Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Al Jailani. Show all posts
Showing posts with label Al Jailani. Show all posts

Saturday, June 19, 2010

Ana Khairun Minhu - Aku lebih baik dari dia



سْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


Para sahabat rahimakumullah,
Sombong, barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia. Iblis dikutuk dan dikeluarkan dari surga juga lantaran sombong. Ia menolak bersujud kepada Adam as, manusia pertama, karena merasa dirinya lebih baik.

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَقَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
"Allah berfirman: 'Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang (yang) lebih tinggi?' Iblis berkata: 'Aku lebih baik daripadanya, karena engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'." (QS Shaad [38]: 75-76).

"Ana khoirun minhu (Saya lebih baik dari dia)," kata Iblis. Merasa diri lebih baik dari pada yang lain itulah sombong. Dan akibat sombong, iblis dikutuk!

"Allah berfirman:

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌوَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
'Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." (QS. Shaad [38]: 77--78). 

Kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong, baik dalam bentuk sifat, sikap maupun perilaku, karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk jannah seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong (kibr) meskipun hanya sebesar biji sawi." (HR Muslim). 

Dalam banyak ayat al-Qur'an, Allah SWT mencela orang yang sombong dan sewenang-wenang. Allah Azza wa Jalla berfirman:

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
"Akan Aku palingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku" (QS al-A'raf [7]:146)

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
"Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang" (QS Al-Mu'min [40]:35)

إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong". (QS An-Nahl [16]:23)

Berhati-hatilah kita, karena sifat, sikap, dan perilaku merasa lebih baik, lebih mulia bisa menimpa siapa saja. Seorang tokoh yang memiliki pengikut banyak, reputasi yang luas juga berpotensi untuk menyombongkan diri lantaran ketokohannya dan pengikutnya yang banyak. Seorang yang memiliki tubuh kuat, atletis, jawara, kadang tergoda memamerkan bentuk tubuhya, disamping tidak jarang gampang terpancing perkelahian, dalam urusan kecil sekalipun, hanya lantaran merasa dirinya pendekar. Seorang rupawan juga kadang tergoda untuk membanggakan kecantikannya dan meremehkan yang tidak seganteng dan secantik dirinya, bahkan sampai mencacat bentuk fisik orang lain. Seorang hartawan sering tergoda membanggakan pakainnya yang bagus, kendaraannya yang mewah, rumahnya yang mentereng dengan melihat sebelah mata pada kaum alit yang kumal, kotor, kolot dan pinggiran. Seorang pejabat yang kebetulan pangkatnya lebih tinggi kadang merasa lebih baik dari bawahannya. Presiden merasa lebih baik dari menteri, jenderal merasa lebih baik dari kopral, direktur merasa lebih baik dari karyawan dan seterusnya.

Sifat sombong juga dapat menimpa ahli ibadah. Sosok yang secara dhahir wara', zuhud, bertahajud setiap hari, berpuasa senin-kamis, rawatibnya tidak pernah tertinggal. Karena salatnya rajin sekali hingga jidatnya hitam. Namun, ternyata ia tergoda untuk menganggap dirinya orang yang paling suci, paling baik, paling takwa. Orang lain dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dia. 

Lantas, atas dasar apa kita membanggakan diri ? Bukankah dunia ini bersifat fana? Bukankah kekayaan, pangkat, kecantikan, keturunan, pengikut, dan ilmu merupakan anugerah sekaligus titipan Allah (amanah) yang bersifat sementara? tidak permanen? dan dapat dicabut sewaktu-waktu jika Allah menghendaki? Lagi pula, bukankah yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan seorang hamba? dan bukan kekayaan, pangkat, fisik, keturunan? Maka adalah aneh sikap anak manusia yang merasa dirinya "ana khairun minhu". 

Ingatlah! Kita semuanya berasal dari air nutfah yang hina dan kelak kita pun akan berakhir sebagai bangkai yang busuk!

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata, 
“Tinggalkanlah kesombongan, baik terhadap Allah SWT, maupun terhadap sesama makhluk. Sesungguhnya sombong adalah sifat Iblis serta raja-raja yang aniaya, dimana kelak Allah akan menyeret wajah mereka ke neraka. Jika engkau membuat Allah SWT murka, berati engkau telah berbuat sombong terhadap-Nya. Jika muadzin telah mengumandangkan panggilan shalat (adzan) dan engkau tidak mendatanginya, maka engkau telah berbuat sombong terhadap Allah SWT. Jika engkau telah menganiaya salah seorang dari hamba-Nya, maka engkau juga telah berbuat sombong terhadap-Nya. Bertaubatlah kepada Allah SWT., dan ikhlaskanlah dalam taubat itu, sebelum Dia membinasakan engkau dengan hamba-hamba-Nya yang paling lemah. Dia telah membinasakan Namrud dan raja-raja lainnya, ketika mereka sombong terhadap-Nya. Dia hinakan mereka sesudah berjaya. Dia fakirkan mereka sesudah kaya. Dia siksa mereka sesudah mendapatkan nikmat. Dia matikan mereka sesudah hidup. Jadilah engkau orang yang bertaqwa. Syirik itu adakalanya dalam lahir, dan adakalanya dalam batin. Syrik lahir yaitu menyembah selain Allah SWT., dan syirik batinyaitu menggantungkan nasib kepada makhluk serta menganggap mereka yang mendatangkan bahaya maupun manfaat.

Wahai kaum laki-laki maupun perempuan, sungguh akan Berjaya diantara kamu orang yang memiliki sebutir keikhlasan, sebutir ketaqwaan, sebutir kesabaran, dan sebutir rasa syukur.

Apabila di dalam hatimu masih terdapat kesombongan dan kedengkian, anggota tubuhmu engkau gunakan untuk menyakiti dan menzalimi saudaramu, lidahmu masih sering berkata dusta, ber-ghibah, namimah serta menghardik anak yatim, maka sungguh engkau telah bangkrut..!

Mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla memberi karunia-Nya kepada kita memliki sifat yang tawaddu', rendah hati dan selalu terjaga dari sifat-sifat sombong yang merupakan salah satu sifat makhluk yang amat dibenci-Nya. 

Thursday, May 27, 2010

Jangan menentang Takdir




WASIYAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAILANI
(Majelis - 1)

Menentang Al-Haq Azza wa Jalla atas takdir yang telah ditentukan-Nya berarti kematian agama, kematian tauhid, bahkan kematian tawakkal dan keikhlasan. Hati seorang mukmin tidak mengenal kata mengapa dan bagaimana, tetapi ia hanya berkata, “Baik.“ Nafsu memang mempunyai waktu untuk suka menantang.

Barangsiapa ingin memperbaikinya, ia harus melatihnya hingga aman dari kejahatannya. Semua nafsu itu amat jahat. Bila dilatih dan menjadi jinak, maka ia menjadi sangat baik. Ia akan setia menjalankan seluruh ibadah dan meninggalkan semua kemaksiatan. Maka ketika itu akan dikatakan kepadanya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr [89]:27-28)

Pada saat itu nafsu telah tenang, hilang kejahatannya, dan tidak berhubungan dengan makhluk. Bahkan ia akan bertemu nasabnya dengan ayahnya, Nabi Ibrahim a.s. Jika ia telah keluar dari kungkungan nafsunya, ia berjalan tanpa keinginan dan hatinya menjadi tenang. Meski datang banyak tawaran dari makhluk, ia hanya mengatakan, “Aku tidak memerlukan pertolonganmu.” Pengetahuan terhadap keadaannya menjadikan dirinya tak perlu meminta. Ketika telah sempurna kepasrahan dan ketawakalannya, maka dikatakan kepada api,

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْداً وَسَلَاماً عَلَى إِبْرَاهِيمَ
“Wahai api, dinginlah, dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim.” (QS Al-Anbiya [21]:69).

Tidak ada sesuatu yang samar dalam pandangan Allah Swt. Bersabarlah bersama-Nya sesaat saja, sungguh setelah itu engkau akan melihat kelembutan dan kasih sayang-Nya selama bertahun-tahun. Pemberani yang sesungguhnya adalah orang yang mau bersabar sesaat. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Baqarah:153).

Bersabarlah dalam menunggu pertolongan dan kemenangan. Bersabarlah bersama-Nya. Sadarlah kepada-Nya, dan jangan pernah melupakan-Nya. Janganlah engkau sadar setelah mati, karena sadar setelah mati itu tidak berguna bagimu. Bangunlah sebelum kamu dibangunkan, supaya kamu tidak menyesal pada hari penyesalanmu yang tidak lagi berguna dan perbaikilah hatimu, sesungguhnya jika hatimu baik, maka seluruh keadaanmu akan menjadi baik. Nabi Saw.bersabda:

”Dalam diri anak Adam ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh jasadnya dan bila ia buruk, akan buruklah seluruh jasadnya. Ingat ia adalah hati.”

Hati dikatakan baik bila diisi dengan taqwa, tawakal, tauhid, dan ikhlas kepada-Nya dalam semua amalan. Bila tidak ada sifat-sifat tersebut, berarti hati dalam keadaan rusak.Hati ibarat burung dalam sangkar, ibarat biji dalam kelopak, dan ibarat harta dalam gudang. Yakni ia seperti burung bukan sangkar, seperti biji bukan kelopak, dan seperti harta bukan gudangnya.

“Ya Allah, sibukkan hati kami untuk mengenali-Mu sepanjang hidup kami siang dan malam. Masukkan kami dalam golongan orang-orang shalih terdahulu, berilah kami rezeki dengan sesuatu yang telah Engkau berikan kepada mereka. Engkau untuk kami sebagaimana Engkau untuk mereka.” Amin.

Engkau untuk Allah Swt. sebagaimana orang-orang shalih untuk-Nya sehingga engkau mendapat sesuatu sebagaimana yang mereka dapatkan. Jika engkau menginginkan Allah Azza wa Jalla bersamamu, maka sibukkanlah dirimu dengan mena’ati-Nya, sabar bersama-Nya, serta ridha akan perbuatan-Nya padamu. Kaum itu telah zuhud pada dunia dan mengambil bagian mereka daripadanya dengan tangan taqwa dan wara’. Kemudian mereka mencari akhirat dan melakukan amal-amal untuknya. Mereka mendurhakai nafsunya dan menta’ati Tuhannya. Mereka menasihati nafsunya sendiri baru kemudian menasihati orang lain.

Wahai ghulam, nasihatilah dirimu terlebih dahulu, barulah kemudian menasihati orang lain. Engkau harus lebih memperhatikan nasib dirimu. Janganlah engkau menoleh pada orang lain sedangkan dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Celaka engkau. Engkau ingin menyelamatkan orang lain sedangkan dirimu sendiri dalam keadaan buta. Bagaimana orang buta dapat menuntun orang lain? Yang bisa menuntun manusia hanyalah orang yang dapat melihat. Yang bisa menolong mereka dari tenggelam di lautan hanyalah orang yang tangkas berenang. Yang dapat menuntun manusia kepada Allah Azza wa Jalla hanyalah orang yang telah memiliki ma’rifat kepada-Nya.

Adapun orang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana mungkin ia dapat menunjukkan kepada-Nya? Engkau tidak mempunyai hak untuk berbicara tentang kebebasan perilaku Allah Swt., Engkau harus mencintai-Nya dan beramal untuk-Nya, bukan untuk lain-Nya. Hanya takut kepada-Nya, bukan kepada yang lain-Nya. Ini merupakan ungkapan hati, bukan hanya di lidah. Ini adalah bisikan nurani, bukan gerakan lahir. Jika tauhid berada di pintu rumah sedangkan syirik berada di dalam rumah, itu kemunafikan namanya. Celaka engkau, lidahmu takut tapi hatimu menentang. Lidahmu bersyukur sedangkan hatimu kufur. Allah Swt.berfirman dalam hadits Qudsi: “Wahai anak Adam, kebaikan-Ku turun kepadamu sedang keburukanmu naik kepada-Ku.”

Celaka, engkau mengaku menjadi hamba-Nya, tetapi mena’ati selain Dia. Jika engkau benar-benar hamba-Nya, engkau tentu akan setia kepada-Nya. Seorang mukmin yang yakin tidak pernah mengikuti nafsu, syaitan, dan keinginannya. Ia tidak mengenal syaitan, apalagi menta’atinya. Ia tidak memperdulikan dunia, apalagi tunduk kepadanya. Bahkan ia akan menghina-kan dunia dan mencari akhirat. Jika dia berhasil meninggalkan dunia dan sampai kepada Tuhannya, maka dia akan murni beribadah kepada-Nya sepanjang hayatnya, sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS.Al-Bayyinah [89]:5).

Tinggalkanlah bersekutu dengan makhluk. Tauhidkanlah Al-Haq Azza wa Jalla. Dialah pencipta segala benda. Segala sesuatu ada dalam genggaman-Nya. Wahai pencari sesuatu selain Dia, sesungguhnya engkau tidak berakal. Adakah sesuatu yang tidak terdapat dalam khazanah Allah Swt.?

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya.” (QS.Al-Hijr [15]:21)

Wahai ghulam, tidurlah di dalam pelukan takdir berbantalkan sabar, berselimut pasrah, sambil beribadah menantikan pertolongan Allah Swt. Jika kamu berbuat demikian, Allah Swt. akan melimpahkan karunia yang tidak kamu duga. Menyerahlah kepada ketentuan Allah Swt., terimalah pesan ini. Kepasrahanku kepada takdir telah membuatku semakin dekat dengan Dzat Yang Maha menentukan.

Kemarilah, kita bersimpuh di hadapan Allah Swt., dan bersimpuh kepada takdir dan perbuatan-Nya. Kita tundukkan zhahir dan batin kita. Kita menerima takdir dan berjalan di atasnya. Kita memuliakan utusan raja karena melihat yang mengutusnya. Jika kita bersikap demikian terhadap-Nya, sikap itu akan mengantarkan kita untuk bershuhbah kepada-Nya.

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ هُوَ خَيْرٌ ثَوَاباً وَخَيْرٌ عُقْباً
“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah. Yang Haq.” (QS.Al-Kahfi [18 ]:44)

Engkau akan minum dari lautan ilmu-Nya, memakan dari gugusan karunia-Nya, dan berbahagia dengan sentuhan rahmat-Nya. Sungguh, keadaan ini hanya diberikan kepada satu di antara sejuta orang. Wahai ghulam, engkau harus selalu bertaqwa, janganlah mengikuti nafsu dan kawan-kawan yang jahat. Seorang mukmin tidak boleh lelah dalam memeangi mereka. Janganlah memasukkan pedang ke dalam sarungnya, bahkan jangan turun dari keduanya. Dia tidur seperti para wali, makan ketika telah lapar, yang dibicarakan dan diam telah menjadi perangai mereka. Hanya ketentuan Allah dan perbuatan Allah yang membuat mereka berbicara. Allah Swt yang menggerakkan lidah mereka untuk berbicara sebagaimana Allah akan menggerakkan anggota badan mereka untuk berbicara kelak pada Hari Kiamat. Allah Swt. yang menjadikan sesuatu dapat berbicara.

Jika Allah Swt. menghendaki itu semua untuk mereka, maka Allah akan menyediakannya. Allah Swt telah menghendaki agar berita gembira dan peringatan itu sampai kepada manusia. Agar kelak dapat meminta pertanggungjawaban ke atas mereka, maka Allah Swt. telah mengutus para nabi dan rasul a.s.. Manakala Allah Swt telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut, maka Allah Swt telah mengirim para ulama untuk meneruskan kerja tersebut dan membangun umat manusia. Nabi Saw.telah bersabda: ”Ulama adalah pewaris para nabi.” Bersyukurlah kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya dan pandanglah bahwa kenikmatan itu datang dari-Nya, sebagaimana Dia berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ 
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS An-Nahl [16 ]: 53)

Dimanakah rasa syukurmu wahai orang-orang yang bergelimang dalam kenikmatan-Nya? Wahai orang yang menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Terkadang engkau menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya, terkadang engkau meremehkannya, terkadang engkau memandang pada sesuatu yang tidak ada padamu, bahkan terkadang engkau menggunakannya untuk mendurhakai-Nya 

Dimanakah rasa syukurmu wahai orang-orang yang bergelimang dalam kenikmatan-Nya? Wahai orang yang menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Ya, terkadang engkau menganggap kenikmatan itu datang dari selain-Nya. Terkadang engkau malah meremehkannya, terkadang engkau memandang pada sesuatu yang tidak ada padamu, bahkan engkau menggunakan itu untuk mendurhakai-Nya.
Wahai Ghulam, dalam kesunyianmu engkau memerlukan sifat “wara’ untuk mengeluarkan dirimu dari kemaksiatan dan kesalahan.Engkau juga perlu bermuraqabah supaya menyadarkanmu mengenai pandangan-Nya kepadamu. Dalam kesunyianmu, engkau memerlukan hal itu. Kemudian engkau harus memerangi nafsu keinginan dan syaitan. Kebanyakan manusia binasa disebabkan oleh dosa. Kebanyakan ahli zuhud binasa disebabkan oleh syahwat, dan kebanyakan wali binasa disebabkan oleh pikiran mereka pada waktu khalwat. Sedangkan para shiddiqin terkadang binasa karena kelengahan sekejap.

Jadi kesibukan mereka adalah menjaga hatinya. Karena mereka tertidur di pintu raja, mereka bangkit untuk berdakwah menyeru manusia agar mengenal Allah SWT. Tidak henti-hentinya mereka menyeru hati manusia. Mereka berkata, “Wahai hati, wahai ruh, wahai manusia dan jin, wahai yang menghendaki Allah, kemarilah menuju pintu-pintu Allah SWT.. Berlarilah kemari dengan langkah-langkah hatimu, dengan langkah-langkah taqwa dan tauhidmu. Ma’rifat, wara’, dan zuhud dari sesuatu selain-Nya adalah kesibukan para wali. Cita-cita mereka adalah kebaikan umat. Cita-cita mereka adalah memenuhi langit dan bumi.

Wahai Ghulam, tinggalkan nafsu dan keinginanmu. Jadilah bumi di bawah telapak kaki para wali itu dan tanah di depan mereka. Al-Haq Azza wa Jalla telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dia mengeluarkan nabi Ibrahim a.s. dari kedua ibu bapaknya yang mati dalam kekufuran. Orang mukmin itu ibarat hidup sedangkan orang kafir itu ibarat mati. Orang yang bertauhid itu hidup, sedangkan orang musyrik itu mati. Oleh karena itu Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi: “Orang yang pertama kali mati di antara makhluk-Ku adalah Iblis.” Yakni dia telah mendurhakai Allah SWT, sehingga mati dengan sebab kemaksiatannya.

Sekarang adalah zaman akhir, pada zaman ini telah muncul pasar kemunafikan dan kebohongan. Janganlah engkau duduk bersamaorang-orang munafik, para pendusta dan pembohong. Aduhai celaka engkau! nafsumu pendusta, munafik dan kufur, bahkan durhaka dan musyrik. Bagaimana engkau duduk dengannya? Tinggalkan ia dan jangan engkau ikuti bisikannya. Penjarakan ia. Berikan haknya saja, jangan lebih dari itu. Tahanlah ia dengan ‘mujahadah’. Adapun keinginan, tunggangilah ia, agar jangan sampai menunggangimu. Juga watak, jangan temani ia. Ia seperti anak kecil yang belum berakal. Bagaimana mungkin engkau bisa belajar dari anak kecil? Syaitan adalah musuhmu dan musuh ayahmu (Adam a.s.). Bagaimana mungkin engkau dapat berdampingan dengannya? Engkau tidak akan selamat.

Dia telah membunuh ayah dan ibumu (penyebab Adam dan Hawa terusir dari surga). Jika engkau lengah sedikit saja, ia pasti akan membunuhmu. Jadikanlah taqwa sebagai senjatamu. Kemudian tauhid, muraqabah, wara’, shidiq, dan memohon pertolongan Allah SWT sebagai pasukanmu. Pedang dan pasukan itu akan menghancurkan syaitan dan tentaranya. Setelah itu engkau akan menang karena Allah SWT bersamamu.

Wahai Ghulam, satukanlah antara dunia dan akhirat, letakkan mereka di satu tempat, lalu menyendirilah engkau dengan Tuhanmu di tempat hati yang telanjang tanpa dunia maupun akhirat. Janganlah engkau menghadap kepada-Nya kecuali menyepi dari sesuatu selain-Nya. Janganlah engkau terikat oleh makhluk yang menghalangimu dari Khaliq. Putuskanlah semua sebab.Tinggalkan tuhan-tuhan lainnya {harta-tahta-wanita-keluarga}. Selanjutnya, jadikan dunia untuk ragamu, akhirat untuk hatimu, dan Al-Haq Azza wa Jalla untuk nuranimu.

Wahai Ghulam, janganlah engkau bersama nafsu, keinginan, dunia dan akhirat. Janganlah engkau mengikuti selain Al-Haq Azza wa Jalla . Engkau akan tiba di gudang perbendaharaan yang tidak pernah habis selamanya. Ketika itu akan datang kepadamu petunjuk Allah SWT yang tidak ada kesesatan sesudahnya. Bertaubatlah dari dosa-dosamu dan larilah daripadanya kepada Maulamu. Jika engkau bertaubat, hendaklah engkau bertaubat secara lahir dan batin. Taubat adalah ketenangan hati. Lepaskanlah pakaian maksiat dengan taubat yang murni. Malu kepada Allah SWT., adalah kebenaran hakiki., bukan majazi. Ia termasuk amalan hati setelah mensucikan anggota badan dengan mengamalkan agama. Jika badan punya amal, hati pun punya amal. Jika hati keluar dari lingkungan asbab dan hubungan dengan makhluk, berarti ia telah berlayar meninggalkan asbab dan mencari “Al-Musabbib.”Ketika hati telah berlayar di lautan ini, maka di sana ia akan mengatakan, “(Yaitu) Tuhan Yang telah menciptakan aku, maka Dialah Yang menunjuki aku.”
 
Allah SWT akan menunjukkan dari satu pantai ke pantai lain, dari satu tempat ke tempat lain sehingga ia akan berdiri di atas keadaan yang lurus. Setiap kali ia mengingat Tuhannya, makin jelaslah penemuannya dan terbukalah rerimbunan yang menghalanginya. Hati pencari Al-Haq Azza wa Jalla akan berjalan cepat dan meninggalkan segala sesuatu di belakangnya. Jika ia takut pada sebagian jalan dari suatu kebinasaan, maka muncullah keimannya yang mendorong keberaniannya dan mengusir ketakutannya, bahkan akan datang pula cahaya kedamaian berupa “kedekatan” kepada Allah SWT.
 
Wahai Ghulam, jika datang padamu suatu penyakit, terimalah dengan tangan kesabaran dan tenanglah hingga datang obat. Dan jika datang obat, sambutlah dengan tangan syukur. Jika engkau berbuat demikian, berarti engkau berada dalam kehidupan dunia. Takut kepada api neraka akan mengetuk hati orangg-orang mukmin sehingga hati mereka menjadi pucat dan bersedih. Dalam keadaan demikian,, Allah SWT akan menyirami mereka dengan air rahmat dan kelembutan-Nya. Bahkan akan di bukakan untuk-nya pintu akhirat. Lalu mereka akan melihat tempat mereka yang aman.

Jika mereka telah tenang dan damai, akan dibukakan untuk mereka pintu keagungan, sehingga hati dan nurani mereka pasti akan semakin takut dibandingkan sebelumnya. Jika kesempurnaan itu telah ada pada diri mereka, maka akan dibukakan bagi mereka pintu keindahan sehingga tenteramlah mereka, dan mereka akan sadar serta menapaki tangga demi tangga.

Wahai Ghulam, janganlah cita-citamu hanya mencari makan dan minum, menikmati pakaian dan istri. Yang menikmati semua itu hanyalah nafsu dan watak. Lalu dimanakah hati da nurani, yang mencari Al-Haq Azza wa Jalla. Cita-citamu hendaklah ditujukan pada hal-hal yang meninggikanmu. Jadikanlah Tuhanmu dan apa yang ada di sisi-Nya sebagai cita-citamu. Dunia itu ada gantinya, yaitu akhirat. Dan makhluk juga ada gantinya, yaitu Khaliq Azza wa Jalla. Jika engkau meninggalkan sesuatu dari kehidupan dunia ini, maka akan ada gantinya yang lebih baik di akhirat. Anggaplah umurmu tinggal sehari saja. Bersiaplah menyambut kedatangan Malaikat maut dan pindah ke akhirat.

Dunia ibarat lading, sedangkan akhirat adalah kampong yang sebenarnya. Jika datang kecemburuan dari Allah SWT., maka akan menghalangi di antara mereka dengan makhluk. Kemudian mereka akan membutuhkan dunia maupun akhirat. Wahai para pendusta agama, engkau mencintai Allah pada waktu memperoleh nikmat. Tetapi jika datang musibah, engkau lari seolah-olah engkau tidak menyukainya. Seorang hamba itu terbukti saat ia bebas. Jika datang bencana dari Allah SWT dan engkau tetap teguh, berarti engkau mencintai Allah SWT. Namun jika engkau berubah, berarti engkau berdusta.

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Bersiaplah untuk merahasiakan kefakiran.”

Lagi, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku sangat mencintai Allah” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Bersiaplah untuk merahasiakan bencana.”

Sesungguhnya cinta Allah dan Rasul-Nya itu selalu dibarengi dengan kefakiran dan bencana. Oleh karena itu, sebagian orang shalih mengatakan, “Kedekatan itu diwakili oleh balak, supaya tidak semua orang mengaku.” Jika tidak, tentu orang akan dengan mudah mengaku mencintai Allah SWT. Jadi pakaian bencana dan kefakiran itu tanda dari mahabbah tersebut.


Ya Allah, berilah kami rezeki berupa kesehatan dan kelayakan bersama-Mu.
Ya Allah, masukkan kami kedalam rahmat-Mu. Dan berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.
Amin.

Dipetik dari kitab “Al-Fathur Rabbani Wal Faidhur Rahmani,
Menjadi Kekasih Allah - Ditulis oleh: Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani

Nasehat Mukmin kepada saudaranya





WASIYAT DARI SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI RA

[Majelis - 6]


Hati kaum sufi itu bersih, lupa akan makhluk dan selalu mengingat Allah swt., Mereka lupa dunia dan ingat akhirat. Mereka melupakan sesuatu yang ada di tanganmu dan ingat apa yang ada di sisinya. Engkau terhijab mereka dan apa yang mereka dapatkan.

Engkau sibuk dengan dunia dan lupa akhirat, tidak mempunyai rasa malu kepada Tuhan.

Terimalah nasihat saudaramu seiman, janganlah engkau menolaknya. Sungguh Dia melihat apa yang tidak engkau lihat pada dirimu.

Oleh karena itu, Nabi Saw. Bersabda:
“Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya.” 

Nasihat yang benar dari seorang mukmin untuk saudaranya akan memperjelas hal-hal yang samar baginya, membedakan antara yang baik dan yang buruk, menerangkan apa yang berbahaya baginya dan apa yang bermanfaat baginya. Maha Suci Allah Yang telah memberiku kelapangan hati untuk memberikan nasihat kepada manusia dan menjadikannya sebagai cita-cita terbesarku. Sesungguhnya aku tidak mengharapkan balasan apa pun dari nasihatku ini. Akhiratku telah tersedia untukku di sisi Tuhanku.

Aku tidak mencari dunia. Aku bukan penyembah dunia, akhirat, atau segala sesuatu selain Allah Swt. Tidak ada yang aku sembah kecuali Al-Khaliq Yang Maha Esa dan Mahadahulu. Aku hanya ingin agar engkau berbahagia, aku tidak ingin engkau binasa. Jika aku melihat seorang murid Berjaya di tanganku, sungguh aku akan bergembira. Wahai ghulam, yang menjadi keinginanku adalah engkau, bukan aku. Jika ada yang berubah, maka yang berubah itu adalah engkau, bukan aku. Aku telah lewat, aku juga ingin engkau secepatnya lewat.

Wahai ghulam, tinggalkan takabur kepada Allah Swt., dan makhluk-Nya. Sadarilah kemampuanmu, dan rendahkanlah hatimu. Engkau tidak lain hanyalah dari setets air hina dan akan menjadi bangkai yang hina pula. Janganlah engkau termasuk orang yang diseret hawa nafsunya ke pintu raja-raja untuk mendapatkan sesuatu, baik yang telah menjadikan bagianmu atau tidak, secara hina. Dalam hal ini Nabi Saw. bersabda:

“Siksa Allah yang paling pedih bagi hamba-Nya ialah yang mencari sesuatu yang tidak ditentukan menjadi bagiannya.”

Duhai Celaka kamu, wahai orang yang tidak mengetahui kemampuan dan takdir. Apakah kamu mengira bahwa pemilik dunia itu mampu memberimu apa yang tidak dibagikan untukmu? Tetapi inlah bisikan syaitan dalam hati dan kepalamu. Engkau bukanlah hamba Allah SWT, engkau adalah hamba nafsu, keinginan, syaitan, watak, dinar, dan dirhammu. Lihatlah orang-orang yang berhasil sehingga engkau juga berhasil karena mengikuti jalan mereka.

Sebagian ahli sufi mengatakan bahwa orang yang tidak pernah melihat orang yang berhasil tidak akan bisa berhasil. Jika engkau melihat orang berhasil dengan mata kepalamu, bukan dengan mata hati dan nuranimu, berarti imanmu belum hidup. Allah Swt. berfirman:

الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
”Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta itu adalah hati yang di dalam dada.” (QS.Al-Hajj [22]:46).

Seorang yang tamak dalam mengambil dunia dari tangan makhluk berarti telah menjual agama dengan buah tin, yakni menjual sesuatu yang kekal dengan sesuatu yang fana. Tentu saja ia tidak akan beruntung. Selagi imanmu kurang, meski berusaha memperbaiki kehidupanmu, jangan sampai kamu menukar agamamu dengan makanan mereka.

Jika imanmu kuat, engkau pasti bertawakal kepada Allah Swt., keluar dari asbab, dan tekun beribadah. Dan engkau pasti pergi meninggalkan segala sesuatu dengan hatimu, sehingga hatimu keluar dari negerimu, keluargamu, bahkan toko dan kenalanmu. Kemudian engkau menyerahkan apa yang ada padamu pada keluarga dan kawan-kawanmu. Seolah-olah malaikat maut telah mencabut nyawamu, seolah-olah malaikat telah membawamu pergi. Seolah-olah bumi telah terbelah dan menenggelamkanmu dari lautan ilmu dan ruanganmu. Barangsiapa sampai pada maqam ini, maka asbab tidak membahayakannya. Karena asbab hanya lahirnya, bukan bathinnya. Asbab itu untuk orang lain, bukan untuknya.

Wahai ghulam, jika kamu tidak mampu melaksanakan apa yang aku katakan ini, yakni keluar dari asbab dan bergantung padanya dari segi hati, dan jika engkau tidak mampu melaksanakan sepenuhnya, hendaklah engkau laksanakan sebagian. Nabi Saw.,bersabda:“Kosongkanlah dari cita-cita dunia semampumu.”

Wahai ghulam, jika engkau mampu, kosongkanlah hatimu dari cita-cita dunia. Jika tidak, melangkahlah dengan hatimu kepada Al-Haq Azza wa Jalla. Berpeganglah kepada tali rahmat-Nya sehingga cita-cita dunia keluar dari hatimu. Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiap sesuatu berada di tangan-Nya. Tetaplah berada di pintu-Nya. Mohonlah kepada-Nya agar Dia membersihkan hatimu dari selain-Nya dan memenuhi hatimu dengan iman, ma’rifat, ilmu, dan kaya bersama-Nya, bukan bersama makhluk-Nya. Mohonlah agar Dia memberimu keyakinan dan menenteramkan hatimu serta menyibukkan dirimu dengan menaati-Nya. Mohonlah segala sesuatu kepada-Nya, bukan kepada selain Dia. Janganlah engkau merendahkan kepada sesama makhluk. Hendaklah engkau hanya untuk-Nya, bukan untuk selain Dia.

Wahai ghulam, kefasihan lisan tanpa amalan hati tidak akan mengantarkanmu kepada Al-Haq Azza wa Jalla. Perjalanan ini adalah perjalanan hati. Amalan ini juga amalan hati dengan menjaga batas syari’at dan tawadhu’ kepada-Nya. Dengan menjalankan ibadah. Barangsiapa menganggap dirinya berharga, sesungguhnya tidak ada harga baginya. Barangsiapa menampakkan amalnya kepada makhluk, sungguh tidak ada amal baginya. Amalan itu hendaknya pada waktu sepi. Janganlah menampakkan amalan kecuali amalan wajib yang memang harus ditampakkan sebagaimana yang telah kami jelaskan.

Landasilah amalanmu dengan tauhid dan ikhlas, kemudian bangunlah amal dengan daya upaya Allah SWT. dan kekuatan-Nya, bukan dengan upaya dan kekuatanmu. Tangan tauhid itulah yang membangun, bukan tangan niatmu. Tangan tauhid itulah yang membangun, bukan tangan nifak dan syirik. Orang yang bertauhid, amalannya akan naik. Berbeda dengan orang munafik.

"Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat munafik dalam seluruh keadaan kami. Dan berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka."


[Dipetik dari kitab “Al-Fathur Rabbani Wal Faidhur Rahmani; Menjadi Kekasih Allah, oleh Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani]

Wednesday, May 26, 2010

Tentang Kesabaran




WASIAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAIANI RA

(Majelis - 7)



قَالُواْ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, tuangkan kesabaran ke atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” 
(QS.Al-Baqarah [2]:250). 

Perbanyaklah pemberian-Mu kepada kami. Berilah kami rasa syukur atas pemberian itu.

Wahai ghulam, bersabarlah. Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah bencana. Jarang sekali yang selamat darinya. Tidak ada satu nikmat pun kecuali di baliknya ada bencana. Tidak ada kesenangan kecuali di belakangnya ada kesusahan. Tidak ada kelapangan kecuali di baliknya ada kesempitan. Jalanilah hidupmu di dunia dan ambillah bagianmu dari-Nya dengan tangan agama.

Sesungguhnya agama merupakan obat penawar dalam mengambil sesuatu dari dunia. Wahai ghulam, ambillah bagian dengan tangan agama, jika engkau mau, dan dengan tangan “perintah” jika engkau khawas, serta dengan tangan “perbuatan” Allah SWT. jika engkau telah wushul. Yang Maha Memerintah akan memerintah dan mencegahmu serta “perbuatan” akan menggerakkan dirimu. Manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: awam, khawas, dan khawasil-khawash. Orang Awam yaitu seorang muslim yang bertaqwa, dia mena’ati agama, mengikuti syari’at, dan tidak berpisah dengannya. Dia mengamalkan firman Allah Swt.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia.Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS.Al-Hasyr:7).

Jika telah sempurna hal ini padanya, dan ia telah mengamalkan agama secara lahir dan bathin, maka di hatinya akan muncul cahaya hidayah yang dengannya ia mampu melihat. Jika ia mengambil sesuatu dari tangan agama, maka hatinya merasa kaya, dan ia mencari ilham Al-Haq Azza wa Jalla. Karena ilham-Nya adalah umum pada tiap-tiap sesuatu. Sebagaimana difirmankan Allah SWT:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (QS.As-Syams:8).

Maka hatinya penuh ketaqwaan, memandang ilhamAl-Haq Azza wa Jalla dan alamat-Nya, dan ia mengambil perintah dari sisi lahirnya. Bahwa apa yang ada di toko, sebagai tempat mata pencahariannya adalah miliknya dan ada dalam kekuasannya. Kemudian hatinya kembali bercahaya dan ia memandang apa yang ada di tokonya itu.

Cahaya itu muncul setelah ia bekerja mengikuti cara agama yang didasari iman dan tauhid yang kuat, bahkan hatinya telah keluar dari dunia dan makhluk serta telah melewati hutan dan menyeberang lautan dunia. Sesungguhnya ketika itu datanglah fajar. Cahaya iman akan meneranginya, yaitu cahaya kedekatan dari Tuhannya, cahaya amal, cahaya sabar, dan cahaya kedamaian. Semua hasil itu diraih setelah menunaikan hak-hak agama sehingga ia mendapatkan keberkatan dalam menjalankannya. 

Adapun para wali, mereka termasuk khawashul-khawash, tentu mereka mematuhi agama, kemudian memandang perintah Allah Swt., perbuatan, gerak, dan ilham-Nya. Maka apa yang ada di luar tiga hal tersebut adalah kehancuran, penderitaan, haram, memusingkan kepala dan agama, kanker di hati, dan nanah di jasadnya.

Wahai ghulam, sesungguhnya peraturan untukmu adalah untuk melihat bagaimana perbuatanmu. Apakah engkau teguh atau hanyut? Apakah engkau benar atau dusta? Barangsiapa tidak menyetujui takdir, maka ia tidak akan disetujui dan dikasihi. Barangsiapa tidak rela dengan qadha, Allah Swt. Tidak akan rela kepadanya. Barangsiapa tidak mau memberi, ia tidak akan diberi. Barangsiapa tidak berziarah, ia tidak akan naik. Ingkarilah dirimu jika mengingkari Al-Haq Azza wa Jalla. Jika engkau mampu mengingkari nafsumu, maka engkau akan mampu pula mengingkari orang lain.

Sesuai kadar kekuatan imanmu, engkau hanya duduk di rumahmu dan kamu tidak berusaha menghilangkannya. Langkah-langkah iman pasti teguh ketika berjumpa dengan syaitan, jin, dan manusia. Ia sangat teguh. Janganlah engkau mengaku beriman sebelum membenci segala sesuatu. dan cintailah Pencipta segala sesuatu. Jika Dia hendak membuatmu cinta pada sesuatu, engkau akan tetap terjaga, karena Dialah yang membuatmu cinta, bukan engkau sendiri. Dalam hal ini, Nabi Saw.bersabda:

“Telah disukakan tiga hal kepadaku dari duniamu, yakni wewangian, wanita, dan sejuk mataku dalam shalat.”

Telah disukakan kepadanya setelah dibenci, ditinggalkan, bahkan setelah zuhud dan berpaling darinya. Kosongkanlah hatimu dari selain Allah SWT., agar Dia akan membuatmu cinta kepada sesuatu.


“Ya Allah, berilah kami rezeki berupa kesabaran dan tak mengeluh atas bala musibah. Dan berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.”




Wasiat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani




WASIAT SAYIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI RA

(Majelis ke - 11)

Wahai ghulam, kenalilah Allah, jangan sampai engkau tidak mengenal-Nya. Ta’atilah Dia, jangan sekali-kali mendurhakai-Nya. Ridha-lah engkau pada taqdir-Nya, jangan pernah membantah-Nya.

Kenalilah Al-Haq Azza wa Jalla dengan segala sifat-Nya. Dialah Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki, Yang Awal, Yang Akhir, Yang zhahir, Yang bathin, Yang qadim, Yang abadi, dan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berbuat apa saja Yang Dia kehendaki. 

Firman Allah SWT:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang ditanya.” (QS.Al-Anbiya’:23).

Dia Yang membuat kaya atau miskin, Yang memberi manfaat, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang membalas, dan Yang diharapkan. Takutlah kepada-Nya - jangan takut pada selain Dia. Berharaplah kepada-Nya,-jangan kepada selain Dia. Berjalanlah bersama kudrat dan hikmah-Nya, sampai kudrat melangkahkan hikmah.

Terapkanlah adab dengan berpegang pada syari’at, sampai engkau datang pada apa yang menghalangi antara dirimu dengan Dia. Engkau akan terpelihara dari panasnya batas syari’at. Namun, yang sampai batas ini hanyalah beberapa orang shalih saja. Kita tidak perlu keluar dari daerah agama. Yang mengetahui persoalan itu hanyalah orang yang telah memasukinya. Adapun jika hanya sekadar keterangan, engkau tidak akan bisa memahaminya.

Hendaklah dalam segala urusanmu selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam., baik di dalam perintah maupun larangan-Nya. Sehingga Allah SWT memanggilmu kepada-Nya. Ketika itu, mintalah izin kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dan masuklah kepadanya. Para wali Abdal dinamakan Abdal karena mereka bersama kehendak Allah SWT. Mereka tidak memiliki kehendak lain. Mereka berpegang dan mengamalkan hukum, kemudian melakukan amalan-amalan yang istimewa. Setiap naik derajat dan kedudukan mereka, akan bertambah pula perintah dan larangan, sehingga mereka sampai pada suatu kedudukan di mana tidak ada perintah maupun larangan.

Perintah agama telah menyatu pada diri mereka, namun mereka selalu ghaib bersama Al-Haq Azza wa Jalla. Mereka hanya hadir sewaktu datang perintah dan larangan, di mana mereka selalu menjaganya dan tidak pernah merusak batas-batasnya. Karena meninggalkan ibadah adalah zindiq dan merupakan kemaksiatan. Sungguh kewajiban itu tidak pernah gugur bagi seorang pun dalam semua keadaan.

Wahai ghulam, amalkanlah ilmu dan hukum-Nya. Janganlah engkau keluar dari garis. Janganlah engkau melupakan janji. Usirlah nafsu, keinginan, syaitan, watak, dan duniamu. Jangan putus asa dari pertolongan Allah SWT., karena Dia pasti datang dengan keteguhanmu. Allah SWT. telah berfirman: ”Sesungguhnya Allah SWT bersama orang yang sabar” (QS.As-Baqarah [2]:153). ”Maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang” (QS.As-Maidah [ ]:56). ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS.Al-Ankabut [29 ]: 69)). 

Kendalikanlah lidah nafsumu ketika ia hendak mengadu kepada makhluk. Jadilah engkau pembela Allah SWT., dalam urusan nafsu maupun manusia. Perhatikanlah mereka agar ta’at kepada-Nya, dan cegahlah mereka supaya meninggalkan larangan-larangan-Nya. Cegahlah mereka dari kesesatan dan bid’ah, dan perintahkanlah mereka agar mengikuti Kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Wahai Ghulam, muliakanlah Kitab Allah SWT., dan beradablah kepada-Nya. Ia merupakan penghubung antara dirimu dengan Allah SWT..Janganlah engkau menjadikan Dia sebagai makhluk. Allah SWT. sendiri berfirman, “Ini firman-Ku, tetapi kamu mengatakan, “tidak”. Barangsiapa yang menentang Allah SWT., dan menjadikan Al-Qur’an sebagai makhluk, sungguh ia telah kufur dan bebas dari pembelaan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang dibaca, di dengar, dan di pandang adalah firman Allah SWT..

Imam Asy Syafi’i maupun Imam Ahmad Rah.a. berkata, “Qalam itu memang makhluk, tetapi yang dituliskan dengannya bukanlah makhluk. Hati itu memang makhluk, tetapi yang dihafal di dalamnya bukanlah makhluk.”

Wahai Ghulam, ambillah nasihat dari Al-Qur’an dengan mengamalkannya dan tidak menentangnya. Meyakini kalimat itu “sedikit”, sedangkan beramal itu “banyak”. Engkau harus beriman dan membenarkan terhadapnya dengan hati, lalu mengamalkannya dengan jasad. Janganlah engkau berpaling kepada akal pikiran yang kurang dan dangkal. Wahai Ghulam, janganlah engkau mengganti naqal dengan akal, nash dengan qiyas atau meninggalkan bukti yang nyata dan mengikuti pengakuan mengenai harta orang, yang tidak bisa diambil hanya dengan pengakuan semata tanpa bukti.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Jika manusia itu didengar pengakuannya tentu suatu kaum akan mengikuti daerah dan harta kaum lain, tetapi “bukti” itu atas orang yang mengakui dan “sumpah” itu atas orang yang mengingkari.”

Sungguh tidak berguna lidah orang alim dan hati orang bodoh. Dalam sebuah hadits, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Yang paling aku takutkan atas umatku adalah orang munafiq yang pandai dilidah.”

Wahai para ‘ulama yang bodoh, wahai orang-orang yang hadir maupun yang tidak hadir,malulah kepada Allah SWT., pandanglah Dia dengan hatimu, merendahlah kepada-Nya, dan sabarkan dirimu di bawah lika-liku taqdir-Nya. Tetaplah di situ dengan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Ta’atlah kepada-Nya siang dan malam. Jika demikian, engkau akan mendapatkan kemuliaan dan kejayaan dari Allah SWT di dunia maupun di akhirat.

Wahai Ghulam, berusahalah supaya tidak ada sesuatu pun dari dunia ini yang engkau cintai.Jika telah sempurna yang demikian itu, janganlah engkau biarkan dirimu bersama nafsumu walau hanya sekejap. Jika engkau lupa, segeralah ingat, jika engkau lalai, segeralah sadar, sehingga Dia tidak akan membiarkanmu memandang kepada selain-Nya secara keseluruhan (total). Barangsiapa merasa demikian, sungguh dia telah mengenal Allah SWT. Hanya beberapa orang saja yang bisa mencapai tingkatan ini. Mereka tidak merasakan ketenangan bersama makhluk. Wahai orang-orang munafik, sesungguhnya bala dan bencana itu berada di atas kepalamu.

Para ahli sufi, manakala mereka memandang dengan mata hati mereka kepada selain Al-Haq Azza wa Jalla, maka mereka segera menginfaq-kan keselamatannya untuk ridha kepada-Nya, bersimpuh di hadapan-Nya, dan membuta dari selain-Nya. Berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mereka tetap dan tidak berubah bersama Al-Haq Azza wa Jalla. Mereka adalah manusia yang paling berakal. Kalau engkau melihat mereka, engkau akan menganggap mereka gila, tetapi jika mereka melihat engkau, mereka tentu akan berkata, “Orang-orang itu tidak beriman pada Hari Kiamat.” 

Sungguh, hati mereka telah luluh di depan Al-Haq Azza wa Jalla, hati mereka senantiasa dipenuhi dengan rasa takut. Setiap kali dibukakan keagungan-Nya di hati mereka, kian bertambahlah kekuatan mereka. Hampir-hampir hati mereka remuk dan jasad mereka hancur. Jika salah seorang dari mereka melihat keadaan seperti itu maka akan dibukakan pintu-pintu rahmat-Nya, kecantikan-Nya, kelembutan-Nya, dan harapan kepada-Nya, sehingga hatinya menjadi tenang. Aku tidak suka memandang kecuali kepada pencari akhirat meupun pencari Allah SWT. Adapun kepada pencari dunia,manusia, keinginan, dan nafsu, apalah yang yang ingin aku perbuat terhadapnya kecuali hendak mengobatinya. Sesungguhnya ia sedang sakit, dan tidak ada yang bisa merawat orang sakit kecuali tabib.

Duhai, Celaka..! Engkau memperlihatkan kepadaku bahwa kamu adalah pencari akhirat, padahal kamu pencari dunia. Dinar dan emas yang ada di tanganmu akan sirna, sehingga yang tinggal hanyalah perak. Berikan kepadaku, aku akan meleburnya dan menyaringnya sehingga yang tinggal hanyalah emas. Sedikit tapi baik lebih baik daripada banyak tetapi buruk. Bertaubatlah engkau dari riya dan nifak. Pada mulanya orang-orang ikhlas itu juga munafik. Oleh karena itu dikatakan, “Yang mengetahui ikhlas hanyalah riya”

Sungguh, jarang sekali orang yang ikhlas sejak permulaan. Anak-anak kecil itu semula dusta, bermain dengan tanah dan najis, dan menjatuhkan diri dalam kebinasaan. Mereka mencuri dari ayah dan ibu mereka dan suka memfitnah. Tetapi setelah berakal,sedikit demi sedikit semua mereka tinggalkan. Mereka mulai bersikap dengan penuh adab terhadap ayah, ibu, dan guru-guru mereka.

Barangsiapa yang dikehendaki Allah SWT menjadi baik, dia akan memiliki adab dan meninggalkan kebiasaan buruknya. 

Barangsiapa yang dikehendaki Allah SWT menjadi buruk, dia tetap berada dalam keburukannya sehingga binasalah dunia dan akhiratnya.

Allah SWT menciptakan penyakit dan obat. Kemaksiatan itu penyakit, dan obatnya adalah ta’at. Aniaya itu penyakit, dan obatnya adalah adil. Kesalahan itu penyakit, dan obatnya adalah kebenaran. Mendurhakai Al-Haq Azza wa Jalla itu penyakit, dan obatnya adalah taubat. Namun, pengobatan itu akan sempurna bagimu jika kamu meninggalkan makhluk dari hatimu dan menghubungkan diri dengan Tuhanmu. Engkau mesti menaikkan hatimu kepada-Nya hingga berjalan di atas langit, meski ruh dan rumahmu masih di bumi. Menyendirilah (uzlah) bersama Al-Haq Azza wa Jalla.

Di samping itu, kamu harus tetap menjalankan hukum sehingga tidak ada alasan untuk membantahmu. Batinmu saja bersama Al-Haq Azza wa Jalla, sedangkan lahirmu bersama makhluk. Janganlah engkau membiarkan nafsu. Jika engkau tidak mengendalikannya, ia akan mengendalikanmu. Jika engkau tidak menundukkannya, ia akan menundukkanmu. Janganlah dituruti apa yang ia inginkan dalam menaati Allah SWT. Hajarlah ia dengan pecutan lapar, haus, kehinaan, telanjang, dan menyepi di tempat yang sunyi dari keramaian manusia. Janganlah lepaskan pecut ini sehingga ia jinak dan taat kepada Allah SWT.dalam setiap keadaan.

Meski nafsu itu telah jinak, engkau harus tetap mewaspadainya dan memberikan latihan-latihan kepadanya. Bukankah engkau telah melakukan ini dan itu. Engkau hanya diperintahkan untuk menunaikan perintah Allah SWT dan meninggalkan maksiat kepada-Nya. Sehingga lahir dan batinmu satu, patuh, tidak durhaka, taat tanpa maksiat, syukur tanpa kufur, ingat tanpa lupa, dan baik tanpa buruk.

Tidak ada kebahagiaan bagi hatimu jika di dalamnya ada sesuatu selain Allah SWT. Meskipun engkau sujud kepada-Nya seribu tahun di atas bara, hal itu tidak memberimu manfaat sedikit pun selagi engkau dan hatimu menghadap kepada selain Dia. Tidak ada arinya sedikit pun jika engkau mencintai selain Dia. Engkau tidak akan berbahagia dengan cinta-Nya sebelum engkau meniadakan segalanya.

Apalah gunanya engkau menunjukkan kezuhudanmu pada sesuatu, tetapi engkau justru menghadap kepadanya dengan hatimu. Tidakkah engkau tahu bahwa Allah SWT Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati seluruh manusia? Tidakkah engkau malu, engkau mengatakan dengan lidahmu, “Aku bertawakkal kepada Allah SWT,” tetapi, ternyata di dalam hatimu masih ada selain Dia?

Wahai Ghulam, janganlah engkau tertipu dengan kasih sayang Allah SWT. kepadamu. Sesungguhnya siksa-Nya amat pedih. Janganlah engkau tertipu dengan para ulama yang bodoh terhadap Allah SWT.. Seluruh ilmunya tidak berguna bagi mereka. Mereka hanya mengetahui hukum, tanpa mengenal Allah SWT. Mereka memerintahkan sesuatu kepada manusia, tetapi mereka tidak menjalankannya, sebaliknya mereka mencegah manusia dari sesuatu yang mereka lakukan. Mereka mengaak kepada kebenaran, tetapi mereka justru lari dari-Nya. Jelaslah bahwa mereka telah mendurhakai-Nya. Nama-nama mereka banyak tertulis dalam catatanku. 

“Ya Allah, terimalah taubatku dan taubat mereka. Berikan kami semua kepada Nabi-Mu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan Ibrahim ‘Alaihis Sallam. Ya Allah janganlah engkau kuasakan sebagian kami ke atas sebagian yang lain. Berilah manfaat pada sebagian kami dengan sebagian yang lain. Ya Allah, masukkan kami kedalam rahmat-Mu. Dan berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.”Amin.








Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers