Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Thursday, February 2, 2023

Makna dan 41 Fadhilah Shalawat

Apa arti dan pengertian shalawat nabi? Apa saja keutamaan dan manfaat shalawat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Tulisan ringkas berikut ini akan menjelaskannya kepada para pembaca yang budiman. Diambil dari penjelasan Ustadz Qamaruddin SF dalam pembukaan buku Karunia Bershalawat, yakni terjemahan kitab Afdhal ash-Shalawaat ‘ala Sayyid as-Saadaat karya Syekh Yusuf ibn Ismail an-Nabhani.

Makna Shalawat
Dalam bahasa Arab, sholah (jamak: sholawaat) bermakna menyebut yang baik, ucapan yang mengandung kebajikan, doa dan curahan rahmat.

Menurut Ibnu Abbas ra, yusholluun (bersholawat) artinya yubarrikun (memberi keberkahan). Beliau menjelaskan arti kata tersebut seperti yang dipergunakan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 56, di mana Allah dan para malaikatnya bershalawat (yusholluuna) kepada nabi Muhammad SAW.

Para ahli tafsir kebanyakan menjelaskan makna shalawat di dalam surat Al-Ahzab ayat 56 tersebut sebagai berikut:

  1. Shalawat Allah SWT kepada nabi berarti limpahan rahmat, keberkahan dan anugerah Allah SWT.
  2. Shalawat malaikat bermakna permohonan agar derajat nabi Muhammad SAW ditinggikan serta maghfirah (ampunan) dilimpahkan kepada beliau.
  3. Shalawat orang-orang beriman adalah permohonan agar Allah SWT memberikan rahmat dan kesejahteraan kepada nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau.
Perbedaan Rahmat dan Shalawat
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 157, Allah SWT menyebut shalawat dan rahmat secara terpisah. Apakah ada perbedaan makna antara keduanya?

Menurut Imam Hakim At-Tirmidzi di dalam kitab Ilm-Al-Awliya’, rahmat bisa berupa suatu karunia tertentu dari Allah SWT kepada hambanya. Jika hamba tersebut berdosa, maka Allah SWT bisa mencabutnya dari hamba tersebut.

Sedangkan jika Allah SWT memberikan shalawat kepada seorang hamba, maka hamba tersebut berhak atasnya dalam setiap gerak dan keadaan sejak ia mendapatkannya hingga tiba di pintu surga. Jadi, shalawat bermakna lebih besar dan lebih agung daripada rahmat.

Fungsi Shalawat kepada Nabi
Imam Fakhrurrazi menjelaskan sebagai berikut,

“Shalawat atas nabi SAW itu bukan karena beliau membutuhkannya, bahkan shalawat para malaikat pun tidak beliau butuhkan setelah Allah SWT bershalawat kepadanya. Namun semua itu demi menunjukkan kebesaran dan keagungan Nabi SAW, sebagaimana Allah SWT mewajibkan kita berzikir menyebut nama-Nya, padahal pasti Allah SWT tidak membutuhkan semua itu.“

Imam Al-Hafizh As-Sakhawi menjelaskan bahwa shalawat Allah dan para malaikat-Nya kepada nabi SAW di dalam surat Al-Ahzab ayat 56 menggunakan sighat mudarri’ (bentuk kini dan akan datang yang bermakna berkesinambungan dan terus menerus), yakni menggunakan kata “yusholluna“. Sehingga Allah SWT dan para malaikat-nya selalu dan selamanya bershalawat kepada nabi Muhammad SAW.

Masya Allah!

Balasan atas Shalawat Nabi
Di dalam sebuah hadis rasulullah SAW bersabda,

“Siapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, mengangkatnya sepuluh derajat, menulis sepuluh kebaikan untuknya dan menghapus sepuluh kejelekan darinya.” [HR An-Nasa’i]

Abdullah bin Mas’ud ra mengatakan bahwa rasulullah SAW juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di muka bumi untuk menyampaikan padaku nama orang dari umatku yang mengirim salam untukku.” [HR Ahmad, An-Nasa’i, Al-Darimi dan Al-Hakim]

Ibnu Athaillah pernah menjelaskan,
“Seandainya sepanjang hidup engkau melakukan amal ketaatan, lalu Allah memberimu satu shalawat saja, tentu shalawat itu lebih berat daripada semua amal ketaatanmu selama hidup. Sebab, engkau bershalawat dengan kapasitas/kemampuanmu, sementara Allah bershalawat sesuai dengan sifat ketuhanan-Nya. Ini baru satu shalawat. Lalu bagaimana jika Allah bershalawat untukmu sepuluh kali atas setiap satu shalawatmu atas rasul?“

Allahu Akbar!

Keutamaan Shalawat kepada Nabi SAW
Menurut Ahmad ibn ‘Ujaibah di dalam kitab Haqaaiq al-Anwar, sedikitnya ada 41 keutamaan shalawat, yaitu:

  1. Mentaati perintah Allah untuk bershalawat
  2. Meneladani Allah dalam bershalawat
  3. Meneladani malaikat dalam bershalawat
  4. Memperoleh sepuluh shalawat dari Allah untuk satu kali shalawat kepada nabi SAW
  5. Meninggikan sepuluh derajat
  6. Mendapatkan sepuluh kebaikan
  7. Menghapus sepuluh keburukan
  8. Memudahkan terkabulnya doa
  9. Menjadi jaminan syafaat nabi
  10. Menjadi faktor diampunkannya dosa dan ditutupinya aib
  11. Menjadi sebab tercukupinya kepentingan hamba
  12. Menjadi perekat kedekatan dengan nabi
  13. Mengantarkan kepada maqam kejujuran
  14. Membantu pemenuhan kebutuhan
  15. Menjadi sebab curahan rahmat Allah dan permohonan doa para malaikat.
  16. Menyucikan pembelanya
  17. Pemberi kabar gembira tentang surga sebelum meninggal dunia
  18. Menyelamatkan dari masa-masa berat di akhirat
  19. Mendapatkan balasan shalawat dan salam dari nabi SAW
  20. Memperkuat ingatan atau membuat ingat apa yang dilupakan dari pembacanya
  21. Mewangikan majelis atau memperindah pertemuan dan menghindarkan kita dari menyesal karena merugi di hari kiamat
  22. Menghilangkan kefakiran
  23. Menghilangkan sifat kikir
  24. Menimbulkan kecintaan orang dan mengantarkan kepada perjumpaan dengan rasul dalam mimpi
  25. Menjadi teman perjalanan menuju surga
  26. Menyelamatkan dari derita kekurangan dari sepinya shalawat dalam suatu majelis
  27. Penyempurna pembicaraan setelah pujian kepada Allah SWT
  28. Menjadi penyebab suksesnya hamba meniti shirath
  29. Membebaskan hamba dari mengentengkan shalawat nabi SAW
  30. Menjadi sebab turunnya pujian yang baik dari Allah di antara langit dan bumi
  31. Meraih kasih sayang Allah
  32. Menjadi sumber keberkahan hidup
  33. Mengukuhkan keimanan melalui kian dekatnya dengan nabi
  34. Meraih cinta rasulullah SAW dan menjadi kekasihnya
  35. Menjadi sumber hidayah dan hidupnya hati
  36. Memperbaiki perangai pembacanya
  37. Memperkokoh pijakan hidup dan memperkuat sikap optimis
  38. Menunaikan shalawat sebagai hak nabi dan mensyukuri kehadirannya sebagai nikmat terbesar bagi kita
  39. Mengandung zikir kepada Allah, mensyukuri dan mengenal nikmat-Nya
  40. Shalawat nabi sebagai doa dari kita dan dan diperintah Allah. Jadi bershalawat meningkatkan kualitas penghambaan kita
  41. Terbentuknya pribadi luhur nabi dalam diri. Inilah keuntungan terbesar dan termulia
Semoga Allah SWT berkenan menjadikan kita semua orang-orang yang senantiasa bershalawat kepada nabi SAW, baik sedikit maupun banyak.
Amin.
Sumber: Syekh Yusuf ibn Ismail an-Nabhani. Karunia Bershalawat. Penerbit Zaman & Qamaruddin SF. Jakarta, 2011.

Saturday, January 28, 2023

Dajjal, pembawa mala petaka menjelang kiamat




Dajjal merupakan sosok menyeramkan yang akan datang ke Bumi menjelang hari kiamat terjadi. Siapa sebenarnya sosok Dajjal ini? Dan bagaimana asal usul Dajjal?

Mengutip buku Fitnah Dajjal dan Ya'juj & Ma'juj: Mengungkap Misteri Kemunculan Dajjal dan Ya'juj Ma'juj oleh Lilik Agus Saputro, para salafus shalih berpendapat bahwa Dajjal adalah seorang anak Adam. Ia bukanlah seseorang dari golongan jin atau setan. Beberapa ulama kontemporer pun meyakini bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang mengalami mati.

Selain itu, keluarga Dajjal termasuk ayah, ibu, kakek, dan nenek moyangnya merupakan penyembah berhala. Mereka adalah keturunan Yahudza yang sudah menikah selama 30 tahun namun tidak juga dikaruniai seorang anak.

Mengutip buku Armageddon Peperangan Akhir Zaman Menurut Al-Quran, Hadits, Taurat, dan Injil oleh Wisnu Sasongko, disebutkan bahwa sebelum adanya dukhan di medan al Malhamah, Dajjal adalah seorang manusia normal. Ia merupakan seseorang yang kharismatik sehingga orang-orang kafir dan munafik banyak yang terpesona kepadanya.

Penampakkan Dajjal tidak langsung seperti penampilannya nanti menjelang kiamat. Jika sejak lahir Dajjal sudah bermata satu dan pada dahinya tertulis kafir, maka tidak ada manusia yang mau dipimpin orang seperti itu.

Sebutan "Dajjal" merupakan gelar saja sedangkan nama aslinya tidak demikian. Mengutip buku Fitnah dan Petaka Akhir Zaman oleh Abu Fatiah al Adnani, bahwasannya penisbatan nama Dajjal ini digunakan oleh Rasulullah SAW. Beliau menggunakan sebutan tersebut untuk para pendusta agama.

Dijelaskan juga dalam buku Raja Namrud: Diktator Pertama di Muka Bumi karya Manshur Abdul Hakim bahwa Dajjal sudah hidup di zaman awal dan kuno sejarah manusia. Dajjal sudah ada sejak lama dan termasuk ke dalam hak-hak yang dinantikan dan tentangnya sudah diperingatkan oleh Rasulullah SAW jauh-jauh hari.

Rasulullah SAW bersabda:

"Aku peringatkan kalian tentangnya. Tidak ada seorang Nabi melainkan dia memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nabi Nuh benar-benar telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjal." [HR. Bukhari dan Muslim]

Setelah ada dukhan yang menyerang umat manusia, maka saat itulah Dajjal muncul menyebarkan fitnah dan mengumpulkan pengikutnya.

Ciri-Ciri Dajjal
Nawwas bin Sam'an telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memaparkan ciri-ciri Dajjal kepada para sahabat-sahabatnya. Beliau bersabda:

"Dajjal adalah seorang pemuda yang berambut keriting, matanya buta satu (picak, kehilangan satu). Menurut saya, dia seperti Uzza bin Qathu. Barangsiapa dari kamu yang melihatnya, maka bacakanlah untuknya pembuka surah al Kahfi. Dia keluar dari celah (kota) antara Syam dan Irak. Kemudian dia membuat kebinasaan di sebelah kanan dan sebelah kiri (di setiap tempat). Wahai hamba Allah, tetapkanlah (kuatkanlah dirimu)." [HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah]

Kemampuan Dajjal Menjelang Hari Kiamat
Dalam buku Fitnah Dajjal & Ya'juj dan Ma'juj : Mengungkap Misteri Kemunculan Dajjal dan Ya'juj Ma'juj oleh Lilik Agus Saputro disebutkan bahwa kemampuan Dajjal menjelang hari kiamat sangatlah dahsyat. Ia dapat mendatangkan air saat api menyebar di mana-mana, mendatangkan api di saat kondisi kedinginan, menghidupkan orang yang sudah meninggal, dan lainnya.

Namun semua itu hanyalah fitnah semata yang ditunjukkan pada para pengikutnya. Hal tersebut sesuai dengan namanya yang memiliki kata dasar yang termasuk bentuk mubalaghah atau melebihkan yang maknanya yakni banyaknya kebohongan yang ada pada dirinya.

Disebutkan juga bahwa pada suatu hari pada musim kemarau panjang, Dajjal akan bertanya kepada manusia di sekitarnya, "Apa kamu menginginkan api atau air?" Jika menjawab air, berarti Dajjal akan memberikan api, dan jika menjawab api maka Dajjal akan memberikan air.

Sedangkan jika ada yang tetap memilih api dan ia berpegang teguh di jalan Allah SWT, maka seseorang itu akan dibunuh Dajjal. Seperti itulah gambaran kekejaman dari sosok Dajjal yang akan datang menjelang kiamat nanti. [C.Yulianti/DH]

Saturday, November 20, 2021

Makna ‘Rahmat’ dalam Rahmatan lil ‘Alamin

Sedari awal Islam mengajarkan kepada pemeluknya perihal pentingnya menjalin hubungan yang ramah dalam bingkai toleransi antarumat beragama. Hal ini tidak lain selain sebagai bukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw merupakan ajaran rahmat bagi alam semesta.

Untuk menumbuhkan nilai-nilai toleransi, yang harus dipahami pertama kali adalah kesadaran bahwa perbedaan dalam agama merupakan hal niscaya yang memang tidak bisa dihindari, bahkan Al-Qur’an juga mengafirmasi perihal kebebasan tersebut.

Allah swt berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS Al-Kafirun [109]: 6).

Ayat ini menjadi bukti bahwa fakta adanya agama lain tidak bisa dibantah. Memang, umat Islam mesti meyakini bahwa hanya ajaran agamanya yang paling benar. Namun, dalam konteks relasi bermasyarakat, klaim itu tidak boleh sampai mengganggu, apalagi menegasikan, penganut agama-agama lain untuk hidup dengan aman.

Selain itu, ayat ini juga menjadi sebuah pesan tentang kebebasan beragama, bahwa Islam tidak mengajarkan pemaksaan. Keragaman agama adalah sebuah fakta yang niscaya, dan Islam mendorong umatnya untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat-umat lainnya, tanpa saling menjelekkan. Rasulullah juga menerapkan nilai-nilai toleransi ini, dan jejak yang paling kentara adalah saat dirumuskannya Piagam Madinah.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa sikap toleransi antarumat beragama seharusnya menjadi kesadaran bagi semua umat manusia. Sebab, dengan toleransi, kerukunan bisa terjalin, kedamaian bisa tercipta di mana-mana, hingga bisa meminimalisasi perilaku kontraproduktif terhadap kerukunan antaragama. Selain itu, persatuan antarmanusia juga akan tercipta tanpa memandang latar belakang agama mereka masing-masing [Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsir Munir fil Aqidah wasy Syariah wal Manhaj, (Damaskus, Bairut, Darul Fikr, cetakan kedua: 2000), juz I, h. 298].

Selain penafsiran di atas, ada ayat lain yang justru menjadi dalil paling pokok perihal spirit diutusnya Rasulullah saw, yaitu:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Pada ayat di atas, Allah hendak menegaskan kembali bahwa di antara tujuan diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk menanamkan kasih sayang kepada semua umat manusia, bahkan kepada seluruh alam, tanpa memandang latar belakangnya. Selain itu, yang dimaksud rahmat pada ayat di atas adalah tidak menjadikan ilmu pengetahuan tentang agama Islam sebagai media propaganda dan pemecah belah umat. Sebab, persatuan merupakan salah satu sendi-sendi Islam dan kekuatan paling solid sebagai agama yang menjunjung nilai-nilai persatuan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Jabir bin Musa bin Abu Bakar al-Jazairi dalam kitab tafsirnya, bahwa tidak sepatutnya ilmu pengetahuan dijadikan sebuah legitimasi propaganda dan perpecahan,

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْعِلْمُ وَالْمَعْرِفَةُ بِشَرَائِعِ اللهِ سَبَبًا فِيْ الفُرْقَةِ وَالْخِلَافِ
“Maka tidak sepatutnya, ilmu dan pengetahuan perihal syariat-syariat Allah, dijadikan sebagai media propaganda dan perpecahan.” [Al-Jazairi, Aisarut Tafasir li Kalamil Kabir, (Maktabah Ulum wal Hikmah, cetekan empat: 2003), juz 1, halaman 357].

Untuk menciptakan persatuan antar umat beragama, tidak ada cara paling tepat selain berlaku toleran, ramah, dan penuh kasih sayang kepada mereka. Oleh karenanya, toleransi menempati posisi sangat penting dalam ajaran Islam itu sendiri. Syekh Sulaiman al-Jamal dalam salah satu kitabnya juga memberikan penjelasan perihal kata rahmat pada frase rahmatan lil 'alamin dalam ayat di atas. Beliau mengatakan,

اَلْمُرَادُ بِالرَّحْمَةِ الرَحِيْمُ. وَهُوَ كاَنَ رَحِيْمًا بِالْكَافِرِيْنَ. أَلَا تَرَى أَنَّهُمْ لَمَّا شَجُّوْهُ وَكَسَرُوْا رَبَاعِيَتَهُ حَتَّى خَرَّ مُغْشِيًّا عَلَيْهِ. قَالَ بَعْدَ اِفَاقَتِهِ اللهم اهْدِ قَوْمِى فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Yang dimaksud dengan rahmat adalah ar-rahim (bersifat penyayang). Nabi Muhammad saw adalah orang yang bersifat penyayang kepada orang kafir. Tidakkah Anda lihat, ketika orang kafir melukai Nabi dan mematahkan beberapa giginya, hingga ia terjatuh dan pingsan, kemudian ketika sadar ia berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah! Berilah hidayah untuk kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui’,” [Sulaiman al-Jamal, al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqaiqil Khafiah, (Lebanon, Bairut, Darul Kutub Ilmiah) juz V, h. 176].

Pada keadaan yang sangat genting, bahkan nyawa hampir terancam, justru Rasulullah menampakkan kasih sayangnya yang sangat tinggi. Beliau tetap ramah kepada mereka yang bukan hanya menolak risalah beliau, melainkan juga hendak membunuh Nabi. Jika dalam keadaan seperti itu saja Rasulullah bersikap toleran kepada pemeluk agama lain, maka sudah menjadi kewajiban dalam keadaan damai, seperti di Indonesia, toleransi menjadi sikap yang harus dipedomani semua umat beragama. Oleh karenanya, dalam konteks masyarakat yang majemuk, setiap pemeluk agama harus menyadari bahwa perbedaan agama adalah realitas kehidupan dan suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Dengan menyadari hal tersebut, kita semua berinteraksi dengan baik kepada siapa saja selama itu mendorong terwujudnya kehidupan yang adil dan damai. 



[Sumber: Sunnatullah | NU Syariah]


Saturday, November 21, 2020

Imam Al Ghazali, 5 Langkah menjadi Awam yang baik sekaligus Sufi yang baik


Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan pendek yang menjadi pokok-pokok dalam tasawuf. Ia menyebutkan Hablu min Allah dan Hablu min An-Nas sebagai ajaran pokok dalam tasawuf.

Dua pilar utama tasawuf ini disebutkan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad untuk mengenalkan dunia tasawuf dan sufi kepada anak-anak. Dua ajaran pokok dalam tasawuf ini disampaikan dengan bahasa singkat dan sederhana agar mudah dimengerti kalangan anak-anak.

Meski demikian, bobot penjelasan singkat ini cukup bermanfaat juga bagi orang dewasa. Pasalnya penjelasan singkat dan sederhana ini tidak mengurangi substansi tasawuf. Penjelasan sederhana itu berbunyi sebagai berikut:

ثم اعلم أن التصوف له خصلتان الاستقامة مع الله تعالى والسكون عن الخلق٬ فمن استقام مع الله عز وجل وأحسن خلقه بالناس وعاملهم بالحلم فهو صوفي
“Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,” [Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad (Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: 2005), halaman 15].

Bagi Imam Al-Ghazali, upaya menemukan inti dari tasawuf tidak sulit. Pasalnya, ia memahami benar apa yang dia bicarakan berpanjang-panjang selama ini dalam semua karyanya, terutama Ihya Ulumiddin.

Istiqamah bersama Allah baik secara lahir dan batin menuntut kebulatan hati dan kesatuan perbuatan yang sesuai garis agama Islam. Sedangkan interaksi secara baik dengan empati terhadap makhluk-Nya merupakan sisi lain tasawuf yang sulit dipisahkan dari yang pertama, yaitu istiqamah.

Tasawuf bukan semata persoalan lahiriah yaitu soal jubah, serban, biji tasbih, rida hijau yang diselempangkan di bahu, berjenggot, bertongkat, menunjukkan lafal tauhid, memotong celana hingga di atas mata kaki, mengubah ejaan menjadi lebih islami dalam media sosial, atau soal kekuatan ghaib akrobatik dengan pelbagai kecenderungan khariqul adat.

Tasawuf, bagi Imam Al-Ghazali, juga bukan fenomena hijrah lalu dipahami secara sempit sebagai tindakan meninggalkan aktivitas yang dianggap tidak islami atau uzlah menjauhi manusia dan pelbagai aktivitas yang dipersangkakan haram.

Imam Al-Ghazali menggariskan bahwa orang yang menjaga perilakunya untuk senantiasa taat kepada Allah lahir dan batin, serta bermasyarakat dengan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar secarta lahir batin adalah seorang Sufi.

Dengan pengertian sederhana ini, setiap orang dapat menjadi atau menyandang status sufi tanpa harus mengubah penampilan dan meninggalkan aktivitas keseharian yang telah dijalani selama ini selagi tidak melanggar syariat.

Tentang kebaikan masyarakat, kebaikan umat Islam.
Dalam “Iljamul awam al-ilmi al-kalam” Imam Ghazali mengajak kita untuk membiasakan bercermin diri. Introspeksi diri sampai kita sadar betapa awamnya kita. Yang dimaksud awam adalah menyadari bahwa hal tersebut bukan bidangnya. Alias, seseorang mengakui tidak memahami tentang sesuatu. Bisa jadi seseorang ahli di teknik dan awam di bidang kesehatan, ahli pertanian namun awam di bidang pendidikan.

Pemikiran ini merupakan anti-tesis dari pemikiran barat yang selalu menuntut menjadi profesional. Namun Imam Ghazali mengajak untuk menjadi awam yang baik. Menjadi orang awam yang tidak sadar akan keawamannya akan memperkeruh permasalah di masyarakat.
Kini, banyak sekali orang, terutama di dunia maya, berbicara mengenai politik, ekonomi hingga tafsir Al-Qur’an seolah-olah dirinya seorang ahli dalam bidang tersebut. Ini yang sudah sejak sedari dahulu kala menjadi peringatan imam Ghazali lewat tulisan-tulisannya.
Imam al-Ghazali menjelaskan 5 langkah menjadi awam yang baik yaitu:

1. Taqdis (Menyucikan diri)
Seorang Muslim dalam agama pasrahkan segala sesuatu pada Allah saja.

2. Al-’iman wa tasdiq (beriman dan percaya)
Seorang Muslim percaya dan membenarkan, sebagaimana ketika kita sakit dan pergi ke dokter maka kita harus manut dengan anjuran dan resep dokter tanpa perlu berdebat dan mencari dalil jika ingin sembuh dari penyakitnya.

3. Al-i’tiraf bi al-Ajri (mengakui kelemahan)
Seorang Muslim sadari kelemahan diri bahwa ternyata saya tidak ahli dalam masalah ini, jujurlah terhadap diri bahwa bukan ahlinya dalam bidang tersebut.

4. Al-sukut ‘an su’al (tidak mempertanyakan)
Seorang Muslim jangan cerewet terhadap sesuatu yang tidak kamu ketahui, bertanya boleh namun secukupnya.

5. Al-imsak ‘an tsarruf fi al-alfad (menahan diri untuk ‘menggarap’ nash yang tidak dipahami).

Dari lima pokok pentingnya ini, kita dapat belajar bagaimana mengendalikan diri kita, sebelum mengkritik misal “pemimpin sekarang tidak ada yang tak baik,”.

Kita seharusnya dapat mengambil pelajaran di dalam shalat berjamaah. Betapa repot dan beratnya menjadi imam. Bila ada salah satu makmum yang tidak suka dengan imam satu, itu sudah menggugurkan hakikat shalat.

[Catatan dari Ngopi Bareng]

Monday, August 31, 2020

Eskatologi Islam

Eskatologi Islam

Eskatologi Islam adalah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan setelah mati dialam akhirat dan al-Qiyāmah "Pengadilan Terakhir". Eskatologi sangat berhubungan dengan salah satu aqidah Islam, yaitu meyakini adanya hari akhir, kematian, kebangkitan (Yawm al-Qiyāmah), mahsyar, pengadilan akhir, surga, neraka, dan keputusan seluruh nasib umat manusia dan lainnya.

Umat muslim meyakini bahwa kehancuran dunia terjadi di mana orang-orang beriman sudah tidak ada lagi dimuka bumi, yang tersisa hanya orang-orang jahat yang kembali dalam kondisi zaman jahiliyah. Kemudian terjadinya hari kiamat tersebut dikatakan akan terjadi pada hari Jum'at. Kiamat dikatakan tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi manusia yang menyebut nama Allah.

Seperti agama Abrahamik lainnya, Islam mengajarkan tentang kebangkitan para makhluk yang telah mati, sebagai salah satu rencana penyelesaian dari semua penciptaan Tuhan dan kekekalan dari roh-roh para makhluk. Bagi orang yang beriman akan dihadiahkan oleh Allah sebuah surga sementara bagi orang yang tidak beriman maka akan dihukum di masukan kedalam neraka.

Fase kehidupan manusia dan jin

Dalam fase kehidupan, manusia dan jin telah dan akan melewati beberapa alam kehidupan, kemudian di dalam alam terakhir-lah yang dianggap sebagai kehidupan alam yang abadi (kekal). Menurut syariat Islam, alam tersebut di antaranya adalah:
  • Alam ruh, alam di mana sebelum jasad manusia dan jin diciptakan.
  • Alam rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan di mana kita meninggal.
  • Alam dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.
  • Alam kubur, alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Allah menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur.
  • Alam akhirat, alam tempat pembalasan amal-amal seluruh makhluk-Nya, di alam ini Allah menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka.

Rahasia Allah

Tentang datangnya hari Kiamat, menurut syariat Islam maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, baik malaikat, nabi, maupun rasul, masalah ini adalah perkara yang ghaib dan hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Muhammad yang shahih. Allah berfirman:

Juga dalam firman-Nya:

Muhammad pernah ditanya oleh Malaikat Jibril yang datang dalam wujud seorang Arab Badui, kemudian Jibril bertanya tentang kapan akan terjadinya hari kiamat, Jibril bertanya: "Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?" Kemudian Muhammad menjawab: "Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya."

Meskipun waktu terjadinya hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang tanda-tanda Kiamat tersebut. Kemudian Muhammad menyampaikan kepada ummatnya tentang tanda-tanda Kiamat. Para ulama membaginya menjadi dua:
  • Tanda-tanda kecil
  • Tanda-tanda besar.
Muhammad telah bersabda,” Hari kiamat itu mempunyai tanda, bermulanya dengan tidak laris jualan di pasar, sedikit saja hujan dan begitu juga dengan tumbuh-tumbuhan. Ghibah menjadi-jadi di merata-rata, memakan riba, banyaknya anak-anak hasil perzinahan, orang kaya diagung-agungkan, orang-orang fasik akan bersuara lantang di masjid, para ahli mungkar lebih banyak menonjol dari ahli haq”.

Beberapa hadist lain juga menjelaskan tentang datangnya hari kiamat ini, hari kiamat tidak akan terjadi sebelum bangsa Arab dipimpin oleh seseorang dari keluarga Muhammad dan memiliki nama yang sama.

Dikatakan pula dalam banyak hadits-hadits, menunjukkan bahwa peradaban besar yang telah menciptakan kekuatan dan senjata dahsyat akan hilang. Dugaan kuat adalah habisnya sumber daya alam dan mereka akan saling bertempur dan hancur. Kemudian manusia akan kembali seperti semula, berperang diatas kuda dengan menggunakan pedang, tombak, tameng, zirah dan sejenisnya.

Tanda-tanda Hari Penghakiman

Pertanda kecil

Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Pertanda hari kiamat telah di sampaikan oleh Nabi Muhammad sekitar 1400 tahun yang lalu, dibawah adalah pertanda hari penghakiman yang dikutip dari Harun Yahya dan lainnya, berdasarkan hadits shahih.
  • Diutus dan wafatnya Nabi Muhammad.
  • Terbelahnya bulan pada masa penyebaran Islam.
  • Api dari tanah Hijaz yang menerangi punuk-punuk unta.
  • Terhapusnya jizyah dan pajak.
  • Munculnya Khawarij.
  • Penggembala menjadi kaya.
  • Dicabutnya nikmat waktu, maka waktu berputar serasa lebih cepat.
  • Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria.
  • Baitul Maqdis dikuasai umat Islam.
  • Perang antara Yahudi dan Islam.
  • Jazirah Arab kembali penuh dengan kebun-kebun & sungai-sungai.
  • Sungai Efrat mengeluarkan bukit emas.
  • Banyak terjadi al Harj yaitu pembunuhan massal.
  • Penghancuran kota-kota besar oleh tangan manusia (akibat perang) dan peristiwa alamiah.
  • Kehancuran nilai moral
  • Perzinahan dilakukan secara terbuka dan bebas,
  • Pengingkaran terhadap agama
  • Agama sebagai simbol atau tameng untuk kepentingan pribadi,
  • Umat Islam berlomba membangun memperindah masjid dan membangga-banggakannya, padahal nabi tidak pernah memerintahkan untuk bermegah-megah dalam membangun masjid,
  • Umat Islam banyak membaca Al Qur'an tetapi tidak mengamalkannya dengan benar dan menentang hadist dan sunnah,
  • Kemusyrikan merajalela dikalangan umat Islam dan mempercayai ramalan rasi bintang,
  • Mengingkari qadar (takdir atau ketetapan Allah).
  • Kehancuran tatanan masyarakat/ dominannya fitnah.
    • Disia-siakannya amanat/ segala urusan ditangani oleh yang bukan ahlinya,
    • Menyebarnya riba dan harta haram,
    • Kecurangan/ banyak penguasa dan polisi kezhaliman,
    • Ketergantungan pada obat bius dan minuman keras.
    • Penyanyi wanita dan alat-alat musik menjadi populer dan musik dianggap hal biasa oleh umat Islam
    • Orang berlomba-lomba membangun gedung-gedung pencakar langit,

Pertanda besar

Tanda kiamat besar adalah perkara yang sangat besar yang muncul di mana kiamat sudah sangat dekat sekali, kemunculannya tidak biasa terjadi dan mayoritas tanda-tandanya belum muncul, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Hudzaifah bin Arsyad al-Ghifari berkata, sewaktu kami sedang berbincang, tiba-tiba datang Nabi Muhammad kepada kami lalu bertanya, “Apakah yang kamu semua sedang bincangkan?” Lalu kami menjawab, “Kami sedang membincangkan tentang hari Kiamat.” Muhammad bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum kamu melihat sepuluh tanda.

Kesepuluh tanda besar yang telah diucapkan oleh Muhammad adalah sebagai berikut:
Kemudian tanda-tanda yang lainnya adalah sebagai berikut:

Perbedaan antara pertanda kiamat kecil dan besar

Perbedaan antara tanda-tanda kiamat kecil dan kiamat besar adalah sebagai berikut:
  • Tanda-tanda kiamat kecil secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda kiamat besar.
  • Tanda-tanda kiamat kecil sebagiannya sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan terjadi. Sedangkan tanda-tanda kiamat besar belum terjadi.
  • Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
  • Tanda kiamat kecil berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat besar jika sudah datang, maka tertutup pintu taubat.
  • Tanda-tanda kiamat besar jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya, dan yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari Barat.

Peniupan sangkakala

Ketika saatnya tiba yaitu pada hari kiamat, atas perintah Allah maka sangkakala akan ditiup oleh Israfil dalam tiga kala, yaitu tiupan:
Nafkhatul Faza' (Mengagetkan, menakutkan, menghancurkan),
Tiupan dahsyat yang pertama akan menggemparkan seluruh makhluk hidup. Allah memerintahkan Israfil memperpanjang tiupan itu tanpa berhenti. Maka gunung-gunung akan bergerak seperti
awan, lalu luluh-lantak. Bumi berguncang hebat, penghuninya bagaikan anai-anai yang beterbangan, planet akan saling bertabrakan. Semua ciptaan-Nya di alam semesta hancur lebur.
Nafkhatus Sha'iq (Mematikan),
Jibril, Mikail, Israfil dan Hamalatul 'Arsy dimatikan oleh Allah. Malaikat terakhir yang dimatikan oleh Allah ialah 'Izrail sang Malaikat Maut. Sejak itu tak ada lagi yang hidup, kecuali Allah yang Maha Ahad, Maha Mengalahkan, Maha Sendiri, Tempat bergantung semua makhluk, Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir.
Nafkhatul Ba'ats/Qiyam (Menghidupkan kembali atau membangkitkan)
Miliaran manusia sejak Adam hingga manusia yang hidup terakhir kali saat alam semesta dihancurkan, mereka menunggu giliran diadili satu per satu di mahsyar, tak ada naungan dan perlindungan selain dari diri-Nya pada hari itu. Menurut ajaran Islam lama waktu menunggu itu 50.000 tahun akhirat.
Jarak antara tiupan pertama dan selanjutnya dikatakan sejarak empat puluh (tidak dijelaskan lebih rinci berupa sejumlah hari, bulan atau tahun).

Alam Baqa

Setelah kesemua alam semesta hancur dan makhluk mati, kemudian Allah menghidupkan kembali para umatnya untuk dikumpulkan dan diadili. Kesemua proses penciptaan sampai dengan penghancuran telah selesai, yang telah di tulis kesemuanya dalam Lauh Mahfuzh.

Yawm al-Qiyāmah
Yawm al-Mahsyar

Titian Jahannam

Kembali ke Eskatologi Islam


Sunday, August 30, 2020

Menghapal, Tradisi Keilmuan Peradaban Islam

Budaya Arab pra-kenabian melazimkan predikat aib kepada seseorang yang belajar dengan menuliskannya. Konon pernah terjadi, seseorang yang tepergok mencatat suatu hal, memohon-mohon agar apa yang dilakukannya itu dirahasiakan dari telinga siapapun. Malunya sampai tulang sumsum. Mengapa bisa seserius itu? Sebab simbol kecerdasan saat itu adalah hafalan. Sedangkan menulis adalah aktivitas orang-orang yang lemah potensi akal.

Budaya Arab pra-kenabian mengawinkan simbol kecerdasan (menghafal) itu dengan agungnya kedudukan syair pada zamannya. Sampai-sampai, al-Quran diturunkan dengan unsur keindahan bahasa untuk menggodamnya. Mengabadikan syair dengan cara mencatatnya bagi masyarakat Arab saat itu adalah kehinaan. Karena itu dianggaplah aib.

Andaikata Benjamin S. Bloom sudah hidup pada zaman tersebut, barangkali masyarakat Arab akan tergelak, sebelum kemudian tersedak. Sebabnya, ternyata Bloom sama-sama mengkategorikan aktivitas menghafal dan menulis ke dalam kolom C1 pada tabel Kata Kerja Operasional (KKO) Pengetahuan. Kita tahu, taksonomi Bloom menyebut urutan pengetahuan dimulai dari C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (menciptakan).

Setelah Nabi diutus di Mekkah lalu hijrah ke Madinah, beliau Saw. membangun institusi pendidikan tinggi pertama dalam Islam, As-Suffah, yang mencakup pembelajaran menulis selain tentu saja menghafal Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman. Selain itu juga berdiri Kuttab sebagai institusi pendidikan dasar. Aktivitasnya juga seputar menghafal dan menulis di level anak-anak. Kuttab sendiri sebenarnya ada sejak sebelum Nabi diutus, tetapi belum luas dikenal.

Menghafal, meski kata kerja tersebut berada di urutan pertama taksonomi, ia adalah pondasi. Tak perlu ilmuwan Timur untuk membuat pengakuan itu. Intelektual Barat seperti George A. Makdisi pun membenarkannya. George mengulas cukup detail budaya intelektual zaman pertengahan Islam dalam karya megahnya The Rise of Colleges dan The Rise of Humanism. Kata George, hafalan memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu humaniora (kemanusiaan) hingga skolastik (dialektika) di zaman pertengahan Islam.

Setahun setelah Rasulullah Saw. wafat, melalui rekomendasi Umar, Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan suhuf (lembaran) al-Quran yang berserakan. Dengan pertimbangan para penghafal al-Quran kian langka akibat peperangan. Kelak pada zaman Khalifah Utsman, al-Quran dikodifikasikan secara utuh dan diresmikan.

Orientalis meragukan otentisitas hasil kelanjutan kerja itu. Menurut mereka, selisih 15 tahun setelah wafatnya Nabi, pendistribusian naskah al-Quran ke pelbagai wilayah Dunia Islam memungkinkan terjadi kesalahan dan pemalsuan teks. Meskipun paradoksnya, ilmuwan Bible menganggap otentik kitab Perjanjian Lama yang ditulis setelah rentang waktu delapan abad lamanya. Itupun dengan metode transmisi lisan yang masih dipertanyakan.

Prof. Mushtafa al-Azhami menjawab telak tuduhan itu dalam magnum opusnya, The History of The Quranic Text. Periode awal Islam telah berjalan tradisi hafalan al-Quran berikut naskah yang dituliskan. Naskah tersebut sifatnya sebagai alat bantu, sehingga jika pun terdapat ketidaklengkapan naskah, sama sekali tidak berpengaruh pada otentisitas teks al-Quran. Sebab keotentikan al-Quran terjaga dalam tradisi hafalan. Al-Azhami juga menyatakan, praktik yang telah mapan sejak lahirnya literatur keislaman, memberikan isyarat bahwa setiap teks keagamaan transmisinya hanya dapat dilakukan dengan cara bertatap muka kepada guru (penulis buku). Demikian tradisi itu dianak-turunkan menjadi sanad keilmuan.

Lantas, dengan argumentasi itu apakah saya hendak menyebut hafalan sebagai pencapaian pendidikan? Tentu saja tidak. Tugas utama pelajar bukan untuk menghafal, meski seluruh pelajar membutuhkan proses itu. Otak pelajar bukanlah hard disk yang hanya berfungsi sebagai penyimpan sejumlah data. Otak pelajar bahkan harus melebihi kecerdasan fungsi algoritma mesin pencarian.

Karenanya, tradisi hafalan al-Quran pun sesungguhnya (sekaligus seharusnya), bukan ditujukan untuk hafalan itu sendiri. Melainkan untuk menjaga Kalamullah agar tidak musnah di muka bumi. Demikian itu sekaligus menjadi wujud penjagaan Allah terhadap al-Quran. Hafalan al-Quran juga sebetulnya sebagai sarana agar seseorang dapat senantiasa membersamainya, mentadaburinya, hingga mengamalkannya.

Maka wajar, Sayyid Quthb dalam Ma’alim fi ath-Thariq-nya berujar,
“Tak seorang pun sahabat mempelajari al-Quran untuk memperkaya perbendaharaan tradisi semata, tidak pula hanya bertujuan menggabungkan dalil-dalil ilmiah dan fiqhiyah pada konklusi al-Quran yang disimpulkan berdasarkan pendapat pribadinya. Akan tetapi, para sahabat mempelajari al-Quran untuk mendalami firman Allah, berkenaan dengan masalah pribadi dan persoalan bersama –yang mereka terlibat di dalamnya, serta kondisi lingkungan yang menjadi ajang aktifitas mereka.”
Lebih tegas Sayyid Quthb menambahkan, “Al-Quran tidaklah hadir sebagai sebuah kitab yang memperkaya akal, tidak pula rujukan sastra dan seni, apalagi kitab dongeng dan sejarah –meskipun semua itu tercakup di dalamnya. Akan tetapi, al-Quran turun untuk menjadi jalan hidup dan sebagai petunjuk Ilahi yang suci.”

Pertanyaan finalnya kemudian, pentingkah menghafal dalam pendidikan? Jawabannya ada pada meme-anekdot yang akhir-akhir ini bertebaran di lini masa, yaitu kesalahan menyebut nama-nama ikan bisa berbuah fatal. Namun, meskipun begitu, menghafal tetap saja berada di step yang pertama, dan bukan yang utama. Ia dapat dikategorikan sebagai pondasi awal, sebelum kemudian naik pada tingkatan yang lebih tinggi dalam skema taksonomi pengetahuan.

Justru masalahnya adalah, ketika hari ini secara asbun banyak orang yang menuntut akselerasi kompetensi. Mengharap pelajar segera mampu menganalisis bahkan menciptakan karya besar tanpa mematangkan step-step awal yang harus dilalui. Alhasil, mereka menjadi ilmuwan setengah jadi yang mudah melakukan mal praktek, kehilangan adab, keseringan trial and error, bahkan pada lingkup ilmu agama mudah mengeluarkan fatwa yang menyesatkan. Sebab tidak cukup mumpuni ilmu dasar yang dikuasai.

Pernah suatu ketika, seorang tokoh mempertanyakan secara sarkas hubungan antara hafizh al-Quran dengan penerimaannya di fakultas kedokteran tanpa tes. Memangnya, apa istimewanya? Sekurang-kurangnya harus diakui, hafalnya seseorang 114 surat ke dalam kepalanya membuktikan bahwa ia memiliki modal kapasitas kecerdasan, serta bukti stamina belajarnya yang prima. Bukankah tes regular masuk S1 kedokteran juga menuntut passing grade tinggi mata pelajaran yang tidak seluruhnya (bahkan tidak mayoritasnya) berhubungan dengan kedokteran?

Karena itu, di tengah gemuruhnya pro-kontra konsep pendidikan yang terjadi, kembalikan pelajar pada fitrahnya. Arahkan niat yang cermat, lakukan step yang tepat, tanpa mengkorupsi tahapan dan pengajaran hanya demi tercapainya obsesi yang masih tergambar abstrak. Diagnosa masalah harus berlaku fair, sehingga mampu melihat variabelnya secara detail. Agar tidak berlaku generalisir resep obat yang harus digeruskan. Semoga pendidikan kita kian membaik. Semoga pendidikan ke depan dapat menjadi tonggak bangkitnya peradaban. Kemuliaan agama Islam. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

[Ahsan Hakim, M.Pdi | VOA Islam ]

Friday, June 12, 2020

Garis Pemisah antara Khalik dan Makhluk


Sabda Rasulullah SAW,

"Jika dari dirimu tidak lahir amal perbuatan yang di situ ada noda dan dosa, Allah SWT akan menciptakan manusia yang berbuat salah agar mereka bisa berdosa dan melakukan kesalahan. Dan lantas memohon ampun atas dosa itu, menjadikan sifat dari Zat Yang Maha Pemaaf termanifestasikan.”  [Dikutip oleh Abdurrrahman Jami’ dalam Naqd An-Nushuh hal 71-72].

Dalam artikel-artikel terdahulu dijelaskan apa itu potensi wujud yang biasa disebut Entitas Tetap (Al-A’yan ats-Tsabitah) dengan tingkatan-tingkatannya dari martabat Ahadiyyah sampai Wahidiyyah.

Dari uraian-uraian tersebut dapat dikesankan semakin tinggi level wujud, semakin rumit untuk dipahami. Dan semakin rendah level itu, semakin mudah dipahami.

Namun, sulit kita membayangkan adanya pemahaman utuh terhadap Sang Khalik dan makhluk-Nya tanpa memahami level-level tersebut. Bahkan, menurut kalangan arifin, memahami level-level ini salah satu inti dari makrifat.

Tidak gampang memahami garis pemisah antara Sang Khalik dan makhluk-Nya. Ibaratnya kita akan membedakan antara sumber cahaya dan cahayanya atau antara laut dan ombaknya serta antara wujud dalam cermin dengan objek di depan cermin. Mungkin inilah sebabnya mengapa Ibnu Arabi enggan menggunakan istilah Khalik dan makhluk.

Sebaliknya, dia lebih memilih menggunakan istilah Al-Haq untuk Allah SWT dan al-khalq untuk hamba dan makhluk-Nya. Berawal dari Zat Yang Maha Agung yang biasa disebut Ghaib al-Ghuyub atau Haqiqat al-Haqiqah, yang bermanifestasi melalui proses al-faiddh al-muqaddas maka terwujudlah Al-A’yan ats-Tsabitah.

Di sana dikenal adanya wujud potensial berupa nama-nama (al-Asma’) dan sifat-sifat (al-Aushaf), kemudian bermanifestasi menjadi wujud konkret atau wujud aktual (al-A’yan al-kharijiyyah). Disebut al-A’yan al-kharijiyyah karena sudah keluar dari level al-A’yan ats-Tsabitah dan sudah menjadi awal dari makhluk yang diistilahkan oleh Ibnu Arabi sebagai al-khalq.

Perbedaan antara al-shifat dan al-ism yang ada dalam level Al-A’yan ats-Tsabitah tidak begitu jelas karena keduanya masih merupakan satu kesatuan utuh. Al-Shifat lebih merupakan bentuk dan kualitas manifestasi, sedangkan al-Ism menjadi substansi dari bentuk manifestasi itu.

Sebagai contoh, sifat kekuasaan (al-qudrah) menjadi Al-Qadir, yaitu nama Tuhan yang terhimpun di dalam Al-Asma’ Al-Husna. Contoh lain sifat kasih sayang (al-Rahmah) menjadi Al-Rahman dan Al-Rahim, yaitu nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang juga menjadi bagian dari Al-Asma’ Al-Husna.

Nama (al-Isma) identik dan representasi dari yang diberi nama (al-Musamma). Di mana ada nama, di situ ada yang dinamai. Nama-nama Tuhan dalam al-Asma’ al-Husna tentu bukan hanya sebutan, melainkan sekaligus manifestasi dari yang dinamai. Nama-nama itu adalah refleksi dari objek yang dinamai atau diberi nama.

Ibnu Arabi mengumpamakan seperti ada sebuah cermin yang merefleksikan semua objek yang ada di hadapannya.

Ibarat bunga yang berwarna-warni maka berbagai bunga dan warna-warni itu direfleksikan secara persis di dalam cermin itu. Namun, kembang warna-warni di dalam cermin tidak sama dengan asli kembang warna-warni di depan cermin.

Yang di dalam cermin adalah wujud kamuflase dan yang di depan cermin itulah wujud hakiki. Entitas-entitas (al-a’yan) yang mempunyai potensi untuk bermanifestasi dikenal mempunyai dua macam. Ada yang mungkin bermanifestasi ke dalam wujud kharijiyyah, yaitu aspek batin yang tidak bertentangan dengan aspek lahiriyah disebut aspek al-Mumkinat.

Sementara itu, yang tidak termanifestasi ke dalam wujud kharijiyyah itulah yang disebut dengan aspek al-Mumtani’at. Contoh entitas yang masuk kategori al-Mumkinat ialah sifat rahmah kemudian diberi nama Al-Rahman atau Al-Rahim (Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang), sedangkan contoh yang termasuk al-Mumtani’at ialah Dia Yang Pertama (Al-Awwal) dan Dia juga Yang Terakhir (Al-Akhir), Dia Yang Maha Dhahir (al-Dhahir), dan Dia juga Yang Maha Bathin (Al-Bathin).

Yang terakhir ini disebut al-Mumtani’at karena merupakan forms Al-Asma’ Al-Gaibiyyah yang ekslusif di dalam Haqiqat Ilahiyyah (Divine Realities) dan tidak bisa bermanifestasi ke dalam dunia lahiriyah (al-wujud al-khariji). Semua Hakikat Ilahiyyah tidak akan pernah bakal berwujud konkret selama-lamanya. Namun, dari segi madzahirnya dapat berwujud (maujud) di level aktual (khariji).

Oleh karena setiap al-Shifat dan al-Ism masing-masing menuntut manifestasi, tak terhindarkan lahirnya berbagai manifestasi (al-katsrah/multiplicity). Dari sinilah wujud potensial bermanifestasi menjadi wujud aktual atau wujud konkret, seperti berbagai lapisan alam yang dikenal dengan alam Jabarut, Malakut, Barzakh, Syahadah, atau alam Mulk.

Dari sini juga dipahami bahwa batas dan jarak antara Tuhan dan alam dalam arti apa-apa selain Allah (ma siwa Allah) teramat dekat, bahkan Alquran sendiri menyebutnya dengan wa Nahnu aqrabu ilaihi min habl al-warid (Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya) (QS. Qaf: 16).

Pertanyaan lebih mendasar dan sering diperdebatkan para teolog, yaitu bagaimana posisi Al-Quran?

Apakah Alquran sebagai wahyu tetap sebagai bagian dari atau dalam lingkup al-A’yan ats-Tsabitah atau bagian dari al-A’yan al-Kharijiyyah, atau dimensi al-Kalam al-Dzati masuk di dalam al-A’yan ats-Tsabitah dan dimensi al-Kalam al-Lafdzi-nya masuk ke dalam al-A’yan al-Kharijiyyah?

Kalangan Mu’tazilah beranggapan Alquran itu baharu dalam pengertian mungkin memasukkannya di dalam al-A’yan al-Kharijiyyah. Seperti kita ketahui, kaum Mu’tazilah sangat konsisten mempertahankan keabadian tunggal Allah.

Mereka tidak mau mengakui adanya keabadian ganda (al-ta’addud al-qudama) karena hal itu bertentangan dengan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa (Allahu Ahad), bukannya Allahu Wahid yang masih membuka adanya peluang kedua (itsnan), ketiga (tsalatsah), dan seterusnya.

Berbeda dengan ulama Sunni lainnya, khususnya ulama tasawuf, yang masih menganggap adanya al-A’yan ats-Tsabitah yang di dalamnya ada Ism dan Shifat, termasuk Alquran sebagai Kalam Allah, yang bisa dipahami adanya keabadian ganda menurut kaum Mu’tazilah. Pembahasan posisi wahyu Alquran nanti dibahas ketika kita membicarakan Maqam Nubuwwah dan Risalah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa batas antara Khalik dan makhluk atau Al-Haq dan al-khalq ialah di luar garis batas al-A’yan ats-Tsabitah. Sekalipun al-A’yan al-Kharijiyyah masih sangat tipis jaraknya dengan Al-A’yan ats-Tsabitah, tetapi ia sudah masuk di level alam atau makhluk.


[Prof Dr Nasaruddin Umar]

Thursday, June 11, 2020

Relasi Tuhan dan Hamba


Dalam perspektif tasawuf, hubungan primer Allah dan makhluknya terjalin bagaikan langit dan bumi, jiwa dan roh, dan Yang dan Yin.

Dalam kajian tasawuf, tidak ada artinya berbicara tentang apa pun tanpa berbicara tentang Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan disebut kosmos, termasuk di dalamnya alam (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos).

Tuhan adalah asal-usul dari segala sesuatu. Semua bersumber dari-Nya dan kelak semuanya akan kembali kepada-Nya, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kita berasal dari Yang Satu kemudian menjadi banyak dan kembali ke Yang Satu. Dengan demikian, yang banyak ini sesungguhnya siapa?

Secara matematika juga menunjukkan bahwa sebanyak apa pun sebuah bilangan pasti berasal dari angka 1. Bukankah angka 2 berasal dari angka 1 + 1, bukankah 1.000 merupakan kelipatan 1.000 dari angka 1, dan seterusnya.

Memang, angka 1 tidak sama dengan 2, 1.000, dan seterusnya, tetapi bukankah angka-angka itu tetap merupakan himpunan dari angka 1. Jadi, tidak ada artinya kita berbicara angka sebanyak apa pun tanpa berbicara tentang angka 1, karena bukankah angka yang banyak itu tetap merupakan himpunan dari angka 1?

Keterpisahan dan sekaligus ketakterpisahan antara Tuhan dan hamba melahirkan wacana tersendiri di dalam teologi dan tasawuf. Para teolog atau ulama kalam lebih menekankan aspek keterpisahan dan ketakterbandingan antara Tuhan dan hamba.

Sedangkan kalangan sufi lebih menekankan aspek ketakterpisahan dan keserupaan antara Tuhan dan hamba, meskipun dibatasi dengan istilah "keserupaan dalam ketakterbandingan" (similarity in uncomparability).

Allah SWT dalam kapasitas Ahadiyat-Nya tentu saja tak terbandingkan dan terpisah dengan makhluk-Nya. Dia "yang tidak ada satu pun setara dengannya". Namun, dalam kapasitas Wahidiyat-Nya, yang di dalamnya diperkenalkan nama-nama-Nya, meniscayakan antara diri-Nya dengan hamba. Hubungan antara Tuhan dan hamba ini melahirkan konsep Tuhan (Rabb) dan hamba (marbub), Ilah dan Ma'luh, Khalik dan makhluk.

Hubungan antara Tuhan dan hamba ini melahirkan konsep Tuhan (Rab) dan hamba (marbub), Ilah dan Ma'luh, Khalik dan makhluk.

Dalam konteks ini seolah-olah kalangan dan ini yang banyak ditentang oleh para teolog—beranggapan Tuhan butuh terhadap makhluk, karena eksistensi sebuah kata meniscayakan sebuah kata lainnya, atau di dalam hubungan polaritas-dialektis, eksistensi satu sisi meniscayakan eksistensi sisi lainnya.

Bukankah tidak akan ada budak tanpa ada tuan, tidak ada Rab tanpa marbub, tidak ada Ilah tanpa ma'luh, tidak ada makhluk tanpa Khalik, dan tidak ada ma'lum (objek pengetahuan) tanpa Alim (subjek yang mengetahui).

Tentu, demikian pula sebaliknya, sulit membayangkan adanya tuan tanpa ada budak, ada marbub tanpa ada Rab, adanya Khalik tanpa ada makhluk, dan adanya Alim tanpa ada ma'lum?

Alasan para sufi berpendapat demikian, karena bukankah nama-nama dan sifat Tuhan memerlukan adanya berbagai lokus atau tempat manifestasikan dan mengaktualisasikan diri?

Dengan kata lain, tanpa lokus maka nama-nama dan sifat Tuhan tidak mungkin dapat teraktualisasi. Jika itu semua tidak bisa teraktualisasi maka menjadi tidak berarti nama-nama dan sifat itu.

Jika nama-nama dan sifat itu tidak punya arti maka untuk apa Tuhan memperkenalkan kapasitas Wahidiyat-Nya?

Padahal, dalam artikel-artikel terdahulu sudah dijelaskan bahwa Tuhan dengan penuh perencanaan menciptakan makhluk-Nya untuk mengenal diri-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi yang terkenal dalam dunia tasawuf itu.

Dalam perspektif tasawuf, hubungan primer Allah dan makhluknya terjalin bagaikan langit dan bumi, jiwa dan roh, dan Yang dan Yin.

Tuhan adalah Mahaagung, Mahatinggi, Mahaterang, dan Mahakreatif, sedangkan makhluknya kecil, rendah, gelap, dan reseptif atau menerima pengaruh.

Dari hubungan seperti ini, Tuhan adalah Yang dan makhluk adalah Yin. Disebut demikian karena Tuhan memberi pengaruh (Mu'atstsir/Yang) dan makhluk menerima pengaruh (ma'tsur/Yin).

Di dalam mengimplementasikan kapasitasnya sebagai khalifah alam semesta (khalaif al-ardl), manusia (mikrokosmos) juga mempunyai kapasitas Yang, karena ia harus memberi pengaruh terhadap alam semesta (makrokosmos) sebagai Yin.

Kapasitas Yang yang diperoleh manusia tentu berbeda dan tak dapat dibandingkan dengan kapasitas Yang Tuhan. Kapasitas Yang pada diri manusia tetap dalam kapasitasnya sebagai hamba ('abid) di mana manusia secara total harus tunduk dan patuh kepada Tuhan sebagai Ma'bud.

Allah sendiri dalam kapasitasnya sebagai Tuhan (Rab dan Ilah) mempunyai kapasitas Yin, karena Ia mencipta dan memelihara makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang. Dengan demikian, selain memberi pengaruh (mu'atstsir) dalam kapasitasnya sebagai al- Jalal, Ia juga menerima pengaruh (Ma'tsur) dalam kapasitas-Nya sebagai al-Jamal.

Namun demikian, kapasitas Jamaliyyah Tuhan tentu tidak bisa disetarakan dengan jamaliyyah manusia. Bagaimanapun manusia sebagai bagian dari makhluk dan hamba terikat kepada Tuhan.

Allah sebagai Tuhan "membutuhkan" hamba untuk disebut sebagai Tuhan, karena sulit membayangkan Sosok Tuhan tanpa hamba. Sebaliknya, manusia tidak mungkin ada dan mewujud sebagai hamba tanpa adanya Tuhan yang menciptakan dan sekaligus sebagai Tuhannya.

Dengan demikian, Tuhan dan hamba saling membutuhkan dalam kapasitas yang berbeda. Relasi hamba kepada Tuhan adalah menyembah (ta'abbud) dan relasi Tuhan terhadap hambanya adalah memberi anugerah (isti'anah).


[Prof Dr Nasaruddin Umar]

Wednesday, April 17, 2019

Tentang Al-A’yan Ats-Tsabitah

FirmanAllah,

"Aku pada mulanya harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal maka Kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.” [Hadits Qudsi]

Dalam artikel terdahulu telah dibahas alam Jabarut, suatu alam tertinggi di antara seluruh alam yang ada. Ia sudah masuk ke dalam tingkatan alam gaib mutlak. Di atas alam ini sudah tidak ada lagi alam, adanya hanya martabat atau maqam yang tidak bisa lagi disebut dengan alam dalam arti apa pun selain Allah (ma siwa Allah).

Martabat di atas alam Jabarut biasanya disebut dengan entitas yang tidak berubah (al-A’yan ats-Tsabitah/immutable entities). Al-A’yan ats-Tsabitah sudah masuk dalam level pembahasan yang tinggi dan tidak banyak ditemukan di dalam buku-buku tasawuf populer.

Konsep terperinci tentang al-A’yan ats-Tsabitah hanya bisa ditemukan di dalam karya-karya Ibnu Arabi, seperti di dalam Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyah (empat jilid). Selain pembahasannya amat rumit boleh jadi juga tidak menarik, karena sepintas tidak memberikan manfaat secara instan kepada pencari Tuhan di level pragmatis.

Namun, justru materi-materi seperti itu amat dibutuhkan bagi mereka yang menginginkan kedalaman hakikat dan makrifat. Untuk mengenal Tuhan lebih mendalam memang tidak mudah. Menurut Jalaluddin Rumi, bukan Tuhan pelit untuk memperkenalkan dirinya, melainkan ”apa arti sebuah gelas untuk menampung samudra”.

Kapasitas memori akal kita terbatas diumpamakan seperti gelas untuk memuat ilmu Tuhan yang diumpamakan samudra. Dalam Alquran dikatakan, "Katakanlah (Muhammad), seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109).

Al-A’yan ats-Tsabitah secara harfiah berarti entitas-entitas yang tetap (immutable entities). Al-A’yan bentuk jamak dari 'ain berarti entitas dan ats-Tsabitah berarti tetap, tidak berubah-ubah. Disebut entitas-entitas tetap karena keberadaannya masih bersifat potensial dan tersembunyi dalam pengetahuan Tuhan.

Berbeda dengan level alam yang sudah merupakan keberadaan konkret atau aktual. Keberadaan yang terakhir ini tidak lagi disebut entitas tetap karena sudah bersifat aktual dan menerima perubahan. Keberadaan potensi dan keberadaan aktual di sini tidak bisa disamakan dengan konsep Platonisme yang juga mengenal dunia ide dan dunia nyata.

Dalam dunia ide Plato hanya merupakan dunia abstrak yang berada di dalam wilayah ontologis dan masih bersifat potensial.

Sedangkan wujud merupakan manifestasi dari dunia ide, yang sesungguhnya tidak berbeda dengan dunia ontologi ide, setidaknya antara keduanya memiliki hubungan simetri.

Wujud potensial dan wujud aktual dalam konsep Al-A’yan ats-Tsabitah tidak mesti harus sama bahkan mungkin tidak ada hubungannya sama sekali. Meskipun Al-A’yan ats-Tsabitah tidak lagi masuk kategori "alam", tetapi belum masuk ke dalam pembahasan puncak.

Masih ada pembahasan lebih tinggi lagi yang disebut level Ahadiyyah dan Wahidiyyah, yang akan dibahas dalam artikel mendatang. Bahkan, ada segi dari level al-A’yan ini masih dalam kategori maqam Al-Khalq atau level alam, yang disebut Al-A’yan al-Kharijiyyah, yakni sesuatu yang berwujud di level konkret melalui proses emanasi agung. Disebut Al-A’yan al-Kharijiyyah karena berada di lingkaran luar dari Al-A’yan ats-Tsabitah.

Al-A’yan ats-Tsabitah sudah masuk di level Wahidiyyah atau apa yang disebut dengan Pengetahuan Tuhan. Al-A’yan ats-Tsabitah masuk ke dalam level pertama dan utama (the principle level) dan tidak akan pernah berada di dalam level kedua (the relative level). Keberadaan Al-A’yan ini merupakan hasil dari proses tajalli pertama (al-tajalli al-awwal) yang biasa juga disebut dengan emanasi awal (al-faidh al-aqdas).

Proses emanasi berikutnya, yaitu al-faidh al-muqaddas, melahirkan Al-A’yan al-Kharijiyyah, yaitu keberadaan yang sudah aktual, bukan lagi keberadaan potensial. Al-A’yan al-Kharijiyyah inilah yang masuk ke dalam the relative level.

Dengan kata lain, yang masuk di level aktual atau relatif hanya manifestasi (madzahir)-nya saja, bukan hakikatnya karena hakikat Al-A’yan al-Karijiyyah tidak lain adalah al-A’yan ats-Tsabitah, yang tetap berada di level utama.

Dari sinilah nanti muncul konsep al-Mumtani’at dan konsep al-Mumkinat. Potensi wujud (Al-A’yan ats-Tsabitah) yang tidak mungkin termanifestasi menjadi wujud aktual (Al-A’yan al-Kharijiyyah) disebut al-Mumtani’at. Sebaliknya, potensi wujud (Al-A’yan ats-Tsabitah) yang mungkin atau sudah termanifestasi menjadi wujud aktual (Al-A’yan al-Kharijiyyah) disebut al-Mumkinat.

Dalam level atau konsep al-Mumtani’at tidak mungkin dijumpai adanya pertentangan dan paradoks antara satu sifat dan sifat lainnya.

Misalnya antara al-Dhahir dan al-Bathin; al-Awwal dan al-Akhir; serta al-Jalal dan al-Jamal, karena semua itu adalah sifat dari hakikat ketuhanan yang tidak mungkin berada di dalam level aktual.

Sebagai entitas yang berada di level Wahidiyyat, Al-A’yan ats-Tsabitah merupakan sesuatu yang tidak terciptakan (uncreatable). Semua ciptaan (maj’ul) seperti semua jenis alam, termasuk para malaikat, adalah wujud yang sudah aktual (kharijiyyah), karena itu segala yang diciptakan (maj’ul) tidak bisa disebut dengan Al-A’yan ats-Tsabitah.

Konsep Al-A’yan ats-Tsabitah mempunyai beberapa tingkatan. Bermula dari ta’ayyun pertama (al-Ta’ayyun al-Awwal) ialah level Wahidiyyah yang merupakan manifestasi dari Ahadiyyah. Dari kesadaran diri Al-Haq di level Ahadiyyah kemudian melahirkan level Wahidiyyah.

Di level inilah dikenal konsep Al-A’yan ats-Tsabitah yang sebenarnya berbicara banyak tentang form Ilmu Tuhan (Ilmiyyah Al-Haq) yang biasa juga disebut dengan Al-Shuwwar al-‘Aqliyyah dan form tentang nama-nama Tuhan (Al-Asma’ Al-Haq). Dengan menguasai konsep Al-A’yan ats-Tsabitah diharapkan memudahkan kita memahami alam dan diri kemanusiaan kita yang dikenal sebagai makhluk termulia (ahsan taqwim).

Pengenalan diri secara komprehensif dengan sendirinya memungkinkan kita memahami Tuhan secara komprehensif pula. Rasulullah pernah memberikan sugesti kepada kita dengan mengatakan, "Man 'arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barang siapa yang sudah memahami dirinya maka ia sudah memahami Tuhannya)."

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan fi’il madhi, yang mengisyaratkan pada saat manusia sedang memahami dirinya pada saat itu juga memahami Tuhannya. Jadi, bukan bersifat sequent, memahami diri dulu baru memahami Tuhan. Semoga Allah SWT memudahkan kita memahami diri untuk memahami diri-Nya.

[Prof Dr Nasaruddin Umar]

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers