Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Gunakan tanda panah di sudut kanan bawah halaman untuk melanjutkan penelusuran artikel dalam kategori ini
Showing posts with label Ihsan. Show all posts
Showing posts with label Ihsan. Show all posts

Tuesday, June 29, 2010

Kisah sepotong roti isi





Para sahabat rahimakumullah,
Apalah arti sepotong roti? 

Sepotong roti bisa bermakna banyak. Sepotong roti pengganjal perut, sepotong roti yang belum laku terjual, sepotong roti yang terbuang sia – sia, dan masih banyak lagi. Sejenak mari kita membaca kisah dibawah ini tentang sepotong roti. Ada makna mendalam dari cerita dibawah ini. Silahkan baca, simpulkan, dan renungkan:

Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.” 

Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang 70 tahun. tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari – hari yang telah dia tentukan.

Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang dosa selama 7 hari sebagaimana perkara yang telah dilakukan oleh pasangan suami – istri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan sholat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat 12 orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam disana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.

Rupanya disamping pondok tersebut hidup seorang ahli ibadah yang setiap malamnya mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing – masingnya mendapat sepotong roti.

Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi – bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian, karena disangka sebagai orang miskin. 

Rupanya salah seorang diantara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membagikan roti itu ia berkata : “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.” 

Orang yang membagikan roti itu menjawab : 
“kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu potong roti.” 

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Dihadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang 70 tahun dengan dosa yang dilakukannya selama 7 malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan selama 70 tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama 7 malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama 7 malam itu ditimbang dengan sepotong roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sepotong roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama 7 malam itu. 

Kepada anaknya Abu Musa berkata : “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu!”


Semoga bermanfaat!

Baca juga Kisah yang mirip di sini

Nelayan dan seekor ikan




Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'aala yang telah menganugerahkan nikmat umur, yang merupakan nikmat yang paling mulia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'aala.

Shalawat beserta salam semoga selalu dicurahkan Allah Subhanahu wa Ta'aala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya, para sahabatnya ridwaanulaahi ‘alahim ajma'in dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir zaman dengan kebaikan.

Ahmad ibn Miskin r.a. salahseorang tabi'in besar menceritakan kisah seekor ikan, beliau berkata: Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Nash as Shayyad. Ia hidup bersama dengan istri dan seorang putra dalam keadaan yang sangat fakir.

Pada suatu ketika, ia berjalan tak tentu arah dalam keadaan bingung dikarenakan istri dan putranya menangis kelaparan dan ia belum mendapatkan suatu apapun untuk nafkah keluarganya.

Tak lama kemudian, lewatlah ia di hadapan sang Syaikh kaum muslimin, yaitu Syaikh Ahmad Ibn Miskin dan ia berkata: "Aku kelelahan."

Maka berkatalah Syaikh tersebut kepadanya: "Mari, Ikutilah aku ke laut!"
Maka keduanya pun pergi kelaut.

Kemudian Syaikh tersebut berkata kepadanya: "Shalatlah dua raka'at!" 
Maka iapun shalat dua raka'at seperti yang diminta oleh sang Syaikh.

Kemudian Syaikh tersebut berkata lagi:
"Ucapkanlah Bismillah, dan selanjutnya lemparkanlah jaring ini ke laut!"
Abu Nash as Shayyad mengikuti semua perintah syaikh. 

Setelah membaca Basmalah ia pun melemparkan jaringnya ke tengah laut.
Dan ketika ditarik, ternyata jaring tersebut berisi seekor ikan yang sangat besar! 

Subhanallah!

Berkatalah sang Syaikh kepada Abu Nash: "Juallah ikan tersebut, dan hasilnya belikanlah makanan untuk keluargamu."

Maka ia pun menjual ikan tersebut ke pasar dan uang hasil penjualan ikan itu kemudian dibelikannya  dua buah fathirah (roti isi), roti yang satunya berisikan daging sedangkan yang lainnya berisikan manisan. Setelah membeli roti tersebut, lalu ia pun memutuskan untuk pergi mendatangi sang syaikh guna memberinya salahsatu roti isi. Maka pergilah ia menemui sang syaikh dan memberinya sepotong roti. Sang syaikh berkata kepadanya: "Seandainya kita hanya memberi makan untuk diri sendiri, tentu ikan tersebut tidak akan keluar."

Maksudnya, Syaikh melakukan kebaikan untuk mendapatkan kebaikan yang lain. Ia tidak menunggu dan mengharapkan upah pembayaran. Karenanya sang Syaikh mengembalikan roti tersebut dan berkata kepadanya: "Ambillah, (dan berikanlah) untuk diri dan keluargamu."

Dalam perjalanan pulang, lelaki itu bertemu seorang wanita yang sedang menangis karena kelaparan, dan bersamanya adalah anaknya yang masih kecil. Keduanya melihat kepada dua buah roti yang ada ditangannya itu dengan pandangan berhajat.

Lelaki itu bekata kepada dirinya sendiri: "Keadaan wanita ini mirip seperti istri dan putraku yang kesakitan karena menahan lapar, kepada siapakah harus kuberikan dua buah roti ini?"

Demi melihat kedua mata wanita tersebut, dia tak kuasa menahan iba terutama saat melihat butiran air mata yang mengalir dari kedua mata itu. Kemudian berkatalah ia kepada wanita itu: 

"Ambillah dua buah roti ini!"
Maka bersinarlah wajah wanita tersebut dan tersenyumlah putranya karena bahagia.

Setelah memberikan kedua potong roti isi tersebut kepada wanita dan putranya tadi, kembalilah dia dalam kebingungan, bagaimana akan memberi makan istri dan putranya?

Di tengah kebingungannya yang begitu rupa, tiba-tiba dia mendengar suara seorang laki-laki yang bereru: "Siapakah yang bisa menunjukkan kepadaku orang yang bernama Abu Nash as-shayyad?"

Maka orang banyakpun menunjuk kepada Abu Nash sehingga kemudian orang yang berseru tadi berkata kepada lelaki itu: "Sesungguhnya ayahandamu telah meminjamkan harta kepadaku sejak dua puluh tahun lalu. Kemudian dia wafat sementara aku belum melunasi hutangku itu. Maka ambillah 30 ribu dirham milik ayahandamu ini, wahai anakku". 

Abu Nashr as-Shayyad pun kemudian bercerita: "Sejak hari itu aku berubah menjadi orang yang paling kaya, memiliki beberapa rumah dan perniagaan, dan mampubershadaqah ribuam dirham sekali shadaqah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Kemudian aku bangga terhadap diriku sendiri karena banyaknya bershadaqah.

Pada suatu malam akupun bermimpi dalam tidurku bahwa mizan timbangan amal telah di tegakkan. Lalu menyerulah seorang penyeru: "Hai, Abu Nashr as-Shayyad, kemarikan timbangan kebaikan dan keburukanmu!"

"Maka aku letakkan amal kebaikan dan keburukanku. Ternyata keburukan-keburukanku lebih berat daripada kebaikanku. Maka akubertanya: "Kemana harta yang dulu aku ber-shadaqah dengannya?"

Maka harta-harta itupun diletakkan untuk ditimbang. Ternyata pada setiap seribu dirhamnya terdapat nafsu jiwa berupa kebanggaan terhadap diri sendiri (riya'). Dan itu menyebabkan seakan-akan harta tersebut seperti gulungan-gulungan kapas yang amat ringan dan tidak bernilai sama sekali. Sebaliknya, keburukanku lebih berat dari kebaikanku.

Akupun menangis dan bertanya: "Di mana keselamatan?"
Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: " Apakah dia masih memiliki sesuatu?"
Maka aku mendengar seorang malaikat berkata:" Ya, dia masih memiliki dua buah roti isi."

Maka diletakkanlah dua buah roti isi tersebut di daun timbangan kebaikan itu hingga sejajar dengan daun timbangan keburukan.
Akupun takut!

Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?"
Maka aku mendengar seorang malaikat berkata: "Ya, dia masih memiliki sesuatu ..."

Akupun bertanya, "Apa itu?"
Maka dikatakanlah kepadaku: "Air mata wanita yang engkau beri dua buah roti isi".
Maka diletakkanlah air mata tersebut seperti batu di daun timbangan kebaikan itu hingga lebih berat dari daun timbangan keburukan.
Akupun bergembira.

Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?"
Maka aku mendengar seorang malaikat berkata: "Ya, senyum anak kecil saat ia beri dua buah roti isi." Maka daun timbangan kebaikanpun semakin berat dan semakin berat mengalahkan daun timbangan keburukan.

Lalu aku mendengan seorang penyeru berkata: "Sungguh telah selamat, sungguh telah selamat!"

Akupun lalu terbangun dari tidur seraya berkata:
"Seandainya kita memberi makan diri kita sendiri maka ikan pun tidak akan mau keluar ......."

MAKA BERBUATLAH DENGAN IKHLAS!
BERBUATLAH IKHLAS WAHAI SAUDARAKU!


[Dari Qishah, oleh Musthafa Shadiq ar-Rifa'iy, Kitab Silsilah Hikayat Hawa]'


Friday, June 25, 2010

Muslim itu Dermawan



بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ



Firman Allah SWT:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعاً إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعاً
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعاً إِلَّا الْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَوَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu'a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (QS Al-Ma'aarij [70]: 19--25).

Manusia cenderung bersikap haluu'a. Apakah itu? Ia ditafsirkan dengan dua ayat berikutnya (20--21): sebuah perangai buruk suka berkeluh kesah lagi kikir. Ketika ia tertimpa kesulitan, hatinya terasa sempit, goncang, dan mudah berputus asa. Ketika beroleh nikmat dan kebaikan, ia bersikap kikir. Yaitu, kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama.

Tentu tidak semua manusia berperilaku demikian. Seorang muslim semestinya tidak haluu'a, mengapa? Karena, seorang muslim itu ajeg menjaga salatnya. "Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (daimun)." Dengan salat, hati menjadi tenteram. Juga, dengan salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan. Maka, seorang mukmin yang salatnya ajeg dan benar, ia tidak gampang berkeluh kesah. Karena, kesulitan atau kemudahan baginya mengandung hikmah. Sebagian sahabat bahkan memandang kesulitan sebagai nikmat, seperti perkataan Abu Dzar al-Ghifari, "Miskin lebih aku sukai daripada kaya, dan sakit lebih aku sukai daripada sehat."

Seorang muslim semestinya tidak haluu'a, mengapa? Karena, seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak bagi orang yang meminta (as-sail) dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (al-mahruum). "Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa." As-sail adalah orang yang meminta. Terhadap orang semacam ini terdapat hak bagi dia, seperti dalam sabda Rasulullah SAW., "Bagi orang yang meminta-minta terdapat hak, meskipun ia datang mengendarai kuda." (HR Abu Dawud dari hadis Sufyan ats-Tsauri, dalam riwayat lain disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib).

Adapun al-mahrum, seperti didefinisikan Ibnu Abbas, adalah orang yang bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal, tidak memiliki pendapatan, dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat menopang. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Orang miskin bukanlah orang yang keliling dan engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, seorang muslim semestinya dermawan, tidak kikir dan tidak bakhil. Karena, seorang muslim senantiasa merenungkan ayat-ayat Allah, seperti dalam ayat berikut.

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ
لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: 'Ya Rabku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh." (QS. Al-Munafiqun [63]: 10).

Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabatnya, "Manakah yang lebih kalian cintai: harta ahli waris atau harta sendiri?" Mereka menjawab, "Wahai Rasulullah, tentu tidak seorang pun di antara kita kecuali lebih mencintai hartanya sendiri." Rasulullah meneruskan, "Sesungguhnya harta seseorang ialah apa yang telah ia gunakan, dan harta ahli waris adalah apa yang belum ia gunakan." (HR Bukhari).
Abu Bakar al-Jazairi menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan di dalam Minhajul Muslim Dikisahkan bahwa Ummul Mu'minin Siti Aisyah r.a. mendapat kiriman uang sebanyak 180.000 dirham dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Oleh beliau uang itu disimpan di mangkuk dan dibagikan kepada manusia hingga tak tersisa. Pada sore harinya, Aisyah berkata kepada budak wanitanya, "Antarkan makanan berbuka untukku." Budak wanita tersebut menghidangkan roti dan minyak kepada Aisyah. Beliau berkata kepada budak, "Mengapa engkau tidak mengambil uang satu dirham dari uang yang aku bagikan tadi buat membeli daging untuk buka puasa kita?" Budak tersebut menjawab, "Jika Anda mengingatkanku sejak tadi, aku pasti melakukan."
Dalam kekinian, betapa banyak kita temukan dua tipe masusia di atas. Tipe orang miskin meminta-minta karena kondisi memaksa, juga tipe orang yang tidak memiliki kekayaan, penghasilan, pekerjaan, namun ia enggan untuk meminta. Terhadap tipe pertama, akan lebih mudah bagi kita untuk mengetahuinya, namun terhadap tipe kedua, diperlukan sedikit perhatian untuk mengetahuinya. Di sinilah perlunya sikap peka terhadap lingkungan. Budaya modernisme sering berdampak pada menjadikan orang berperilaku egois, tidak mengenal tetangga, tidak mengenal lingkungan. Setiap hari ia makan enak, namun ia tidak mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya tengah kelaparan.

Terlebih al-mahrum, tidak mesti mereka kelompok marginal yang tidak mampu bekerja. Kadang mereka kelompok profesional yang tidak tertopang situasi dan sarana yang mendukung untuk bekerja, seperti tidak adanya lapangan pekerjaan atau tertimpa bencana perang. Dalam konteks ini, perlu aktualisasi kedermawanan bagi muslim yang "kuat", tentu tidak sekadar berpikir memberi ikan, melainkan harus juga berpikir bagaimana memberi kail. Wallahu a'lam bish-shawab. [Abu Zahrah].

Adab terhadap Al-Quran



Para pembaca rahimakumullah, 
Segala puji bagi Allah Yang membaguskan susunan ciptaan-Nya, Yang menciptakan langit dan bumi, mengatur rezeki dan makanan, Yang menurunkan Kitabullah Al-Qur'anul Kariim, Yang menghidupkan dan mematikan, serta Yang memberi pahala atas perbuatan-perbuatan baik.

Shalawat dan salam bagi junjungan kita, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beserta ahlul baitnya, para shahabat, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalam Allah, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur'anul Karim itu Kalam Allah yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur'an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah Ta'ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur'an. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkan-nya." (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan: "Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya Al-Qur'an itu akan menjadi syafa'at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya)." (HR. Muslim). 

Wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur'an dan meng-haramkan apa yang diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya. Di saat membaca Al-Qur'an seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur'an: 

Agar membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur'an dianjurkan dalam keadaan suci. Namun apabila dia membaca dalam keadaan najis, diperbolehkan dengan Ijma' umat Islam. Imam Haromain berkata; orang yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (At-Tibyan, hal.58-59).
Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja yang membaca Al-Qur'an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami" (HR. Ahmad dan para penyusun Kitab-Kitab Sunan). 
Dan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al-Qur'an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al-Qur'an setiap satu minggu (7 hari). (Muttafaq Alaih). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas'ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit , mereka mengkhatamkan Al-Qur'an sekali dalam seminggu. 

Membaca Al-Qur'an dengan khusyu'. Dengan memeperlihatkan duka cita atau menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Al-Qur'an dan menangislah, apabila kamu tidak menangis maka usahakan seakan-akan menangis (karena ayat yang engkau baca)". (HR. Al-Bazzar).

Di dalam sebuah ayat Al-Qur'an, Allah Ta'ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih: 

وَيَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعاً
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'." (QS Al-Isra' [17]: 109). 


Agar membaguskan suara di dalam membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Hiasilah Al-Qur'an dengan suaramu" (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan: "Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur'an" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maksud hadits di atas, membaca Al-Qur'an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah Tajwid. Membaca Al-Qur'an dimulai dengan Isti'adzah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Dan bila kamu akan membaca Al-Qur'an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk" (QS An-Nahl [16]: 98). 

Apabila ayat yang dibaca dimulai dari awal surat, setelah isti'adzah terus membaca Basmalah, dan apabila tidak di awal surat, cukup membaca isti'adzah. Khusus surat At-Taubah walaupun dibaca mulai awal surat tidak usah membaca Basmalah, cukup dengan membaca isti'adzah saja. Membaca Al-Qur'an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalamnya. Firman Allah Ta'ala: 


أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an, ataukah hati mereka terkunci?"QS Muhammad [47]: 24). 

Membaca Al-Qur'an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang yang terang-terangan (di tempat orang banyak) membaca Al-Qur'an, sama dengan orang yang terang-terangan dalam shadaqah" (HR. Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).

Dalam hadits lain dijelaskan: "Ingatlah bahwasanya setiap hari dari kamu munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca (Al-Qur'an)" (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Baihaqi dan Hakim), ini hadits shahih dengan syarat Shaikhani (Bukhari-Muslim). Jadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia-sia karena kita tidak mengindahkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah membaca Al-Qur'an. Misalnya, dengan suara yang keras pada larut malam, yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang yang shalat malam. Dengarkan bacaan Al-Qur'an Jika ada yang membaca Al-Qur'an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang, Allah Ta'ala berfirman: 

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Dan tatkala dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat" (Al-A'raaf [7]: 204). 

Membaca Al-Qur'an dengan saling bergantian. Apabila ada yang membaca Al-Qur'an, boleh dilakukan membacanya itu secara bergantian, dan yang mendengarkannya harus dengan khusyu' dan tenang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur'an dan saling mempelajarinya kecuali akan turun atas mereka ketenangan, dan mereka diliputi oleh rahmat (Allah), para malaikat menyertai mereka, dan Allah membang-ga-banggakan mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisiNya." (HR. Abu Dawud). 

Berdo'a setelah membaca Al-Qur'an
Dalam sebuah riwayat dijelaskan, bahwa para sahabat apabila setelah khatam membaca Al-Qur'an, mereka berkumpul untuk berdo'a dan mengucapkan: 'Semoga rahmat turun atas selesainya membaca Al-Qur'an'. Dan sebuah hadits dijelaskan, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallah 'anhu bahwasanya apabila ia telah khatam membaca Al-Qur'an, ia mengumpulkan keluarganya dan berdo'a. (HR Abu Dawud). 

Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan harus dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan dilaksanakan sebagai konsekuensi kita beriman ke-pada Al-Qur'an. (Abu Habiburrahman) 

Sumber: Kitab Minhajul Muslim Fiqih Sunnah At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Qur'an 


Thursday, June 24, 2010

Ikhlas dalam beramal





Para pembaca yang mulia, 
Topik kita kali ini adalah tentang IKHLAS, yang merupakan salah satu sikap yang selayaknya kita miliki karena tanpa adanya unsur ke-Ikhlasan di dalam seluruh amal ibadah yang kita lakukan, maka amalan itu akan tertolak serta tidak bernilai di sisi Allah SWT.

DEFINISI IKHLAS
Secara sederhana, arti ikhlas adalah sebagai berikut: 
  • Mengkhususkan Hak Allah SWT berkenaan dengan tujuan dan keta’atan 
  • Permurniaan perbuatan dari penilaian para makhluk 
  • Pemurniaan amal dari setiap noda yang mengotori. 
  • Tidak perduli bila tidak diberi penghargaan, karena kejujuran hatinya terhadap Allah SWT dan tidak suka bila amalnya diperhatikan orang lain. 
KEDUDUKAN DAN FADHILLAH IKHLAS
1. Ikhlas merupakan syarat di terimanya amal ibadah
Sesuai firman Allah SWT:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ
حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيل
"Waman ahsanu diinan mimman aslama wajhahu lillaahi wahuwa muhsinun waittaba'a millata ibraahiimahaniifan waittakhadza allaahu ibraahiima khaliilaan..
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya". (QS an-Nisaa’ [4]:125)


قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
"Qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihi falya'mal 'amalan shaalihan walaa yusyrik bi'ibaadati rabbihi ahadaan.."
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS al-Kahfi [18]:110)

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
"Wahuwa alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha fii sittati ayyaamin wakaana 'arsyuhu 'alaa almaa-i liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalan
"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”^711 (QS Huud [11]:7)

[^711: Maksudnya: Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah].

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء
"Wamaa umiruu illaa liya'buduu allaaha mukhlishiina lahu alddiina hunafaa-a.."
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus^1596." (QS al-Bayyinah [98];5) ~

[^1596: Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan}

2. Mendapatkan Syafa’at Nabi SAW
Dari shahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: 
“Orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atku pada Hari Kiamat kelak, adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan benar-benar ikhlas dari hati sanubari dan seluruh jiwanya”. [Shahih Bukhari,no.75, lihat foot notes] 

3. Mendapatkan kenikmatan di Jannah
Sesuai dengan (QS. Ash-Shaffat[37]:40-43)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ فَوَاكِهُ وَهُم مُّكْرَمُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ"
"Illaa 'ibaada allaahi almukhlashiina..ulaa-ika lahum rizqun ma'luumun fawaakihu wahum mukramuuna,fii jannaati alnna'iimi
".. tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)". ;Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu", yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh ni'mat".

4. Mendapatkan pertolongan dari Allah SWT
“Sesungguhnya Allah hanya menolong umat ini karena orang-orang lemah mereka, karena do’a mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka” [Shahih Targib wa Tarhib,no.6] 

5. Benteng dari godaan syaitan
Sesuai dengan (QS. al-Hijr [15]:39-40)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
"Qaala rabbi bimaa aghwaytanii lauzayyinanna lahum fii al-ardhi walaughwiyannahum ajma'iina..,
Iblis berkata : "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya".

إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
illaa 'ibaadaka minhumu almukhlashiina
"Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis^719 di antara mereka”. 

[^719: Yang dimaksud dengan "mukhlis" ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT}

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang 'alim yang 'amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis berbuat sesuatu demi Allah Ta’ala semata, sedangkan orang riya ' melakukannya demi pujian orang.

6. Selamat dari jurang kemaksiatan kepada Allah SWT 
Tercatat dalam sejarah, bagaimana dahsyatnya godaan yang di alami Nabi Yusuf a.s. ketika dirayu oleh seorang istri pejabat negeri waktu itu. Namun Allah SAW menyelamatkannya Nabi-NYA dari perbuatan tersebut. (Sesuai dengan QS Yusuf [12]:24)

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَن رَّأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ 
عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاء إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Walaqad hammat bihi wahamma bihaa lawlaa an raaa burhaana rabbihi kadzaalika linashrifa 'anhu alssuu-a waalfahsyaa-a innahu min 'ibaadinaa almukhlashiina
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya"^750. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih".

[750: Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf a.s. punya keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besanya sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah s.w.t tentu dia jatuh ke dalam kema'siatan.]

ANCAMAN AKIBAT TIDAK IKHLAS DALAM BERAMAL
Menjadi makhluk Allah SWT pertama yang merasakan api neraka pada hari kiamat nanti.(Shahih Sunan Tirmidzi, No.2382) 

Di akhirat kelak, tidak akan pernah mendapatkan aroma / bau jannah. (Shahih Sunan Ibnu Majah, No.206-207) 

Lihat juga Artikel terkait disini



Dipetik dari pengajian: Ust. Abu Aslam-Surabaya 18 Juni 2009





Saturday, June 19, 2010

Beberapa sifat Muslim yang Mukhlis




Para sahabat rahimakumullah,
MUKHLIS, artinya orang yang ikhlas. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian. Semua perbuatannya, perkataannya, pemberiannya, penolakannya, perkataannya, diamnya, ibadahnya dan seterusnya, semata-mata dilakukan hanya untuk Allah SWT. Oleh karena itu baginya pujian orang tidak membuatnya berbangga hati, dan kekecewaan serta caci maki orang tidak membuatnya surut dari amal kebajikan. Dari deretan predikat kualitas yang dicontohkan Nabi dengan urutan Muslim, Mu'min, 'Alim (orang terpelajar), Amil (yang beramal) dan Mukhlis, maka selain mukhlis, mereka masih berpeluang mengalami kesia-siaan (halka)

Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.

Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.

Manusia dengan kualitas mukhlis adalah orang yang paling produktif bagi dirinya, meski boleh jadi tidak diakui oleh orang lain. Sementara seorang 'alim yang 'amil (orang pandai yang banyak berbuat) tetapi tidak mukhlis adalah kontra produktif bagi dirinya, meski boleh jadi memperoleh banyak penghargaan dari masyarakat. Seorang mukhlis lebih suka menyembunyikan perbuatannya dari penglihatan orang lain, sedangkan kebalikannya yaitu orang yang riya, ia hanya mau melakukan sesuatu jika diketahui orang, atau diliput berita. Orang mukhlis berbuat sesuatu demi Alloh, sedangkan orang riya ' melakukannya demi pujian orang.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah berkata:
"Orang yang pamer itu pakaiannya bersih tetapi hatinya najis. Lahirnya baik tetapi bathinnya rusak. Taat kepada Allah itu dengan hati, bukan dengan badan.

Lepaskanlah pakaian menunda-nunda hak Allah SWT. Lepaskanlah pakaian syahwat, pamer, ujub, dan nifak serta kesukaanmu untuk diterima makhluk dan pemberian mereka kepadamu. Lepaskanlah pakaian dunia dan dan pakailah pakaian akhirat. Bersimpuhlah dihadapan Allah Azza wa Jalla tanpa upaya, tanpa kekuatan, dan berdiri bersama makhluk, tanpa bersekutu dengan makhluk. Jika engkau berbuat demikian, engkau akan melihat kasih sayang Allah SWT di sekitarmu, mendatangimu. Rahmat Allah, pemberian dan kenikmatan-Nya datang memelukmu."
Allah SWT berfirman: 

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَالَّذِينَ هُم
بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَأُوْلَئِكَ
يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan suatu apa pun dengan Tuhan mereka. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa mereka sesungguhnya akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu orang-orang yang bersegera dalam kebaikan, dan mereka segera memperolehnya." (Al-Mu`minuun [23]: 57-61)

Berikut adalah  beberapa ciri-ciri muslim yang mukhlis berdasarkan ayat di atas:

  • Berhati-hati dalam bertindak dan berkeyakinan karena takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala semata. Mukmin yang begini akan selalu berpikir sebelum berbuat, karena segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta'ala pada hari akhir nanti. Seorang mukmin yang selalu takut kepada Allah di mana pun dia berada akan takut untuk berbuat dosa dan maksiat lahir dan batin, dilihat manusia maupun tidak. Hal ini tentu saja berbeda dengan pengawasan manusia. Lihatlah bagaimana tumbuh suburnya badan-badan pengawas terhadap beberapa instansi negara, baik badan pemerintahan maupun independen. Tetapi nyatanya hal itu tak membuat surut para koruptor dan manipulator. Bahkan, kecurangan cenderung semakin meningkat. Lihat juga bagaimana kejahatan dan kekerasan semakin merajalela di masyarakat walaupun polisi sudah mengerahkan tenaga untuk patroli di mana-mana. Itu semua karena manusia itu sangat terbatas, dan yang penting adalah bahwa manusia tidak pantas untuk ditakuti. Hanya Allah Subhaanahu wa Ta'ala semata yang patut ditakuti.
  • Mereka adalah orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'ala, ayat-ayat Alquran dan ayat-ayat kauniyah yang berupa alam semesta ini. Mereka juga memurnikan iman mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala dengan tidak menyekutukan suatu apa pun dengan Allah Subhaanahu wa Ta'ala dalam hal apa pun. Karena syirik adalah dosa paling besar yang bisa menghancurkan iman dan amal seseorang. Jika dosa selain syirik masih ada kemungkinan diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala, bila Dia menghendaki bagi siapa yang dikehendaki-Nya, namun syirik tidak demikian. Jika seseorang mati dalam keadaan syirik tanpa taubat maka dosa syiriknya tidak diampuni-Nya.
  • Mereka menafkahkan dan menyedekahkan harta yang Allah karuniakan kepada mereka di jalan yang Allah perintahkan. Mereka menafkahkan itu semua karena takut akan kotornya harta mereka karena bercampur dengan hak orang lain. Mereka memberikan hak-hak fakir miskin dan yang lainnya karena takut akan pertanggungjawaban di hadapan Allah nanti. Mereka akan ditanya dari mana memperoleh harta dan digunakan untuk apa. Sifat seperti ini akan membuat orang jauh dari kekikiran dan kebakhilan. Mereka juga tidak merasa sedih dengan sedikitnya rezeki dunia, dan tidak sombong dengan melimpahnya rezeki dunia itu. Mereka sadar bahwa mereka pasti kembali kepada Allah dan bahwa apa-apa yang ada di sisi Allah Subhaanahu wa Ta'ala adalah lebih baik dari yang ada di dunia dan tak pernah habis.
  • Tentunya mereka adalah orang yang bersegera dan sigap dalam berbuat baik dan menyongsong kebaikan. Mereka bukanlah orang yang menunda-nunda suatu kebaikan hingga kesempatannya berlalu. Mereka sangat antusias melakukan itu semua. Dengan begitu mereka juga cepat mendapatkan hasil dari kebaikan yang mereka lakukan itu. Berbeda dengan orang-orang munafik dan kafir yang selalu sigap dan cepat untuk berbuat kemungkaran dan dosa, mereka justru akan merasa takut untuk melakukannya. Namun, apabila terlanjur melakukan mereka akan sangat menyesal dan segera bertaubat kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala. Sepertinya kalau kita perhatikan, poin-poin di atas nampak sangat sederhana dan mudah, namun pelaksanaannya tidak semudah yang dikira. Hal itu semua membutuhkan tekad dan kesabaran yang baik dan istiqamah, serta selalu saling menasihati sesama mukmin dalam melakukan perintah Allah dan menghindari larangan-Nya. Karena manusia memiliki sifat lalai dan lupa. Pada saat itu ia butuh seseorang yang mengingatkannya. Ini secara otomatis akan membangun tali silaturahim yang kokoh dan berkesinambungan. Wallahu a'lam.
  • Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya. Dan, mudah-mudahan kita menjadi orang yang ikhlas, untuk diri sendiri maupun membantu orang lain. Insya Allah kita akan jadi hamba Allah SWT yang penuh rahmat.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata,
"Barangsiapa yang bersabar bersama Allah SWT, maka ia akan melihat kelembutannya. Barangsiapa bersabar menerima kefakiran, tentu kekayaan akan mendatanginya. Kebanyakan para nabi adalah penggembala, dan para wali adalah pengembara. Barangsiapa merasa hina di hadapan-Nya, maka Dia akan memuliakannya. Barangsiapa tawadhu’ di hadapan-Nya, Dia akan mengangkat derajatnya. Dialah Dzat Yang Meninggikan atau menurunkan derajat, Yang menetapkan dan memudahkan urusan. Tanpa DIA, kita tidak akan pernah mengenal-Nya sebab kita mengenal-Nya melalui firman-Nya. DIA-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepada kita, baik melalui Tauhid Asma wa Sifat maupun melalui alam penciptaan-Nya.

Wahai orang-orang yang menyombongkan amal mereka, alangkah naifnya engkau. Kalaulah bukan karena taufik-Nya, tentu engkau tidak akan mampu menjalankan shalat lima waktu, puasa, atau pun sabar. Kebanyakan manusia menyombongkan ibadah dan amal mereka. Mereka mencari pujian dan sanjungan manusia. Mereka senang jika dunia dan para pencintanya datang menghadap kepada mereka. Adapun yang menyebabkan mereka dalam keadaan seperti itu adalah karena mereka masih terikat oleh nafsu dan keinginan-keinginannya. Dunia memang kekasih nafsu, akhirat kekasih hati, dan Allah kekasih nurani." 

"Wahai Dzat Yang Maha Esa, murnikanlah ketauhidanku untuk-Mu. Selamatkanlah kami dari makhluk. Murnikanlah kami untuk-Mu. Benarkanlah pengakuan kami dengan bukti kemurahan-Mu dan rahmat-Mu. Perbaikilah hati kami, mudahkanlah urusan kami, dan jadikanlah kesukaan kami dengan Engkau, dan kegelisahan kami dengan selain Engkau. Ya Allah, berilah kami taufik untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau ridhai. Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Wednesday, May 26, 2010

Tentang Kesabaran




WASIAT SYAIKH ABDUL QADIR AL JAIANI RA

(Majelis - 7)



قَالُواْ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, tuangkan kesabaran ke atas diri kami dan kokohkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” 
(QS.Al-Baqarah [2]:250). 

Perbanyaklah pemberian-Mu kepada kami. Berilah kami rasa syukur atas pemberian itu.

Wahai ghulam, bersabarlah. Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah bencana. Jarang sekali yang selamat darinya. Tidak ada satu nikmat pun kecuali di baliknya ada bencana. Tidak ada kesenangan kecuali di belakangnya ada kesusahan. Tidak ada kelapangan kecuali di baliknya ada kesempitan. Jalanilah hidupmu di dunia dan ambillah bagianmu dari-Nya dengan tangan agama.

Sesungguhnya agama merupakan obat penawar dalam mengambil sesuatu dari dunia. Wahai ghulam, ambillah bagian dengan tangan agama, jika engkau mau, dan dengan tangan “perintah” jika engkau khawas, serta dengan tangan “perbuatan” Allah SWT. jika engkau telah wushul. Yang Maha Memerintah akan memerintah dan mencegahmu serta “perbuatan” akan menggerakkan dirimu. Manusia itu terbagi menjadi tiga bagian: awam, khawas, dan khawasil-khawash. Orang Awam yaitu seorang muslim yang bertaqwa, dia mena’ati agama, mengikuti syari’at, dan tidak berpisah dengannya. Dia mengamalkan firman Allah Swt.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia.Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS.Al-Hasyr:7).

Jika telah sempurna hal ini padanya, dan ia telah mengamalkan agama secara lahir dan bathin, maka di hatinya akan muncul cahaya hidayah yang dengannya ia mampu melihat. Jika ia mengambil sesuatu dari tangan agama, maka hatinya merasa kaya, dan ia mencari ilham Al-Haq Azza wa Jalla. Karena ilham-Nya adalah umum pada tiap-tiap sesuatu. Sebagaimana difirmankan Allah SWT:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (QS.As-Syams:8).

Maka hatinya penuh ketaqwaan, memandang ilhamAl-Haq Azza wa Jalla dan alamat-Nya, dan ia mengambil perintah dari sisi lahirnya. Bahwa apa yang ada di toko, sebagai tempat mata pencahariannya adalah miliknya dan ada dalam kekuasannya. Kemudian hatinya kembali bercahaya dan ia memandang apa yang ada di tokonya itu.

Cahaya itu muncul setelah ia bekerja mengikuti cara agama yang didasari iman dan tauhid yang kuat, bahkan hatinya telah keluar dari dunia dan makhluk serta telah melewati hutan dan menyeberang lautan dunia. Sesungguhnya ketika itu datanglah fajar. Cahaya iman akan meneranginya, yaitu cahaya kedekatan dari Tuhannya, cahaya amal, cahaya sabar, dan cahaya kedamaian. Semua hasil itu diraih setelah menunaikan hak-hak agama sehingga ia mendapatkan keberkatan dalam menjalankannya. 

Adapun para wali, mereka termasuk khawashul-khawash, tentu mereka mematuhi agama, kemudian memandang perintah Allah Swt., perbuatan, gerak, dan ilham-Nya. Maka apa yang ada di luar tiga hal tersebut adalah kehancuran, penderitaan, haram, memusingkan kepala dan agama, kanker di hati, dan nanah di jasadnya.

Wahai ghulam, sesungguhnya peraturan untukmu adalah untuk melihat bagaimana perbuatanmu. Apakah engkau teguh atau hanyut? Apakah engkau benar atau dusta? Barangsiapa tidak menyetujui takdir, maka ia tidak akan disetujui dan dikasihi. Barangsiapa tidak rela dengan qadha, Allah Swt. Tidak akan rela kepadanya. Barangsiapa tidak mau memberi, ia tidak akan diberi. Barangsiapa tidak berziarah, ia tidak akan naik. Ingkarilah dirimu jika mengingkari Al-Haq Azza wa Jalla. Jika engkau mampu mengingkari nafsumu, maka engkau akan mampu pula mengingkari orang lain.

Sesuai kadar kekuatan imanmu, engkau hanya duduk di rumahmu dan kamu tidak berusaha menghilangkannya. Langkah-langkah iman pasti teguh ketika berjumpa dengan syaitan, jin, dan manusia. Ia sangat teguh. Janganlah engkau mengaku beriman sebelum membenci segala sesuatu. dan cintailah Pencipta segala sesuatu. Jika Dia hendak membuatmu cinta pada sesuatu, engkau akan tetap terjaga, karena Dialah yang membuatmu cinta, bukan engkau sendiri. Dalam hal ini, Nabi Saw.bersabda:

“Telah disukakan tiga hal kepadaku dari duniamu, yakni wewangian, wanita, dan sejuk mataku dalam shalat.”

Telah disukakan kepadanya setelah dibenci, ditinggalkan, bahkan setelah zuhud dan berpaling darinya. Kosongkanlah hatimu dari selain Allah SWT., agar Dia akan membuatmu cinta kepada sesuatu.


“Ya Allah, berilah kami rezeki berupa kesabaran dan tak mengeluh atas bala musibah. Dan berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.”




Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers