Islam, Rahmat Bagi Alam Semesta

Sunday, March 6, 2011

006. Membebaskan diri dari rasa takut





Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kadang-kadang Rasulullah memaparkan rahmat itu dalam gaya filosofis yang mengatasi segala tingkah-laku kebajikan manusia. Dan menjadikan semua perbuatan yang bersifat rahim sebagai pengabdian, ibadat yang paling luhur.

Dalam ajaran MUHAMMAD ‘alaihis salam, semua perbuatan kita yang bersifat rahim yang dipersembahkan untuk orang lain, yang hakikatnya adalah merupakan hamba-Nya, maka perbuatan itu dinilai Allah sebagai perbuatan ‘taqarrub’, pendekatan diri kepada Dzat Allah SWT. Jika anda pergi menjenguk orang sakit, samalah halnya dengan anda mengunjungi Allah. Kalau anda memberi makan orang yang lapar, maka anda seakan-akan memberi makan pada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT berfirman pada Hari Kiamat: 
“Hai anak Adam! Aku sakit, tapi tidak engkau jenguk.” Maka ia berkata:”Wahai, Pemeliharaku, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Pemelihara alam semesta?” Allah SWT berfirman pula: “Apakah kau tidak tau bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tapi kau tidak menjenguknya. Apakah kau tidak tahu sekiranya kau menjenguknya, pastilah engkau menemukan AKU di sana?” 

“Hai anak Adam! Aku lapar, tapi tidak engkau beri Aku makan.” Maka ia berkata:”Wahai, Pemeliharaku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau makan, sedangkan Engkau Pemelihara alam semesta ini?” Allah SWT berfirman pula: “Apakah kau tidak tau bahwa hamba-Ku si fulan minta makan padamu, tapi tidak kau berikan! Apakah engkau tidak tahu sekiranya kau memberi dia makan, pastilah engkau menemukan AKU di sana?” 

“Hai anak Adam! Aku haus, tapi tidak engkau beri Aku minum.” Maka ia berkata: ”Wahai, Pemeliharaku, bagaimana mungkin aku memberi Engkau minum, sedangkan Engkau Pemelihara alam semesta ini?” Allah SWT berfirman pula: “Hamba-Ku si fulan minta minum padamu, tapi tidak kau berikan! Apakah kau tidak tahu sekiranya kau memberi dia minum, pastilah kau akan menjumpai semua itu di sisi-Ku!” 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman pada hari Kiamat kelak:

“Mana orang-orang yang saling mencinta karena keagungan-Ku? Hari ini kunaungi mereka, di mana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku.”

“Siapa mengunjungi orang sakit, maka dia senantiasa berada dalam sebuah taman surga penuh dengan buah-buahan yang dapat dipetik sampai dia pulang kembali”. 

Manusia adalah makhluk yang selalu dirundung rasa takut; takut miskin. takut rugi, takut kehilangan, takut malu, takut sakit, takut mati, serta berbagai rasa takut lainnya. Kehidupan manusia penuh dengan hal-hal menakutkan yang tak berujung pangkal. Membebaskan orang secara maksimal dari rasa takut, adalah suatu rahmat maha agung yang bisa di persembahkan. Bagaikan hantu, rasa takut merasuk dan merusak rasa aman dan perasaan nyaman bagi hampir setiap orang. Kengerian yang mencekam, yang seakan-akan merontokkan jantung, menimbulkan rasa hampa. Membikin orang kehilangan pegangan dan keyakinan pada hidup ini. Lantas akibat pengaruh buruk dari situasi kondisi yang menimbulkan rasa takut yang berlebihan itu, mucullah gejala stress, frustrasi bahkan depresi yang menyebabkan orang mudah menyerah bahkan tak jarang berujung hara-kiri, mencari jalan pintas dengan jalan bunuh diri.

Manusia takut pada siapa? Mereka takut pada Allah! Dan mereka takut pada diri sendiri. Yang kami maksudkan ialah, mereka takut pada sesama mereka! Menghadapi rasa takut pada Allah Azza wa Jalla, MUHAMMAD yang senantiasa menyerukan tingkah laku utama - akhlakul karimah, sudah merintiskan cara yang tidak memberatkan jiwa. Pada zamannya, sudah dipakai pendekatan lewat metode pendidikan, yang mempergunakan rasa takut sebagai alat penghukum, alat mendidik dan alat untuk menciptakan perbaikan mental.

MUHAMMAD telah berhasil mengimbangi rasa takut pada siksaan Allah dengan harapan mendapatkan rahmat-Nya. Kalau kita mempelajari semua hadits yang berisi harapan-harapan besar pada rahmat Allah, kita dapat melihat upaya besar yang berhasil menundukkan dan melenyapkan rasa takut yang berlebihan itu. Rasulullah SAW telah memberikan gambaran tentang rahmat Allah. Beliau SAW menganjurkan kita semua agar senantiasa menggantungkan harapan pada rahmat-NYA dan agar selalu mencintai-NYA. 

Itulah dasar utama hubungan kita dengan Allah yang dalam salah satu hadits Qudsi ada berfirman: “Rahmat-KU mendahului Murka-KU.”

Menurut hemat kami, tekanan MUHAMMAD pada pengharapan mendapatkan rahmat dari Allah itu, merupakan salah satu alternative untuk menangkal dan menenangkan rasa takut. Suatu alternative yang pada gilirannya akan membawa manusia pada puncak kejiwaan dan kerohanian, di mana rasa takut itu telah teratasi dengan sebaik-baiknya. Dan dengan penuh rasa cinta, penuh harap serta ikhlas, semuanya itu akan menghantarkan manusia ke sisi Allah.

Rahmat MUHAMMAD tampak jelas ketika beliau bersabda:
“Jangan takut! Tuhan kalian Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih”.

Dan dalam ucapan-ucapannya tentang harapan, beliau saw mengutarakannya dengan tutur kata yang lembut santun, manis, bijaksana, indah, dengan penampilan yang meyakinkan, yang menimbulkan rasa tenteram di hati para pendengar dan para pembaca haditsnya.

Ada kalanya beliau memerintahkan kita untuk berharap, dan memandang rasa takut yang meluap-luap pada siksaan Allah kelak, merupakan suatu dosa. Ada kalanya pula beliau memberikan contoh-contoh dengan akal budi seorang manusia besar yang jenius ini.

Sesungguhnya, kesalahan dan dosa yang sebesar isi bumi ini bisa hancur lenyap.., dosa yang memenuhi rongga langit akan lenyap sama sekali, bila berhadapan dengan hanya setitik atom Rahmat Allah SWT. 

Baca dan renungkanlah hadits ini:
Telah berdosa seorang hamba, lalu ia berdoa dengan khusyuk dan berlinangan air mata: 

“Allahummaghfirli dzanbi, Ya Allah, Wahai Tuhanku yang Penyayang, ampunilah dosaku.”

Allah SWT berfirman: “Hamba-KU telah mengetahui bahwa ia punya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya? AKU telah mengampuni dosanya.”

Kemudian ia kembali berbuat dosa. Lalu katanya lagi: "Ya Allah, Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.”
Allah SWT berfirman: 

“Hamba-KU telah mengetahui bahwa ia punya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya? AKU telah mengampuni dosanya”. Kemudian ia mengulang lagi berbuat dosa. Lalu katanya lagi: “Ya Allah, Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.” Allah SWT berfirman:

“Hamba-KU telah mengetahui bahwa ia punya Tuhan yang bisa mengampuni dosanya? AKU telah mengampuni dosa hamba-KU, dan ia boleh melakukan apa yang dikehendakinya.”

Manusia yang digambarkan junjungan kita MUHAMMAD SAW dalam hadits diatas, -yaitu manusia yang berulang-ulang berbuat dosa itu-, tak lain tak bukan adalah “refleksi diri kita sendiri”, yang secara rutin juga tak luput dari berbuat dosa. Suatu gambaran dari kelemahan manusia yang selalu tergoda oleh rayuan hawa nafsu dan syahwatnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, sang manusia itu merasa jijik dengan perbuatan dosanya itu. Dia berseru khusyuk: “Ya Allah! Ampunilah dosaku”. Kemudian dia tergelincir, Lantas dia pun sadar kembali. Begitulah, hidupnya merupakan perjalanan panjang yang tiada henti antara berbuat kebaikan dan keburukan. Namun demikian, hanya dengan merasakan dosanya dan hanya dengan keteguhan imannya, dia bisa memperoleh rahmat dan ampunan dari Tuhannya, yaitu Allah SWT. Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Harapan dan keyakinannya pada kemurahan Allah SWT telah menyelamatkannya. Karena rahmat Allah Azza wa Jalla itu maha luas. 

Demikian kandungan makna hadits nabi saw di atas. “AKU telah mengampuni dosa hamba-KU, dan ia boleh melakukan apa saja yang ia kehendaki!”.

Hari demi hari kita lalui, tak pernah luput dari dosa. Tapi alhamdulillah, agama islam yang mudah ini datang membawa kemudahan. Pintu – pintu taubat yang maha luas itu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin memasukinya. Amalan – amalan pelebur dosa begitu banyak, siapa yang mengamalkannya niscaya akan selalu bersih dari noda – noda dosa.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: 
“Rahmat-KU mendahului murka-KU.” 

Hadist ini menyiratkan bahwa bagi hamba-hamba-Nya yang tergelincir dan berbuat kesalahan, Allah dengan kasihsayang-Nya, selalu membuka pintu ampunan dan menahan murka-Nya bagi sang hamba. Bila dia bertaubat, maka Dia akan memberi ampunan sebanyak dosa yang dilakukan sang hamba.

Pembaca yang budiman, Akan kami hadirkan di hadapan anda sebuah dzkir yang sangat diucapkan namun sangat berat di timbangan amal dan dapat meleburkan 2500 dosa. Demikian, silahkan disimak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; 
“Ada dua hal yang apabila dihafal atau dijaga oleh seorang hamba maka ia akan masuk ke dalam surga. Dua hal yang mudah, namun sangat sedikit manusia yang mengerjakannya, yaitu setiap selesai shalat maka ia bertasbih (mengucapkan subhanallah) sebanyak 10 kali, bertahmid (mengucapkan alhamdulillah) 10 kali dan bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) 10 kali. Yang demikian itu nilainya adalah 150 di lisan dan 1500 di mizan (timbangan catatan amal). Dan jika beranjak menuju tempat tidurnya, ia bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali, maka yang demikian itu bernilai 100 di lisan dan 1000 di mizan.” Kemudian nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,” Siapakah di antara kalian yang beramal kejelekan dalam sehari semalam sebanyak 2500 kejelekan?” Berkata ‘Abdullah,” Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung dengan tangannya. Lalu para sahabat bertanya,” Wahai rasulullah, kenapa mereka tidak menjaga amalan itu padahal amalan itu mudah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Setan mendatangi salah seorang di antara kalian yang sedang shalat, lalu dia berkata,” Ingatlah ini dan itu (dan jangan berdzikir)” kemudian setan juga mendatanginya ketika hendak tidur serta membuatnya ketiduran.” [HR. Abu Dawud, no. 5065 dan Tirmidzi, no. 3410 dalam kitab Shahih Abi Dawud, hadits no. 1346]
Di antara kebaikan yang terkandung dalam hadits di atas adalah: 

  • Dalam siang & malam, banyak sekali pintu – pintu kebaikan dunia dan akhirat. Seorang hamba tinggal memilih dari pintu mana ia akan masuk. 
  • Kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal yang dapat mengantarkan dirinya menuju kebahagiaan akhirat, meski amal itu sebenarnya ringan dikerjakan. 
Di antara bentuk amal ringan dikerjakan namun berat di timbangan adalah: 

  • Ucapan dzikir subhanallah, alhamdulillah dan allahu akbar, masing-masing sebanyak 10 kali setiap selesai shalat. 
  • Ucapan subhanallah, alhamdulillah, masing-masing sebanyak 33 kali dan allahu akbar sebanyak 34 kali setiap hendak tidur. 
  • Jika seseorang melakukan kedua amalan tersebut dalam sehari semalam, maka akan dihapus 2500 dosa dari dirinya. 
Wallahu a’lam.

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 6 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

007. Besarnya Rahmat Allah bagi hamba-Nya



Para pembaca yang budiman,
Dalam hadits lain, digambarkan pula rahmat Allah yang maha luas:

“ALLAH SWT menciptakan rahmat dalam seratus bagian. Sembilan puluh sembilan bagian IA pegang.Dan yang satu bagian lagi IA turunkan ke muka bumi. Dari yang satu bagian itulah para makhluk berkasih-kasihan, dan yang menyebabkan hewan mengangkat telapak kakinya tinggi-tinggi karena khawatir kalau-kalau anaknya terinjak olehnya.”

Rahmat yang diturunkan ke muka bumi ini yang kita rasakan setiap saat.., setiap detik dalam hidup kita, hanyalah berupa satu bagian saja dari seratus rahmat yang dipersiapkannya untuk hamba-hambaNya. Coba bayangkan hebatnya pengaruh yang Sembilan puluh sembilan bagian lainnya itu, yang ada di tangan dan akan diberikan-Nya langsung pada orang yang sangat membutuhkan rahmat-Nya! Inilah suatu gambaran cemerlang tentang rahmat Allah SWT, yang mampu mengusir segala rasa takut dari dalam hati seseorang.

Rasulullah, bahkan memperjelas lagi dengan suatu gambaran lain. Ketika beliau melihat seorang ibu yang sedang memeluk bayinya dengan penuh kasih-sayang, lantas beliau menoleh pada para sahabatnya seraya bersabda:
“Pernahkah kalian membayangkan ibu ini mau meletakkan anaknya ke dalam api?” Para sahabatnya menjawab: “Tidak mungkin, demi Allah ya Rasulullah”. Beliau bersabda: ”Allah SWT masih lebih mengasihi dan menyayangi hamba-Nya dibandingkan rasa kasih-sayang ibu ini terhadap anaknya.”
Beliau ‘alaihis salam bersabda:
“Allah SWT membentangkan tangan-Nya di malam hari, bagi pelaku kejahatan di siang hari yang hendak bertaubat. Dan DIA membentangkan tangan-Nya di siang hari, bagi pelaku kejahatan di malam hari yang hendak bertaubat."

Beliau bersabda pula:
“Orang-orang Mukmin di Hari Kiamat dihadapkan pada Tuhannya, dan dosa-dosanya yang sampai saat itu dirahasiakan diungkapkan, agar diakui, seraya firman-Nya: “ Benarkah engkau telah melakukan dosa ini?” “Benarkah engkau telah melakukan dosa itu?” Maka jawabnya: “Wahai Tuhanku, aku mengakui semua dosaku”. Maka firman Allah lagi: “AKU telah merahasiakan dosa-dosamu itu di dunia, dan kini AKU mengampuni dosa-dosamu itu”. Kemudian ia diberikan lembaran amal kebajikannya.”

Sebuh gambaran indah tiada tara tentang rahmat Allah dalam bentuknya yang cemerlang dan agung, memancar pula dari hati MUHAMMAD yang besar itu. Diungkapkan dalam bentuk cerita pendek agar mudah diterima akal, suatu cara yang cerdik dari beliau dalam menampilkan kebesaran rahmat Allah SWT.
Beliau ‘alaihis salam bersabda pula:
“Pada zaman sebelum kalian, ada seorang lelaki yang sudah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian dia bertanya, siapa orang alim yang paling alim pada zamannya itu. Lantas, padanya disebutkan nama seorang rahib. Ia menemui rahib yang dimaksud itu dan berkata terus terang bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. “Apakah masih ada pintu taubat bagiku?” tanyanya. Rahib itu menjawab:”Tidak, tak mungkin!” Mendengar jawaban rahib yang tidak memuaskan hatinya itu, lalu rahib itu pun dibunuhnya pula. Dengan kematian sang rahib, maka lengkaplah sudah seratus orang mati karena korban kejahatannya. Kemudian dia menanyakan pula tentang orang yang paling alim di muka bumi. Maka dia pun ditunjukkan pada seorang alim. Dikatakannya pada orang alim itu bahwa ia telah membunuh seratus orang. “Apa masih ada pintu taubat bagiku?”, tanyanya. Orang alim itu menjawab: “Ya, ada. Siapa pula yang merintangimu untuk betaubat?” “Bagaimana caraku untuk bertaubat?” Tanya orang itu pada orang alim itu. “Tinggalkanlah negerimu ini (hijrah), dan pergilah ke negeri yang penduduknya gemar beribadat pada Allah. Lantas beribadatlah engkau bersama mereka. Janganlah engkau kembali lagi ke negeri asalmu ini, karena negeri ini buruk untukmu”, jawab orang alim itu. Maka pergilah lelaki pembunuh itu berangkat mengikuti saran orang alim itu. Dalam perjalanan, tiba-tiba maut merenggutnya. Malaikat rahmat dan malaikat ‘Adhab berselisih pendapat tentang orang itu, dan masing-masing merasa bahwa orang itu adalah bagiannya. Malaikat rahmat berkata: ”Dia datang dalam keadaan taubat dan dengan sepenuh hati ke haribaan Allah Ta’ala”. Malaikat ‘Adhab menyahut: “Dia adalah orang yang samasekali tidak pernah melakukan suatu amal kebaikan pun sampai akhir hayatnya”. Kemudian datanglah seorang Malaikat yang menyamar sebagai anak Adam, dan kedua Malaikat yang berselisih itu pun kemudian mengangkatnya sebagai juru penengah. Dan diapun memutuskan: “Ukurlah jarak antara si pembunuh ini dengan kedua negeri itu. Dia akan menjadi milik negeri dimana dia berada lebih dekat dengannya.” Lantas Allah SWT mewahyukan kepada negeri ma’siat agar menjauh dan negeri taubat agar mendekat. Mereka mengukur jarak antara dia dengan kedua negeri itu dan ternyata dia - si pembunuh yang bertaubat itu, berada sejengkal lebih dekat ke negeri taubat. Lantas, dia pun diampuni!”
Rasulullah tidak pernah mendukung, bahkan tidak ridha pada tindak kejahatan pembunuhan. Malah dinyatakan tidak ada kejahatan yang menandingi kemusyrikan kepada Allah, selain mengganggu orang lain.

Bayangkanlah! Mengganggu orang lain saja sudah begitu berat ancamannya, apalagi membunuh dan melenyapkan nyawa orang lain? Dalam hadits diatas, Rasulullah meletakkan rahmat Allah berhadapan dengan tindak kejahatan manusia yang paling berat, yang dalam agama dinyatakan sebagai dosa besar atau ‘Kabaa-ir’, untuk menunjukkan pada kita bahwa taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nashuha) bisa menghapuskan dosa besar serta bisa mendatangkan ampunan yang besar pula. Malah Rasulullah menutup kissah itu dengan “happy ending” yang gemilang. Lelaki itu digambarkan berada berada lebih dekat ke negeri ‘maksiat’, untuk menunjukkan pada kita, jika rahmat Allah SWT itu hendak datang menghampiri, semua rintangan pun akan teratasi, termasuk hukum alam sekalipun. Maka , dengan rahmat-Nya, Allah telah mengubah jarak sang lelaki dengan kedua negeri itu sedemikian rupa sehingga jarak dia dengan negeri Taubat menjadi lebih dekat. Jadi ada alasan bagi Malaikat Rahmat untuk membawanya.

SUBHANALLAH!

Apa ada seniman besar yang benar-benar mampu melukiskan maha luasnya rahmat Allah SWT itu, dengan cara yang lebih indah dan mempesonakan dari hadits diatas? 

Taubat! suatu pintu yang senantiasa terbuka antara Allah SWT dengan hamba-hamba-Nya, bisa dimasuki baik di siang hari maupun di malam hari - selama hayat masih di kandung badan. Allah Azza wa Jalla sangat gembira dengan taubat hamba-hamba-Nya, dengan kesadaran mereka kembali. Lebih gembira dari perasaan seorang ayah yang bertemu kembali, sehat dan utuh dengan anak kecintaannya, yang hilang entah kemana. 

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 7 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

008. Kelapangan Rahmat



Para pembaca yang budiman,
Bagi MUHAMMAD, kepatuhan mempunyai arti luhur yang tak pernah bisa kita bayangkan. Namun kepatuhan bukanlah tujuan semata-mata. Tidak!

Kepatuhan bukan sarana satu-satunya untuk meningkatkan keluhuran jiwa seseorang. Tidak! Namun sebelum dan sesudahnya, ia merupakan sarana yang memberikan kelayakan pada kita untuk mengulurkan kedua tangan kepada Allah dan berjumpa dengan DIA.

Marilah kita ikuti pula hadits yang di sampaikan junjungan kita MUHAMMAD saw, tentang Tuhan-NYA.
Didalam suatu hadits Qudsi, 'Allah Subhana wa Ta’ala berfirman: “Siapa yang datang dengan bekal sebuah kebaikan, maka ia akan dapat sepuluh kelipatannya, atau AKU lebihkan sekehendak-Ku.

Barangsiapa yang datang dengan bekal sebuah keburukan, maka ia akan dapat satu keburukan pula, atau AKU ampuni dia;,

Barangsiapa mendekatkan dirinya kepadaKU sejengkal, AKU akan mendekatkan diri-KU sehasta;

Barangsiapa yang datang pada-KU dengan berjalan kaki, maka AKU akan mendatanginya dengan berlari-kecil;

Barangsiapa yang datang pada-KU dengan wadah yang penuh dengan dosa, namun ia tidak menyekutukan AKU dengan siapapun, maka AKU akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula.”. 

Renungkanlah sejenak, betapa kasih sayang dan kerinduan Allah SWT kepada kita yang dilukiskan oleh MUHAMMAD dalam hadits di atas.

Allah Azza wa Jalla menginginkan kita semua ada di sisi-NYA. Apapun keadaan kita, patuh atau berdosa, kedua tangan-NYA terbentang lebar menyambut hasyrat dan harapan kita dengan penuh kasih sayang.

Coba renungkan kembali kalimat ini: 
“Barangsiapa datang pada-KU dengan berjalan kaki, maka AKU akan datang padanya dengan berlari-kecil!”.“ 
Alangkah indah dan cerahnya gambaran cerdik MUHAMMAD tentang Pemelihara dan Penciptanya, tentang Pemelihara dan Pencipta kita semua! Menghembuskan suasana segar!

Allah SWT ingin kita patuh pada-Nya, karena kepatuhan itu mengangkat martabat kita serta memberikan kelayakan pada kita untuk menghadap dan menemui-Nya. Kepatuhan itu bagaikan kawat tilpon yang menghubungkan kita dengan telaga wujud kita: "ALLAH" Pemelihara seru sekalian alam. Dan andai kata kita tergelincir dan kemudian berbuat dosa, kita tidak patut putus asa serta menyerah kalah di bawah tekanan dosa itu. Kita harus bangkit kembali melawan dosa itu. Karena kita lebih besar daripada dosa. Dan karena ampunan Allah lebih besar dari kita.., dan dari kita beserta dosa-dosa kita.. betapa pun besarnya! 

Demikian yang kami pahami tentang uraian MUHAMMAD ketika beliau berbicara tentang kelapangan rahmat, di waktu beliau ingin membebaskan kita dari tekanan rasa bersalah akibat dosa.

Sabda beliau SAW:
“Demi Dzat yang diriku ada di tanganNya, kalau kalian tidak berdosa, Tuhan akan membawa pergi kalian dan menggantikannya dengan kaum yang berdosa. Kemudian mereka bertaubat, lalu.., DIA mengampuni mereka”. 

Apakah dengan isyarat ini berarti MUHAMMAD mendukung penyebaran tindak kesalahan atau menggalakkan perbuatan dosa diantara umat manusia? Samasekali Tidak!. Malahan beliau memberikan kita obat mujarab agar kita dapat mengatasi segala bentuk kelemahan jiwa, dengan menyuguhkan pada kita suatu harapan terhadap rahmat Allah SWT. Kelemahan jiwa itu tidak akan menimbulkan sesuatu yang positip, kalau orang yang menderita kelemahan tersebut dibiarkan terus bergelimang dengan dosa dan hanyut dalam tekanan rasa berdosa.

Dalam upaya membina semua orang mencintai Tuhan mereka, MUHAMMAD menginginkan agar mereka selalu berbaik sangka pada Allah SWT. supaya terjalin suatu hubungan mesra dan kokoh berlandaskan cita-cita, pengharapan dan kerinduan. Karena itulah beliau senantiasa berpesan, sabdanya:
“Jangan kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Allah 'Azza wa Jalla”. Sabdanya lagi: 
“Allah berfirman: “AKU ini tergantung pada persangkaan hamba-KU, dan AKU bersamanya apabila ia menyeru-KU”. Beliau bersabda pula:
“Berbaik sangka pada Allah Swt merupakan ‘ibadat yang paling baik”. 
Ar-Rasul yang manusiawi ini mati-matian melawan ajaran kaum pemuka agama yang dengan senjata putus asa mematahkan harapan orang terhadap rahmat Tuhan mereka. Beliau dengan keras menyerang mereka, dan memberikan perumpamaan, sabdanya: 

“Ada dua orang bersaudara. Yang seorang rajin beribadat pada Allah sedangkan yang satunya lagi membangkang-Nya. Suatu ketika, berkatalah yang beribadat pada Allah itu kepada saudaranya. “Belumkah tiba saatnya bagimu untuk bertaubat? Demi Allah engkau akan dimasukkan Allah kedalam api, dan takkan memperoleh ampunan-Nya.” Setelah keduanya meninggal dunia dan dipanggil menghadap kehadlirat-Nya, Allah SWT bertanya pada orang beribadat itu: “Siapa yang memerintahkan engkau menetapkan suatu kepuusan tentang rahmatKU dan bahkan engkau bersumpah atas sesuatu yang bukan wewenangmu? Bawalah dia ke Api!” Dan Dia berfirman tentang orang yang satunya lagi: ”Masukkan ia kedalam Surga dengan rahmatKU!”. 

Rahmat yang ditampilkan MUHAMMAD di sini, melampaui batas pujaan. Karena rasa cinta yang meluap-luap pada manusia, beliau berjerih-payah melawan keangkara-murkaan mereka yang hendak menggalakkan rasa keputus asaan. Beliau tahu pasti bahwa rahmat itu soal skunder, bukan kemewahan, akan tetapi merupakan soal primer yang mutlak diperlukan. Adapun orang yang paling patut mendapatkannya adalah orang yang paling membutuhkannya. Dalam upaya menyelamatkan orang yang berada dalam situasi bersalah serta berdosa dan para pembangkang yang sedang sangat membutuhkan rahmat Allah, di tampilkanlah cita-cita kemurahan Allah. Berpangkal dari sanalah beliau menolak sepak terjang orang yang berputus asa terhadap rahmat Tuhan, dan menganggap perbuatan itu sebagai dosa. Lebih besar dari segala dosa lainnya. Beliau SAW menyingkirkan semua kekuatan yang berupaya melumpuhkan hubungan antara manusia dengan Allah Tuhan-nya, dan menampilkan kesejukan serta keindahan gambaran kasih mesra cinta Sang Khalik, kepada semua makhluk-Nya yang berwujud manusia.

Camkanlah hadits QUDSI, berikut ini: 

  • “Setiap saat Matahari terbit, langit berkata: ”Ya, Allah! Izinkanlah saya menjatuhkan diri pada anak Adam, karena mereka telah menikmati kebaikan-MU akan tetapi mereka tidak mensyukuri-MU.” 
  • “Bumi berkata: “Ya, Allah! Izinkanlah saya menelan anak Adam, karena mereka telah memakan kebaikan-MU, akan tetapi mereka enggan berterima kasih pada-MU.” 
  • “Lautan berkata pula: “Ya, Allah! Izinkanlah saya menenggelamkan anak Adam. Mereka telah menelan kebajikan-MU, akan tetapi mereka tidak mau mensyukuri-MU.” 
  • “Dan gunung-gunung pun berkata pula: “Ya, Allah! Izinkanlah saya melipat anak Adam, karena mereka telah makan semua kebaikan-MU akan tetapi mereka tidak suka mensyukuri-MU.” 
Allah SWT berfirman pada mereka semua: 
“Kalau kalian yang menciptakan mereka, tentulah kalian akan merahmati mereka. Biarkanlah AKU dengan hamba-hamba-Ku”. “Kalau mereka bertaubat pada-Ku, maka AKU kekasih mereka. Kalau mereka tidak bertaubat pada-Ku, maka AKU tabib mereka.” 

Gambaran yang diutarakan MUHAMMAD ini sungguh cemerlang dan mempesonakan, tiada tara bandingnya baik dalam corak maupun makna kandungannya. Beliau menampilkan suatu hipotesa adanya bahaya yang mengancam dari segala penjuru terhadap eksistensi manusia di permukaan bumi ini. Ancaman dari atas, dari bawah, dari kanan, dari kiri mereka. Tidak ada jalan keselamatan bagi mereka, selain menempuh jalan Allah Yang Maha Rahim, Maha Kasih, Maha Tunggal (AHAD), Dia Pemelihara dan Tuhan mereka sekalian. 

Kemudian dengan kata-kata menarik, beliau mengungkapkan tentang watak rahmat ALLAH SWT yang mengayomi hamba-Nya itu. Rahmat Yang Maha Pencipta terhadap ciptaan-nya yang telah diadakan-Nya dengan kebijakan-Nya dan digerakkan sesuai dengan kehendak-Nya. Rahmat seorang bapak pada puteranya.

Camkanlah kalimat syahdu ini: 
“Kalau kalian yang menciptakan mereka, tentulah kalian akan merahmati mereka.” 

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 8 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

009. Jangan berputus asa dari Rahmat Allah



Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sesuai dengan hadits (Qudsi) yang di tampilkan sebelumnya [8]; Sebenarnya kedudukan manusia di sisi Allah bagaikan kedudukan kelana yang hilir mudik antara Sang Kekasih dengan Tabibnya.

Demikian gambaran MUHAMMAD tentang Allah Subhanahu wa ta’ala ketika menceritakan tentang firman-Nya kepada langit, bumi, gunung-gunung dan lautan, itu:

  • “Biarkanlah AKU dengan hamba-hambaKU. Kalau mereka bertaubat pada-KU, maka AKU kekasih mereka. Kalau mereka tidak bertaubat pada-KU, maka AKU tabib mereka”.
Apabila dalam keadaan ridha kepada kita, Allah Swt. menjadi kekasih yang cinta-Nya menebarkan wangi-wangian tiada tara harumnya. Sebaliknya, dalam keadaan kecewa terhadap kita, Allah Swt. seolah-olah seorang tabib yang ikut merasa sedih dan memberikan sentuhan seorang dokter. Jadi tidak mungkin merupakan sumber kengerian dan ketakutan. Maka Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sambutlah DIA dengan penuh rasa hormat sebagai Kekasih. Berbanggalah menerima-Nya sebagai Tabib.
Sekali lagi, rahmat pada diri MUHAMMAD bergerak sendiri secara otomatis dan positip serta seimbang, mengolah rahmat itu menjadi suatu hakekat dan fakta yang bisa dinikmati dan dirasakan semua insan, sesuai dengan jiwa besar yang dimiliki MUHAMMAD. Di bawah pantulan cahaya itulah, kita sebaiknya berusaha memahami semua pengarahan dan bimbingan yang diberikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam kepada kita, taat dan patuh pada kebajikan.
Dengan bimbingan dan pengarahannya, beliau tidak bermaksud memaksakan pendapatnya atau menggiring kita mengikuti pendiriannya. Namun sebaliknya,beliau ingin menyempurnakan rahmatnya itu bagi manusia, menjauhkan mereka dari kesalahan. Agar jangan sampai mereka tergelincir oleh pengaruh buruk dari keadaan.
Apabila beliau menyerukan agar orang melakukan kebaikan berkali-kali mengulang-ulang seruannya itu, itu hanyalah karena rahmatnya. Sebaliknya, apabila beliau mencegah orang melakukan keburukan dan senantiasa memperingatkan akan resikonya, itu juga karena rahmatnya. Nah, rahmat bagi kemanusiaan itulah yang mendorong MUHAMMAD dengan penuh harap meminta agar kita melakukan kebaikan dan jangan melakukan keburukan, demi kebaikan dan hari depan kita sendiri. Dan karena itu pulalah beliau senantiasa bersaha menyadarkan manusia akan kengerian terhadap dosa. Beliau memandang dosa sebagai bahaya yang bisa datang secara mendadak, mengancam kehidupan dan keselamatan manusia.

Untuk menggambarkan dosa itu, beliau bersabda:

  • “Orang-orang beriman melihat dosa mereka seperti orang yang sedang duduk-duduk dibawah sebuah gunung yang senantiasa takut kalau-kalau gunung itu jatuh menindihnya.”
  • “Sedangkan orang-orang kafir, menganggap dosa mereka bagaikan seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, yang dengan mudah bisa dihalau dengan kibasan tangannya.”
Meskipun ia seorang Rasul yang mempertanggung-jawabkan risalahnya, namun dalam menghadapi para pembangkang beliau tidak melakukan pemaksaan kehendak dan tidak bertindak sebagai diktator. Malahan beliau memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Beliau benar-benar merasakan dukacita dan keresahan umatnya serta ingin sekali menyelamatkan mereka. Beliau menggarisbawahi kedudukannya itu dalam perumpamaan yang indah mempesonakan.

Sabda beliau:

  • “Perumpamaanku dengan para nabi, adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah rumah. Dia menata dengan bagus dan sempurna. Kecuali masih ada satu ruang kosong tempat bata. Banyak orang masuk kedalam bangunan tersebut dan mengaguminya seraya berkata: Kalau seandainya bukan karena tempat bata itu (masing kosong), maka akan jauh lebih bagus. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Aku adalah yang (diibaratkan) sebagai bata tersebut. Aku datang sekaligus sebagai penutup para nabi-nabi."(Shahih Muslim No.4240)
  • “Sesungguhnya perumpamaanku sebagai utusan Allah adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya seraya berkata: "Wahai kaumku! Sesungguhnya kau telah melihat dengan mata kepala sendiri sepasukan tentara dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak bersenjata, maka carilah keselamatan. Sebagian kaumnya ada yang mematuhi lalu pada malam hari mereka berangkat (menyelamatkan diri) dengan tidak terburu-buru. Sebagian yang lain mendustakan hingga keesokan paginya mereka masih berada ditempat semula maka diserbulah mereka oleh pasukan tentara tadi lalu dimusnahkan dan dibantailah mereka. Itu adalah perumpamaan orang yang patuh-taat kepadaku dan mengikuti ajaran yang aku bawa serta perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa." (Shahih Muslim No.4233)
  • “Sesungguhnya perumpamaanku dan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api yang mengakibatkan binatang-binatang melata dan nyamuk terperangkap ke dalam api tersebut. Aku sudah berusaha memegang ikat pinggang kalian namun kalian malah menceburkan diri ke dalamnya." (Shahih Muslim No.4234)
Dalam hadist lain beliau bersabda:

  • “Adapun saya dengan kalian, perumpamaannya adalah bagaikan orang yang sedang menyalakan api. Lantas datanglah belalang dan kupu-kupu berjatuhan kedalam api, sementara orang itu berusaha mencegah. Saya berupaya menghadang kalian dari api itu, sementara kalian berusaha melepaskan diri dari saya!”
Demikianlah posisi MUHAMMAD dalam hubungan dengan orang-orang yang terbawa hawa nafsu jatuh kedalam bencana. Dalam situasi semacam itu, MUHAMMAD tidak bisa bertindak sebagai diktator atau tiran. Beliau bertindak sebagai seorang manusia yang merasa punya tanggung jawab manusiawi, dan mencegah mereka menempuh jalan kesesatan. Seperti orang sedang menghalau kupu-kupu agar terbang menjauh dari api. Alangkah murni jiwa pribadinya ketika belau bersabda: “... Sementara kalian berusaha melepaskan diri dari saya!”
Pada taraf terakhir,Rasulullah pun mengembalikan segala sesuatu pada rahmat Allah jua. Bukan pada amal perbuatan orang, sekalipun amalnya baik. Karena amal kebajikan kita, bagaimanapun besar dan banyaknya, takkan mungkin mampu mengimbangi satu nikmat pun dari sekian banyak nikmat Allah yang maha besar itu.
Dalam hal ini belau bersabda:

“Dekatkan dan tepatkan! Ketahuilah bahwa tidak seorang pun akan selamat karena amal perbuatannya semata”. Para sahabatnya bekata: “Engkau juga, ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Ya! Termasuk juga saya, kecuali Allah melindungi saya dengan rahmat dan kemurahan-Nya.”
Demikianlah pribadi MUHAMMAD. Beliau tidak lupa daratan dan ‘ujub (bangga dengan diri sendiri) dengan ibadat dan ta’at yang telah dipersembahkannya pada Allah Swt., walaupun ibadatnya itu bisa mengubah keseimbangan piring timbangan amal dan dosa. Karena beliau tahu bahwa nikmat itu semuanya datang dari Allah. Dan jika beliau telah mendapatkan tuntutan -dihapuskan dosanya yang telah lalu dan yang akan datang-, semua itu karena kemurahan Allah semata. Dalam hal ini beliau menyadari posisi beliau terhadap orang lain yang sedang membutuhkan hidayah. Beliau tidak memaksa atau meremehkan mereka. Akan tetapi beliau berupaya menyeru dengan penuh rasa kasih-sayang, mendoakan mereka dan menonjolkan segi baik yang ada pada mereka sekalipun sangat kecilnya. Kebaikan mereka itu selalu diingat-ingatkannya dan bertolak dari kebaikan mereka itu, jiwa mereka dibangkitkan...dan kepercayaan diri mereka di pupuk.

Perhatikanlah!
“Telah didatangkan menghadap Rasulullah Saw seorang yang sedang mabuk minuman keras. Para sahabat beliau melihatnya, mereka berkata: ”Allah akan mengutuk orang itu... Alangkah banyak minumnya.” Rasulullah berseru pada mereka: “Jangan kalian mengutuk dia. Dia cinta pada Allah dan pada Rasul-Nya!”

Apa adakah manusia secerah itu, selain MUHAMMAD?

Beliau tidak menghancurkan martabat seorang manusia karena kelemahan yang ada orang itu. Malah beliau memperhatikan sisi-sisi baik yang ada pada orang itu, dan meneriakkan kebaikannya itu! Begitulah beliau. Meskipun beliau berkedudukan sebagai seorang Rasul, sebagai pembawa misi agama yang mengharmkan minuman keras dan yang menyatakan menenggak minuman keras itu merupakan salah satu dosa besar.. Beliau hormat terhadap seorang manusia yang sedang tergelincir dalam dosa minum-minuman keras, karena masih ada segi baik pada orang itu, yakni keutamaan cinta.

  • “Jangan kalian mengutuknya. Dia cinta pada Allah dan pada Rasul-Nya!”
Jelaslah sudah bahwa MUHAMMAD senantiasa memusatkan hidupnya pada cinta dan kebajikan, dan benci serta menghindarkan diri dari kenistaan. Ini dilakukannya, seperti telah kami uraikan di atas, semata-mata karena dorongan rahmatnya pada ummatnya baik terhadap orang perorang (individu), ataupun terhadap masyarakatnya.

  • Terhadap individu: Agar orang jangan sampai dikuasai dosa yag dilakukannya.Agar jangan sampai tejerumus ke dalam keresahan jiwa yang bakal merusak ketenangan hidupnya.
  • Terhadap masyarakat luas: Karena masyarakat yang anggota-anggotanya tidak mengindahkan hak-hak yang sudah ditetapkan syariat, dan tidak saling mengingatkan agar melakukan keutamaan dan kebajikan (amar nahi munkar), maka masyaakat itu akan hancur dan porak poranda dengan sendi rinya.
Hal ini dipahami benar oleh MUHAMMAD, dan diberikannya perumpamaan sebagai berikut:
“Perumpamaan orang-orang yang memelihara hudud-hudud Allah dan orang yang terperosok ke dalamnya, adalah seperti kaum yang sedang berada dalam sebuah kapal. Sebagian di bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah (lambung) kapal. Orang-orang yang di bagian bawah, kalau mau minum, harus melalui orang-orang yang berada di bagian atas. Lantas kata mereka: “Kalau kita lubangi dinding kapal bagian bawah, tentu kita tidak usah mengganggu orang-orang yang di atas kita.” Jika kenginan mereka itu di biarkan terlaksana, tentu celakalah semua mereka. Akan tetapi kalau keinginan mereka itu dicegah, maka selamat pula mereka itu.”
Kebijaksanaan MUHAMMAD dalam menangani para pembangkang merupakan kebijaksanaan rahmat dan rahmat selalu,menampilkan fikiran manusiawi yang jauh jangkauan serta tepat pula mengenai sasarannya. Sudah berapa banyak orang yang datang pada beliau mengakui telah melakukan kesalahan melanggar hudud (dosa yang dikenai sanksi) Allah, namun beliau berusaha mengelak pengakuan mereka, agar jangan sampai mereka terkena hukuman yang telah di tetapkan Allah,dengan harapan agar mereka mendapat limpahan rahmat Allah Swt, yang maha luas itu! Dan beliau pun senantiasa menjauhkan diri dari orang-orang yang kerjanya hanya meresahkan kesalahan orang lain dan yang mematahkan harapan orang untuk perbaikan.

Dalam hal ini beliau memberi peringatan: “Kalau kalian mendengar seseorang berkata: “Celaka orang itu", maka justru dialah yang paling celaka!”

Di sinilah terlihat kualitas dari seorang manusia bijak, seorang bapak kemanusian tempat orang mengadukan diri. Di sini bersemayam hati yang besar. Besar luar biasa, tidak kejam, tidak pernah angkuh, tidak mau membalas dendam dan tidak kenal putus asa.

Di sini MUHAMMAD. Titik.

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 9 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

010. Membina hubungan baik dengan sesama



Para pembaca yang budiman,
Dengan rahmatnya, MUHAMMAD berusaha mengarahkan ketakutan manusia pada Allah. Suatu ketakutan yang kadang kala menutup hati dan penglihatan mereka. Menggiring ummatnya ke sisi Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang, yang senantiasa menerima kekhilafan dan taubat hamba-Nya, yang selalu mengampuni dosa dan gembira menyambut hambaNya yang kembali ke padaNya. Lebih gembira dari seorang ayah yang kasih menemukan kembali anaknya yang hilang.

Kini, marilah kita meneliti pula bagaimana MUHAMMAD mengenyahkan rasa takut jenis lainnya, yakni
rasa takut terhadap manusia.

Kenapa manusia harus merasa takut terhadap sesamanya? Takut adalah perasaan hilangnya rasa aman. Setiap upaya orang memperkecil atau melenyapkan rasa aman itu merupakan suatu tindakan terror dan kezaliman. Dan di belakang semua tindakan permusuhan yang menimbulkan rasa takut itu, bersembunyi suatu kekuatan angkara murka, yakni keganasan hati. Keganasan hati atau keganasan pribadi merupakan pendorong segala perbuatan orang yang mendatangkan keresahan dan ketakutan pada sang korban. Dan keganasan itu sekalipun di awasi secara konstitusional ataupun lewat keadilan hukum, namun dalam tindakannya menampilkan bentuk aslinya, yakni, kezaliman!

Kata mutiara Romawi kuno mengatakan:

Keadilan yang tajam sama dengan kezaliman yang tajam.

Dalam upaya mengatasi penyakit takut itu, MUHAMMAD mulai dari sumber sebab-sebabnya, dari sarang penyakit itu. dari keganasan jiwa. Kemudian, barulah beliau menanggulangi rasa takut itu dalam segala corak dan manifestasinya. Dan berkat rahmatnya yang besar itu, dapatlah diciptakan suatu kehidupan yang bersih dari rasa takut. Keganasan merupakan musuh bebuyutan dari rahmat. Karena itulah Rasulullah bertindak tegas dalam menghadapinya. Baik keganasan yang kecil apalagi yang besar, yang tentunya akan besar pula bahayanya. ‘

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Beberapa orang Badui datang bertamu pada Rasulullah saw., lalu mereka berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak kalian?” Jawab Rasulullah: “Ya”. Maka kata mereka pula: “Tapi kami, demi Allah, tidak pernah melakukannya!”. Lalu sabda Rasulullah saw.,: “Apa dayaku kalau sekiranya Allah akan mencabut rahmat dari dalam hati kalian!”
Ciuman kasih kebapaan yang kita tunjukan sebagai tanda cinta pada anak-anak kita, merupakan sesuatu yang agung dalam penilaian MUHAMMAD. Jadi bukan sekedar hiburan atau main-main. Tapi merupakan suatu wajah rahmat yang di tampilkan sepintas lalu, namun di dalamnya tersimpan kekayaan besar yang diinginkan MUHAMMAD bagi setiap orang, yakni berupa rahmat, kelembutan, dan kecintaan. Maka beliau hampir mengecap mereka yang tidak perduli untuk mempraktekkan rahmat yang nampaknya sepele itu, sebagai orang yang berhati batu. Dan pada mereka diberitahukan, bisa jadi Tuhan akan mencabut rasa kasih dari hati mereka.

Sabda beliau: 
“Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah". [HR. Bukhari]

“Tiada dicabut rahmat kasih sayang, kecuali dari (hati) seorang pendurhaka. [HR. Abu Dawud]

Mencium anak yang nampaknya merupakan rahmat yang sepele itu, hendaknya ditingkatkan pula dengan mempraktekkan rahmat secara merata dalam segala aktifitas kehidupan.

  • Ucapan yang lembut mengandung rahmat,
  • Pandangan yang manis berisi rahmat,
  • Bimbingan yang lemah lembut adalah rahmat,
  • Nasihat yang baik termasuk rahmat,
  • Memberi rahmat merupakan rahmat,
  • Mengunjungi orang sakit (ta’ziah) termasuk rahmat,
  • Menebarkan salam adalah rahmat,
  • Malah menyambut (mendoakan) orang yang bersin juga rahmat.
Meskipun nampaknya kecil dan sederhana, semua pekerjaan itu dipandang Rasulullah sebagai untaian mutiara yang akan memperindah hubungan sosial dan menciptakan ikatan persaudaraan. Dan dengan sendirinya akan menghapuskan upaya pemerkosaan hak, melenyapkan rasa takut, dan menciptakan hubungan baik.

MUHAMMAD senantiasa menutup jalur yang menimbulkan rasa takut seseorang terhadap sesamanya, dengan memupuk jalan kearah percaya pada diri sendiri, membina hubungan akrab sesamanya, serta berusaha semaksimal mungkin menempuh cara terbaik dalam berkata-kata dan bertindak.

MUHAMMAD saw, dengan segala kelembutannya dan kasih sayangnya, sangatlah menganjurkan hubungan antar manusia yang hakiki, yang sarat dengan cinta dan rasa saling memiliki antar sesama. Persaudaraan orang mukmin diibaratkan beliau sebagai sebuah bangunan rumah atau bagaikan sesosok tubuh yang saling bertautan rasa.

Sabdanya:

  • “Orang mukmin sesama orang mukmin bagaikan sebuah rumah. Satu sama lain hendaklah saling menguatkan.”
  • “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam dalam hal saling mencinta,, saling mengasihi dan saling menyayang, bagaikan sesosok tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh pun akan merasakan sakitnya. Tidak dapat tidur dan demam.”
  • Manusia dengan manusia lainnya merupakan saudara, “Ia tidak boleh dizalimi, tidak boleh dihinakan dan tidak boleh dicemoohkan.”
Ucapan yang sederhana itu, yang memantulkan rasa kasih saying dan kelembutan, punya dampak yang kuat dalam membina persaudaraan kemanusiaan. Rasulullah berusaha keras menggalakkan persaudaraan, seperti juga halnya beliau sangat kuat membina hati yang masih sehat, murni dan jujur.

Barra’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah saw.mewasiatkan pada kami untuk melakukan tujuh perkara:

  1. Memerintahkan kami mengunjungi orang sakit,
  2. Mengantarkan jenazah,
  3. Menyambut orang bersin,
  4. Menebuskan sumpah orang lain,
  5. Menolong orang teraniaya,
  6. Menyambut undangan,
  7. dan menyebar-luaskan (menebarkan) salam.”
Karena keganasan itu dalam banyak aspeknya bersumberkan sifat lupa diri. an lupa diri ini pulalah asal dari sikap suka menghina orang-orang yang rendah kedudukannya dalam masyarakat, bukan karena orang berbuat siatu dosa. Lantas karena lupa diri ditimbulkan dari perasaan sombong karena punya harta, kedudukan atau pangkat, maka MUHAMMAD menyamakan semua manusia dengan asal mereka, yakni tanah.

Asal yang sama itu kranya bisa menyembuhkan penyakit lupa diri yang egois itu, dan sekaligus bisa jadi obat penawar bagi kaum lemah dan rakyat jelata. Dalam hal ini MUHAMMAD menampilkan perumpamaan bagi orang-orang yang mau berfikir:
“Surga dan Neraka saling menonjolkan kebanggaan masing-masing. Kata Neraka: “Di dalam saya berkumpul para tiran yang angkara murka. Dan Surga berkata: “Di dalam saya berkumpul orang-orang lemah dan orang-orang miskin. Lalu Allah menengahi keduanya. Firmannya pada Surga: “Engkau rahmatKu, dengan engkau Aku merahmati siapa yang Aku kehendaki”. Dan pada Neraka Dia berfirman: “Engkau siksa-Ku, dengan engkau Aku menyiksa siapapun yang Aku kehendaki.”
Dengan perumpamaan yang dalam ini, kita memahami cara MUHAMMAD membabat habis unsur perpecahan jiwa manusia sampai keakar-akarnya.

~ Para tiran yang angkara murka itu berada dalam kedudukan yang patut untuk diirikan orang. Dan kedudukannya itu tidak memberikan hak baginya untuk berlaku sombong terhadap hamba-hamba Allah lainnya. Karena penyakit angkuh, sombong dan dengki, para tiran bergelimang dalam api kehinaan, dijauhkan dari rasa cinta pada sesama manusia atau tidak mendapatkan doa dari sesama manusia.

~ Mereka yang nampaknya lemah dan sengsara, namun bersih dari kuman penyakit lupa daratan, dari hidup bermewah-mewah serta dari angkara murka, mereka inilah yang akan meraih surga kasih sayang, Ketenteraman hidup dan keselamatan.

Selanjutnya Rasulullah mengecam pedas keganasan orang-orang sombong, dengan sabdanya:

  • “Adapun orang-orang yang tinggi besar itu, akan dihadapkan di hari Kiamat, sedangkan nilai timbangannya di sisi Allah tidak lebih dari sayap seekor nyamuk.”
Dan orang-orang yang ‘tinggi besar’ itu dimaksudkan sebagai ejekan terhadap orang yang merasa besar karena kedudukannya, merasa tinggi karena pangkatnya, serta menggelembungkan diri karena kekayaannya.
Mari kita baca riwayat ini: “Telah berjalan seorang lelaki di hadapan Nabi saw. lalu Tanya beliau pada seorang yang hadir: “Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?” Orang yang ditanya, menjawab: Dia orang bangsawan. Orang semacam itu kiranya kalau meminang akan diterima, dan kalau menolong orang akan berhasil”. Rasulullah berdiam diri sejenak. Lantas ada orang lain lagi melintas dihadapannya. Lalu tanyanya lagi: “Bagaimana pula pendapatmu tentang dia?” Orang yang ditanya, menjawab: “Ya, Rasulullah, dia seorang Islam yang miskin. Kalau meminang mungkin ditolak orang, kalau menolong orang tidak akan berhasil, dan kalau bicara tidak akan didengar”. Maka sabda Rasulullah: “Dia lebih utama sebanyak isi bumi ini ketimbang orang yang pertama tadi.”
Kiranya Rasulullah saw., berdasarkan makna riwayat tersebut, mengangkat martabat orang yang rendah hati dan menilai rendah orang yang silau oleh pangkat dan kedudukan. Rasulullah tidak mencampakkan orang pertama itu hanya karena dia bangsawan. Tetapi karena orang itu bersikap lupa daratan karena kebangsawanannya. Malah orang kecil yang bekerja secara diam-diam dan rendah hati, dinilai lebih tinggi oleh Rasulullah daripada mereka yang bersikap lupa daratan karena kedudukannya.

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 10 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

011. Berbuat baik pada tetangga



Saudaraku rahimakumullah,
Perselisihan antar sesama jarang terjadi di antara orang-orang yang saling berjauhan. Perselisihan bisa, dan biasa, terjadi akibat pergaulan sesama anggota masyarakat yang saling berdekatan. Anda tidak akan berselisih paham dengan orang yang tidak anda kenal. Akan tetapi anda mungkin berselisih dengan rekan atau keluarga dekat anda sendiri. Oleh sebab itu, maka Rasulullah saw., sangat berkeras dan secara berulang-ulang berpesan tentang pentingnya hubungan baik dengan para sahabat, para kerabat, dan secara khusus, agar saling berbaik-baik antar tetangga yang ada di sekitar kita.

Di dalam kehidupan sehari-hari kita akan selalu berhubungan baik dengan para tetangga. Oleh sebab itu, Rasulullah saw., wanti-wanti berpesan kepada kita agar senantiasa saling menahan diri –tenggang rasa-, untuk tidak berselisih dengan para tetangga karena sikap santun seperti itu dinilai sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Janganlah sampai yang kuat menindas yang lemah, supaya tali persaudaraan yang sangat di anjurkan Allah Swt tidak sampai terputus.

Sehubungan dengan hal itu, junjungan kita MUHAMMAD saw., dengan bijaksana selalu menekankan hak –hak orang lain di dalam rukun bertetangga.

Beliau SAW bersabda:

  • “Malaikat Jibril senantiasa berpesan padaku agar saling berbaik-baikan dengan sesama tetangga, sehingga karena seringnya pesan itu disampaikan, aku mengira tetangga itu akan mendapat hak waris dari tetangganya.”
  • “Demi Allah dia tidak beriman, Demi Allah dia tidak beriman, Demi Allah dia tidak beriman”. Lalu tanya seorang sahabatnya: “Siapa dia itu, ya Rasulullah?”. Maka jawab beliau: “Orang yang tidak mengamankan tetangga dari bencana (kejahatan tangan dan lisan)nya.”
Itulah yang diinginkan MUHAMMAD, insan yang penuh kasih sayang.
Janganlah sampai ada tetangga yang lemah merasa takut bertetangga dengan yang kuat. Tetangga yang miskin merasa rendah diri bertetangga dengan yang kaya.., tetangga yang golongan rendah merasa ciut nyali bertetangga dengan yang berpangkat. Karena itulah beliau Saw menyatakan dengan tegas, bahwa seorang itu dianggap “tidak beriman” jika tetangganya merasa takut akan kejahatannya.
Alangkah peka dan besarnya rasa kasih sayang Rasulullah! Beliau tahu benar keinginan manusia untuk mendapatkan keamanan dan ketenteraman dari tetangganya. Karena beliau paham bahwa tetanggalah orang yang paling tahu rahasia tetangganya dan paling mampu menjerumuskannya. Maka MUHAMMAD tampil ke depan membawa panji hak azasi bertetangga baik, yang tidak boleh dilanggar oleh siapa-pun, karena bisa melepaskan buhul tali imannya.

Sabdanya:

  • “Barangsiapa beriman pada Allah dan Hari Kiamat, janganlah ia menyakiti tetangganya.”
  • “Sahabat terbaik di sisi Allah, ialah dia yang terbaik terhadap sahabatnya.”
  • “Tetangga terbaik di sisi Allah, ialah dia yang terbaik terhadap tetangganya.”
Ada seseorang yang berkata kepada beliau: “Ya, Rasulullah! Wanita itu rajin benar bershalat, bersedekah dan berpuasa. Namun dia suka menyakiti hati tetangganya dengan lidahnya.” Maka jawab Rasulullah: “Dia penghuni neraka!”

Dengan rahmat yang besar, Rasulullah telah memberikan pengarahan tentang hak azasi bertetangga yang baik, yang penting untuk kita semua.

Camkanlah nasihat beliau menyangkut hak-hak tetangga:

  • Kalau minta bantuan padamu, maka bantulah.
  • Kalau minta pinjaman padamu; pinjamkanlah.
  • Kalau butuh penghasilan; sokonglah.
  • Kalau bersedih, hiburlah.
  • Kalau lapar, berilah makanan.
  • Kalau jatuh sakit, rawatlah.
  • Kalau memperoleh kebahagian, sambutlah dengan ucapan selamat dengan wajah yang ceria.
  • Kalau kena musibah, ucapkan rasa dukacita dan empati.
  • Kalau meninggal dunia, sempurnakanlah, doakanlah dan antarkan jenazahnya.
  • Kalau membangun, janganlah bangunanmu lebih tinggi dari bangunannya, supaya tidak mengganggu masuknya udara dan cahaya mentari ke rumahnya; kecuali dengan seizinnya.
  • Kalau memasak, sedikitpun jangan kau sakiti mereka dengan aroma masakanmu yang mengundang selera, kecuali kalau kau beri mereka walau pun hanya sesendok kecil.
  • Kalau engkau membeli buah-buahan, berilah hadiah tetanggamu itu. Kalau tidak, masukkan tanpa diketahui mereka ke dalam rumahmu. Dan janganlah ada di antara anak-anakmu yang membawa makanan ke luar, agar tidak menyakiti perasaan anak tetanggamu!”
Dalam hadits-hadits lainnya, Beliau bersabda: 

  • “Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan perut kenyang, sementara tetangganya merintih karena lapar padahal dia mengetahui hal itu." [HR. Al Bazzaar] 
  • “Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasul-Nya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya.” [HR. Al-Baihaqi]. 
  • “Janganlah seorang melarang tetangganya menyandarkan kayunya (dijemur) pada dinding rumahnya.” [HR. Bukhari] 
  • “Pilihlah tetangga (lihat calon tetangganya atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah. Pilihlah kawan perjalanan sebelum memilih jalan dan siapkan bekal sebelum berangkat (bepergian).” [HR. Al Khatib] 
  • “Di antara kebahagiaan seorang muslim ialah mempunyai tetangga yang shaleh, rumah yang luas dan kendaraan yang meriangkan.” [HR. Ahmad dan Al Hakim]
Apakah ada orang lain lebih berkemanusiaan melahirkan kata-kata mutiara seperti itu? Alangkah agungnya hati yang telah Allah anugerahkan kepada MUHAMMAD! Apa yang jadi tuntutan dan kepentingan tetangga untuk senantiasa dipelihara, di pupuk serta di rawat dengan baik dan sungguh-sungguh, adalah juga merupakan tuntutan dan kepentingan para kerabat.

Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.
Amin.

[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 11 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

012. Menyambung Silaturahim






Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Allah Swt.berfirman:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيب
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain ,dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An-Nisaa' [4]:1) 

Rasulullah telah memberikan wasiat pada kita agar selalu memelihara hubungan kekeluargaan (tali silaturahmi) khususnya dengan kedua orang tua (birul walidain) dengan sabdanya: 

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhirat hendaknya memelihara hubungan baik dengan keluarganya.”

Dalam suatu riwayat, dikisahkan oleh Abu Hurairah,  "Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu.'" [HR Al Bukhari dan Muslim].

Seorang pemuda datang kepada beliau dengan maksud untuk ikut berjihad dalam peperangan. Kemudian beliau bertanya kepadanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Jawab orang itu: “Masih!” Lalu beliau bersabda: “Berbakti kepada keduanya sama dengan jihad.” 

Penting dan agungnya hubungan baik itu, beliau lukiskan dengan indah dengan sabdanya:

“Hubungkanlah (kasih sayang) kepada orang-orang yang memutuskan hubungan dengan engkau dan berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu. Dan katakanlah kebenaran, sekalipun atas dirimu sendiri.” 
Dalam hadits Qudsi ALLAH SWT berfirman:
“AKU adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ia adalah Rahim. AKU memberinya nama dari salah satu Asma-KU. Barangsiapa yang menyambung-nya (bersilaturahim), AKU pun menyambungnya (memberinya rahmat kepadanya); dan barangsiapa yang memutusnya, AKU pun memutus (rahmat atas) orang itu.” 

Rahim bergantung pada ‘Arasy dan berdoa siang dan malam: “Ya Rabbi, sambunglah hubungan orang yang menghubungkanku, dan putuskan hubungan orang yang memutuskan hubungan denganku.”

Rasulullah Saw bersabda: 
“Rahim (kasih sayang) itu tergantung di ‘Arasy. Katanya (rahim): “Siapa yang menghubungkanku, menghubungkan pula Allah akan dia, dan siapa yang memutusku, memutus pula hubunganya dengan Allah.” 

Sabdanya lagi: “Ada tiga golongan orang yang masuk surga tanpa dihisab:

  • Suka memberi kepada orang yang tidak suka member (tidak mengharapkan balasan),
  • Menyambungkan kembali persaudaraan yang telah diputus dan,
  • Memaafkan orang yang pernah berbuat zalim kepada kita.”
Karena begitu pentingnya masalah hubungan kekeluargaan ini, beliau wanti-wanti kepada kita agar selalu memelihara hubungan tali silaturahim sekaligus memberi ancaman bagi yang memutuskannya.

Sabdanya pula: 

  • “Tidak masuk Surga orang yang memutuskan silaturahim.” 
  • “Barangsiapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara.
  • Hendaklah dia bersilaturrahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikan-Nya. [HR. Ar-Rabii']. 
  • “Sungguh celaka dia, celaka dia, celaka dia! Lalu beliau ditanya: “Siapakah yang celaka itu, ya Rasulullah?” neliau menjawab: “ Siapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut) atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan merawat orangtuanya sebaik-baiknya).” 
MUHAMMAD mengetahui bahwa orang-orang yang karena kesibukannya, kadangkala lupa untuk saling berkunjung dengan sanak keluarga dan untuk memotivasinya, beliau mengisyaratkan bahwa di dalam hubungan silaturahmi ada banyak hikmah serta rahmat yang bisa dipetik oleh orang-orang yg suka menyambungkan tali silaturahmi.., dengan sabdanya: “Sesungguhnya, bersedekah dan menyambungkan tali silaturahim yang terputus, akan ditambah umurnya oleh Allah, memperlambat kematian, serta menjauhkan perkara yang tidak disukai dan yang dikhawatirkan terjadi.” (HR Sunan Abu Ya’la)

Ketika menerangkan hadits ini, Al-Dhahak berkata: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan-Nya.”

Rasulullah Saw bersabda: 
“Siapa yang ingin rizkinya di lapangkan Allah, dan ingin usianya di panjangkan, maka hendaklah dia menyambung silaturahim.” 

Dikisahkan bahwa seorang lelaki yang usianya tinggal 3 hari, lalu ia menyambung silaturahim dengan saudara yang sempat terputus. Karenanya, Allah menambah usianya menjadi 30 tahun lagi. Dan sesungguhnya seorang lelaki yang usianya masih panjang sekitar 30 tahun lagi, lalu memutus hubungan dengan kerabat, maka usianya dipendekkan hingga menjadi 3 hari.”

Diriwayatkan bahwa Malaikat yang bertugas mengambil ruh pernah datang kepada Nabi Daud, dan memberitahukan kepadanya bahwa ada seorang lelaki dari umatnya yang usianya hanya tinggal 6 hari lagi. Tetapi setelah beberapa tahun, Nabi Daud bertemu dengan orang itu, ia masih dalam keadaan hidup dan tampak sehat wal afiat. Nabi Daud menyanyakan hal itu kepada Malaikat yang bertugas mencabut ruh. Lalu dijawab bahwa orang itu selalu keluar dari rumahnya untuk menyambung silaturahim yang sempat terputus, sehingga Allah pun memanjangkan usianya hingga 30 tahun lagi. 

Anak-anak yatim, para janda dan fakir miskin, merupakan orang yang paling takut pada hari depan. Mereka inilah yang paling mengharapkan kasih sayang, keamanan dan cinta! MUHAMMAD tampil merentangkan kedua tangan merangkul mereka.

Sabdanya: 

  • “Aku bersama pengasuh anak yatim di surga kelak seperti kedua jari ini”. Seraya mendedahkan jari telunjuk dan jari tengah. 
  • “Sesungguhnya rumah yang paling disayang Allah, ialah rumah di mana anak yatim diperlakukan dengan hormat. Demi Yang telah mengutusku dengan Haq (sebenarnya), Allah tidak akan menyiksa orang yang berlaku kasih sayang terhadap anak yatim, berkata lembut pada mereka dan mengasihi keyatiman dan kelemahan mereka.” 
  • “Orang yang menolong para janda dan fakir miskin sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah, sama dengan orang yang bangun (bershalat) malam dan berpuasa di siang hari.” 
Semoga shalawat dan salam selalu di limpahkan-Nya bagi junjungan kita Rasulullah SAW beserta ahlul baitnya, para sahabatnya, para tabi’in, tabi’ut tabi’in serta seluruh umat Islam yang taat pada risalahnya hingga di akhir zaman.

Amin
.
[Dari buku NABI MUHAMMAD JUGA MANUSIA, Karya Khalid Muhammad Khalid]
CATATAN
Tulisan ini merupakan mukadimah dari 21 tulisan lain yang kami turunkan berdasarkan pokok bahasannya masing-masing. Untuk memudahkan anda, halaman selanjutnya dapat diikuti melalui nomor urut di bawah ini, atau melalui lampiran Kata Pengantarnya di sini.

Halaman 12 dari 21
1    2    3    4    5    6    7    8    9    10    11    12    13    14    15    16    17    18    19    20    21   


Baca juga
Hakikat Mencintai Rasulullah

Folder Arsip

Loading...

Rekam Arsip

Rekomendasi Arsip

Followers