-Jatsiyah:18, QS Al-Maidah:48). 

Sebagai PEGANGAN HIDUP, SYARI'AT diturunkan ALLAH Subhanahu wa Ta'ala ke dunia ini dengan Ilmu-Nya yang tak terbatas. Oleh karena itu, SYARIAT bersifat UNIVERSAL. 

Kemudian, DIA mengutus Rasulullah SAW. sebagai RAHMATAN LIL ALAMIIN yang memberlakukan Syariat sampai akhir zaman. (Lihat QS Al-Furqan:1; dan QS Al-Anbiya:107). 
Sebagai PERJUANGAN HIDUP, Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijtihad sebagai sumber syariat meliputi: 

(1) Prinsip Dasar (Iman/Aqidah/Islam /Ibadah, dan Ikhsan/Akhlak) dan
(2) Norma-norma Hukum Islam.

Menurut Syaikh Athaillah As-Sakandary dan para sufi, bhw amal perbuatan terdiri atas tiga bagian, yaitu: Amal Syariat; ~ Amal Tarekat, dan ~ Amal Hakikat; atau... 
  • Amal Islam, Amal Iman, dan Amal Ihsan; ATAU.. 
  • Amal Ibadah, Amal Ubudiyyah, dan Amal Ubudah; ATAU.. 
  • Amal Ahli Bidayah (tahap pemula); Amal ahli Wasat (tahap pertengahan), dan Amal Ahli Nihayah (tahap akhir). 
  1. SYARIAT untuk memperbaiki 'zawahir' atau 'zawarih' (anggota badan),
  2. TARIKAT untuk memperbaiki 'dhamir' (hati); dan
  3. HAKIKAT untuk memperbaiki 'sarair' (ruh).
Memperbaiki zahir (anggota badan) dgn tiga perkara pula yaitu: 
  • Ikhlas 
  • Sidq (jujur), dan 
  • Tumaninah (ketenangan). 
Dan, memperbaiki 'Ruh' juga dengan tiga perkara, yaitu; 
  1. Muraqabah (waspada/merasa di awasi/seolah-olah melihat ALLAH Subhanahu wa Ta'ala), 
  2. Musyahadah (menyaksikan Asma, Sifat, dan Afal Alllah Subhanahu wa Ta'ala.), dan, 
  3. Makrifat (mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala.) 
Atau ...
  • Memperbaiki Zahir (anggota badan) yaitu dgn 'menjauhi larangan Allah Swt.dan mengikuti perintah-Nya. 
  • Memperbaiki Hati yaitu dgn menjauhi sifat2 tercela dan menghiasinya dgn sifat2 utama..Dan,.. 
  • Memperbaiki Ruh yaitu dgn menghinakannya dan menundukkannya shgga menjadi terdidik adab,tawaduk, dan berbudi.. 
Ahli Syariat ialah orang yang melaksanakan amal ibadah 'litalabil ujur' (karena mengharapkan upah atau pahala dari Allah Swt.). 

Ahli Tarekat masih dalam perjalanan antara syariat dan hakikat. Sedangkan ahli Hakikat ialah orang-orang yang melaksanakan 'ibadah' (pengabdian kepada Allah Swt.) semata-mata karena mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. (ikhlas), disertai dgn rasa 'khawf' (takut/gentar), 'raja' (harap), 'mahabbah' (cinta) dst. 

Syaikh Athaillah As-Sakandariyah berkata;

"Orang yang telah sampai pada Hakikat Islam, maka ia tidak kuasa menghindari melaksanakan Syariat; 

Orang yang telah sampai pada Hakikat Iman, maka ia tidak kuasa berpaling kepada amal perbuatan atas dasar selain Allah Subhanahu wa Ta'ala (riya); 

Dan, orang yang telah sampai pada Hakikat Ihsan, maka ia tidak kuasa berpaling kepada segala apapun selain Allah Swt." 

Menurut Syaikh Ali bin al-Haitamy r.a.,

"Syariat ialah apa yang berkaitan dengan 'taklif' (pembebanan suatu ibadah), sedangkan Hakikat ialah apa yang dapat menghasilkan 'pengenalan kepada Allah'. Syariat dikuatkan oleh Hakikat, dan hakikat terikat pada Syariat. 

Syariat adalah sebagai wujud perbuatan Allah Swt., dan melaksanakannya dengan syarat disertai ilmu melalui perantaraan para Rasul, sedangkan Hakikat ialah 'menyaksikan hal ihwal mengenal Allah Swt. dan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya tanpa ada perantaraan". 

Syaikh al-Arif Billah Sayyid Ibrahim ad-Dasuqi al-Quraisy r.a., berkata:

"Syariat adalah POKOK, sedangkan Hakikat adalah CABANG. Syariat mengandung segala ilmu yang disyariatkan, sedangkan Hakikat mengandung segala ilmu yang tersembunyi, dan seluruh maqam (kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala) bertingkat-tingkat di dalam keduanya". 

"Syariat itu Pohon dan Hakikat itu Buahnya." 

"Ahli Syariat akan batal shalatnya dengan bacaan yang buruk, sedangkan ahli Hakikat akan batal shalatnya dengan akhlak yang buruk.~ Jadi apabila di dalam bathinnya terdapat kedengkian atau iri hati, buruk sangka kepada seseorang, mencintai dunia, shalatnya batal. 

Karena sesungguhnya pemilik akhlak buruk itu berada pada hijab (terhalang) dari menyaksikan keagungan Allah Swt di dalam shalat. Dan orang yang hatinya terhijab maka ia tidak shalat, karrna sesungguhnya shalat adalah sebuah hubungan dengan Allah Swt.".

Seorang Sufi bersyair:


Dalam Syariat Ada hijab
Tidak akan tertembus kecuali oleh Hakikat 
Syariat jalannya umat 
Untuk khidmat pada Yang Maha Kuat

Sedang Hakikat ada syariat yang samar bagi umat
Hingga disangka sesat,  
Padahal jalan yang selamat 
Syariat adalah awalan 

Hakikat bukan akhiran 

Karena pada hakikat terdapat syariat 

Yang berbeda dengan syariat awalan, 
Pada khidmat umat 

Padahal pada tiap ayat
Ada makna yang tersirat dan tersurat 
Adalah sabda Rasul berpendapat 
Maka apakah mereka tidak melihat? 

Pada tiap-tiap umat ada syariat 
Begitulah ayat berpendapat 
Apakah mereka tidk melihat? 
Maka Hakikat dalah Syariat 

Yang berasal dari syariat umat 
Sedangkan dia berpijak 
Maka bagaimanakah Hakikat dikatakan sesat? 
Sedangkan dia berpijak pada syariat 

Yang dibawa oleh Rasul yang mulia 
Sebagai amanat 
Tetapi Allah mempunyai pendapat 
Siapakah para hamba yang mendapat hidayah 

Untuk dapat mengenal hakikat 
Maka siapa yang menolaknya 
Berarti melepaskan hidayah 

Karena mencapai makrifat adalah dengan syariat 
Yang terususun dengan hakikat 
Maka syariat dan hakikat adalah syariat-Nya 
Apakah mereka tidak melihat?

Segala puji hanya bagi Allah 'Azza wa Jalla semata.., dan Shalawat dan Sallam semoga senantiasa tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam beserta ahlul baitnya, para sahabat serta para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.-

Wassalam

Makna kalimat 'La Ilaha Ilallah'


Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah salallahu'alaihi wa salam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain ALLAH yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa MUHAMMAD adalah Hamba dan Utusan-Nya..


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Amma Ba'du:

Sesungguhnya yang dimaksud dengan kalimat ikhlas adalah kalimat: ‘La ilaha ilallah” sebab kalimat ini mengandung makna mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Ta'ala, meng-Esa-kan-Nya dalam beribadah dan arti kalimat ini adalah tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah subhanahu wata'ala. ~Kalimat ini sangat agung, dengan sebab kalimat inilah para Rasul diutus, Kitab-Kitab diturunkan dan dalam rangka menegakkan kalimat ini maka Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berjihad, pedang-pedang terhunus dan kuda-kuda dikendalikan.

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu , melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan yang hak melainkan AKU, maka sembahlah olehmu sekalian akan AKU." (QS.  Al-­Anbiya': 25)
Dan setiap Rasul menyeru kaumnya untuk mewujudkan Kalimat ini, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

"Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, karena sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain DIA."(QS. Al-Mu'minun: 23)
Dan orang-orang kafir yang didatangkan Rasul kepada mereka mengakui bahwa tiada Tuhan yang menciptakan kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sebagaimana firman -Nya:

"Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: " Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "ALLAH", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah?". (QS. Az-­Zukhruf: 87)
Hanya saja pengakuan ini tidak cukup dalam mewujudkan Tauhidullah, sebab pengakuan ini harus dibarengi dengan peng-Esaan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala dalam beribadah kepada -Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan inilah yang dikehendaki oleh Allah Azza Wa Jalla, dengan firman -Nya:

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Haq melainkan Allah". (QS. Muhammad: 19).
Di antara kaum muslimin ada yang mengucapkan kalimat ini, mendirikan shalat, berpuasa, berhaji dan bersedeqah namun bersamaan dengan hal tersebut mereka memalingkan sebagian dari ibadah kepada selain Allah Ta'ala, seperti istigotsah kepada selain Allah.., kepada para wali dan orang­orang yang shaleh, bernazar untuk mereka atau berdo'a kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka orang-orang yang mengerjakan perbuatan seperti ini sebenarnya belum mewujudkan makna ‘La ilaha ilallah” , sebab kalimat tersebut menuntut mengesakan Allah dalam beribadah dan memalingkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata dan orang yang memalingkan bagian tertentu dari ibadah ini kepada selain Allah maka dia Musyrik sekalipun dirinya mengucapkan ‘Laila hailallah” mendirikan shalat, berpuasa dan mengakui dirinya sebagai muslim. ~ Sesungguhnya seorang hamba tidak dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya dan tidak akan selamat dari kekekalan di dalam api neraka Jahannam kecuali dengan iman yang bersih yang tidak bercampur kesyirikan dan tidak pula dihapuskan oleh kekafiran.
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang- orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS. Al-An'am: 82).
Maka barangsiapa yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan dibarengi dengan ibadah kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala maka ibadah tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-­nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi" (QS. Az-Zumar: 65)
Para ulama telah menyebutkan bahwa makna ‘La ilaha ilallah" ini mengandung beberapa syarat yang jika tidak terpenuhi maka dia tidak akan sempurna.

Syarat kalimat 'La ilaha ilallah" 
Syarat kalimat Tauhid ini ada 8 (delapan), yaitu:

Pertama
~ Memahami maknanya, maksudnya dan apa-apa yang dilarangnya serta apa-apa yang menjadi tuntutannya.

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa) orang­orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS. Muhammad: 19).
Pada riwayat Muslim di dalam kitab shahihnya dari Utsman radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebanarnya kecuali Allah maka dia pasti masuk surga".
Dan banyak manusia yang mengucapkannya dengan lisannya semata namun dia tidak mengetahui apapun dari artinya, oleh karena itulah mereka terjebak di dalam kesyirikan.

Kedua
~ Keyakinan yang menghilangkan keraguan,yaitu orang yang mengucapkannya harus meyakini apa-apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini. Dan jika di dalam hatinya terdapat keraguan terhadap apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat ini maka ucapannya tersebut tidak memberikan manfaat apapun baginya.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu". (QS. Al-Hujurat: 15).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah, maka tidaklah seorang hamba yang bertemu Allah dengan meyakini kalimat tersebut dan dirinya tidak ragu dengannya kecuali dia akan masuk surga".[HR Muslim no: 26]
Ketiga
~ Ikhlas yang menghapuskan kesyirikan.Seseorang tidak mengucpakannya karena riya' atau sum'ah.

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada -Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. Al-An'am: 5).
Diriwayatkan oleh Al- Bukhari di dalam kitab shihihnya dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad Salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Orang yang paling bahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat kelak adalah orang yang mengucapkan "Laila hailallah" dengan ikhlas dari dirinya".
Keempat
~ Kebenaran yang menghapuskan kebohongan.Dia mengucapkan kalimat "La ilaha ilallah" dengan benar bersumber dari hatinya.

"Alif laam miim.. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al‑Ankabut: 1-3).
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dengan ucapan yang benar-benar dari hatinya kecuali Allah mengharamkan dirinya dari api neraka". [HR. Muslim no: 26 / Al- Bukhari)
Di dalam hadits ini disyaratkan pengucapan kalimat ini dengan sebenar­-benarnya.

Kelima
~ Cinta yang menghapuskan kebencian.Dia mencintai kalimat ini dan apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini serta orang-orang yang berbuat dengan tuntutan kalimat ini.

"Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah". (QS. Al­-Baqarah: 165).
Keenam
~ Tunduk terhadap apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini,yaitu tunduk yang menghapuskan sikap meninggalkan tuntutan kalimat ini. Maka wajib bagi orang yang beriman untuk tunduk terhadap makna yang dikandung oleh kalimat "Laila hailallah" baik secara lahiriyah atau bathiniyah.

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, (QS.  An-Nisa': 125) 

Kepasrahan adalah bentuk ketundukan kepada perintah Allah Subahanahu Wa Ta'ala.
Ketujuh
~ Penerimaan yang menghapuskan penolakan.Maka wajib menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini baik berupa ibadah kepada Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala, maka barangsiapa yang mengucapkannya namun dia tidak menerima apa yang menjadi tuntutan kalimat ini maka dia termasuk orang yang dikatakan oleh Allah Subahanahu Wa Ta'ala di dalam firman -Nya:

"Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka :Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri". (QS. Al-Shoffat: 35)
Kedelapan
~ Mengingkari setiap sesembahan selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala, seperti penyembahan terhadap thagut dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata.

"..sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat". ( QS. Al-Baqarah: 256).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Malik dari bapaknya bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan "Laila hailallah" dan meningkari penyembahan selain Allah maka harta dan darahnya menjadi haram dan perhitungan dirinya diserahkan kepada Allah". [HR. Muslim: no: 23]

Di antara keutamaan kalimat agung ini 

Pertama
Akan dibukakan bagi orang yang mengucapkannya, delapan pintu surga.
Diriwayatkan oleh Al -Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ubadah bin Shamit radhillahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Barangsiapa yang mengucapkan tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subahanahu Wa Ta'ala semata, tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya, dan ISA a.s. adalah hamba Allah Subahanahu Wa Ta'ala dan anak dari hamba Allah Subahanahu Wa Ta'ala dan kalimat-Nya yang dihunjamkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, maka Allah Subahanahu Wa Ta'ala akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu manapun dari delapan pintu surga yang disukainya". (Shahih Muslim: no: 28 dan Bukhari no: 3435)
Kedua
Orang yang mengakui kebenaran kalimat ini sekalipun dia seorang pelaku maksiat dan dimasukkan ke dalam neraka akibat kemaksiatannya namun mereka tetap akan dikeluarkan dari api neraka.
Di dalam kitab as-shahihaini dari Anas radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

"Allah subahanhu wa ta'ala berfirman: "Demi Keperkasaan -Ku, demi kemuliaan -Ku, demi kebesaran - Ku, demi keagungan -Ku, Aku akan mengeluarkannya dari neraka orang yang mengatakan 'Laila hailallah'.
Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam Al-mu'jamul Ausath dari Abi Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersada:

"Barangsiapa yang mengucapkan 'Laila hailallah' maka ucapannya itu akan memberikannya manfaat pada suatu masa dan sebelum itu dia akan mendapatkan apa yang sebelumnya diperbuat oleh dirinya". [Al-Thabrani 6/274 no: 6369 dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab shahihul jami's shagir 2/1098 no: 2434]
Ketiga
Barangsiapa yang mengucapkannya sebelum kematiannya dan dia meninggal atasnya maka dia masuk surga.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab sunannya dari Muadz bin Jabal radhiallahu anhu bahwa Nabi Muhammad salallahu'alaihi wa salam bersabda:

Barangsiapa yang akhir kalamnya ‘LA ILAHA ILALLAH' maka dia pasti masuk surga". [HR. Sunan Abu Dawud no: 3116]
Aku bersaksi atas Abu Sa’id dan Abu Hurairah, bahwa mereka bersaksi atas Nabi saw, bahwa Beliau saw bersabda:

  • Barangsiapa mengatakan: ‘Laa ilaaha illallahu allahu akbar’, Allah membenarkan dia dan berfirman: ’Tidak ada tuhan kecuali Aku’ dan ‘Aku Maha Besar’.
  • Bila ia berkata: ’Laa ilaaha illallahu wahdah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku sendiri’.
  • Jika ia berkata: ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikallah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku Sendiri dan tidak ada sekutu bagi-Ku’.
  • Bila ia berkata: ‘Laa ilaaha illallahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, bagi-Ku kerajaan-Ku dan bagi-Ku segala puji’.
  • Bila ia berkata: ’Laa ilaaha illallahu, laa haula walaa quwwata illaa billah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, tidak ada upaya dan tidak pula kekuatan kecuali dengan izin-Ku’.
Nabi Salallahu'alaihi wa salam bersabda: ‘Barangsiapa mengucapkannya di dalam sakitnya, kemudian mati, ia tidak dimakan api neraka’.” [HR. At-Tirmidzi]

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.


[Dr. Amin bin Abdullah Asy-Syaqawi]



Sunday, September 18, 2011

Makna, Hakekat, dan kedudukan Tauhid

Segala puja dan puji hanyalah milik Allah Azza wa Jalla Semata. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam beserta ahlul baitnya, para shahabatnya, Khulafaur Rasidin, para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta para pengikut setia Beliau SAW hingga akhir zaman.



Para Sahabat rahimakumullah,
Topik kita kali ini adalah berkenaan dengan Makna-Hakekat serta Kedudukan Tauhid yang merupakan intisari dari agama Islam sebagai agama yang meyakini kalimat "La ilaha ilallah" yang seyogianya diketahui, dimaknai, dihayati dan dipegang teguh oleh setiap Muslim.

Makna Tauhid
Allah Taala telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS Adz-Dzariyat: 56) 

Menyembah atau beribadah kepada Allah SWT ialah penghambaan diri kepada Allah Taala dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. ~ Inilah hakikat agama Islam karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta. 

Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridlai Allah. Suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila ikhlas karena Allah dan mengikuti dan sesuai tuntunan Rasulullah saw.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat ( untuk menyerukan): "Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut. " (QS An-Nahl [16]: 36). 

"Thaghut" yaitu setiap yang diagungkan--selain Allah--dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi, baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia, ataupun setan. Menjauhi taghut yaitu mengingkari, membencinya, tidak mau menyembah dan memujanya dalam bentuk dan dengan cara apa pun. 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا
أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
"Dan rendahkanlah dirimu kepada mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka keduanya telah mendidikku waktu kecil." (QS Al-Isra' [17]: 23-24) 

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً
"Sembahlah Allah (saja) dan janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya." (QS An-Nisaa' [4] : 36) 

Makna Syirik
Syirik yaitu memperlakukan sesuatu--selain Allah--sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya. 

Ibnu Mas'ud ra telah berkata yang artinya, "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad saw yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah dia membaca firman Allah Ta'ala:,

قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُواْ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahami(nya)". (QS Al-An'aam [6]:151)

وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُواْ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللّهِ أَوْفُواْ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya, dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat".(QS Al-An'aam [6]:152)

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Dan (bahwa yang Ku perintahkan ini), Sungguh inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS Al-An'am [6]: 151-153)
"Aku pernah diboncengkan Nabi saw di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, "Hai Mu'adz! tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau pun bersabda, "Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.' Aku bertanya, 'Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?' Beliau menjawab, 'Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri." [HR Bukhari dan Muslim | Atsar ini diriwayatkan Tirmizi, Ibnu al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim]. 
Sesungguhnya tauhid itu adalah pangkal ibadah. Praktik tauhid adalah PRAKTIK SYAHADAT secara nyata. Inilah praktek beragama yang paling susah dan sulit karena di dalamnya terdapat hambatan-hambatan serta rintangan-rintangan dan godaan-godaan yang besar yang akan menjumpai setiap orang yang menempuhnya. 

Hanya atas pertolongan, taufik, dan hidayah Allah sajalah setiap hamba dapat menempuhnya dengan benar dan selamat. 

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pertolongan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Aamin.

Subhanakallahumma wa bihamdika - Allahummaghfirlii.

Sumber: Terjemahan kitab Alladzi Huwa Haqqullah 'Alal 'Abid, Penerbit Darul Haq Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tuesday, July 12, 2011

Dapatkah hal-hal ghaib diketahui?




Di antara sifat seorang mukmin dan salah satu karakter orang yang bertaqwa adalah dia beriman, berkeyakinan tentang adanya hal-hal ghaib yaitu membenarkan segala sesuatu yang telah dikhabarkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya dari hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan tidak bisa dicapai oleh akal manusia, akan tetapi hanya diketahui berdasarkan wahyu yang diterima oleh para nabi dan rasul.

Allah subhanahu wata’ala berfirman;

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
"Alif laam miim. Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. al-Baqarah [2]: 1-3). 

Ahlus Sunnah wal Jama'ah juga berkeyakinan bahwa pengetahuan terhadap yang ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah subhanahu wata’ala dan sifat-Nya yang paling khusus, yang tidak satu makhluk-pun dapat menyamai-Nya, sebagaimana firman-Nya;

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelei daun-pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Makhfudz)" (QS. al-An'am [6]: 59)
Maka siapa yang berkeyakinan bahwa dirinya atau orang lain boleh menguasai atau mengetahui perkara ghaib berarti ia telah kufur, karena hal ini tidak pernah diberitakan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada siapa pun; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga kepada para rasul yang diutus.
Allah subhanahu wata’ala berfirman;

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
"Katakanlah! (Hai Muhammad) Tiada seorang pun baik di langit maupun di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka dibangkitkan" (QS.An-Naml [27]: 65)

Dan firman-Nya;


قُل لاَّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوحَى إِلَيَّ
"Katakanlah! (Hai Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan (rahasia) Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib, dan tidaklah aku mengatakan kepada kalian bahwa aku ini malaikat, aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku" (QS.Al-An'am [6]:50)
Ada pun perkara-perkara yang ghaib yang dikhabarkan oleh para nabi dan rasul, sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menghabarkan kepada ummatnya tentang tanda-tanda hari Kiamat; Tentang adanya surga dan neraka; Tentang adanya azab kubur dan nikmat kubur, serta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang leher jin Ifrit ketika beliau diganggu oleh Jin tersebut di dalam shalatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dan hal-hal ghaib lainnya, maka yang demikian, tiada lain sebagai salah satu tanda kenabian dan keistimewaan bagi beliau, dan merupakan wahyu Ilahi, sebab beliau tidak bertutur kata melainkan berdasarkan wahyu Allah subhanahu wata’ala.
Allah subhanahu wata’ala berfirman;

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً
إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً
"(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang hal ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya". (QS. Al-Jinn [72]: 26-27) 
Namun sangat disayangkan di antara kaum Muslimin masih banyak yang percaya kepada cerita-cerita khurafat, mistik, dan cerita-cerita syirik jahiliyah. Misalnya keyakinan bahwa ada di antara manusia yang dapat mengetahui perkara yang ghaib, bisa mengetahui nasib seseorang, mengetahui peristiwa yang akan datang, bisa melakukan penerawangan dan bahkan mengaku bisa melihat makhluk-makhluk ghaib seperti Jin. Fenomena demikian sering kita dapati di sekitar kita, apalagi dengan adanya sekian banyak bentuk tayangan media, baik cetak ataupun elektronik yang menggambarkan demikian, dan hal itu justru memperparah dan seolah-olah telah melegitimasi bahwa yang demikian adalah benar, padahal justru sebaliknya. Keyakinan-keyakinan yang ada merupakan keyakinan yang menyimpang yang sangat membahaya kan aqidah seorang Muslim.
Pada dasarnya yang mereka lakukan itu hanyalah tipu daya jin dan propaganda syaithan untuk menggiring kaum Muslimin agar jauh dari tuntunan al-Qur'an dan as-Sunnah, kemudian terjerumus ke lembah kesyirikan dan terkubur ke dalam lumpur kekufuran. Karena hal ini merupakan perbuatan menyekutukan Allah subhanahu wata’ala dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi kekhususan Allah subhanahu wata’ala, yaitu mengetahui hal-hal yang ghaib.

Allah subhanahu wata’ala berfirman;


إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS. Al-A'raf [7]:27) 

Dengan demikian klaim seseorang yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat, sehingga mereka menjalani aktivitas hidupnya berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh sang pendusta tukang ramal dan sebangsanya, padahal dia pada dasarnya tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kepada siapa pun.
Allah subhanahu wata’ala berfirman;

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ
"Katakanlah! (Hai Muhammad), “Aku tidak berkuasa mendatangkan manfa'at bagi diriku dan tidak (pula kuasa) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan." (QS.Al-'Araf [7]:188) 
Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak mengetahui hal-hal yang ghaib selain yang diwahyukan kepadanya, bahkan dengan terus terang beliau menafikan yang demikian itu atas dirinya, maka bagaimana dengan orang-orang selain beliau? Tentu mereka pasti lebih tidak tahu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih berhak daripada mereka.
Berkaitan dengan permasalahan ini Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan peringatan dan ancaman dalam banyak hadits beliau.

Allah subhanahu wata’ala berfirman;

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
"Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan". Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim". (QS. Al-An'am [6]:144)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan mujur berdasarkan tanda-tanda benda, burung(dan lain-lainnya), yang bertanya dan yang menyampaikannya atau yang bertanya kepada dukun dan yang mendukuninya, atau yang menyihir dan meminta sihir untuknya, dan siapa yang mendatangi kâhin (dukun dan sejenisnya) lalu membenar kan apa yang diucapkannya maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (murtad dari Islam)" (HR. Al-Bazzâr dengan sanad yang bagus).
Di dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa mendatangi 'arraaf (tukang tenung/peramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR. Muslim).
Dalam redaksi yang lain beliau bersabda,
"Siapa yang mendatangi 'arraaf (peramal) atau kahin (dukun) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (HR. Sunan Empat, dan dishahihkan oleh al-Hakim).
Dari hadits-hadits yang mulia ini, menunjukkan larangan mendatangi kahin (dukun), 'arraaf (peramal) atau sebangsanya dalam bentuk apa pun; Larangan bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang ghaib; Larangan mempercayai dan membenarkan apa yang mereka katakan, serta ancaman bagi mereka yang melakukannya. Ini semua karena mengandung bahaya dan kemungkaran yang sangat besar, dan berakibat negatif yang sangat besar pula, disebabkan mereka telah melakukan kedustaan dan dosa.
Oleh karena itu seorang muslim tidak dibenarkan mendatangi mereka dan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan jodoh, pernikahan anak atau saudaranya, atau yang menyangkut hubungan suami istri dan keluarga, tentang kecintaan dan kesetiaan, dan lain sebagainya. Karena ini berhubungan dengan hal-hal ghaib yang tidak diketahui hakikatnya oleh siapa pun kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala.
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kaum Muslimin terpelihara dari tipu daya setan jin dan manusia, dan semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap mereka, sehingga terjaga dari kejahatan mereka dan segala praktek keji yang mereka lakukan. 

Wallahu a’lam bish shawab.


[Rujukan: Risalah fi Hukmi as-Sihr wa al-Kahanah, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Kitabut Tauhid II, Tim Ahli Tauhid, Kitabut Tauhid, Muhammad at-Tamimi, Majalah as-Sunnah, 10/VI/1423H-2002M. (Abu Farwah)]


Monday, January 31, 2011

Sebagian Janji Allah kepada kita




Salahsatu rahasia yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Mengenai hal ini, Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan-mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar[39]: 10).

Bagaimanapun, kita perlu mengetahui apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan “kebaikan” itu. Setiap kaum memiliki pendapatnya masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar dalam berbagai bentuk perilaku dlsb. Itulah yang umumnya disebut sebagai “kebaikan” oleh kebanyakan orang. Namun Allah memberitahu kita tentang hakikat sebenarnya dari “kebaikan” itu seperti Firman-Nya:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah beriman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada ke-rabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati jan¬jinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah[2]: 177).

Sebagaimana diingatkan dalam ayat di atas, kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw., juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan sebagaimana sabda beliau:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kalian berada. Bersegeralah berbuat kebaikan setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembutlah dalam bergaul dengan manusia.”
Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan memberi pahala kepada mereka dengan kebaikan:

فَآتَاهُمُ اللّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الآخِرَةِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. Ali ‘Imran[3]: 148).

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْاْ مَاذَا أَنزَلَ رَبُّكُمْ قَالُواْ خَيْراً لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
“..... Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.S. An-Nahl[16]: 30).

Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam Al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keridhaan Allah.

Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, di dunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas seluruh harta benda Mesir, adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Allah memberitahu kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat:

وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَ
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Q.S. Adh-Dhuha[98]: 8).

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl[16]: 97).

Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak ter-hadap harta dunia, kedudukan, atau kekuasaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan berjuang untuk agama.

Di samping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilangan harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pekerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mereka, dan di sana mereka puas dengan yang sedikit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mereka dalam mengingat akhirat menyebabkan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberikan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.

Janji Allah
Allah berjanji akan melipatgandakan perbuatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُو
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.S Al-An‘am[6]: 160).

إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْراً عَظِيماً
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisa’[4]: 40).

Tanda yang paling jelas bahwa Allah melipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhirat. Kehidupan di dunia sangatlah singkat waktunya, yang lebih kurang berlangsung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memperoleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلاَ يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلاَ ذِلَّةٌ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُون
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Yunus[10]: 26).

Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini. Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagaimana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun, sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “tak terbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Mereka yang ketika di dunia taat kepada Allah, di akhirat nanti akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya. Mereka akan memperoleh apa saja yang mereka inginkan, yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah.

Sunday, August 1, 2010

003. Intisari ajaran Islam: Rukun Iman



RUKUN IMAN

Rasulullah saw bersabda ketika bertanya kepada Malaikat Jibril: "Beritahukan kepadaku tentang iman! 

Dia (Malaikat Jibril) berkata: "Agar kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar-Nya baik dan buruk." (HR Bukhari dan Muslim).

Rukun-rukun Iman ada enam: 
  1. beriman kepada Allah SWT, 
  2. Malaikat-malaikat-Nya, 
  3. Kitab-kitab-Nya, 
  4. para Rasul-Nya dan 
  5. beriman kepada Hari Akhir serta 
  6. Taqdir yang baik dan yang buruk dari Allah SWT. 

Beriman kepada Allah Beriman kepada Allah artinya membenarkan dengan sepenuh hati terhadap adanya Zat Allah SWT yang tidak ada yang mendahului sebelumnya dan tidak ada yang mengakhiri setelah-Nya. Dia-lah yang pertama dan Dia-lah yang terakhir. Dia-lah yang nyata dan tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya. Dia-lah yang batin dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya, yang Maha Hidup dan dia-lah satu-satunya tempat bergantung. 

Tersebut dalam firman-Nya yang artinya:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْوَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ
"Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS Al-Ikhlas [112]: 3-4).

Dan ke-Esa-an dalam Ilahiyah-Nya, 
  • Rubbubiyah, 
  • asma' dan 
  • sifat-Nya. 
Ke-Esa-an dalam Ilahiyah atau Tauhid Ilahiyah yaitu menge-ESA-kan Allah dari segala macam ibadah, baik yang nyata maupun yang batin, baik perkataan maupun perbuatan. Dan meniadakan ibadah pada selain Allah. 

Ke-Esa-an Rubbubiyah atau Tauhid Rubbubiyah yaitu pengakuan yang kuat bahwa Allah SWT adalah Tuhan atas segala sesuatu, Rajanya, Penciptanya, Pemeliharanya, Pengaturnya tiada satu pun yang berserikat dengannya dalam kekuasaan-Nya, tidak mempunyai wali yang lebih rendah darinya, tidak ada yang menolak perintah-Nya, memberi iqab kepada-Nya dan tidak ada yang menyamai-Nya. Tidak ada seorang pun yang menentang hakikat Rubbubiyah Allah dan tuntutan-tuntutan asma' (nama) dan sifat-sifat-Nya. 

Ke-Esa-an Asma' dan Sifat-Nya atau Tauhid Asma wa Sifat yaitu mengimani apa-apa yang disifatkan allah terhadap diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya dan apa-apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya dari asma'ul husna dan sifat al-'ulya. 

Misalnya Allah mempunyai sifat berjalan, akan tetapi tidak boleh ditanyakan bagaimana Allah berjalan sebagaimana Allah telah mengumpulkan antara menetapkan sifat-Nya dan meniadakan sebagaimana yang tersebut dalam kitab-Nya:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْماً 
ya'lamu maa bayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bihi 'ilmaan

"Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS Thaha [20]:110)

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
laysa kamitslihi syay-un wahuwa alssamii'u albashiiru

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Asy-Syura[42]: 11) Dan lain-lain.

Beriman kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat yaitu memantapkan keyakinan bahwa mereka ada wujudnya dan bahwa mereka adalah makhluk Allah yang terjaga dan terpelihara.

بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَلَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
"Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya." (Al-Anbiya': 26-27)

Jumlah malaikat itu banyak sekali. 
  • Malaikat yang bertugas menyampaikan wahyu kepada utusan Allah adalah Rahul Quds Malaikat Jibril as. 
  • Malaikat yang bertugas mengatur turunnya hujan adalah Mikail, 
  • malaikat yang bertugas meniup terompet adalah Israfil, 
  • malaikat pencabut nyawa yaitu Izrail, 
  • malaikat pencatat amal perbuatan manusia yaitu Rokib dan atid, 
  • malaikat penjaga hamba di kiri kanan dan belakang depan yaitu al-Muakibat, 
  • malaikat penjaga jannah yaitu Ridwan, 
  • malaikat penjaga neraka yaitu Malik, 
  • malaikat penjaga kubur yaitu Munkar dan Nakir, 
  • malaikat yang bertugas menetapkan ketentuan Allah pada janin dalam kandungan, 
  • para malaikat yang masuk di Baitul Makmur sebanyak 70 ribu dan tidak kembali lagi, 
  • para malaikat yang selalu mengikuti di majelis-majelis dzikir. 
  • Mereka ada yang berbaris dan berdiri, ada yang ruku dan sujud terus menerus dan masih banyak lagi. 
Beriman kepada Kitab-kitab-Nya
Beriman kepada kitab-kitab Allah yaitu membenarkan dengan sebenar-benarnya bahwa semuanya yang diturunkan dari sisi Allah SWT dan sesungguhnya Allah berbicara dengannya secara nyata, dan ada juga yang mendengar di balik hijab tanpa menggunakan perantara dari malaikat. Ada yang disampaikan kepada malaikat lalu diwahyukan kepada Rasul.

Kitab-kitab itu ada yang ditulis Allah dengan tangan-Nya sendiri semua terealisasi dalam firman-Nya, yang artinya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْياً أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ
رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantara wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus dengan seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya Allah apa yang Dia kehendaki." (QS Asy-Syuura [42]:51)

وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلاً لِّكُلِّ شَيْءٍ
"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (batu tulis/Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu." (QS Al-A'raf [7]: 145).

Firman Allah tentang nabi Isa as:

رَاةِ وَآتَيْنَاهُ الإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى
"Dan Kami berikan kepadanya Injil."  (QS Al-Maidah [5]: 46)

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً
"Dan Kami telah berikan kepada Dawud kitab Zabur." (QS An-Nisa' [4]:163)

Firman Allah tentang nabi Muhammad saw:

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
"Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (QS Al-Isra' [17]: 106).

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَنَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُعَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb Semesta Allah, ia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringataan dengan bahasa Arab yang jelas." (QS Asy-Syu'ara [26]: 192-195).

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءهُمْ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌلَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن
بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka) dan sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadamu (Al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun belakangnya yang diturunkannya dari tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." (QS Fushilat[41]: 41-42).

Dan lain-lain.

Apa hak Al-Qur'an yang wajib dilaksanakan oleh pemeluknya?
Yaitu mengikutinya baik secara zhahir maupun bathin, berpegang kepadanya dan mengamalkan semua hak-haknya. Firman Allah SWT:

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً 
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya." (QS Al-A'raf [7]: 3).

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan dan diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS Al-An'am [:] 155) (Bersambung).


Halaman 3 dari 4
Sebelumnya                                  Halaman Utama                                   Selanjutnya

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers